mulutmu harimaumu vs SALAH SENDIRI

konon kata ibu saya istilah mulutmu harimaumu itu sudah populer dari jaman Indonesia baru merdeka, soalnya ibu saya sering dapet ceramah singkat dari ibunya lagi di jaman mereka berdua masih muda dulu. saya sendiri sih baru kenal istilah ini sejak salah satu provider henpon di indonesia meminjamnya sebagai slogan untuk iklannya.

nahh bicara tentang istilah ini, ibu saya selalu bilang bahwa manusia harus selalu hati-hati dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. kalau ga tau apa-apa, mendingan diem aja deh. kadang menutup mulut itu jauuuhhh lebih baik daripada ngomong sepatah kata.

dan dikaitkan dengan beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini, mungkin istilah mulutmu harimaumu emang bener-bener harus disosialisasikan lagi kepada orang-orang. berawal dari salah satu teman saya yang bercerita bahwa dia terlibat perang mulut dengan temannya hanya karena temannya mengatakan sesuatu yang tidak pantas dia katakan, sampai saya sendiri yang sering merasa sakit hati gara-gara teman dekat saya sendiri yang suka salah ngomong dan membuat saya sedikit terdiam sambil tersenyum masam.

kadang kalau sudah begini, saya suka langsung marah dalam hati dan bilang,

“Kurang ngajarrr, gak tau apa-apa kan lo tentang gue, berani-beraninya ngomong kaya gitu..”

trus nanti abis hati saya berkobar-kobar dan marah kaya gitu, saya merasa seneng dan puas banget tuh. rasanya enakk gitu bisa seenaknya ngamuk-ngamuk sama orang lain dalam hati. tapiiii aneh bin ajaib, tiba-tiba salah satu sisi lain dalam hati saya ga rela liat saya nyalahin orang lain dan dia turut ikut campur dengan membela,

“Ya wajar aja dia ngomong kaya gitu, dia emang beneran ga tau apa-apa tentang lo. Dia mau tau, tapi lo nya ga mau kasi tau. Lo nya yang terlalu tertutup, makanya jangan berharap dia ngertiin lo. Nah, kalau uda gini, sapa yang mau disalahin?”

—“

Oct 21, 2008 12:34 AM

menonton Fiksi

di malam hari yang agak dingin, seorang Sali dan seorang Kuna pergi memanfaatkan sisa waktu dan sisa tenaga dan sisa uang yang ada untuk menonton film berjudul “Fiksi” yang ditayangkan dalam festival film internasional di kota kami. setelah menyaksikan film dengan jalan cerita dan ide yang brilian, kami pun puas dan semangat ketika sesi tanya jawab dengan sutradaranya usai dan diganti dengan sesi tanda tangan.

di tengah ributnya orang berucap dalam bahasa korea, saya nyosor dan menyodorkan buku acara plus spidol merah,

‘ini mbak, silakan…’

“wah…” sambil menatap saya, “kuliah di sini ya?”

‘hehe iya… sukses terus ya Mbak..’

“iya,makasih ya..”

dan kami pun keluar dari studio 5 itu. berjalan dengan riang gembira, senyum lebar terpampang di bibir, dan langkah pun terasa ringan. namun tiba-tiba,

‘wait Kun….. kayanya….. tiket gue 2 biji ilang deh.. arrrghh mana nih mana nih??’

“yaampun Sal, jangan bilang tadi tiket yang jatoh di deket layar itu punya lo…’

‘ha?’

“iya gue liat ada tiket jatoh 2 lembar di deket orang-orang situ…. mana gue tau itu punya lo..”

‘HUAAA AYO AMBIL LAGI!’

maka saya pun berjalan super cepat (dan menurut Kuna itu suda termasuk dalam kategori lari) ke arah studio lagi. di otak saya cuma satu, tiket tiket tiket! saya ga rela dua tiket film yang uda saya tonton minggu lalu ilang begitu saja. lumayan buat dipamerin ke anak cucu.

penuh semangat dan penuh energi, saya buru-buru masuk lagi ke studio. namun sayang, saking semangatnya, prosesi masuk saya diiringi dengan bunyi GRUDUK BUK BUK BUK ditambah teriakan Kuna, “OH MAI GOTT SALIII!!!!”

lalu hal berikutnya yang saya ingat adalah saya yang ketika itu sedang berjalan cepat mendadak diberi percepatan lebih lagi sehingga bisa dibilang saya benar-benar berlari, sebagai bentuk dari usaha menyeimbangkan kembali kedua kaki saya yang tersandung karpet studio di pintu masuk. DAMN!

oh. ada lagi hal berikutnya yang saya ingat!!

semua mata memandang ke arah saya, termasuk mata si mbak Mouly Suryanya plus beberapa staff plus segerombolan orang Korea yang masi ngantri minta tanda tangan.

astaga. saya benar-benar dipermalukan. sambil tergesa-gesa saya pun memungut 2 tiket saya yang terjatuh tadi dan berusaha menutupi muka saya dengan cara menunduk dan hanya berani menatap lantai studio. saya tau usaha saya itu sia-sia, tapi apa lagi yang bisa saya perbuat selain itu?

>.< maluu.

Oct 8, 2008 11:41 AM

dimarahin Pak Dokter

“SALI! sakit sekali sih??? mustinya ga minum ponstan. minum kwak tu Papaverin!!!

‘lah sali mana bawa obatnya ke mana mana… lagian pas kejadian sali ga di kamar. sali jauh banget dari kamar. mau pulang aja ga bisa, nyaris harus digendong temen sali..’

Maar sali kan bisa rasa toh, kalo so saki saki sadiki hajar jo tu Papaverin. jangan kwak tu PONSTAN!!!”

suara di seberang sana semakin memanjang dan mengeras.

“… lain kali jangan minum Ponstan!”

saya diam.

“Denger ya, jadi malam ini minum Papaverin, besok juga. 2 kali 1.”

saya masih diam. saya kesal.

saya merasa rasa sakit saya suda basi. tadi siang saya kesakitan. saya minum obat, dan manjur. sekarang saya merasa super sehat. kenapa musti berisik sih??

“Sal? sali di mana sekarang?”

‘ya di kamarlah, ini uda jam 9 lewat di sini!’ (saya selalu pakai akhiran -lah kalau suda kesal)

“Oo… iyo kang.”

klik. sambungan dimatikan.

tanpa sadar air mata saya sedikit mengalir. saya benci dimarahi, dan saya benci sakit. tapi saya lebih benci lagi fakta bahwa saya jauh dari mereka yang memarahi saya ketika sakit. karena saya tau mereka marah untuk kebaikan saya.

fiuhh. at least one lesson learned: jangan pernah lagi minum Ponstan. atau kalaupun mau minum Ponstan, JANGAN BILANG SAMA MAMA. apalagi papa >.<

Sep 17, 2008 11:51 AM

fals

beberapa hari (atau beberapa minggu, kurang ingat juga) setelah saya ulang tahun bulan november tahun 2007 lalu, seorang teman baik dan teman laki-lakinya menjemput saya dan kami meluncur ke daerah Jakarta Pusat.

di dalam mobil, teman baik saya bilang, “Mon gue punya kado ulang taun buat lo. Liat sini nih..” sambil menunjuk ke arah gelap di antara kedua jok mobil di depan saya.

dengan bantuan penerangan dari henpon teman baik saya itu, saya dapat melihat sebuah aquarium kecil berisi air dan dua ekor makhluk kecil yang sedang berenang-renang di dalamnya.

refleks, saya kaget. sedikit panik, saya bertanya, “APAAN NIH TIK?!”

dengan tawa merebak, teman baik saya menjawab, “Ini ikan mon, dan ini kado ulang taun lo. selamat ulang taun ya mon, awas lo sampe ni ikan ga dijaga baik baik. gue marah loh mon.”

dan begitulah sejarah singkat kepemilikan saya atas kedua ekor ikan mas koki mungil mungil yang sekarang sudah tidak mungil lagi dan sepakat dinamai iwan dan fals.

setau saya, hidup iwan dan fals bahagia aman dan tentram tentram saja. meskipun saya sudah lama tidak menyapa mereka tiap pagi berhubung saya sudah terlempar ke negara antah berantah ini, saya tau ibu saya di rumah rajin mengajak mereka berbicara dan mengurus mereka dengan baik.

sayangnya, ada pihak tak bertanggung jawab yang merusak masa depan iwan fals saya. mereka adalah petugas listrik!! huaaaa.

ceritanya, sekitar dua minggu yang lalu ibu saya pulang sehabis berjalan jalan ngaapain ga tau mendapati iwan fals lagi sesak napas di kolamnya sementara lampu di rumah mati semua. grrrr.

dengan heroik ibu saya nekat membawa iwan fals beserta toples mungilnya meluncur ke rumah tante saya, yang dipercayai memiliki fasilitas baik untuk mengurus ikan plus energi listrik yang memadai. benar-benar tampak jagoan, ibu saya bahkan memeluk toples iwan fals itu dengan hanya dilapisi kantong plastik sementara dirinya dibonceng abang ojek!! yihiyy!! go mama go mama goo!!

tiba di rumah tante saya, baju ibu saya basah semua akibat air dari toples yang dipeluknya muncrat ke mana mana, sementara iwan fals segera diberikan perawatan terbaik serta aquarium yang lebih layak. kali ini iwan fals bisa berenang secara puas. tidak hanya bisa berputar putar seperti ketika masi berada di toplesnya yang mungil, kini mereka bisa berkelana ke pojok pojok aquarium dan bertemu teman sebangsanya yang juga mungil mungil.

namun sayang, kebahagiaan iwan fals dan ibu saya terpaksa direnggut oleh Tuhan beberapa jam yang lalu.

ketika saya sedang asik memilih keset baru untuk dibeli di toko Daiso tadi sore, masuklah sms ibu saya yang berbunyi, “sali, fals sudah meninggal.”

menyusul dengan pesan pendek itu, tante saya juga mengatakan lewat facebook bahwa mereka telah mengubur fals dibawah pohon dan diberi penanda sehingga saya masi bisa mengunjunginya kalau saya pulang nanti (yang mana masi lama banget dan kemungkinan besar kuburannya juga uda digaruk sama kucing kucing tante saya).

well yah.. memang kematian fals begitu tiba-tiba dan tidak jelas apa penyebabnya (tante saya yakin bukan karena stress dan jelas jelas bukan karena mati lampu). namun tetap saja segenap sanak saudara saya di jakarta sibuk minta maaf sama saya.. katanya mereka yakin saya akan merasa sangat sedih dan kehilangan.

jujur, iya tentu saja saya sangat menyayangi iwan fals saya. tapi karena campur tangan dalam pembersihan toples dan pemberian makan lebih sering dilakukan oleh ibu saya, saya yakin seratus persen ibu sayalah yang lebih sedih dengan kematian ikan saya ini.

jadi.. untuk mama..

jangan sedih ya ma. ga usa merasa bersalah juga. mama mustinya bangga, itu ikan mas koki bisa bertahan berapa bulan.. hampir setaun kali. tua juga kan. hebat hebat. titip salam ya buat iwan. semoga dengan ketidakadaan fals sekarang, dia bisa bernyanyi dengan suara yang lebih merdu dan ga pake fals fals segala :D

Aug 26, 2008 12:41 PM

rindu

tadinya saya pikir saya paling benci saat saat ini. saat di mana saya mulai menjadi mellow dan ingin pulang rumah hanya karena sedang merindukan seseorang (atau banyak orang). kadang perasaan rindu itu membuat saya menjadi sedikit sedih.

namun rupanya ada saat yang lebih saya benci lagi, yaitu saat di mana seseorang (atau banyak orang) tiba-tiba bilang bahwa mereka merindukan saya. biasanya sih saya spontan menanggapi dengan memberi jawaban standar “haha makasih” atau kalau sambil sok narsis “weitttsss lo uda orang kesekian yang ngomong gitu”.

tapi sebenarnya hal ini membuat saya menjadi banyak sedih, karena entah mengapa perasaan rindu saya sendiri membludak menjadi beberapa kali lipat lebih besar.

ah tau ah. anyway SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIA (maaf telat sehari).

Aug 17, 2008 1:33 PM

if God allows me to meet anyone from Heaven to comfort me here, can it be my Grandmother?

it’s not that I always shared stories with her back when she’s still alive. well uhm, I have not even tried, but she’s gone already.

so I wanna make it real this time. I’ll treat her at our favourite hotel (no no I’m not that rich, but that’s a place where we usually meet, since she and my mom worked there) and I’ll let her buy me a Kolala. that’s a snack she never forgot to buy me one. well the fact is, she’s the only one who know I’m addicted to that food- or cotton- whatever you call it.

I’ll be the one who’s gonna tell hundreds stories, so she doesn’t need to worry. she’s not gonna thirst her throat. I just need her to sit next to me, and be patient.

oh. PATIENT! this is very important, cause like I said, I have a bunch of stories to spill, and some of them might be sooo unexpected. even my mom’s probably gonna punish me for some things I’ve done, so you can imagine how scary they were. and since this will be our first meeting after I saw her laying down on her bed stiffly, I really don’t want her to be mad at me. please. I know that behind that charming face you have you can be very frightful if something annoys you, so I beg you.

anyway,

How’s that sound, Grandma? Feel free to join me spending my never ending holiday anytime. I will be ready waiting for you here :)

Aug 4, 2008 1:38 AM

anak bodoh

saya ingin berbaring di tempat tidur keras dengan sprei tweety dan aroma kamar yang berbau seperti kapur barus serta dihiasi dinding putih yang mengalami gejala keretakan di beberapa sudut. tak lupa ditambah dengan bunyi putaran kipas angin yang sudah tua, tinggal menarik selimut dari kain perca dengan sekali hentakan tangan. habis itu tinggal menunggu sosok yang dirindukan itu membuka pintu krem besar dan melongokkan kepalanya seraya berkata,

“Belum tidur nak?”

pura-pura sudah bermimpi dengan asyik, saya tinggal berakting kaku diam tanpa suara dan membiarkannya melangkah ke arah tempat tidur, membetulkan bagian selimut yang agak terkuak di dekat kaki, melipat majalah yang terlempar hampir masuk ke bawah kolong tempat tidur, dan kembali keluar kamar sambil tak lupa menekan tombol lampu.

saya pun tertidur pulas.

Jul 29, 2008 2:53 PM

ca-be-go

adalah seorang anak nakal berumur sekitar 7 tahun. mungkin masih duduk di kelas 2 SD, kurang ingat juga. hobinya adalah mengutak-atik segala perkakas, menirukan cara orang lain berbicara, dan melawan orang tua.

pada suatu siang yang panas, duduklah ia di atas bangku di ruang dapur, nikmat menyantap makan siangnya. sang ibu ada di situ, begitu pula dengan sang adik, dan beberapa sanak saudara. (ntah saudara beneran atau bukan, mungkin juga asisten rumah tangga yang sudah dianggap saudara). tidak jelas bagaimana awalnya, namun akhirnya terjadilah peristiwa itu.

sang anak: ?%$!

sang ibu: heh! kamu harus dengar-dengaran ya sama mama!!

sang anak: aaaahh. MAMA BEGO!!

sang ibu: …

detik berikutnya, sang ibu meraih ke arah lemari bumbu dapur, mengambil sebuah cabe besar berwarna merah, dan menyodorkannya ke mulut sang anak seraya berkata,”APA KAMU BILANG? COBA BILANG SEKALI LAGI SINI SAMA MAMA! BERANI KAMU YA!! SINI CUCI DULU MULUTMU PAKE CABE! NIH! SINI!!”

(tamat)

Jul 22, 2008 12:38 AM

bo-hae

di hari ke-18 ini, kulihat seorang anak perempuan, ntah umur berapa, yang jelas masih di tingkat sekolah dasar. potongan rambutnya pendek, badannya kurus normal, mukanya mulus (tentu tanpa jerawat) dan gerak-geriknya lincah. sifatnya begitu ceria, tidak tampak takut berada di tengah kerumunan kakak-kakak yang tidak dikenalnya. otak tampak cemerlang, tercermin dari caranya bicara.

duh game nya pake bahasa indonesia aja deh..’

‘iya ato ga bahasa inggris deh bahasa inggris…’

‘bahas cina? bahasa jepang?’

“JANGAAANN.. BAHASA KOREA! KAN HARUS BELAJAR!!”

tertawalah kami (padahal dalam hati sedikit miris) dan menuruti kemauan anak kecil yang lucu itu. permainan menghubung-hubungkan kata pun dimulai -dalam bahasa korea-, dan apabila otak kami sedikit macet, memohonlah kami pada sang ibu.

sonsengnim.. tolongiiin..

apaan nih, dimulai dengan RI..

ri.. risoto? riyanto? hua…’

sayangnya anak kecil itu terlalu pintar (sudah kubilang kan tadi).

“GA BOLEH!

MAMA GA BOLEH NGAJARIN!!

GA BOLEH DIBANTUIN!!”

ah betapa lucunya anak itu. 이보해. andai aku juga bisa seperti itu. otaknya seperti punya remote dvd yang sewaktu-waktu bisa diubah pilihan bahasanya: Korea, Indonesia, atau Inggris. iri.

nilai keluar!!

HAHAHAHA

indahnya hidup ini.

ketika pagi-pagi masi ngantuk dan dibangunin paksa sama jess, akhirnya seorang sali yang malas dan seorang jeje yang mudah kebosanan membuka mata mereka dan berjalan ke arah komputer masing masing.

“JE!! Nilai gue bagus jeeee!! Wah jadi de gue nraktir lo.”

‘Waaahhh hebat hebat! Gue juga nih..’

“haaaa gila je, A+ semua? Huahahaha asikk asiik.”

maka kami pun turun sarapan dengan riang gembira.