Potong Kuku

“Yaahhh Saliii kog dipotongg? Sayang banget..”

“Iya Sal padahal kuku lo belom panjang”

“Itu kan kuteksnya gel.. jutaan bukan?”

“Belom juga 2 minggu Sal, masa udah dipotong aja?”

Sementara itu gue dengan asiknya pletak pletok guntingin kuku yang masih gemerlapan peninggalan nikahan kemarin ini. Beberapa kalimat tadi masih ada yang gue tanggepin dengan, “Kagaakk ini ga nyampe sejuta, 199rebu aja kog.” 

Tapi sisanya gue musti mikir dulu bentar.

Iya ya, kenapa gue hobi banget potong kuku yak?

Hahaha ini tuh agak aneh karena gue bener-bener suka kuku gue pendek sependek mungkin. Kalo bisa pas jari-jari gue gemeletuk di meja atau di permukaan apapun, ga ada bunyi yang kedengeran. Pengennya tuh empuk-empuknya ujung jari aja yang mendarat, sehingga bunyi yang dihasilkan bukannya kretek kretek melainkan dum dum dum dum

Daann setelah gue pikir-pikir, gue rasa gue tau sih kenapa gue suka membiarkan kuku gue pendek…

1. Dari TK gue les piano.

Les pianonya di sekolah musik beneran, dan aliran musiknya klasik. Nah kalo kalian juga pernah les piano macem begini, pasti paham banget semua guru piano ga ada yang memperbolehkan muridnya berkuku panjang, karena emang ganggu banget suaranya! Masa mau mencet tuts aja ada kretek kretek nya? Jadi mungkin ini salah satu alasan kenapa dari kecil kuku gue selalu pendek.

ps: ga menerima pertanyaan, “Les piano sejak TK, terus sekarang udah bisa ngapain aja?” ya. Makasih.

2. Gue selalu sekolah di sekolah katolik.

Dan sepanjang hidup gue selalu dapet sekolah yang guru+suster nya galak banget soal kuku. Pas SD secara rutin ada razia kuku, dan ofkors ga boleh ada kuku yang panjang. Pas SMP SMA ya ga usah ditanya lah ya.. sekolah gue yang cewe semua itu emang sangat ga kecantikan-friendly. Rok harus di bawah lutut, wajib pake singlet, rambut ga boleh digerai, poni ga boleh menyentuh alis, sepatu seragam, make up jelas ga boleh, dan kuku pun dilarang pake kuteks, apalagi panjang!

Jadi gitu. Gue rasa dua alasan di atas efeknya cukup kuat sehingga sampai sekarang pun gue terbiasa memotong kuku paling lamaa 2 minggu sekali.

Makanya emang hampir selalu salut sama orang yang betah kukunya panjang. Contoh nyata ada 2 orang yang paling deket sama gue: nyokap, dan pakbos!!

Mama tuh kuku-kukunya selalu panjang, dan dia hobi sekali pakai kuteks. Hasilnya apa? Indah dipandang! Hahah terus pas mau dikutekin juga enak gitu permukaan kukunya luas sehingga ga ada yang belepotan di kulit.

Sementara pakbos? Gue rasa dia emang males aja sih potong kuku. Beberapa kali gue yang duluan protes kenapa kukunya panjang karena suka ga sengaja kena di tangan gue.

Cuma yang bikin gue tetep salut adalah, mereka berdua walaupun kukunya panjang tetep bisa bersih dan tampak nyaman aja gitu.

Apakah kalian para pembaca blog ini juga merasa demikian? Punya skill yang sama – memelihara kuku panjang dan rapi bersih indah?

Okelah ini mungkin salah satu postingan blog gue paling tidak berfaedah, tapi gue sungguh penasaran. Ga mungkin kan gue anomali sendiri?

Hahaha good night, world.

Thank You

Sebagaimana layaknya calon pengantin lain, hari-hari menjelang pernikahan kemarin memang saya habiskan dengan blogwalking sana sini plus klik-klik instagram demi nyari inspirasi vendor. Dan ada satu saat di mana gue berasa gengges banget ni cewe-cewe semua vendor di-review satu-satu, kurang kerjaan apa gimanah?

Tapi setelah gue melewatinya sendiri, gue baru sadar satu hal. Ternyata emang orang-orang ngereview bukan cuma biar ada bahan nulis aja (HAHA NIAT), tapi juga sebagai media untuk berterima kasih kepada orang-orang yang sungguh berjasa sepanjang hari bersejarah itu :)

Jadi, untuk kalian yang sudah membantu kami memulai hidup baru sebagai keluarga, terima kasih ya. Terima kasih, dari lubuk hati paling dalam <3

Selain vendor-vendor di atas, tentunya hari bahagia kami ga akan bisa terlaksana tanpa bantuan, dukungan, kehadian, dan tentunya doa dari orang-orang terdekat. Mama papa yang jadi “partner” diskusi kami sejak awal, Passah dan Melissa yang sampai detik terakhir masih rela direpotin ngurusin barang ini itu, Panji yang jadi sudi nyupirin kami pulang tengah malam ke hotel, Hanna yang terbang jauh-jauh dari Jogja untuk ngurusin amplop (kamu cantik sekali Han! ga bosen deh bilangnya).

Ga ketinggalan Ines dan Karina yang udah bantuin nerima tamu di gereja, juga Ci Medy yang bersedia jadi Lektris, Tanto dan ko Erik sang petugas persembahan (yeay!), Dena, Fitroh, dan Nadya yang rela dipekerjakan even di luar jam kantor demi mengarahkan tamu VIP, dan juga keponakan-keponakan yang manissss Rei dan Leno yang gandengan tangan terus nyengir nyengir bawa bendera! Hihi makasih ya Mama Rei dan Mama Leno yang udah mau bawa anaknya jadi pengiring kami.

And of course, last but definitely not least, untuk para pengiring pengantin kami yang jumlahnya ganjil hahahaha. Sesuai dengan kepribadian pengantinnya lah ya ini.

Musa Marbun dan Revi Sinulingga, you guys beneran bestest men lah. Untuk Musa, tetaplah lucu. Untuk Revi, goodluck untuk nikahan lo yang berhari-hari :)) Banyak banyak minum kratingdaeng bos!

Steffanie Simatupang, Vanessa Engelen, dan Jessica Hakim, this is just the beginning. Bear with me untuk tahun-tahun ke depan sampai mati ya. Habis ini mungkin curhatan gue bukan tentang wedding lagi, melainkan tentang marriage. Ahey!

Ovi Martono dan Vania Sutajie, percayalah, hari Sabtu lalu beneran ga bakal kejadian kalo ga ada kalian. Gue tahu venue itu pertama kali dari siapa? Dari obii! Gue dapet photographer dari siapa? Dari obi! Dan kalo Bania mah…. tiap hari di kantor udah gue recokin, udah tepat banget lah ya jabatan Maid of Honor disematkan buat lo ban. Goodluck juga untuk giliran lo berikutnya. Ingat pesan sponsor, semakin sederhana, semakin baik!!! (penekanan di tanda seru yang banyak)

Sekali lagi, terima kasih Tuhan, terima kasih semua :)

Menikah secara Ekumenis

Sampe kemarin gue posting-posting beberapa live photos dari gereja, tetep ada aja loh orang yang mesej bilang, “Eh Sali nikah ya? Waah mendadak amat, selamat!

I was like, aduh andai keputusan seberani ini bisa diambil mendadak. Hahaha gue mau waxing aja book-nya harus H-sebulan, ya kali deh nikah pake acara dadakan.

Kalau mau tarik mundur, sebenarnya semua persiapan udah dimulai sejak awal 2017.

  • Januari 2017 mulai ngobrol sama mama papa perihal nikah…
  • Februari 2017 konsultasi dengan Pendeta Hotma
  • April 2017 Fajar ngomong sekali lagi sama papa bahwa emang mau nikahin Sali
  • Juni 2017 konsultasi dengan Romo Sudri
  • Juni 2017 menghadap mama papa Sali
  • Juni 2017 menghadap mama papa Fajar
  • Juni 2017 pas Lebaran mama papa Sali dan mama papa Fajar ketemuan di Jakarta
  • Agustus 2017 ikut Discovery dari Komisi Kerasulan Keluarga KAJ di Paroki Helena Karawaci
  • September 2017 book venue resepsi
  • Oktober 2017 book gereja
  • Oktober 2017 lamaran pribadi + keluarga
  • Oktober 2017 atestasi keluar HKBP Menteng
  • Desember 2017 Medical Check Up
  • Desember 2017 book dekor + entertainment (DJ)
  • Januari 2018 book Wedding Organizer + MC + choir Gereja
  • Februari 2018 atestasi masuk GKI Cawang
  • Februari 2018 MRT di Paroki Santa Blok Q
  • Maret 2018 Bina Pranikah di GKI Gunung Sahari
  • Maret 2018 Sali urus surat N1, N2, N4, PM1
  • April 2018 Fajar urus surat N1, N2, N4, PM1
  • April 2018 penyelidikan Kanonik dengan Romo Sudri
  • Mei 2018 percakapan pertama dengan Pendeta Yanti
  • Juni 2018 technical meeting dengan semua vendor
  • Juni 2018 Gladi Resik gereja
  • Juli 2018 urus prenup di notaris
  • Juli 2018 percakapan kedua/terakhir dengan Pendeta Yanti

Setelah gue tulis lagi semuanya seperti ini, emang kocak sih. Ternyata persiapan pernikahan kami kebanyakan di bagian diskusinya :)) Diskusi dengan keluarga, diskusi berdua, diskusi dengan Romo, diskusi dengan Pendeta, sampe bolak balik gereja sana sini.. Itu semua kenapa? Karena kami beda agama, suku, ras, kepribadian, karakter, dll dkk. Hahah banyak bener ya bedanya.

Tapi yang emang bikin paling ribet itu beda agamanya sih. Banyak yang bilang, “Ah cuma Kristen sama Katolik doang..” 

Well I wish kata “cuma” itu beneran berlaku di pernikahan. Sayangnya enggak! Nikah satu agama tapi beda denominasi gereja aja kadang suka kagok, apalagi ini yekaan. Terutama karena pindah agama (gue ngikut Fajar atau sebaliknya) bukan menjadi opsi bagi kami berdua hehehe. Jadi, demi mengamalkan sila Pancasila yang ke-5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jadilah kami menikah dengan cara ekumenis.

Ekumenis itu apa?

Bisa digoogle sendiri, tapi intinya ya tata cara pernikahan yang menghadirkan Pendeta dan juga Romo. Ibadah dilaksanakan di Gereja Katolik, tapi kotbah dibawakan oleh Pendeta Kristen (atau sebaliknya). Secara umum misa kami kemarin dipimpin oleh Romo, tapi di bagian peneguhan pernikahan dan pemberian berkat Pendeta pun ikut memberkati.

Sejujurnya dalam keseluruhan persiapan pernikahan ini, fokus gue emang di pernikahan ekumenis hahaha. Gimana caranya, mana aja gereja yang bolehin, pendeta mana yang bisa naik mimbar, nanti ikut prosesi masuk apa engga, liturginya seperti apa, syarat administrasinya apa, wah semua udah gue telen sampe kenyang sejak tahun lalu. Harap maklum, di keluarga kami ga ada yang nikah kaya gini. Temen-temen baik pun ga ada. Jadi emang pegangan hidup gue ketika itu hanyalah google semata, (DAN TUHAN TENTUNYA!!) lol. Jadi buat siapapun yang kebetulan lihat postingan ini dan mau nanya lebih jauh tentang pernikahan ekumenis atau oikumene, silakan tinggalkan komentar atau email di ksjato at gmail ya. Ku dengan senang hati membantu!

WhatsApp Image 2018-07-11 at 9.25.35 PM

ps: mohon maaf ya gue belom dapet foto versi bagusnya dari fotografer, jadi terpaksa ngasi liat foto ini dulu. Romo dan Pendeta ada di belakang kami :D

Untuk liturgi lengkap, siapa tahu ada yang butuh, sila baca di sini: Liturgi Sali & Fajar

Kamsahamnida!

Sali dan Lari

Jadi, sebelum lo baca ini lebih jauh, mohon diingat bahwa gue bukan pelari profesional. Meskipun kesannya gue sering lari, aslinya mah gue lari jarak pendek aja terus hehehe. Pace nya juga ga cepet-cepet amat kog, masih lari dengan pace ngobrol + instastory lah. (Kebayangkan betapa leletnya)

Tapi, karena banyak temen yang tau gue (kayanya) sering lari, lama-lama gerah juga kalo ditanya, “Race berikutnya ambil apa, Sal?” terus gue jawab, “5K…” kemudian tertunduk malu. Rasanya kayak ga ada keren-kerennya gitu ngambil kategori paling kecil terus kalo race :))

Apalagi mengingat gue kenalan sama lari tuh sebenernya udah lamaaa! Race pertama gue itu 5K tahun 2013 di Seoul (KURANG KEREN APA LAGI COBA RACE PERTAMA AJA DI LUAR NEGERI), dan race kedua itu 10K, masih di tahun 2013 juga, di acara Bajak Jakarta yang pertama.

Foto Sangalian Jato.
And yes, ini pertama dan terakhir kalinya pakbos nemenin gue lari hihihi

Lalu? Sekarang tahun berapa? 2018?

5 tahun berlalu, dan setiap race gue masih suka takut kalo mau ngambil 10K. Takut kecapean, takut ga finish, takut malu-maluin hasilnya, takut ga worth it udah bayar mahal tapi pace nya masih segitu-segitu aja.

Iya, gue emang secupu itu :D Dan dalam 5 tahun sejak gue pertama kali nyoba lari, emang gue bolong-bolong banget larinya. Gue ga bergabung di komunitas apapun, jadi otomatis ga punya temen lari. Satu-satunya orang terdekat yang rutin lari itu bokap gue. Dan bokap gue walopun penuh kasih sayang tapi kalo dijadiin mentor tuh kadang mengerikan :)) Mungkin bawaan tentara ya, jadi ngeliat gue tuh semacam lemah sekali dan lebih ke arah, “Yaudalah Sali lari 5K aja. Paling jauh 10K, papa juga udah bangga kog.”

Foto Tiur Loebis.
Jakarta Marathon 2016 – dua-duanya 10K

Sampe akhirnya tahun 2018 pun tiba. Tahun yang buat gue udah di ambang batas banget nih, kalau mau transformasi, inilah saatnya. Kalau mau wujudkan resolusi dari tahun lalu, inilah tahunnya.

Jadilah awal tahun gue udah bulatkan tekad untuk naik kelas! Naik kelas ke mana? Ya naik dari 10K ke 21K. Untung sih dari 10 ke 21 itu ga ada tengah-tengahnya hahaha kalo ada kategori tengahnya mungkin gue naik kelasnya ga seekstrim ini.

Lalu gimana caranya supaya gue sanggup lari 21K? Ya latihan. Dan karena gue tahu banget gue itu pemalas luar biasa dan ga bisa disiplin latihan sendiri, jadilah sengaja latian intensif sama temen dan sama pelatih.

IMG_4786

Sesi latihannya 3 bulan, tapi untuk persiapan Jogja Marathon kemarin itu total gue latihan cuma 2.5 bulan sampai waktunya race. Seminggu 3 kali, sekali latihan ya standar lah ya pemanasan – running ABC – program ini itu.

IMG_4790

Gue ga terlalu ngatur makan, karena gue ga sanggup mendisiplinkan diri gue terlalu banyak hal dalam waktu bersamaan hahahaha. Komit untuk latihan 3x seminggu meski hujan, badai, dan macet aja udah setengah mati. Kalo dipaksa makan dengan pola tertentu sungguh too much untuk gue yang newbie ini. Next time deh ya, kita seimbangi dengan makan sehat biar badan 11 12 sama Adinia Wirasti.

IMG_4791

Oiya di hari H race, gue ditemenin nyokap. Bukan karena takut pingsan, cuma lebih ke arah pengen ada yang nemenin aja, karena ini beneran big deal buat gue.

Yaeyalahh seumur umur kena panas dikit aja pusing, lalu dulu sepanjang SD kalo upacara bendera gue selalu langganan pingsan dan dikasi teh manis, ini lagi mo lari 21 kilo. Beneran cuma Tuhan yang tahu gimana caranya gue bisa survived lari sejauh itu hahaha.

IMG_4794

Dan memang beneran ajaib sih, selama dan pasca lari itu gue ga ada cedera atau kesakitan tertentu. Emang sih pas di km berapa gue sempet ga konsen lalu kesandung, tapi gue ga jatoh. Puji Tuhan banget ga jatoh, haha jadi lanjut lagi berpanas panasan lari.

Tapi setelah finish pun, badan gue ga ada yang sakit gimana gimana banget. Kepala pusing sih jelasss…. bayangin aje 3 jam lari dijemur di bawah matahari. Berasap tu kepala. Tapi itu solved dengan Panadol kesayanganku, yang dilanjutkan oleh beauty sleep berjam-jam tanpa mikirin kerjaan karena HEY AKU CUTI DEMI LARI hahaha. Iya gue seniat itu.

IMG_4795

Pas masuk kantor lagi juga semua orang nanya, “Kaki lo sakit ga? Badan ga kaya habis dilindes truk?”

Ajaibnya, ehm, engga sih. Mungkin ini karena gue latihan lah yaaa. Kalo ga pake latihan, badan dan kaki gue pasti shock banget disuru kerja rodi begitu.

Satu-satunya cedera yang nempel di badan gue garagara Jogja Marathon tuh “cuma” jempo kaki yang hitam. Heuehehe kayanya gue harus beli sepatu baru.

IMG_4797

Dan karena pengalaman ikut HM pertama kali kemarin begitu menyenangkan, gue semangat sih ingin nyoba lagi :))

Next time harus dengan pace yang lebih baik tentunya. Soalnya kemarin aja Mas Deni sang pelatih sebenernya ngasi target 7:43, tapi ya gue gituloh, lagi lari aja masih sempet mampir pipis dan foto foto terus update instastory, jahahaha jadilah molor jauh dari target.

Sayangnya, penutup dari postingan yang super sehat dan kisah sukses terwujudnya resolusi 2018 Sali ini adalah agak sad ending.

Kemarin (Jumat, 4 Mei 2018) adalah sesi latihan kami yang terakhir, dan paaasss banget di gerakan terakhir sebelum easy jog gue malah ga konsen terus terkilir. Lagi lari dengan gerakan menyerupai kijang, lalu kaki kiri gue mendaratnya ga kokoh sehinggal keceklek lah dia ke dalam disertai bunyi TAKK yang kenceng banget.

Kombinasi shock dan kesakitan membuat gue langsung berkunang-kunang terus dituntun duduk. Mas Deni muter muterin kaki gue perlahan tapi gue beneran ga konsen, cuma sibuk fokus cari udara. Damn! Gue ga pernah tahu pergelangan kaki terkilir tuh rasanya semantep ini hahahaha.

Jadilah sebagai kenang-kenangan dari sesi latihan lari terakhir, gue pulang agak tertatih-tatih lalu langsung kompres air es di rumah.

Pagi ini nyut-nyutan, tapi masi bisa jalan doong. Meskipun kayak siput. Wkwkwk. Pas gue perhatiin baik-baik, ternyata emang bengkak dia :) Pergelangan kakiku seperti ada telur rebusnya. Nyam!

Jadi yah.. begitulah. Emang selalu ada aja cobaannya ya kalo mau niat melakukan sesuatu yang positif. Hehehe.

HM pertama sudah terlalui, dan gue bahkan udah daftar untuk HM selanjutnya.

Tapi itu masih ada waktu beberapa bulan, karena untuk saat ini kayanya gue belom boleh lari dulu :)) In the meantime, gue fokus ngejar resolusi 2018 yang lain dulu ya 😉

Happy weekend! Salam olahraga!

Team Ican

AKHIRNYA GUE BOLEH NULIS INI!!

Huahaha setelah sekian lama jadi teman main, teman ngeprint, teman memotoran, dan paling awet adalah jadi teman curhat bagi seorang Ican, akhirnya, akhirnyaa, akhirnyaaaa gue bisa dengan mudah menjawab pertanyaan orang yang kebetulan kenal juga sama Ican dan kadang suka kepo, “Eh abis ketemu Ican? Apa kabar dia?”

Seperti misalnya pagi ini. Habis lari di GBK, ketemu sesama PM tapi beda angkatan, lalu ngomongin hal lain yang berujung ke diskusi:

“Eh ketua angkatan lo siapa sih, Sal?”

“Ican'”

“Oohhh Icaan…. apa kabar dia?”

Nah dulu-dulu tuh, pertanyaan kaya gitu pasti jawaban gue template, “Baik, makin jaya di Tokopedia. Emang dasar kompetitor, dianya hepi, gue terseok-seok.” (HEHEHE engga deng, kalimat terakhir biasanya ga disebutkan)

TAPI

SETELAH KEMARIN ADA YANG GO PUBLIC DI GRUP ANGKATAN

AKHIRNYA

TANPA RAGU-RAGU

GUE BISA JAWAB PERTANYAANNYA DENGAN:

“Ican? Baik banget dia. Mau nikah <3 “

Hihihi even sambil ngetik ini pun gue senyum-senyum sendiri. Sebagai teman sepenempatannya Ican, daaan ntah kenapa paling sering dicurhatin Ican soal kisah asmara, gue udah bosen banget ngomongin kisah Ican yang tak kunjung berbuah manis jua (hingga setahun terakhir ini).

Dari awalnya ikutan ceng-cengin Ican pas masih pelatihan IM, terus lanjut di penempatan menyaksikan sendiri Ican beli buku dan poster (iya bukan sih can?) buat dikirim dari Putussibau ke Sangihe, eeh terus balik Jakarta malah pupus, ya pastinya ada lah masa-masa gue jadi setan dan nasehatin buat move on dan nyari calon pendamping yang lain. Habis kan ga tega yha liat kisah cintanya, naik turun naik turun kayak jemuran di musim hujan >.<

Tapi Ican bukan seorang Ican namanya kalau nyerah gitu aja. Dari namanya aja udah jelas: I CAN! (Ga salah sih can Bapak Ibu lo milihin nama dulu).

Dia bisa PDKT bertahun-tahun dan ga capek. Dia bisa maju terus walaupun kompetitor yang ngantri banyak banget :D Dia bisa tiba-tiba cuti terus terbang nemening si Enci yang sakit di pulau sebelah, tanpa kerjaannya terbengkalai. Dia bisa bikin rencana sematang mungkin, dari meniti karir, beli rumah, survei gedung, nyari katering, les bahasa Inggris, SAMBIL KULIAH MALEM S2 yang bentar lagi juga udah mau sidang. Dan pastinya, dia bisa meyakinkan si Enci (dan keluarganya – ini yang penting ya can? :p) untuk memantapkan hati memulai kehidupan rumah tangga berdua.

Jadi iya, kalau dianalogikan kayak jalanan, kisah cintanya Ican itu memang kayak jalanan di Jakarta. Banyak banget hambatannya :)) Ntah yang jalanannya bolong, kebanyakan orang berseliweran, atau ya emang macet aja. Makanya begitu ketemu titik cerah alias jalannya lowong dikit, langsung tancap gas ya can?

WA

Mungkin gue bisa berbangga hati menjadi salah satu dari sangat sedikit orang yang dikirimin foto ini. Ga banyak juga soalnya yang tahu dan mengikuti kisah Ican dan si Enci, apalagi menyangka bahwa mereka akan berujung di pelaminan :)

Tapi yang jelas, gue sekarang sungguh senang akhirnya Ican sebentar lagi akan menikah! Meskipun sedikit terharu ngebayangin temen baik gue akan jadi suami orang, tapi gue dengan senang hati melimpahkan tugas dengerin curhatan Ican ke istrinya kelak. Dan setidaknya mulai sekarang no more kisah-kisah galau soal asmara ya can!

canshas

Jadi, sebagai penutup, gue pengen sok bijak dan menyampaikan ini:

Ican, perjuangan lo berbuah manis. Tapi jangan sedih, ini belum sampai di akhirnya :)) Masih banyak perjuangan lain yang menanti di depan, tapi no worries lah ya, sekarang kan udah ada yang nemenin 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Ihiy!

Dan Shaski….. duh Shas. Lo bener-bener perempuan beruntung. Mungkin banyak yang bilang ke Ican, he’s a lucky guy to finally have you, karena…. yaiyalah ya, ibu peri Shaskia gituh! Tapi sebagai #TeamIcan, gue pengen teriak dan bilang SHASKI LO BERUNTUNG BANGET BISA MEMILIH DAN DIPILIH ICAN. Gue garansi pilihan lo ga salah. Selamat bertumbuh bersama, dan kalo berantem segera baikan yaa!

Selamat, Ican dan Shaski!

WhatsApp Image 2018-03-04 at 3.09.25 PM (1)
Iya Can, Shas, fotonya udah dikirim sejak Lebaran 2017 tapi karena kalian belum siap dikomentarin netizen jadinya baru boleh dipost sekarang… uhmm… iya dimaafin kog :))

Lihat juga testimoni teman-teman lain tentang mereka di sini: Kata Cinta Dari Mereka.

28 on 28

Lagi-lagi postingan basi >.<

Harusnya dipublish 2 bulan lalu pas tambah tua, eh tapi masih mengendap berupa tulisan tangan di buku dan baru sempat diketik sekarang :))

Inilah 28 dari sekian banyak hal yang saya syukuri dalam hidup, khususnya pas baru ganti umur jadi 28. Postingan pertama di 2018: menghitung berkat!

  1. Challenging job
  2. (More than) enough money to support myself/ being financially independent
  3. Very, very, very supportive partner
  4. Papa mama yang senantiasa sehat
  5. Abang dan kak Melissa yang ngga pernah lupa ngasi kado unik (this time: Satu set pisau dan kupasan kentang bermotif doraemon hahaha)
  6. Keponakan yang makin lancar teriak, “BIBI SAYIIIIIII”
  7. BFFs yang selalu jadi nomor satu untuk urusan ulang tahun; teman SD, SMP, SMA, kuliah; those who actually remember my birthdays without any socmed reminders :)
  8. Tempat berteduh yang I can proudly call my own
  9. Sepupu yang berbesar hati merayakan hari bersejarahnya di 18 November! Hahaha I dont mind sharing the celebration kog Mon :p
  10. Another sepupu yang juga berulang tahun di hari yang sama, dan bisa ketemuan di hari spesial itu
  11. Muka yang tidak berjerawat gila lagi seperti dulu (HAYOH YANG MASI INGET MUKA MENGERIKAN SAYA, NGACUNG!)
  12. Orang-orang Bungan (termasuk Bu Yanti) dan murid-murid yang selalu berusaha nelpon/SMS ngasi ucapan. Forever grateful for them <3
  13. Busy days – serius deh, ini penting. Daripada pengangguran, jauh lebih menyenangkan sibuk
  14. Sinyal!! Dulu ulang tahun ke-25 ku hidup merana, nyari sinyal aja harus naik perahu menerjang arus. Sekarang ngapa-ngapain gampang, ahh ternyata berlimpah sinyal itu kemewahan haha
  15. Transjakarta yang setia mengantarku ke kantor setiap hari :3
  16. Spotify oh spotify, hampa terasa hidupku tanpa dirimu
  17. Badan yang bisa diajak kerja sama. Ngga sakit parah lagi pas dapet, bisa dicekokin alkohol (haha), ngga nyusahin sakitnya sampe diopname gitu hehe
  18. Asisten rumah tangga di rumah mama
  19. Tigger, Crunch, Neril – mereka yang tersisa di rumah buat nemenin mama
  20. Langit Jakarta ketika libur
  21. Social media yang senantiasa mendekatkan yang jauh
  22. Teknologi yang memudahkan segalanya: ngecek kemacetan, nyari jalan, manggil ojek, oh sungguh terpujilah engkau wahai para developers pintar
  23. Ompung di surga yang meskipun sudah beda dunia tapi berasa masih ngeliatin dari atas (ini creepy ngga si hahaha)
  24. Roti tawar dengan selai kacang dan meses ceres warna-warni
  25. ZAP penghilang bulu!! No more cukur cukur ketek setiap berapa hari sekali :D
  26. Romantic comedy movies. And of course Star Wars. And Interstellar.
  27. Kebebasan untuk membuat keputusan sendiri dalam banyak hal. Hehehehe ini dalem yha. Tapi sungguhlah, melihat dan mendengar cerita banyak teman yang menentukan karir masih direcokin orang tua, nyiapin nikah mentok di aturan keluarga, gue bersyukur sih hidup ga dikandangin kayak ayam. Meskipun ada beberapa pagar kandang yang harus gue usahakan untuk terobos (wk rebel memang), tapi in the end semua orang di sekeliling gue suportif ehehe which leads me to the last point in my list….
  28. Everyone I happened to cross path with throughout 28 years of life!

Tak ketinggalan, postingan ini didedikasikan untuk Dia yang memungkinkan segalanya terjadi!

Cheers to a better year ahead ^.~

The Art of Doing Nothing

Pas pertama kali Fajar ngajakin ikut acara keluarga besarnya buat tahun baruan di Purbalingga, gue kira WAH BAKAL PESTA TIAP HARI NIH.

Yha secara kalo Batak Manado ngumpul pasti ada musik, ada nyanyi nyanyi, ada bintang, atau ada jalan jalan kunjungan ke manaa gitu.

Tapi apparently 4 hari di Purbalingga ini kayanya akan didominasi oleh kegiatan leyeh-leyeh massal, berhubung rumah besar ini udah jadi basecamp buat semua keluarga besar. Jadi emang tujuan utama dateng ke sini buat ngobrol, makan, main bareng, makan, ngobrol, bobok.

Terus untuk pendatang baru kayak gue gimana nasibnya?

Yhaaa ikuutaaan leeyeh leyeeeh :))

Karena hawanya terlalu memalaskan untuk melakukan apapun. Even untuk pertama kalinya gue ngeliat Fajar jadi manusia super tidak produktif huahahaha. Dia weekend aja biasanya tetep kerja, eh ini bisa bangun siang, ga megang laptop, siang lanjut bobok lagi, terus seharian ga mandi. Ajaib!!

Jadi begitulah.

Kalo ada yang nanya, gimana Purbalingga?

Jawaban gue: bagus!!! Buat… bobok siang dan makan murah 😂

Happy New Year, all!

Closing Down The Year – Goodbye 2017

TUMBEN-TUMBENAN LOH SAYA NGETIK INI SEBELUM TAHUNNYA BENERAN BERAKHIR. Hahahaha biasanya nulis rekapan tahun pas udah mepet-mepet tahun baru, atau malah bablas lewat 2 bulan setelah tahun baru seperti yang lalu.

Baca: Closing Down The Year – Goodbye 2016

Jadi demi menuliskan ini, seperti kaum millennial lainnya tentu saja saya buka Instagram. “Ngapain aja sih gue setahun ini?”

Dan betapa sedihnya saya menyadari tahun ini even upload foto di instagram aja jarang huahaha. Lebih sering instastory kayanya :)) Tapi yang lebih miris lagi sebenernya fakta bahwa tahun 2017 ini saya jarang banget lari sih. Huwaaaaa pemalas :(

Padahal sempet ikut Bandung Marathon loh. Awal yang baik kan. Tapi selebihnya cuma lari-lari bercanda aja di Soemantri. Itupun jarang. Terus niatnya nyari event-event lari gratisan aja karena makin lama makin pelit buat ngeluarin duit ikut lari. Eh tapi giliran pas ada event gratisan, adaaa aja alasan untuk ga ikut. Ku lemah :(

Lalu satu lagi hal yang saya sayangkan tahun ini adalah bahwa saya sempat insecure parah pas kantor terguncang. Kalo dipikir-pikir, yang bermasalah kantornya, kenapa saya kebawa-bawa jadi khawatir banget terus merembet ke mana mana yak hahaha. In the end kantornya (sejauh ini) baik-baik saja, dan saya pun baik-baik saja. Masalah tetap ada, tapi ya diketawain aja lah si masalah itu :D

Nah selain dari dua hal di atas, banyak banget hal yang disyukuri tahun ini!! Satu kata untuk mewakili semuanya: komitmen.

Wohoo tahun ini penuh komitmen. Komitmen untuk ngumpulin duit buat jalan-jalan, komitmen untuk stay di pekerjaan yang tanggung jawabnya makin besar, komitmen untuk sabar meskipun jalan-jalan sama keluarganya penuh drama, komitmen untuk rela mengalah demi kebaikan keluarga, dan tentunya komitmen untuk memilih pakbos buat teman menyampah bersama sampai tua huahahah.

WhatsApp Image 2017-12-26 at 4.27.23 PM
Mudik with obiban + MJ <3

 

WhatsApp Image 2017-12-26 at 4.21.44 PM
Sempet ikut kelas Bahasa Isyarat!
WhatsApp Image 2017-12-26 at 4.21.43 PM(1)
Satu-satunya medali di tahun ini :|
WhatsApp Image 2017-12-26 at 4.23.40 PM
Japan family trip!

 

WhatsApp Image 2017-11-18 at 5.26.41 PM
Sharing 18 Nov with the cousin

 

WhatsApp Image 2017-12-26 at 4.21.45 PM
Everyday view :)

Jadi begitulah. 2017 udah mau selesai, saatnya menuliskan resolusi 2018 yang semoga ngga jadi wacana belaka.

See you!

ps: ada yang mau nemenin atau nyemangatin atau maksa biar saya rutin lari ngga tahun depan? Plis dong ku butuh motivator hahaha.

 

It was always him

Suatu hari di Putussibau, Kalimantan Barat, ketika gue masih sementara bertugas jadi Pengajar Muda di tahun 2015, gue pernah dibonceng sama teman satu penempatan gue bernama Ali. Dia yang bawa motornya, gue duduk manis di belakang. Sambil jalan, gue lupa kami lagi ngomongin apa (kemungkinan besar ngomongin orang sih, as always hahaha), terus Ali nanya dengan santai, “Sal, kenapa Fajar?”

PERTANYAANNYA DALEM BANGET YHA. UNTUK UKURAN SEBUAH PERTANYAAN YANG DILONTARKAN SAMBIL BONCENG-BONCENGAN DI MOTOR.

Hahahaha. Tapi sayangnya meskipun pertanyaan itu sungguh sangat membekas, jawabannya enggak. Gue udah ga inget lagi gue jawab apa waktu itu, begitupun dengan Ali (gue udah nanya ke dia semalam dan dia bilang kami perlu reka ulang ke Putussibau karena dia pun lupa).

Bagi teman-teman terdekat, mungkin udah pada tau ya kalau perjalanan gue dan pakbos ini panjang dan banyak belok-beloknya. Dulu saking panjangnya, gue sempet berniat bikin beberapa seri tentang bagaimana kami bertemu. Tapi apa daya, tulisan itu cuma terwujud di episode satu doang huahahah pemalas :))

Baca: How I Met My…. #1

LDR, teleponan dan video call yang tidak berkesudahan, berantem, ga direstuin orang tua, farewell, jealous-an, ada orang ketiga empat lima dst, berantem lagi, beda agama, kerjaan > pacaran, ambisi pribadi > visi bersama, berantem terus, sampe akhirnya kami memutuskan untuk bosen berantem dan mulai mengeluarkan usaha untuk tetap bersama.

Usaha itu belum selesai, dan ga bakal pernah selesai, karena konon katanya kebersamaan itu harus diusahakan terus menerus kan, ngga boleh berhenti di satu titik. Tapi usaha itu jelas ditandai dengan satu momentum mendebarkan, bagi dia, dan memalukan, bagi gue. Untung in the end tetep hepi sih hahaha.

namaaz
21/10/17: First step for the future

Pada beberapa Sabtu lalu, dia bilang kami akan makan enak dan dia suru gue ga boleh telat karena dia udah reservasi. Ini jelas mencurigakan, karena dia jarang menggunakan istilah “makan enak”. Ketika akhirnya kami datang ke restoran yang ternyata bernama Namaaz itu, gue kaget karena makanannya 18 course hahahah buset pulang-pulang kenyang gila sih. Tapi semua makanannya enak! Dan datengnya secuil-secuil aja, jadi sebenernya porsinya masih bisa dihabiskan.

Cuma aneh banget rasanya ngeliat pakbos, selama makan kayanya ngga lahap gitu huahaha. Banyak yang nyisa, even gue makan lebih banyak dari dia. Dan di tengah-tengah makan, dia sempet pamit mau ke toilet segala. Sungguh tak wajar, karena biasanya yang lebih sering ke toilet adalah gue, bukan dia.

Later on dia baru ngaku, “Ya menurut kamu aja Sal, aku daritadi udah ga bisa makan saking nervousnya.”

Kacian ya makan mahal-mahal tapi ga dinikmatin :))

Singkat cerita di sela-sela coursenya tiba-tiba Chef datang ke meja kami, membawa bunga warna kuning dan puding Mangga, juga kalung yang ada di antaranya. Pakbos berlutut, gue panik, semua orang ngeliatin, dia speech, gue makin malu, speechnya ga selesai selesai, gue bolak balik bilang ‘Udah dong plis yuk duduk aja yuk‘, petugas resto bantu ngerekamin pake gopro, pengunjung lain masih ngeliatin juga, akhirnya speech selesai, dan semuanya pun beres.

Ku senang, tapi ku sungguh bersyukur kejadian kayak begini cukup dilalui sekali aja seumur hidup >.< Malu banget jadi pusat perhatian kaya gitu hahaha. Dia pun ngakunya demikian, nervous lebih parah daripada pas mau sidang master.

Dan satu minggu setelahnya, keluarga pakbos datang ke rumah orang tua gue, kenalan plus ngobrol-ngobrol, dan ketok palu deh untuk rencana-rencana selanjutnya.

IMG_8432
28/10/17: Pakbos sampe merem saking terangnya masa depan kami :)) AMIN!

Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, semuanya all by God’s grace sih <3 Gue bersyukur Tuhan merestui mendengarkan doa-doa kami. Dan bersyukur juga karena pakbos adalah partner yang tangguh untuk diajak sama-sama ngeluarin effort.

Ga kebayang kalau kami berhenti berusaha, atau nyerah dan memutuskan udah ah cari yang lebih gampang aja. Mungkin Tuhan juga langsung yang, “Yaudah as you wish aja gaes.”

Tapi sama pakbos, kata nyerah itu ga ada di kamus. Dia terlalu sombong untuk mengakui bahwa dirinya ngga bisa. Bawaan sejak S1 kayanya, tauk tuh kuliah di mana sik dulu :p

Dan karena gue juga kompetitif + ambisius juga, ya bawaannya keseret lah huahaha. So pada akhirnya, kami sama-sama jadi mantan terindah satu sama lain, yang otomatis saling berpegangan kalo denger lagu Kali Kedua nya Raisa. Receh banget, I know. Tapi ya hidup kan emang untuk menertawakan hal-hal receh kaya begini yah.

Jadi, kenapa Fajar, Sal?

Karena dia selalu tahu apa yang dia mau, dia bisa melakukan semua yang bisa gue lakukan bahkan can do it better (kecuali bahasa Korea ofkors, HA!), dan dia satu-satunya orang yang membuat gue merasa butuh orang lain :)

Gue selalu merasa content with myself, dan dulu gue ga ngerti konsep “You complete me, I cannot live without you”. Gue pikir kayanya gue bisa-bisa aja hidup tanpa pasangan hahaha. Terus gue baru ngeh oh itu emang quote buat anak remaja aja toh, kalau udah tua mah dikit kata-kata mutiaranya berubah jadi, “Find someone complimentary, not supplementary.”

Then I look at him. He’s content. He’s secure.

Dengan dia, gue sadar bahwa kami tidak saling menyerap energi satu sama lain. Kalau dianalogikan dengan gelas, gelas gue penuh, dan gelas dia pun penuh. Airnya udah luber ke mana mana, sehingga kalo gue bagi dikit kebahagiaan ke dia, gelas gue ga jadi berkurang. Begitu pula dengan dia, kalo gue mau nyoel nyoel gelayutan sama dia, ga bikin gelas energi dia berkurang.

Jadi begitulah. I chose him.

Ada masa-masa kami perlu belajar sendiri (kayak mo ujian gitu ye hahah), but then I chose him again.

Because after all…..

It was always him!

Merry Christmas! :)

 

Bosque Part 2

#8 Cuti Bersama

Di saat Jokowi sudah menetapkan 23 Juni 2017 sebagai tambahan cuti bersama dan semua orang gembira..

S: “Libur lebarannya jadi panjang banget. Yeay!”

F: “Anjir”

S: “Hahaha reaksi paling absurd yang aku dengar hari ini. Temen2 di sini sih malah hepi, karena ga perlu cuti, bisa mudik lebih awal”

F: “Hahaha, kan kerjanya jadi lebih singkat sal”

 

#9 Medok

Waktu lagi ngorek-ngorek file masa lalu terus ada rekaman percakapan kami berdua di telepon…

F: “Gila! Aku ternyata medok banget ya?!”

S: “Gila! Udah setua ini baru nyadar -__-”

 

#10 Sekolah Mutan

Lagi macet macetan di jalan, percakapan random pun terjadi.

F: “Cita-cita aku tuh pengen ini deh.. bikin sekolah….”

S: “Wow”

F: “….. kayak professor X”

S: “He?”

F: “Iya bikin sekolah untuk para mutan”

S: “Sampe kata kata bikin sekolah tadi aku udah hepi banget loh dengernya”

F: “Ya engga lah sal itu terlalu mainstream. Aku pengennya bikin sekolah untuk anak anak yang ada mutasi genetiknya”

S: “Jaman skrg mah adanya mutasi tempat dinas wey”

F: “Ga mungkin sal, aku yakin X men itu real. Mereka ada di luar sana.”

S: “Serah lo.”

 

#11 Mati Lampu

Berhubung pakbos paham banget soal listrik, jadi kalau ada tragedi mati lampu pasti langsung laporan lah ya. Sayangnya, dalam berbincang kadang dia lupa saya itu orang awam…

S: “Wew apartemenku mati lampu nih”

F: “Kenapa? Kog bisa?”

S: “Yah mana ku tahu. Di group whatsapp tetangga sih katanya mati dari PLNnya”

F: “Oh unit lain juga pada mati?”

S: “Iya pada mati, tapi lampu di lorong sama lift tetep hidup tuh”

F: “Yaa switchgearnya beda kali”

S: “Tapi aneh ya, kan satu gedung, masa bisa di dalem unit mati, di lorong nyala?”

F: “Mungkin emang 1 gedung switchgearnya dibeda-bedain”

S: “Hmmm..”

F: “Udah kamu tanya belum di grup? Mati lampunya kenapa?”

S: “Ya tetangga pada ga tau lah, katanya dari PLN emang mati”

F: “Telpon dong ke PLN nya”

S: “Iya si pengelola udah nelpon katanya”

F: “Trus?”

S: “Tauk, ga dibahas di grup”

F: “Tapi lantai lain juga mati?”

S: “Iya. Tapi yang lorong nyala”

F: “Berarti emang switchgearnya beda”

S: “…………..”

F: “Emang rusak ya switchgear buat unit-unit?”

S: “KAK AKU TUH DARITADI NGGA NGERTI MANEH NGOMONG APA. SWITCHGEAR TEH NAON?”

 

#12 Bad Genius

Udah pada nonton film Thailand Bad Genius? Filmnya tentang anak-anak pintar yang jago ngasi contekan. Tapi susah emang kalau nontonnya juga sama orang jenius, habis nonton pun langsung ga mau kalah.

F: “Gile, masih jagoan aku ya berarti, bisa kasi contekan soal esai!”

S: “Gimana caranya?”

F: “Ya kertas jawabannya diedarin satu kelas”

S: “Lah itu mah dosennya yang halu”

F: “Emang sih. Tapi itu pelajaran emang susah banget sal”

S: “Kelas apa emangnya?”

F: “Medan Elektromagnetika”

S: “Terus kamu dapet A?”

F: “Ga juga sih, aku dapet B”

S: “Yeee ga pinter-pinter amat juga sih wey”

F: “Lah kalo kamu ikut kelas itu kamu pasti dapet E sal”

 

#13 Dia Memang Pintar

Kami jarang banget makan baik (dan mahal lol). Sekalinya iya, sekaligus 18 course. Dan ada surprise di tengahnya :))

S: “Gils panjang amat ya ternyata. Kamu ngafalin speechnya dari kapan?”

F: “Baru tadi pagi kog. Aku kan pinter.”

21oktober2017
Said yes to forever!
Anw, percakapan terakhir itu worth a separate post. Semoga ada niat untuk menuliskannya ya. Hihi. Happy Monday!!

Baca juga percakapan sebelumnya di sini: Bosque Part 1