Lem Tikus Terbukti Lengket

Jadi gini. Saya punya teman, sebut saja dia Mawar. Jago masak, berjiwa petualang, penari sejati. Saat ini dia lagi mengabdikan dirinya untuk pengembangan masyarakat di daerah Sorong Selatan. Desa tempat dia tinggal tidak ada sinyal, jadi kabar darinya dapat saya terima sesekali saja. Lebih sering lewat email, karena dengan demikian dia bisa ketik dulu di draft baru kirim begitu ada sinyal. Salah satu emailnya berbunyi seperti ini:

Prestasi Pertama di 26yo

Dear Sali,

Sepertinya sejak akses email di tempat langganan cari sinyal agak sulit, ku sudah jarang tulis email untukmu karena pasti lama kekirimnya, tunggu ke kota dulu baru kekirim. Tapi yang satu ini sepertinya layak menunggu agak lama.

Pastikan kamu ga lagi makan atau ga lagi menikmati keindahan dunia ya mak ketika baca kata-kata selanjutnya.

Yes, it’s unlike any other good story. But, still it is a prestasi buat Mawar Melati.

Setiap kali ku mau kembali ke kampung aku pasti belanja kebutuhan paling ga buat sebulan. Mulai dari indomi sampai hair vitamins. Yang ga pernah ketinggalan salah satunya adalah lem tikus cap gajah. Aku udah pernah cerita kan bagaimana monsternya tikus-tikus disini? Mulai dari makanin beras sampai gigitin jempol kakiku.

Berkat kehadiran lem tikus cap gajah ini, tikus-tikus ini udah mulai berkurang, tidak semerajalela dulu. Mungkin dia sekarang kalau jalan sudah lebih hati-hati supaya tidak kena lem.

Kemarin, aku buka papan lem tikus cap gajah yang baru di dekat jendela kamarku, tempat siti(kus) sering seliweran. Aku kasih umpan ikan goreng secuil di tengah-tengah jebakan.

Sebelum ku nyenyak, bahkan lem tikus cap gajah udah berhasil menangkap tiga ekor tikus sekaligus, bukan satu mak, tapi tiga. Aku cinta lem tikus cap gajah.

Di antara semua makhluk yang berkeliaran bebas di kehidupan domestik ini, siti ini emang makhluk yang paling ku takuti mak. Demi apapun juga. Even dibandingkan dengan sepuluh kecoak terbang, aku tetap lebih takut dengan siti meski cuma satu.

Dan bayangkan ketika aku melihat tiga sekaligus terperangkap disitu. Gw degdegan. Ofkors. Tiga kali lipat. Ofkors. Pertanyaan berikutnya, gimana caranya ngeberesin siti-siti ini? Aku harus menghabisi nyawanya sebelum melepaskan dia dari papan lem tikus cap gajah (papan ini bisa digunakan berulang-ulang btw). Biasanya aku nyuruh anak-anak buat matiin siti yang terperangkap, melepaskannya dari perangkap, dan mengenyahkannya jauh-jauh dari hadapanku. Tapi, kadang melihat bagaimana mereka menghabisi siti ini membuat hatiku lemas juga mak. Agak kejam soalnya.

As a grownup, who needs to finish whatever I started, kali ini ku mau menyelesaikannya mak. By myself. Aku ga mau pakai adegan darah-darah, so aku menutup akses siti untuk bisa bernafas sampai dia mati. Lalu, aku bungkus tanganku pakai kantong plastik buat ngambil jasadnya dari lem tikus cap gajah. Lem tikus cap gajah ini super banget lengketnya. Jadi, agak setengah mati juga melepaskan siti dari situ. Gw super degdegan pas mau megang. Masyaowoh! Aku ga cuma ngelihat, ga cuma ngebunuh, tapi megang, ketakutan terbesarku dalam kehidupan domestik ini. Aku pindahin ke sobekan karton air mineral sepenggal. Menangkapnya aku ga perlu lihat, ngebunuhnya aku juga ga perlu lihat. Tapi untuk ngebuangnya ga mungkin aku ga lihat. Aku akhirnya minta tolong anak-anak yang pulang sekolah untuk buangin siti ke tempat yang jauh.

Aku ga tau sih ini bisa disebut prestasi apa engga. Kalaupun bisa disebut prestasi, aku ga yakin ini adalah prestasi yang membanggakan. I didn’t find any pleasure by doing that too. Dan ga akan mau melakukan hal ini lagi. Meskipun akhirnya aku bisa berefleksi untuk bisa mengatasi ketakutan sepeleku. Kalau ketakutan sepele aja bisa dihadapi, ketakutan yang gedean dikit kudunya juga bisa diatasi kan ya mak. Gila wise abis gw. Haha. Padahal ceritanya mengindikasikan gw udah mulai psycho.

Butuh belasan tahun (sejak takut siti), ribuan mil, puluhan bahkan ratusan siti, dan hanya satu kesendirian buat aku bisa mengalahkan ketakutanku terhadap siti.

Di sisa tahun ini, semoga ada prestasi-prestasi kecil lainnya (not involve any murder anymore) yang bisa buat hidup terasa lebih baik dan langkah terasa lebih ringan ya mak. Semoga ada ketakutan-ketakutan lain yang bisa dilunakkan.

Tawanggire, 26 Juli 2017.

PS: lem tikus cap gajah terbukti lengket mak. Bisa digunakan untuk menjebak apapun yang nakal dan mengganggu.

For one and only lyfe 😘,
Cheers,

Mawar.

Jadi, moral dari cerita ini adalah, lem tikus ternyata ampuh :) Dan dear Mawar, kalo lo baca postingan ini, iya email terakhir dari lo se-memorable itu sampe harus banget gue post di blog. Prestasi yang sungguh membanggakan. Sampai jumpa di Jakarta!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s