So They Said I Married a Genius

Minggu lalu gue berkesempatan nemenin Fajar jadi pembicara di sebuah camp renewable energy. (Yes, ada lho camp seperti ini, gue pun baru tau hahaha)

Sesinya hari Sabtu sore jam 4, tapi kami sudah tiba di TKP sejak jam makan siang. Basa-basi sedikit sama panitia dan beberapa mentor lain, terus semua orang yang kami temui pasti bilang, “Wah mas kita udah nungguin nih sesinya. Tadi di kelas juga kita udah bilang, kalau ada pertanyaan, puas puasin aja tanya sama Mas Fajar di sesi terakhir.

Kemudian sore itu berlanjut dan untuk pertama kalinya gue akhirnya menyaksikan langsung orang ini presentasi di depan umum. 6 tahun kenal, baru kali ini lho gue lihat dia presentasi hahah. Dan dari belakang gue lihat, banyak orang yang nyatet kata-kata dia, motret pptnya, dan aktif bertanya. Dalam hati gue mikir, WAW ini orang beneran jago ya di bidangnya? :))

Satu minggu berlalu, dan hari ini gue disibukkan dengan bantuin dia sebar iklan lowongan pekerjaan untuk posisi site manager PLTS Likupang. Salah satu orang yang gue hubungi untuk minta tolong sebar iklannya adalah dosen Unsrat yang dulu pernah sama-sama kuliah di Busan. Gue ragu sih bapak ini kenal dengan Fajar, karena masa tinggal di Koreanya juga beda, dan kotanya pun jauhh.

Tapi terus si bapak membalas pesan gue dengan, “Oke siap Mbak Sali, tapi jangan expect skillnya sama kayak Mas Fajar yah, we are local engineers..

Ini cuma dua dari sekian banyak momen gue dikasi tau bahwa roommate gue pinter setengah mati. Dan iya, gue bangga banget kog dengernya <3 Gak pernah putus juga gue kumandangkan kembali pujian-pujian ini ke telinga dia kalau dia lagi merasa stress dan cupu berat.

Tapi yang jadi pertanyaan gue adalah, kalau emang kata orang dia sepinter itu, kenapa kalo di depan gue rasa-rasanya tetep gue lebih pinter dari dia ya? HAHAHAH. Aduh perkara mandi lah kagak bawa handuk, barang lah bolak balik ketinggalan, headset sebulan sekali ilang, parkir HAMPIR SELALU LUPA di mana…

Hehehe thank you for showing me the other side of you, Mr. Genius. Nope, ku menulis begini bukan berarti ku tak menerima sisimu yang kurang begitu pintar ini kog. Lagipula toh aku sudah menemukan solusi untuk kamu yang suka lupa bawa handuk (dengan cara taro jemurannya di depan pintu kamar mandi PERSIS), sering ketinggalan barang (teror pake wasap, tulis di evernote, jangan lupa masukin google calendar), headset sebulan sekali ilang (ya beli lagi aja tiap bulan, dont rich people difficult lah), dan sering lupa parkir di mana (ketawa aja sambil ikut muterin parkiran).

Sungguhlah menyayangi kamu itu pekerjaan berat, Fajar. Tapi untungnya ku pekerja keras!! (Mungkin ini bisa gue cantumkan di CV yah berikutnya kalau mau nyari kerja?)

And so they said I married a genius.

Tapi coba dipikir lagi deh. Kalau ada perempuan, yang konon katanya kurang pintar, berhasil menarik perhatian laki-laki, yang konon katanya super pintar, sampe akhirnya mereka jadian dan menikah… itu sebenernya yang jenius yang mana? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s