It was always him

Suatu hari di Putussibau, Kalimantan Barat, ketika gue masih sementara bertugas jadi Pengajar Muda di tahun 2015, gue pernah dibonceng sama teman satu penempatan gue bernama Ali. Dia yang bawa motornya, gue duduk manis di belakang. Sambil jalan, gue lupa kami lagi ngomongin apa (kemungkinan besar ngomongin orang sih, as always hahaha), terus Ali nanya dengan santai, “Sal, kenapa Fajar?”

PERTANYAANNYA DALEM BANGET YHA. UNTUK UKURAN SEBUAH PERTANYAAN YANG DILONTARKAN SAMBIL BONCENG-BONCENGAN DI MOTOR.

Hahahaha. Tapi sayangnya meskipun pertanyaan itu sungguh sangat membekas, jawabannya enggak. Gue udah ga inget lagi gue jawab apa waktu itu, begitupun dengan Ali (gue udah nanya ke dia semalam dan dia bilang kami perlu reka ulang ke Putussibau karena dia pun lupa).

Bagi teman-teman terdekat, mungkin udah pada tau ya kalau perjalanan gue dan pakbos ini panjang dan banyak belok-beloknya. Dulu saking panjangnya, gue sempet berniat bikin beberapa seri tentang bagaimana kami bertemu. Tapi apa daya, tulisan itu cuma terwujud di episode satu doang huahahah pemalas :))

Baca: How I Met My…. #1

LDR, teleponan dan video call yang tidak berkesudahan, berantem, ga direstuin orang tua, farewell, jealous-an, ada orang ketiga empat lima dst, berantem lagi, beda agama, kerjaan > pacaran, ambisi pribadi > visi bersama, berantem terus, sampe akhirnya kami memutuskan untuk bosen berantem dan mulai mengeluarkan usaha untuk tetap bersama.

Usaha itu belum selesai, dan ga bakal pernah selesai, karena konon katanya kebersamaan itu harus diusahakan terus menerus kan, ngga boleh berhenti di satu titik. Tapi usaha itu jelas ditandai dengan satu momentum mendebarkan, bagi dia, dan memalukan, bagi gue. Untung in the end tetep hepi sih hahaha.

namaaz
21/10/17: First step for the future

Pada beberapa Sabtu lalu, dia bilang kami akan makan enak dan dia suru gue ga boleh telat karena dia udah reservasi. Ini jelas mencurigakan, karena dia jarang menggunakan istilah “makan enak”. Ketika akhirnya kami datang ke restoran yang ternyata bernama Namaaz itu, gue kaget karena makanannya 18 course hahahah buset pulang-pulang kenyang gila sih. Tapi semua makanannya enak! Dan datengnya secuil-secuil aja, jadi sebenernya porsinya masih bisa dihabiskan.

Cuma aneh banget rasanya ngeliat pakbos, selama makan kayanya ngga lahap gitu huahaha. Banyak yang nyisa, even gue makan lebih banyak dari dia. Dan di tengah-tengah makan, dia sempet pamit mau ke toilet segala. Sungguh tak wajar, karena biasanya yang lebih sering ke toilet adalah gue, bukan dia.

Later on dia baru ngaku, “Ya menurut kamu aja Sal, aku daritadi udah ga bisa makan saking nervousnya.”

Kacian ya makan mahal-mahal tapi ga dinikmatin :))

Singkat cerita di sela-sela coursenya tiba-tiba Chef datang ke meja kami, membawa bunga warna kuning dan puding Mangga, juga kalung yang ada di antaranya. Pakbos berlutut, gue panik, semua orang ngeliatin, dia speech, gue makin malu, speechnya ga selesai selesai, gue bolak balik bilang ‘Udah dong plis yuk duduk aja yuk‘, petugas resto bantu ngerekamin pake gopro, pengunjung lain masih ngeliatin juga, akhirnya speech selesai, dan semuanya pun beres.

Ku senang, tapi ku sungguh bersyukur kejadian kayak begini cukup dilalui sekali aja seumur hidup >.< Malu banget jadi pusat perhatian kaya gitu hahaha. Dia pun ngakunya demikian, nervous lebih parah daripada pas mau sidang master.

Dan satu minggu setelahnya, keluarga pakbos datang ke rumah orang tua gue, kenalan plus ngobrol-ngobrol, dan ketok palu deh untuk rencana-rencana selanjutnya.

IMG_8432
28/10/17: Pakbos sampe merem saking terangnya masa depan kami :)) AMIN!

Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, semuanya all by God’s grace sih <3 Gue bersyukur Tuhan merestui mendengarkan doa-doa kami. Dan bersyukur juga karena pakbos adalah partner yang tangguh untuk diajak sama-sama ngeluarin effort.

Ga kebayang kalau kami berhenti berusaha, atau nyerah dan memutuskan udah ah cari yang lebih gampang aja. Mungkin Tuhan juga langsung yang, “Yaudah as you wish aja gaes.”

Tapi sama pakbos, kata nyerah itu ga ada di kamus. Dia terlalu sombong untuk mengakui bahwa dirinya ngga bisa. Bawaan sejak S1 kayanya, tauk tuh kuliah di mana sik dulu :p

Dan karena gue juga kompetitif + ambisius juga, ya bawaannya keseret lah huahaha. So pada akhirnya, kami sama-sama jadi mantan terindah satu sama lain, yang otomatis saling berpegangan kalo denger lagu Kali Kedua nya Raisa. Receh banget, I know. Tapi ya hidup kan emang untuk menertawakan hal-hal receh kaya begini yah.

Jadi, kenapa Fajar, Sal?

Karena dia selalu tahu apa yang dia mau, dia bisa melakukan semua yang bisa gue lakukan bahkan can do it better (kecuali bahasa Korea ofkors, HA!), dan dia satu-satunya orang yang membuat gue merasa butuh orang lain :)

Gue selalu merasa content with myself, dan dulu gue ga ngerti konsep “You complete me, I cannot live without you”. Gue pikir kayanya gue bisa-bisa aja hidup tanpa pasangan hahaha. Terus gue baru ngeh oh itu emang quote buat anak remaja aja toh, kalau udah tua mah dikit kata-kata mutiaranya berubah jadi, “Find someone complimentary, not supplementary.”

Then I look at him. He’s content. He’s secure.

Dengan dia, gue sadar bahwa kami tidak saling menyerap energi satu sama lain. Kalau dianalogikan dengan gelas, gelas gue penuh, dan gelas dia pun penuh. Airnya udah luber ke mana mana, sehingga kalo gue bagi dikit kebahagiaan ke dia, gelas gue ga jadi berkurang. Begitu pula dengan dia, kalo gue mau nyoel nyoel gelayutan sama dia, ga bikin gelas energi dia berkurang.

Jadi begitulah. I chose him.

Ada masa-masa kami perlu belajar sendiri (kayak mo ujian gitu ye hahah), but then I chose him again.

Because after all…..

It was always him!

Merry Christmas! :)

 

2 Replies to “It was always him”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s