Papi Amat Amat Baik

Jadi ceritanya kepala sekolah kami namanya Pak Amat. Orangnya baik hati dan sederhana. Kami menempati rumah dinas guru yang sama. Sebagai sesama pendatang, ternyata kami (sejauh ini) cukup kompak. Pak Amat juga orangnya sangat baik. Berikut cuplikan kisah kami.

Ketika waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, dan tumben-tumbenan kelas 3 belum pulang karena masih banyak siswa yang belum mengerti cara perkalian dan pembagian…

*gedubrak* (pintu kelas terbuka)

“Belum selesaikah?”

‘Belum Pak Amat…’

“Kenapa?”

‘Anak-anak belum selesai mengerjakan tugas…’ (sambil menunjuk 5 anak di kelas)

“Jangan terlalu lama, sudah siang. Nanti kamu lapar.”

‘Heheh iya siap bos.’

“Pulang langsung makan ya.”

‘Okee….’

dan kelaspun segera saya bubarkan

 

Ketika botol-botol minum air saya di rumah sudah kosong…

“Kumasakkan air ya”

‘Kenapa?’

“Itu air minummu kan sudah habis” (sambil menunjuk botol-botol air matang yang sudah kosong)

‘Aih…. makasih Pak Amat’

 

Ketika pada suatu hari secara serempak seluruh murid saya tidak ada yang mau mendengar kata-kata saya sehingga tekanan darah saya naik drastis dan suara saya tidak bisa biasa lagi di kelas…

“Tadi marah ya sama kelas 3?”

‘Iya.. ndak ada yang mau dengar kata-kataku. Berisik semua.’

“Hahaha… ndak usah terlalu serius.. nanti nuan yang cape..”

‘Iya huhuhu’

“Nih makan.”

 

Ketika tahu saya suka ikut orang memancing (walaupun ujung-ujungnya cuma makan kue di perahu)

“Lihat deh!” (sambil memamerkan bambu kecil tipis cantik)

‘Apa nih Pak Amat?’

“Bambu..”

‘Dari mana?’

“Dari Kakek Saung di seberang. Mau kubuat pancing.”

‘Pancing? Untuk Pak Amat?’

“Ndaak… saya lebih suka jala daripada pancing.”

‘Lalu?’

“Ini mau kubuat pancing untukmu.”

‘Yaampun Pak Amat… terima kasih…’

“Iya kasian kan kalau pergi mancing harus pinjam orang terus.”

‘….. (terharu)’

“Tapi nanti latihan pegang cacing ya. Sia-sia pergi mancing tapi ndak bisa pasang umpan.”

‘ -__-“ ‘

 

Ketika sedang kecapekan dan hendak mengurung diri di kamar tapi lalu anak-anak memanggil…

“Bu Guru…”

(tidak menjawab)

“Bu Gurruuu…”

(masih tidak menjawab)

“Bu Guurruuuuuuu…”

‘Bu Guru tidur! Dia istirahat! Sudah kalian pulang dulu sana!’

(akhirnya malah Pak Amat yang menjawab)

 

Ketika saya ngidam ingin punya pohon Natal di rumah tapi apa daya yang keangkut cuma lampunya aja…

“Pak Amat hias meh dindingnya pakai lampu ini…”

‘Lampu apa?’

“Lampu kelap-kelip ini…”

‘Buat hiasan kayak apa?’

“Buat pohon Natal..”

Aoookkk meeh…’

 

Merry Christmas 2014

Taraaaaa~~ Selamat menjelang Natal! :)

Selamat Ulang Tahun, Ibu Guru Sali

So apparently gue ulang tahun lagi…

Dan kali ini ulang tahun gue dirayakan tanpa SMS, tanpa telepon, tanpa whatsapp, dan tanpa Facebook :)

Sensasinya lucu, karena baru pertama kali ini gue merayakan sesuatu di tengah tengah orang yang baru saja gue kenal namun ternyata sangat-sangat perhatian sama gue. Plus perayaannya penuh tepung dan telur, bersama puluhan bocah-bocah berseragam SD.

Terima kasih Tuhan untuk umur baru yang Kau limpahkan, ajarilah Sali supaya selalu rendah hati dan tetap melekat di bawah kaki-Mu :)

Happy 25th, Sali.

[Sahabat Pena-an Yuk!] Sekolah Paling Selatan vs Sekolah Paling Hulu

Melanjutkan “proyek” menulis murid-murid saya di kelas 3 SDN 17 Nanga Bungan yang telah saya post di sini, bulan lalu saya mendapatkan “balasan” video dari rekan Pengajar Muda di SD GMIT Oeulu, Rote Ndao.

Lucu sekali melihat anak-anak di belahan Indonesia lain terkagum-kagum melihat dahsyatnya sungai Kapuas dan perjuangan anak-anak saya untuk mudik ke desa di hulu. Tapi mungkin ini sama halnya seperti kami terkagum-kagum melihat indahnya pemandangan Rote yang air sama langit warna birunya saingan -__-”

Video ini belum sempat saya perlihatkan kepada anak-anak karena gurunya masih nyangkut di kota >.< Tapi bisa dijamin nanti mereka pasti girang mengetahui surat mereka benar-benar tiba di pulau paling selatan Indonesia dan dibaca oleh teman-teman baru mereka.

Terima kasih Pak!

Dan, masih seperti iklan sebelumnya, kalau mau ikutan menambah keceriaan kelas kami dan berkenalan dengan anak-anak luar biasa dari hulu sungai terpanjang di Indonesia tolong kasi tau saya ya :)

ps: video dan semua-muanya credit to Farli Sukanto

[Sahabat Pena-an Yuk!] Guru Nulis Berdiri, Murid Nulis Berlari

Sebenarnya judul di atas rada-rada ga nyambung sama isi postingan blog ini sih.. Ini ceritanya saya cuma mau bilang bahwa saya, Sangalian Jato, yang umurnya udah hampir seperempat abad dan (tadinya) hidup di lingkungan serba instan dengan akses internet di mana-mana ini masih juga hobi nulis buku harian dan surat-suratan.

Oleh karena itu ketika saya secara ajaib bisa jadi Pengajar Muda dan ditempatkan di sebuah sekolah dasar di hulu sungai Kapuas, hal pertama yang saya ajarkan kepada murid-murid saya adalah menulis!

PR IPA
PR IPA

Huhehe mimpi saya sih pengen membiasakan mereka menulis jurnal (atau istilah konvensionalnya “buku harian”) seperti yang dilakukan oleh guru jadi-jadiannya ini :p Tapi karena murid-murid saya masih kelas 3 dan susunan kalimatnya masih agak kurang jelas, jadi saya masih sampai di tahap memperbaiki tulisan mereka kalimat per kalimat.

Surat untuk Pak Guru
Surat untuk Pak Guru

Di atas adalah contoh tulisan salah seorang murid saya di hari pertama saya mengajar. Ketika itu secara bebas saya biarkan murid-murid saya menulis surat selamat Idul Fitri untuk para Pengajar Muda sebelum saya. Hasilnya beragam, ada yang tulisannya rapi, ada yang warna-warni, dan ada yang tata bahasanya masih perlu dipoles. Namun  itu justru menjadi pijakan awal saya untuk mengajar, karena saya bisa mengetahui di mana start point mereka.

Puji Tuhan sekarang mereka sudah mulai bisa menulis lebih rapi dan membedakan penggunaan huruf kapital dan huruf kecil. “Proyek” menulis mereka yang terakhir adalah membalas surat dari anak-anak di  SD GMIT Oeulu, Rote Ndao, sebuah sekolah yang menjadi penempatan rekan sesama Pengajar Muda.

Berikut adalah cuplikan keceriaan murid-murid kelas 3 SDN 17 Nanga Bungan menerima surat dari Rote :) Videonya memang berakhir kocak karena keadaan kelas mendadak tidak tenang, tapi terlihat betapa antusiasnya murid-murid saya berkenalan dengan orang luar dan membalas surat dari sahabat-sahabat pena mereka yang baru.

Mau ikutan menambah keceriaan kelas kami dan berkenalan dengan anak-anak luar biasa dari hulu sungai terpanjang di Indonesia? Kasi tau saya ya :)

Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru!

Tulisan ini adalah milik Rifki Furqan, yang diambil dari sini.

Isinya terlalu manis dan mengharukan, jadi saya post kembali di sini :)

Begitulah judul dari sebuah video kreasi saudara sepenugasanku. Ternyata, aku pun bisa rindu. Ya, serindu itu!

Sudah sejak weekend lalu aku teringat-ingat bagaimana Hulu. Apa kabarnya ya saudara sebangsaku di desa paling Hulu itu? Tak terasa sudah lebih dari dua bulan aku meninggalkan kampung halamanku itu. Dulu, ketika tiba di Jakarta dan bertemu dengan mereka-mereka, teman seangkatan, aku memasang janji diam-diam dalam hati untuk baru akan mengenang kisah hidup penuh makna ini paling tidak tiga bulan lagi. Dan ternyata kesombongan diri ini terus diuji hingga aku tak tahan lagi untuk mengaku sudah memasuki tahap sangat rindu ini.

Ini tentang korelasi antara memori dan masa transisi yang berjalan terbuka antara kita berdua. Kita saudara wahai Bu Guru, sejak awal dulu smsmu masuk dan terbaca ketika aku masih di perahu setelah empat jam turun dari hulu. Aku tak terlalu perduli awalnya siapa pun yang akan menggantikanku. Dan ternyata ketika kita berdiskusi cukup lama ketika aku bersinyal di kota, aku yakin kamu, yang sudah luar biasa, akan semakin jauh legawa, dewasa dan tentu lebih luar biasa dikemudian harinya.

Aku bersaksi bahwa kamu punya kapasitas untuk menyelesaikan tugas dengan gilang gemilang jauh dari tiga laki-laki sebelumnya. Kamu adalah pemberi beda. Tidak pernah ada sebelumnya Bu Guru yang dikirim ke desa paling hulu, dan itulah mengapa aku menyebut sejak mula bahwa kamu beruntung dan semoga terus berbahagia.

Ingat ini Bu Guru, ketika nanti di desa kamu sempat merasa putus asa, artinya alam sedang bekerja untuk membuatmu lebih luar biasa. Ketika kamu bingung karena tidak ada kata-kata yang dapat ditukar lewat pulsa, artinya pengalaman itu akan kamu kenang sebagai masa yang paling menguatkan perasaan diri juga logika. Ketika nanti apapun masalah dengan sekolah atau warga yang datang tanpa kamu bisa diskusikan bersama, simpan dan cerna baik-baik lewat tulisan atau apapun ragam kenangan lainnya.

Maka nanti, ketika kamu selesai dan meninggalkan Ketemenggungan Dayak Punan Hoovongan, mungkin rasa rindu seperti inilah yang akan terus menguatkan. Tak hanya menguatkan dengan ragam pengalaman mental, fisik dan spiritual tinggal di tengah hutan, tapi juga menguatkan rencana bintang gemintang kamu di masa depan.

Bu Guru, terima kasih bijaksana atas video kreasinya yang sukses membuat Pak Guru paling arogan di Bungan ini mengaku rindu. Jika nanti pertengahan kamu bertugas kamu pulang untuk sementara, kita harus bertemu karena aku akan menjamu tamu dari Hulu sambil kita akan tertawa-tawa membahas Bungan Jaya.

Semoga sehat selalu di Hulu ya Bu Guru! Aku tau bagaimana susahnya ternyata mengelola rindu pada seorang sahabat/saudara yang daerah penugasannya hanya bisa diakses lewat surat yang dibungkus kantong plastik dan dititipkan sebisanya. Jadi, tetaplah semangat jika naik ke Hulu dan turunlah ketika hati dan mimpimu berkata seperti itu. Kami akan selalu berdo’a agar Bu Guru dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa selama bertugas disana, mengajar dan belajar di desa yang punya SD paling akhir di aliran Kapuas Hulu.

Depok, 09.09.14. 23.11 WIB. *setelah berulang-ulang kali mengenang Nanga Bungan

Pak Guru sok mantap!!Pak Guru sok mantap!!

Makasih banyak ya Pak Guru, saya memang lagi membutuhkan ini…

Pelajaran IPA

Kamis, 21 Agustus 2014

“Coba berikan 10 contoh makanan yang manusia makan!”

‘Ikan, ayam, bebek, sapi, babi, anjing, kijang, beruang, …’

“…………..”

(tadi soalnya tentang jenis makanan apa hewan-hewan di kebun binatang ya?)

 

“Anak-anak, masih tentang makanan, coba sebutkan beberapa jenis hewan beserta makanannya masing-masing!”

‘Ikan Bu!’

“Ikan makan apaaa?”

‘Makan nasi!’

“Eh? Ikan makan nasi?”

‘Iya, biasa di rumah kalau ada nasi sisa lalu kami buang di sungai, nanti dimakan ikan.’

“Baiklah -___- berikutnya hewan apa lagi?”

‘Anjing bu!’

“Anjing makan apa?”

‘Makan nasi Bu.’

“Karena…. nasi sisa kalian juga kalian kasi ke anjing…?”

‘Iyaaa..’

“Baiklah -___- lalu hewan apa lagi?”

‘Beruang Bu!’

“Beruang makan apa?”

‘Makan manusiaaaa!’

(eng ing engg…)

“Lho katanya tadi manusia makan beruang. Kog sekarang jadi beruang makan manusia?”

‘Iya Bu tergantung siapa mati duluan.’

“……….”

 

“Yasudah sekarang Ibu Guru mau tanya. Karena dari tadi kalian sebut beruang terus, coba siapa yang pernah liat beruang?”

‘Sayaaaa!’ (beberapa anak mengangkat tangan)

“Isak pernah lihat beruang?”

‘Iya Bu’

“Beruang hidup?”

‘Iya Bu’

“Di mana?”

‘Di Aso Bu’ (nama dusun sebelah)

“Kog bisa?”

‘Waktu itu saya sama Reno lagi ke Aso, lalu lihat beruang di sana’

“Beruangnya lagi apa?”

‘Lagi berenang bu’

“Beruangnya berenang? Kamu yakin bukan ikan?”

‘Iya bu. Beruangnya besar warna hitam lagi di air.’

“……”

 

“Amos juga pernah lihat beruang?”

‘Pernah Bu!’

“Di TV?”

‘Ndak! Lihat yang betulan’

“Kog bisa? Lihat di mana?”

‘Lihat di rumah Bu, dibawa papa saya tiga ekor dari hutan’

“Sudah mati???”

‘Iya sudah mati Bu’

“Lalu kalian apakan beruangnya??”

‘Bulunya untuk dipakai menari Bu.’

“Lalu dagingnya??”

‘Dimakaaaan!’ (anak-anak menjawab serempak)

“Enak?”

‘Enak!’

“Seperti apa rasanya?”

‘Seperti babi.’

“Enak mana sama babi?”

‘Masih enak babi bu.’

“Oke. Ngomong-ngomong Ibu Guru ndak makan beruang ya. Juga kura-kura. Jadi kalau kalian dapat mereka tolong jangan kasi Bu Guru.”

‘Kalau pelanduk Bu?’

“Pelanduk juga ndak makan…….”

(dalam hati.. ini anak-anak isi perutnya apa aja sih T_T )

Surat untuk Hujan

Jumat, 18 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Dear hujan,

Terima kasih sudah membasahi sekujur desa kami. Kemarau yang panas mendadak terasa sejuk dengan kedatanganmu.

Dear hujan,

Terima kasih sudah mengisi bak penampung air di belakang rumah saya. Kini persediaan air untuk cuci piring dan kamar mandi saya lebih dari cukup hingga waktunya milir kembali ke kota. Saya pun bisa cuci kaki dengan leluasa dan tidak ragu-ragu mem-flush toilet saya dengan air yang banyak.

Dear hujan,

Terima kasih sudah memuntahkan banyak sekali air di desa kami. Malam ini listrik kami tidak redup seperti beberapa hari sebelumnya, dan menurut perkiraan rekan guru saya ini pasti karena debit air di bendungan cukup untuk memutar turbin di pembangkit listrik kami. Semoga dengan begini laptop saya tidak pernah meledak karena tegangan yang naik turun.

Dear hujan,

Terima kasih telah memberikan sensasi baru dalam sejarah kehidupan permandian saya. Baru pertama kali ini saya mandi sore di sungai terpanjang di Indonesia sambil diguyur hujan deras sehingga saya serasa mandi di bawah pancuran supeeeerr besar. Angin dan kabut yang dibawa serta oleh dirimu juga menambah sensasi mistis ketika mandi. Ingin rasanya mandi sambil bawa kamera untuk mengabadikan momen berharga tadi, tapi untung akal sehat saya masih bekerja jadi saya urungkan niat tersebut. Nanti kalau saya sudah punya plastik anti air untuk kamera dan kebetulan sungai lagi kosong, turun lagi ya! ^.~

Dear hujan,

Terima kasih telah memperingatkan saya akan bahaya baru yang bisa saya temui di tempat ini, yakni…….  pacet. Jujur ya hujan, saya takut pacet. Mau dia pacet kecil, pacet sedang, pacet besar, semuanya saya takut. Dan berkat dirimu yang datang dalam jumlah besar hari ini, segala jenis pacet pun bermunculan dan salah satunya dengan asyik nangkring di kobokan tempat sunlight dan sabut cuci piring saya berada tadi. Dan kamu mau tahu sesuatu, hujan? Saya paling hobi cuci piring. Jadi bisa bayangkan apa yang terjadi ketika dengan riang gembira saya memenuhi ember cuci saya dengan air yang melimpah, mengambil sabut, memasukkan segenap tangan saya sepenuh hati ke dalam air bersunlight, dan mengobok-ngobok mangkok tersebut siap mengusap-usap piring beling di tangan kiri, lalu tiba-tiba ada pacet gendut menggeliat di jari manis  tangan kanan saya?

Sensasinya luar biasa mengerikan, hujan. Luar biasa mengerikan. Saya menjerit dan serentak meletakkan piring dari tangan kiri saya. Untung lantai rumah saya dari kayu, hujan. Jadi piringnya tidak pecah. Dan lebih beruntung lagi karena tangan kanan saya berlumuran sunlight, jadi pacet jahat itu langsung lepas dan lanjut menggeliat-geliat di piring kotor lainnya. Ya ampun hujan….. tragis….. 나 미치겠어 정말 ㅠ.ㅠ

Tapi hujan,

Seburuk-buruknya dirimu, setega-teganya dirimu telah membuat pacet bermunculan, saya tetap berterima kasih telah disambut dengan cara yang manis di tempat ini. Sepanjang hidup saya pernah menetap di beberapa tempat yang berbeda, namun saya tidak pernah ingat hujan pertama yang turun ketika saya tinggal di Bandung dulu, ataupun hujan pertama ketika kami pindah kembali ke Jakarta, atau hujan pertama di Cileungsi, dan bahkan hujan pertama saya di Korea.

Namun rasanya hujan pertama saya di Nanga Bungan ini akan saya kenang selalu. Sensasi girangnya melihat bak penuh, sensasi mandi di bawah pancuran raksasa dengan suasana Silent Hill, sensasi paniknya mengobok-ngobok mangkuk berpacet…. semuanya super!

Langit di Hulu Kapuas ini memang selalu menyimpan banyak keistimewaan ya, hujan? Kemarin malam lautan bintang memayungi desa kami dengan sangat terang, dan malam ini giliran dirimu yang akan menemani tidur kami sepanjang malam.

Jangan terlalu heboh ya turunnya, hujan. Please turun secukupnya saja supaya saya juga tidak menggigil kedinginan. Dan besok sekolah kami ada jadwal olahraga, jadi kalau bisa besok gantian sama matahari ya eksis di langitnya :D Supaya kami bisa senam riang anak Indonesia tanpa berbecek-becek ria. Hehehe.

Selamat tidur, hujan.

“Baru saja berakhir, hujan di sore ini..”

Ooh ternyataaa….

Rabu, 16 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

View from the Top

  1. Hari pertama sekolah itu ga cuma bikin gugup muridnya, tapi juga gurunya :3
  2. Jika murid-murid tampak kebosanan atau sibuk sendiri di kelas, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bisa jadi emang gurunya ga bisa me-manage kelas…. (sigh)
  3. Harus masuk sekolah jam 7.15 dan baru mandi jam 7 itu bukan ide baik. Agak malu juga begitu keluar rumah pake kain dan bawa ember mandi terus ketemu murid-murid yang udah pake seragam rapi nggak sabar mau mulai sekolah…
  4. Anak-anak pedalaman juga hafal marsnya Jokowi. Dan juga Prabowo. Dan mereka tahu istilah Pemilu Legislatif!! Terharu…
  5. Bahasa Korea sama bahasa Bungan beda-beda tipis. Banyak eo eo nya… ehuhehehe.
  6. Buku itu benar-benar jendela dunia. Setelah bertahun-tahun hidup dengan kemewahan internet lalu tiba-tiba kemewahan tersebut direnggut, saya sangat bersyukur ada banyak buku bacaan di rumah dan sekolah untuk bahan belajar dan mengajar. Terima kasih ya wahai penulis, penerbit, donatur, dan para pengantar buku-buku tersebut. Saya berhutang budi *salim*
  7. Tokek tuh bentuknya begitu!! Omg cicak versi gede….
  8. Sejernih-jernihnya air sungai di hulu tetep aja lebih jernih air hujan. Dan gue ga pernah sadar betapa pentingnya air hujan dalam hidup gue sampe sekarang :3 Kayanya balik ke Jakarta nanti gue bakal dikit-dikit bawaannya sigap ngeluarin ember penampung air deh kalau hujan turun..
  9. Pelajaran Fisika soal listrik dan teman-temannya itu sangat.. sangat… penting!! Terutama kalau lo berniat tinggal di rumah sendiri. Dan rumah lo ngga dialiri PLN jadi ngga bisa kapan saja protes ke PLN terus mas-masnya dateng.
  10. Begitu pula dengan pelajaran Tata Boga.
  11. Dan juga pelajaran olahraga, terutama bagian permainan volley. Ini khusus kalau lo mau hidup di Hulu Kapuas seperti gue sih, or else lo bakal jadi lawakan satu desa berusaha ngejar-ngejar bola dengan gaya yang nggak masuk akal di tengah lapangan sore-sore.
  12. Berenang juga penting! Dan yang gue maksud di sini bukan berenang cantik di kolam, melainkan berenang melawan arus. Ini sangat-sangat krusial kalau lo mau bonding secara cepat dengan anak-anak pedalaman Hulu Kapuas ketika main hanyut (=main arung jeram tapi tanpa perahu, alias orangnya aja gitu hanyut di antara jeram berbatu dan berarus).
  13. Bakar sampah itu ada triknya. Bakar yang mudah terbakar dulu, dan dari bawah. Sia-sia lo berusaha bakar tumpukan paling atas; udah girang liat apinya besar menari-nari terus lo baru sadar yang kebakar bagian atasnya doang!! (aigooh…)
  14. Duduk sambil nungguin sampah lo terbakar juga ada triknya. Jangan pernah duduk melawan arah angin berembus. Kasian paru-paru dan mata lo. Nyeseknya beda tipis sama pas kelaperan masak nasi tapi nggak mateng sempurna.
  15. Hidup tanpa sinyal tuh gini toh rasanya…… (lalu hening)

Terima kasih untuk hari pertama yang spesial, Bungan.

Tidak sabar untuk bertemu dengan ribuan ternyata-ternyata lainnya :)

 

Menuju IM

Berikut highlight kehidupan saya beberapa bulan ini.

1 November 2013 adalah hari pertama dibukanya pendaftaran untuk jadi Pengajar Muda angkatan 8. Langsung buat account di websitenya, tapi seketika juga nyerah pas nyampe di bagian mengisi esai. Kejam sekali sodara sodara,, esainya terlalu panjang, bahkan untuk saya yang (ngakunya) hobi ngeblog. Berhari-hari formulir aplikasi ini tergeletak begitu saja, sampai menjelang 15 Desember 2013 (hari penutupan pendaftaran) saya bolak balik dikirimin email reminder untuk menyelesaikan aplikasi saya :p

Form

Cuma yah anyway saya kerjain juga sih esainya. Daaan… tentunya bukan Sali namanya kalau nggak submit aplikasi di detik detik terakhir…. hahahah ngakunya niat tapi kelakuan minus.

Selesai mengirim aplikasi, saatnya saya nyantai-nyantai nunggu hasil :) Kalau emang udah jalannya ya paling dipanggil interview, kalau enggak ya berarti saya harus mencerdaskan anak bangsa dengan cara lain.

Walaupun sejujurnya agak ngeri juga, karena menurut info yang saya dapatkan, biasanya yang ngirim aplikasi itu ribuan tapi yang dipanggil interview cuma sekitar 300 orang.

Namun ternyataaaa Tuhan berkehendak baik! Hore!

Sekitar 298 pendaftar disaring dari total 9359 aplikasi online. Lumayan bikin nyengir sih sampe tahap ini. Heheh pengumuman resminya bisa klik di website Indonesia Mengajar: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I Pengajar Muda Angkatan VIII

Tanggal 20 Januari 2014 saya pun ikut Direct Assessment. Seharian penuh saya ambil off dari kantor untuk mejeng di tempat DA yang sudah ditentukan guna mengikuti serangkaian seleksi dari IM. Rangkaian seleksinya sendiri terdiri dari buanyuaaak buanget tahap. Ada presentasi diri, group discussion, interview sepanjang 1 jam lebih, tes psikotes, sampai simulasi ngajar. Kalau diinget-inget ketika itu persiapan saya biasa biasa saja; nggak berlebihan tapi nggak kekurangan juga. Cumaaa begitu hari seleksi tahap 2 itu terlewati rasanya langsung down banget dan pesimis karena saya berasa… performa saya biasa-biasa saja juga. Hahaha lebih lengkap tentang seleksi tahap 2 ini kapan-kapan saya bikinin tulisannya deh, waktu itu saya mengurungkan niat untuk nulis draft karena pesimis lolos :D

Anyway masuk ke pasca Direct Assessment alias seleksi tahap II, saya mulai cemas-cemas harap (banyakan cemasnya daripada ngarepnya) apalagi setelah diberi tahu bahwa pengumuman hasilnya nggak serentak, alias nggak ada tanggal pasti. Beruntung kerjaan saya di kantor juga lagi gila-gilanya, sampe saya “agak lupa” sama Indonesia Mengajar hingga suatu siang saya dapet email ini……

WAAAA GIRANG BUKAN KEPALANG.

Hahah asli deh sebelumnya saya super pesimis, soalnya kandidat lainnya itu keren keren banget pas seleksi tahap 2. Saya bahkan sempet mogok ngomong dan menolak membahas soal kelangsungan Direct Assessment itu sama kakak F :p saking ga yakinnya..

Kemudian tahap terakhir adalah Medical Check Up, yang ulasannya sudah saya post di sini secara implisit hehehe. Sempet khawatir karena menjelang MCU saya pilek agak parah dan terpaksa minum obat pilek, sampe sehari sebelum MCU saya bela-belain minum Bear Brand padahal nggak pernah minum sebelumnya.

Untung saja saya dinyatakan sehat dan email ini pun dataaang……

^_______^

Jadiii….

Tanda tangan kontrak sudah, mengajukan resign sudah.

Berikutnya?

Karantina mulai April 2014. Wish me luck! :)

Kisah di Tengah Minggu

Rabu, 19 Februari 2014

05.00: alarm bunyi untuk pertama kalinya

05.10: alarm bunyi untuk kedua kalinya, seret badan keluar dari selimut

05.11: masuk kamar mandi

05.20: masuk kamar

05.25: berpakaian lengkap

05.30: cari krim muka dan bedak

05.31: baru inget hari ini ga ngantor, taro lagi bedaknya

05.32: ambil jaket hijau, pakai jaket hijau

05.33: baru inget hari ini ga naik ojek, tuker jaket sama yang lebih tipis

05.35: keluar kamar, minum air putih

05.36: cek HP, ada SMS dari bluebird yang udah dipesan atau belum?

05.37: ga ada SMS, bangunin mbak buat bukain pintu pagar

05.40: mbak E terbangun, “kak sali mau ke mana pagi pagi masih gelap gini”

05.41: “mau tes kesehatan mbak,” lalu balik lagi ke sofa main flappy bird

05.43: mbak E nunggu taksi di depan

05.45: masih main flappy bird di sofa

05.47: taksi masih belum datang juga

05.50: telp Bluebird, tanya taksinya mana?

05.53: mbak E nyerah, masuk rumah lagi sambil bilang, “taksinya ga ada kak”

05.54: sali juga nyerah, flappy bird pagi ini masih belom bisa lewatin high score

05.55: ada yang ngebel – supir taksi!!

05.56: berucap pada pak supir, “Kartika Chandra ya pak”

06.10: pak supir bertanya, “turun di lobby mbak?”

06.11: lihat argo, tulisannya 27 ribu

06.12: memaki dalam hati, cih tau gini nggak manggil taksi dan berangkatnya siangan lagi

06.13: keluarkan selembar 50 ribu, dapat kembalian 10 ribu saja

06.14: berjalan ke lobby hotel, cari sofa

06.15: keluarkan hp sambil celangak celinguk

06.16: lobby hotel masih sepi rupanya, main flappy bird saja lah

06.17: masih main flappy brid

06.20: masih flappy bird juga..

06.25: beranjak dari sofa, cari toilet

06.30: kembali dari toilet, lanjut main flappy bird

06.35: bosen main, coba naik ke test centernya

06.37: sampe di tempat medical check up, duduk nunggu lagi sama orang-orang lain

06.38: kenalan sama 2 orang kandidat lainnya: Yudha & Ajeng

06.40: ngobrolin tentang kampus, jurusan, dan angkatan sama Yudha & Ajeng

06.45: sekali lagi dapet pertanyaan, “udah keren banget tinggal di Korea, kenapa pulang?”

06.46: sekali lagi tertawa dan berkata, “udah kelamaan ah, mau liat Indonesia juga”

06.48: dipanggil petugas, disuru isi formulir dan serahkan surat pengantar

06.51: kembali duduk bertiga, tapi tiga-tiganya masih ngantuk

06.52: Ajeng chatting, Yudha twitteran, Sali main flappy bird

06.54: mulai membahas berapa orang yang kami tahu yang lolos ke tahap ini

06.55: satu orang dokter datang, masuk ruangan

07.00: pasien pasien lain datang, ruangan mulai ramai

07.05: satu lagi laki-laki sebaya kami datang, agak-agaknya dari institusi yang sama dengan kami

07.10: bosen

07.11: Ajeng main HP lagi, Yudha masih twitteran, Sali kembali ke flappy bird

07.12: hape lemot, flappy birdnya jadi lelet

07.13: sebel sama flappy bird, masukin hape ke tas

07.15: Ajeng dipanggil masuk, ambil darah

07.18: Yudha dipanggil masuk, ambil darah juga

07.19: laki laki sebaya kami tadi ngeh nama Yudha, dia bangun dan memperkenalkan diri

07.20: namanya Teguh, ternyata dulu Direct Assessment di hari pertama juga, sama seperti gue dan Yudha haha (tapi kog gue lupa ya)

07.24: nama gue dipanggil, masuk ke ruangan ambil darah

07.25: petugas bertanya, “Terakhir makan kapan mbak?” dan gue jawab, “kemarin malam jam 9 mbak”

07.27: darah selesai diambil, disodorin tabung untuk urin

07.29: agak-agak bingung gimana cara masukin urin ke tabung seimut itu? gak dikasi media apa apa?? O.o

07.31: yasudalah…. *lega karena udah nahan pipis daritadi*

07.35: kembali bergabung dengan Yudha dan Ajeng, sarapan! yeay!

08.00: selesai sarapan, nunggu dipanggil lagi

08.15: disuru masuk ruangan periksa mata

08.16: disuru baca tulisan di tembok

08.17: panik karena ga keliatan apa apa. wtf?!

08.18: disuru ganti mata, tetep ga keliatan. serius nih bro??

08.21: perawatnya bilang, “saya kasi note supaya selalu pake kacamata ya mbak”

08.22: berjalan gontai sambil mikir, “kacamata ada sih, tapi males pake……”

08.30: rekam jantung, disuru baring di kasur

08.31: perawat memberi perintah, “rileks, angkat bajunya sampai ke atas dada ya”

08.32: dalam hati, “HAHH?”

08.33: perawat nempelin aneka kabel di sekujur dada, lengan dan kaki

08.34: sempet terbersit pikiran, “ini ga nyetrum kan ya…”

08.35: terus sadar bahwa pemikiran itu bodoh dan kemungkinan besar kakak F bakal ketawa kalo denger itu. dan juga papa.

08.45: dipanggil untuk rontgen

08.46: perawat berkata, “ganti bajunya sama kain ini, beha juga dicopot ya mbak”

08.47: dalam hati, “ini berasa pelecehan deh…”

08.48: tarik nafas, hembuskan nafas, rontgen pun selesai

08.55: tes pendengaran, disuru pakai headset dan pencet tombol

08.56: berusaha konsen dengerin suara di kuping kanan, lumayan sukses

08.57: berusaha konsen dengerin suara di kuping kiri, kog ga kedengeran ya?

08.58: mulai khawatir ternyata gue budek sebelah

08.59: perawat berkata, “bagus kog mbak” lalu kembali duduk di sofa

09.10: masuk ke ruang konsultasi, ngobrol sama dokter cantik

09.11: ditanya-tanya, “sudah pernah hamil? keguguran? aborsi?”

09.12: menjawab, “tidak”

09.13: disambung, “punya penyakit menurun? jantung? kanker? diabetes?”

09.14: menjawab lagi, “tidak,” tapi dalam hati bertekad mengkonfirmasinya kepada ayah ibu

09.15: disuru berbaring di kasur, badan dipencet pencet

09.16: punggung diketok, ditanya sakit atau tidak

09.17: perut dibejek, ditanya sakit atau tidak

09.18: mulai bingung ini sebenernya apa aja ya yang dicek?

09.19: konsultasi dengan dokter cantik selesai, kembali menunggu di sofa

09.25: dipanggil masuk untuk ukur-ukur

09.26: berat badan normal, tinggi 165, tekanan darah 110/70

09.27: disuru tes tiuptiup (spirometry) buat ngecek…. apa ya? yah sesuatu berhubungan dengan paru paru

09.28: diperagain sama perawatnya, “tarik napas pake mulut, hembuskan ke tabung”

09.29: percobaan pertama gagal, ga bisa hembuskan nafas

09.30: percobaan kedua gagal, grafiknya ga sesuai yang diharapkan

09.31: percobaan ketiga lumayan sukses, tapi katanya hembusannya kurang kuat

09.32: perawat curiga, “merokok ya mbak?”

09.33: mulai malu, bilang, “nggak kog mas -_-“ dan meniup untuk keempat kalinya

09.34: selesai, disuru cross check ke meja registrasi

09.36: semua tes beres! disuru tanda tangan

09.40: dadah-dadahan sama Yudha, keluar dari gedung sama Ajeng

09.41: teringat destinasi kedua yakni urus NPWP

09.42: telpon Kring Pajak 500200 untuk nanya kantor pajak setiabudi di mana

09.43: nomornya busy, akhirnya nanya sama om dan tante

09.44: dapet alamat kantor pajak, berjalan ke halte bus

09.47: nunggu Kopaja 66 di halte bus

09.48: yeay busnya cepat datang!

09.49: bayar 3,000 rupiah

09.50: keluarkan mp3 player, dengarkan musik

10.10: tiba di kantor pajak, ambil nomor antrian

10.11: nomor antrian langsung dipanggil. WOW!

10.12: diminta fotokopi KTP

10.13: petugas tersenyum, “mbak, alamat mbak harus urus di kantor pajak setiabudi 2”

10.14: bingung, “lho ini kantor apa?”

10.15: petugas menjawab, “ini kantor pajak setiabudi 1 mbak. mbak keluar aja dari pintu lalu muter ke belakang”

10.16: ambil tas, berjalan memutar ke gedung belakang

10.18: tiba di kantor pajak setiabudi 2, ambil antrian

10.19: ternyata masih harus nunggu 9 nomor antrian lagi. haiyah..

10.25: ngantuk

10.30: bosen

10.35: ngantuk

10.40: bosen

10.45: dipanggil! yeay!

10.46: serahkan formulir dan fotokopi ktp, dapet slip pembuatan NPWP

10.47: disuru dateng lagi untuk ambil kartunya besok

10.48: berpikiran untuk nggak dateng lagi besok, kapan-kapan aja ngambilnya yang penting udah dapet nomornya

10.49: masukkan semua benda ke dalam tas ransel, mulai berjalan menuju rumah

10.50: baru inget perlu ngadu sama mama perihal NPWP, keluarkan hp

10.51: kasitau mama bahwa NPWP udah diurus, tapi nama tetep salah karena sesuai KTP

10.52: mama bilang beliau turut prihatin

10.53: tetep protes kenapa papa ga bantuin ngurus KK dan KTP yang namanya salah

10.54: mama menyerah, diam di whatsapp

10.55: ikutan menyerah, lempar hp ke tas dan mulai menyeberang jalan

11.15: tiba di rumah, ganti baju

11.16: ditanya mau makan siang di rumah atau tidak

11.17: menjawab, “ya”

11.30: dipanggil untuk makan siang

11.31: berjalan ke dapur

11.35: mulai makan siang

11.45: bel berbunyi, adik sepupu pulang dari dokter gigi

11.50: adik sepupu ikutan makan siang

12.00: makanan hampir habis, ditawarin buah apel

12.05: makan apel sebagai dessert

12.06: kunyah apel sambil nonton TV

12.07: di TV ada kisah hidupnya Beyonce

12.08: bingung gimana caranya orang bisa punya suara sekeren Beyonce?

12.09: mulai membahas tentang Destiny’s Child sama adik sepupu

12.10: kenyang

12.15: tinggalkan dapur, beranjak ke kamar

12.20: ambil laptop, masuk kamar

12.30: berbaring di kamar, pangku laptop

12.40: mulai ngantuk

12.41: berasa berdosa habis makan langsung tidur, nggak jadi baring

12.42: ambil hp, duduk di sofa sambil minum air putih

12.43: bosen

12.44: ngantuk

12.45: balik lagi ke kamar, buka Facebook

12.50: ngantuk

12.51: tutup laptop, letakkan di samping kasur

12.52: buka HP, ganggu kakak F lagi kerja

12.53: gangguan kurang efektif, sepertinya sedang sibuk

12.54: masuk whatsapp dari mama, kasi tau bahwa beliau menuju Jakarta hendak bertemu teman

12.55: membalas whatsapp mama cepat

12.56: ngantuk

12.57: letakkan hape

13.00 (kira-kira): tertidur

16.00 (kira-kira): terbangun, balas whatsapp mama

16.01 (kira-kira): tertidur kembali

17.52: ucek-ucek mata, lihat HP

17.53: ucek-ucek mata, lihat jam dinding

17.54: berkata dalam hati, “WOW tidur siang gue pulas sekali”

17.55: keluar kamar, minum air putih

17.57: melihat keadaan rumah yang sepi

17.58: ke toilet

18.00: cek HP lagi, kakak F masih diam

18.01: panggil kakak F, cek apakah beliau masih hidup, “hari ini sibuk banget?”

18.05: “Like hell,” jawabnya singkat

18.08: main hape

18.10: main laptop

18.30: mulai mengetik blog post ini

19.00: masih mengetik blog post ini

19.30: masih belum selesai juga blog postnya

19.31: bingung sama diri sendiri, mau leyeh leyeh aja kog distractionnya banyak

19.32: oom pulang

19.35: masih ngetik, tapi mendadak laper

19.40: tante pulang

19.45: diajak makan malam

19.47: blog post disave dulu di draft

19.50: makan malam

20.20: selesai makan malam

20.30: ngobrol sama anak-anak di whatsapp

20.31: mulai main laptop lagi

20.32: nyalakan skype

20.33: lanjut mengetik

20.55: publish!