Menikah secara Ekumenis

Sampe kemarin gue posting-posting beberapa live photos dari gereja, tetep ada aja loh orang yang mesej bilang, “Eh Sali nikah ya? Waah mendadak amat, selamat!

I was like, aduh andai keputusan seberani ini bisa diambil mendadak. Hahaha gue mau waxing aja book-nya harus H-sebulan, ya kali deh nikah pake acara dadakan.

Kalau mau tarik mundur, sebenarnya semua persiapan udah dimulai sejak awal 2017.

  • Januari 2017 mulai ngobrol sama mama papa perihal nikah…
  • Februari 2017 konsultasi dengan Pendeta Hotma
  • April 2017 Fajar ngomong sekali lagi sama papa bahwa emang mau nikahin Sali
  • Juni 2017 konsultasi dengan Romo Sudri
  • Juni 2017 menghadap mama papa Sali
  • Juni 2017 menghadap mama papa Fajar
  • Juni 2017 pas Lebaran mama papa Sali dan mama papa Fajar ketemuan di Jakarta
  • Agustus 2017 ikut Discovery dari Komisi Kerasulan Keluarga KAJ di Paroki Helena Karawaci
  • September 2017 book venue resepsi
  • Oktober 2017 book gereja
  • Oktober 2017 lamaran pribadi + keluarga
  • Oktober 2017 atestasi keluar HKBP Menteng
  • Desember 2017 Medical Check Up
  • Desember 2017 book dekor + entertainment (DJ)
  • Januari 2018 book Wedding Organizer + MC + choir Gereja
  • Februari 2018 atestasi masuk GKI Cawang
  • Februari 2018 MRT di Paroki Santa Blok Q
  • Maret 2018 Bina Pranikah di GKI Gunung Sahari
  • Maret 2018 Sali urus surat N1, N2, N4, PM1
  • April 2018 Fajar urus surat N1, N2, N4, PM1
  • April 2018 penyelidikan Kanonik dengan Romo Sudri
  • Mei 2018 percakapan pertama dengan Pendeta Yanti
  • Juni 2018 technical meeting dengan semua vendor
  • Juni 2018 Gladi Resik gereja
  • Juli 2018 urus prenup di notaris
  • Juli 2018 percakapan kedua/terakhir dengan Pendeta Yanti

Setelah gue tulis lagi semuanya seperti ini, emang kocak sih. Ternyata persiapan pernikahan kami kebanyakan di bagian diskusinya :)) Diskusi dengan keluarga, diskusi berdua, diskusi dengan Romo, diskusi dengan Pendeta, sampe bolak balik gereja sana sini.. Itu semua kenapa? Karena kami beda agama, suku, ras, kepribadian, karakter, dll dkk. Hahah banyak bener ya bedanya.

Tapi yang emang bikin paling ribet itu beda agamanya sih. Banyak yang bilang, “Ah cuma Kristen sama Katolik doang..” 

Well I wish kata “cuma” itu beneran berlaku di pernikahan. Sayangnya enggak! Nikah satu agama tapi beda denominasi gereja aja kadang suka kagok, apalagi ini yekaan. Terutama karena pindah agama (gue ngikut Fajar atau sebaliknya) bukan menjadi opsi bagi kami berdua hehehe. Jadi, demi mengamalkan sila Pancasila yang ke-5 yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jadilah kami menikah dengan cara ekumenis.

Ekumenis itu apa?

Bisa digoogle sendiri, tapi intinya ya tata cara pernikahan yang menghadirkan Pendeta dan juga Romo. Ibadah dilaksanakan di Gereja Katolik, tapi kotbah dibawakan oleh Pendeta Kristen (atau sebaliknya). Secara umum misa kami kemarin dipimpin oleh Romo, tapi di bagian peneguhan pernikahan dan pemberian berkat Pendeta pun ikut memberkati.

Sejujurnya dalam keseluruhan persiapan pernikahan ini, fokus gue emang di pernikahan ekumenis hahaha. Gimana caranya, mana aja gereja yang bolehin, pendeta mana yang bisa naik mimbar, nanti ikut prosesi masuk apa engga, liturginya seperti apa, syarat administrasinya apa, wah semua udah gue telen sampe kenyang sejak tahun lalu. Harap maklum, di keluarga kami ga ada yang nikah kaya gini. Temen-temen baik pun ga ada. Jadi emang pegangan hidup gue ketika itu hanyalah google semata, (DAN TUHAN TENTUNYA!!) lol. Jadi buat siapapun yang kebetulan lihat postingan ini dan mau nanya lebih jauh tentang pernikahan ekumenis atau oikumene, silakan tinggalkan komentar atau email di ksjato at gmail ya. Ku dengan senang hati membantu!

WhatsApp Image 2018-07-11 at 9.25.35 PM

ps: mohon maaf ya gue belom dapet foto versi bagusnya dari fotografer, jadi terpaksa ngasi liat foto ini dulu. Romo dan Pendeta ada di belakang kami :D

Untuk liturgi lengkap, siapa tahu ada yang butuh, sila baca di sini: Liturgi Sali & Fajar

Kamsahamnida!

My Big Fat Bataknese Family

Sebagai half-blood Batak, kadang gue suka lupa bahwa Sangalian Jato Kaunang itu bukan seorang Manado saja. Gak semua orang di keluarga gue ngomongnnya pake kita-ngana. Ada juga sodara yang kalo ngumpul bawanya ulos dan suka mempertanyakan kenapa gue ga aktif di HKBP atau GKPA.

Heheh anyway, thanks to acara ngumpul-ngumpul setahun sekali seperti Bona Taon hari Minggu, 2 April 2017 lalu, (yessss exactly, udah April tapi masih Bona Taon, YA BIAR LAH YAA lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali), gue diingatkan bahwa ada sebagian diri gue yang berdarah Batak.

Terus ngumpul ngumpul kaya gini bikin gue sadar sih kenapa gue suka liat acara musik, ga bisa diem kalo lagunya seru, punya kecenderungan joget-joget ga behave, dan selalu senang kalo diajak karaoke. It’s in the blood menn!! :))

Sebagai info tambahan, Manado juga kalo ngumpul-ngumpul pasti ada nyanyi dan jogetnya. Nah kalo Batak digabung Manado paket kombo lah ya….

Belajar Menjadi Perempuan

Saya adalah perempuan yang beruntung. Saya sehat, saya berpendidikan, saya dibesarkan dalam keluarga yang takut akan Tuhan dan penuh kasih sayang, dan saya punya banyak panutan hidup. Salah satunya Oma.

Saya memang tidak pernah tinggal bersama Oma dalam waktu yang cukup lama, karena kami terpaut jarak. Saya lahir dan besar di Jakarta, sempat pindah ke Bandung dan Korea, sementara Oma menikmati hari-harinya di Manado. Tentunya sesekali Oma pesiar ke luar kota dan luar negeri, tapi tetap saja ujung-ujungnya Oma akan kembali ke “markasnya” di Manado. Meskipun demikian, Oma mengajarkan banyak hal kepada saya, terutama sebagai perempuan.

Pelajaran pertama: perempuan harus selalu waspada.

Belasan tahun lalu, saya masih kecil dan kami sekeluarga tinggal di Bandung. Suatu hari, saya bermain Play Station di rumah bersama abang saya dan teman-temannya. Saya asyik bercengkerama dengan mereka, tertawa riang gembira, tanpa menyadari saya satu-satunya anak perempuan di ruangan itu. Oma yang kebetulan sedang berlibur di rumah kami kemudian melihat hal itu dan memanggil saya keluar. “Sali! Jangan ketawa-ketiwi nempel sana-sini dengan laki-laki semua! Anak perempuan jangan mau ditepuk ditoyor begitu!” omel Oma.

Ketika itu saya diam saja. Saya tidak mengerti, dan dalam hati saya menggerutu dan bingung. Rasanya tadi saya cuma main PS? Apa yang salah dengan tertawa terbahak-bahak sana sini? Jangan-jangan saya dimarahi karena saya kalah main PS (seperti biasanya)?

Bertahun-tahun kemudian baru saya mengerti moral pertama dari adegan di atas, yakni bahwa perempuan tidak boleh membiarkan dirinya tanpa perlindungan. Bahkan ketika saya pikir semua aman, ketika saya pikir saya sedang bermain, bisa saja keadaan tidak seindah yang saya kira. Okesip. Terima kasih, Oma!

Pelajaran kedua: perempuan harus cerdas.

Sedikit informasi, hobi Oma adalah belajar. Dari zaman Indonesia masih dijajah, hingga Indonesia sudah merdeka, hingga Indonesia dijajah kembali oleh korupsi dan teman-temannya, Oma terus belajar. Oma pernah belajar di sekolah Jepang, sekolah Belanda, dan pernah dapat beasiswa ke Australia dan Amerika. Di usia 80-an Oma berhasil menamatkan sekolah S3 sehingga nama Oma sekarang menjadi luar biasa panjang dengan hiasan gelar aneka rupa.

Syukurnya, hobi belajar ini ditularkan kepada anak-anak dan cucu-cucu Oma, meskipun mungkin skalanya belum setinggi Oma. Oma memastikan kami semua bersekolah tinggi, dan Oma selalu menyediakan waktu untuk datang ke acara sekolah atau wisuda kami. Februari 2012, Oma berusia 82 tahun dan rela menembus kejamnya musim dingin di Korea Selatan demi menghadiri wisuda saya, cucu perempuan Oma satu-satunya. Betapa bangganya saya bisa mengenakan toga S1 dan resmi dinyatakan lulus dari program Computer Science, Kyungsung University, Busan, Korea Selatan dengan disaksikan oleh Oma. Pertanyaan pertama Oma begitu kami kembali ke hotel setelah seharian berjuang melawan dinginnya angin Busan adalah, “So, what’s next, Sali? Mo sekolah apa lagi ngana?”

Pertanyaan ini cukup unik dan fundamental. Buktinya, di tahun 2015 lalu ketika Oma sempat sakit dan mengalami penurunan daya ingat, pertanyaan Oma setiap kali melihat saya tetaplah satu, “Sali kapan wisuda?” Mungkin Oma lupa saya sudah lulus S1 dan bahkan dirinya pernah menghadiri wisuda saya. Namun saya sungguh bersyukur saya punya Oma yang ketika pikun otomatis pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar sekolah, bukannya pertanyaan paling mainstream ‘kapan menikah’ :D

Pelajaran nomor tiga: perempuan harus cantik.

Pernah dengar kabar burung yang mengatakan bahwa perempuan Manado itu cantik-cantik? Pernah dengan gosip perempuan Manado paling pintar bergaya? Well, itu gosip belaka sodara-sodarih!! Perempuan Manado cantik, pandai merias diri, suka menata rambut, gemar membeli baju, dan hobi mengoleksi sepatu baru. Ini bukan bicara tentang saya, karena saya akui saya hanya setengah Manadonya :D Bukti nyatanya yahh Oma saya sendiri!

Saya kenal Oma sejak Oma sudah menjadi…. seorang Oma. Saya tidak pernah melihat langsung Oma ketika masih gadis rupanya seperti apa. Saya hanya berkesempatan melihat sosok Oma ketika muda lewat foto. Namun, bahkan di usia lanjutnya pun Oma selalu tampil menawan, tidak seperti oma-oma pada umumnya. Ini tentu saja mematahkan pandangan saya ketika masih kecil dulu, di mana sosok seorang nenek dalam buku pelajaran biasanya digambarkan dengan seorang perempuan tua renta memakai kain lusuh dan bertumpu pada tongkat reyot, sementara rambutnya putih dan digulung ke atas.

Oma dengan suksesnya membuyarkan khayalan masa kecil saya tersebut. Oma tidak pernah berambut putih; rambut Oma selalu dicat dan Oma punya koleksi wig satu lemari. Oma tidak memakai tongkat; Oma masih sanggup berjalan cepat mengelilingi lapangan dekat rumahnya di Manado. Oma memakai kain lusuh? Sama sekali tidak pernah! Baju Oma jauh lebih berwarna-warni dari saya, dan koleksi sepatu serta tas Oma lebih heboh dari remaja kebanyakan.

Suatu kali ketika Oma sedang sakit dan tinggal bersama keluarga kami di Jakarta, saya berkesempatan memandikan dan membantu Oma berpakaian. Tidak ada jadwal keluar rumah hari itu, karena badan Oma masih sangat lemah. Otomatis saya memilihkan sepotong daster nyaman untuk Oma, dan mengira tugas saya berhenti di sana karena toh Oma tidak ke mana-mana. Di luar dugaan, Oma memilih pakaian yang lebih rapi, dan meminta saya membantunya berdandan. Pensil alis segera diraut, bibir pucat pun berubah menjadi merah merona. Penuh keheranan, saya bertanya, “Oma mo pi mana so? Pe cantik skali berdandan…

Seakan pertanyaan saya adalah sesuatu yang luar biasa aneh, Oma menjawab juga dengan penuh keheranan, “Perempuan harus cantik! Biar nyanda mo ke mana-mana maar harus tetap cantik!”

Kalimat di atas saya terjemahkan ke dalam banyak arti. Cantik bisa jadi cantik mukanya, atau cantik hatinya. Cantik kelakuannya, cantik tutur bahasanya. Cantik hasil karyanya, cantik wawasannya. Cantik tanggung jawabnya, cantik juga rezekinya. AMIN!!

Selamat menyambut usia delapan puluh enam tahun, Oma sayang!

– Jakarta, menjelang 19 Juni 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oma yang Saya Kenal

Sudah beberapa bulan ini Oma kurang sehat. Sering kali kami dibuatnya khawatir, jantungan, hingga ketakutan. Tapi Puji Tuhan saat ini kesehatan fisiknya semakin baik dan Oma sudah kembali mampu mondar mandir di rumah tanpa ketergantungan orang lain.

Namun, seperti layaknya manusia di usia lanjut, Oma mulai sering membuat kami harus berpikir 2 kali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Beberapa minggu lalu Oma menatap saya bingung dan bertanya saya siapa. Tidak lama kemudian, Oma bertanya kapan saya akan wisuda. Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan saya sudah golongan apa (Oma pikir saya PNS).

Hari ini, Oma kembali mengejutkan saya dengan berkata beliau ingin ikut saya kembali ke Korea. Saya tertawa dan bilang, “Paspornya Oma ada?” Oma pun lantas menjawab, ‘Iyo nanti mo cari noh..’

Jujur saya takjub melihat perubahan Oma. Oma yang saya kenal sangat segar, sehat, lincah, dan tentunya cerdas. Pengetahuannya luas, dan pengalaman sekolahnya jauuh lebih lama daripada saya. Tapi sekarang Oma begitu berbeda.

Papa bilang, ini hal normal. Semua manusia akan mengalami penurunan daya ingat. Saya tahu akan hal itu, karena sudah sering dijelaskan di pelajaran Biologi dulu. Tapi saya tidak menyangka akan menyaksikan hal itu terjadi di depan mata melalui keluarga yang sangat dekat.

Saya jadi penasaran saraf di otak kalau mengelupas itu bentuknya seperti apa sih? Kog bisa mengelupas bagian luarnya saja, sehingga yang diingat hanya memori memori dari jaman dahulu kala?

Menurut saya agak luar biasa melihat Oma masih hafal mati lirik lagu kesukaannya di sekolah Jepang dulu tapi bahkan kadang tidak bisa mengingat saya siapa, sedang apa, sudah lulus sekolah atau belum. Sekali waktu saya pernah menjelaskan bahwa Oma sempat hadir di wisuda saya di Korea dulu bersama mama, dan komentar Oma adalah, “Ah masa? Kita nyanda inga..”

Nggak masalah sih bagi saya, Oma ingat atau tidak. Yang penting Oma sehat fisiknya dan hepi hatinya. Saya hanya menjadi semakin kagum bagaimana organ organ tubuh manusia bisa bekerja dan bisa rusak. Dan saya mulai sadar bahwa cerita cerita manusia hilang ingatan itu ternyata memang nyata..

Anyway, seberapa pun berbedanya Oma sekarang, buat saya (dan keluarga kami) Oma tetap sosok paling segar dan paling gaul yang pernah ada. Oma yang saya kenal itu cerdas, berpendidikan, dan berwawasan luas. Oma yang saya kenal rajin olahraga dan masih suka jogging setiap minggu. Oma yang saya kenal saking lincahnya di umur 80an masih jalanjalan ke Malaysia dan Korea. Oma yang saya kenal, waktu muda (mungkin seumuran saya sekarang) cantiknya luar biasa.

image

Malam Klasik

Iseng :))

Salah dua dari lagu-lagu ciptaan Bach yang merupakan kesukaan saya.

Bach – Air on a G String

Bach – Sheep May Safely Graze

Dear future kids, rajin-rajin latihan musik ya biar pandai dan bisa main lagu cakep cakep begini..

Dear future husband, jangan kerja mulu dan luangkan waktu buat hadir di recital musik anak anaknya yaa…

 

14.01.14 – Hari Bersejarah

Beberapa hal kecil yang perlu diingat dari hari bersejarah ini:

1. Tuhan itu baik. Sudah berminggu-minggu Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan dan dilanda banjir, tapi tepat pada hari Selasa, 14 Januari 2014 matahari bersinar cerah sekali :) Banyak tamu yang nanya, “Pake pawang ya?” dan kami hanya menjawab, “Nggak, cuma pake doa aja kog..” (kalo cuma pake shampo nggak nyambung soalnya)

2. Kalo emang nggak biasa pake heels, apalagi heelsnya sepatu baru pula, mendingan nggak usah sok. Seharian lari-lari pake sepatu baru super tinggi sukses membuat langkah gue kayak tentara mau perang dan bolak balik diprotes sodara, “Sali jalannya feminin dikit dong!” Okeh lain kali pake flats aja. Sip.

3. Harta yang paling berharga memang keluarga, tapi kalo nggak hati-hati si harta ini bisa bikin manusia saling membenci juga. Maaf untuk pihak-pihak yang kena omel karena ngalangin fotografer, atau dandannya lelet, atau seenaknya nyosor pengen ikutan prosesi dan terpaksa gue usir. Maaf sekali lagi, hamba khilaf dan di bawah tekanan. Plus kaki sakit juga. Maar torang samua basudara toh? *wink*

4. Pake korset itu nyiksa. Rajin-rajinlah berolahraga agar perut rata alami.

5. Punya rambut super pendek kadang berbuah baik juga. Ga perlu nyalon, ga perlu nyatok, tinggal kasi hiasan rambut dan selesai!

6. Selalu ingat, secape-capenya keluarga atau teman terdekat atau panitia pesta, tetep aja kedua mempelai itu yang paling cape. Capenya maksimal. Kita capenya baru seminggu, mereka capenya udah setahun. Jadi kurang-kurangilah mengeluh.

7. Kalau acara pernikahan kebetulan bertepatan dengan hari spesial lainnya, misalnya ulang tahun ibu atau bahkan ulang tahun mempelai wanita, jangan lupa rencanakan surprise party ^.~ tentu ini optional sih, hanya kalau masih ada energi tersisa saja.

8. Nah lalu kalau memang mau bikin surprise party dengan kue, sediakanlah kue yang kecil dan mudah dibawa. Ngangkat kue 3 susun pake heels setinggi harga diri itu agak ribet juga loh hahaha.

9. Makanan kurang ketika acara berlangsung memang bikin panik, tapi sebenarnya kalau dipikir dari sisi sebaliknya justru itu berkah sekali. Bayangkan betapa banyaknya orang yang datang memberi restu di acara spesial ini, sampai melebihi ekspektasi. Terberkatilah kalian!!

10. Senyum sepanjang hari itu susah ya ternyata huheheh mari berlatih senyum untuk hari-hari spesial berikutnya :D

J45A2704

Kaunangers dan oma!

J45A4422

Happy birthday Mama dan kak Melissa!

J45A4431

Pengiring pengantin dan kedua adik

J45A4504

Lain kali harus latihan nangkep bunga lebih baik lagi!!

J45A3194

Welcome to the family, beautiful bride :)

Ompung, Apa Kabar?

Hai pung!
Hari ini sali baru dari rumah ompung setelah nginep dua malam sejak hari Jumat. Rumahnya sepi, cuma ada uda Hari karena bujing Tatap lagi ke Bali. Tapi walaupun manusianya dikit, hewannya banyak pung. Mungkin ompung bakalan puas ngelusin mereka satu satu kalo udah bosen sama buku novel. Hehe.
Hai pung!
Ngomong ngomong soal rumah, rumah Kencana masih seperti dulu. Well beberapa kamar berubah fungsi sih, tapi tata letak ruangannya masih sama. Ruang kantor masih di pojokan, piano juga masih di ruang tamu. Kamar sali yang dulu dicat pink juga masih ada walaupun sekarang catnya udah biru ehuhehe. Kamar ompung tentunya masih ada, walaupun lorong gelap menyeramkan di depannya sudah hilang. Oiya! Tadi sali masuk kamar lain juga, dan menemukan meja riasmu! Hahah masih kebayang dulu suka ngegeratakin meja rias ompung itu.. yang cerminnya penuh dengan foto foto kami para cucu.
Hai pung!
Macetnya Jakarta udah makin ga termaafkan. Harga bajaj dan taksi juga udah makin mahal, jadi rasanya ga pengen ke mana mana deh kalau udah di jakarta. Akhir akhir ini sali ke mana mana naik ojek terus dengan alasan males macet, sampe kepikiran apa belajar naik motor aja sekalian? I know my dad would kill me tapi ompung pasti ngijinin, ya kan?? (lirik lirik foto jaman dulu ompung bawa vespa)
Hai pung!
Sali sempet ke pasaraya manggarai kemarin dan mampir ke Hero yang sekarang sudah berubah jadi Giant. pas mau bayar sali liat makanan kesukaan jaman dulu, Koala!! Inget banget dulu tiap kali ompung belanja ke supermarket pasti beliin snack itu buat sali, hahah sekarang hampir ngga ada yang sadar sali suka banget sama snack itu ;p
Hai pung!
Kami semua kangen ompung.Kangennya pake banget. Januari besok Passah akan menikah; calonnya cantik dan baik hati. Ompung pasti suka. And she’s a Manadonese, just like your mother :) Sali inget ompung dulu ga sempet lihat Passah malua dulu, naaah kalau nikahan kali ini jangan lupa liat akang dari surga juga neh. Jangan pake baju terlalu formal tapi pung, pestanya pesta kebun dan ga bakal ada ulos plus arsik diangkat angkat.
Hai pung!
Lagu Nyanyikanlah Nyanyian Baru dan Nyanyikan Tuhanmu Haleluya masih seriiing banget dinyanyiin di gereja lho. Sali kadang mikir, itu gimana cara ciptainnya sih pung?? Gimana cara cari inspirasinya? Gimana mulainya?
Hai pung!
Kabar sali baik baik saja. Ga kerasa terakhir ketemu masih SMP, sekarang udah lulus kuliah dan udah pengangguran ehuhehe woops. Agak bertanya dalam hati sih, kalo ompung ada di depan sali sekarang ompung bakal komentar apa ya? O.o baru sadar dulu gak pernah benar benar minta nasehat dari ompung. How I wish I could do it now..
Hai pung!
Bentar lagi bulan November. Boleh minta kado? Kencan yuk di alam mimpi. Udah beberapa hari ini sali mimpi buruk terus sampai terbangun di tengah tengah karena takut. I think it would be nice to see you in my dreams daripada orang orang random itu yang berlalu lalang di mimpi sali. Ngapain coba ada guru matematika jaman SMA nongol di mimpi? Unglam sekali kan pung mimpinya…
Anyway.. this is the last one pung.
Hai pung!
You know what, yang main jadi Legolas udah cerai dari istrinya. I thought you should know, secara ompung kan die hard fansnya Lord of the Rings.
Hehehe good night, pung.

ps : why am I writing this? salahkan para hormon itu yang membuat saya jadi sangat emosional. dan juga lapar. makin random deh tulisannya..

Baca juga: Someone who fascinates you and why, dan Nenek dari masa depan.

Mama dan Belalang

Alkisah di sore yang damai..

Tiba tiba kucing keluarga kami sibuk mengejar belalang yang nyasar ke ruang tamu. Lalu ibu pun berteriak teriak menyuru anaknya melakukan sesuatu terhadap kucing tersebut supaya pembunuhan terhadap sang belalang dapat terhentikan.

Namun apa daya sang anak sangat sangat takut melihat belalang, jadi dia pun hanya diam di tempat dan berteriak, “Ya mau gimana mama, sali juga takut belalang!!” Alhasil dengan muka luar biasa sedih sang ibu berkata, “Aaaahh kasian belalangnya, mati dia sali mati diaaaa… ” seraya melempar bantal ke arah kucing kami yang lagi asyik.

Bantal terpelanting, kucing kabur, belalang tergeletak mati. Sang ibu mengambil kertas lalu memindahkan belalang ke luar rumah dengan hati hati..

Kalo bisa dikubur mungkin dikubur kali yak itu belalang sama emak gue…

17 Reasons Cats Are The Only Life Companions You’ll Ever Need (reblog)

Taken from here. Please dont take this seriously. Especially you. Yes, you.

Mak Putih

1. They, like you, just want to sleep all day.

2. You meow to communicate anyway so why not just do so with someone who understands you.

3. They are fluffy and make for excellent cuddle buddies.

4. They may not get overly excited when you walk in the door, but they’re always waiting on the bed for you, like any good life partner should be.

5. They are the only other living beings who change their mind as frequently as you.

6. They hate people almost as much as you.

7. They make for funny YouTube videos.

8. They hide behind curtains and hiss when strangers come inside, so now you can do that together.

9. You can have them be indoor cats, which means that they will actually never leave the house, which is your dream life.

10. “Crazy cat person” is a title you should be honored to have.

11. They need very little to be kept happy in life. Which is good, because you’re really not looking to give any more than you need to.

12. They always want to be near you, even when it’s inconvenient and they’re getting all up on your laptop while you’re trying to type. At least someone always wants to pay attention to you.

13. Because you are a cat on the inside.

14. Because if and when you do let them outside, they’ll love you enough to bring you back a mouse because they think you’re a really big dumb hairless cat that can’t hunt for itself (no, seriously).

15. Because if we’re being honest here, no matter how much they “don’t want to cuddle” they’re always a few ear scratches from changing their minds.

16. You have a similar outlook on life as they do. Bleak.

17. Because at the end of the day, people come and go. Cats are for fucking ever.

Day 17 : My Favorite Quotes

Gue itu quote freak.

Hobinya ngeretweet quote quote remaja dan juga ngereblog tulisan tulisan menyayat hati. Heheh jadi kumpulan quote kesukaan gue lumayan banyak; selalu gue kumpulin di tumblr dan biasanya orang yang baca langsung berkomentar, “lo segalau itu ya sal?”

Hahah padahal enggak si. Gue suka aja bacain quote quote orang. Yang ringan ringan tapi kadang masuk akal juga.

Dan dari sekian banyak quote yang pernah gue baca dan gue dengar dalam hidup, berikut adalah top 3 yang selalu nempel di otak gue:

You will have to remember my advice dear, women should never say “I do” until they can earn their own money so as to be able to maintain your independence. Trust me, you’ll never regret it.

This comes from my favorite aunt. Zamira Loebis namanya, heheh siapa tau dulu ada yang sempet suka bacain artikel majalah Time tentang Soeharto.

Gue lupa persisnya beliau melontarkan quote di atas dalam rangka apa, tapi yang jelas gue masih either SMP atau SMA ketika itu. Dan bisa dibilang quote ini lah yang sangat mempengaruhi presepsi gue tentang hubungan pria dan wanita, juga tentang pernikahan. Sejak saat itu menikah bukan lagi jadi cita-cita gue (bukan berarti ga mau, cuma itu bukan menjadi tujuan utama hidup gue), dan gue tau gue ga mau nikah muda. At least nggak sampai gue merasa bisa menafkahi diri gue sendiri.

Everything ends up okay. If it’s not okay, it’s not the end.

Yang ini… gue temukan di internet sih. Kayanya termasuk salah satu quote fenomenal, yang gue ga tau juga pencetus aslinya siapa. Ada yang bilang John Lennon, ada yang bilang Paolo Coelho. Tapi yah siapapun itu, gue berterima kasih!

Hahah karena gue memang sangat setuju sama quote di atas. Sudah sering juga gue terapkan dalam hidup sehari hari. Contoh konkretnya ya pas beberapa minggu kemarin ini suasana ngantor lagi kayak neraka, dan gue jadi segitu menderitanya sampe mikir, “ah inilah titik klimaksnya! mari resign!”, maka quote inilah yang mengingatkan gue bahwa, “nggak, ini belom tamat. semua baru bisa dibilang tamat kalau justru keadaan udah baik baik lagi. jangan kabur seenaknya.”

Heheh tapi sekarang keadaan udah okay sih ^.^

You can never.. ever.. change someone, but you can be the reason someone changes. Or, even wiser, you can ask God to change him.

Kalau ini quote andalan dari nyokap gue. Dilontarkan dengan manis ketika gue jadian sama pacar gue yang kedua hihihi. Ketika gue mendeskripsikan seperti apa pacar gue ketika itu, nyokap gue dengan sangat berhati-hati namun tegas mengingatkan bahwa gue ga akan bisa mengubah dia. Jadi pilihannya adalah either gue mau hidup menerima dia dengan segala… ke… tidakbaikannya itu, atau cari yang lain.

Lo tau lah ya gue pilih yang mana akhirnya :D

ps: Why am I writing this? Click here to see the full story.