Closing Down The Year – Goodbye 2016

Yesss I do know that it’s March and we passed 2 months of 2017 already, but what am I supposed to do when this post was halfway done and yet I was distracted by this and that >.< Until this fine afternoon when I realized this post still lingers in my draft box :)) Hehehe so anyway, 3 months due, here it is! Another annual post to end another wonderful year.

cutesalmon_full2016

Kalau kata Instagram, di atas adalah highlight dari beberapa kejadian penting dalam hidup saya sepanjang 2016. Tapi kalo kata saya, di atas benar-benar cuma secuil peristiwa yang numpang lewat di tahun 2016.

Tahun 2016 diawali dengan doa dan harapan akan pelajaran dan berkat yang lebih banyak, dan seperti biasa Tuhan selalu memberi lebih dari yang saya minta :)

  • Addie MS & Twilite orchestra concert, Star Wars edition!
  • Tempat baru untuk bernaung <3
  • Trip ke China!! In this case God certainly gave me lots of lessons sih hahaha. Baca kisah tragisnya di sini.
  • Masih bekerja di perusahaan yang sama, masih di bawah asuhan pakbos Korea yang sama, dan masih belajar banyak di tempat ini. Surprisingly betah! Terima kasih untuk teman-teman kantor yang makin lama merambah jadi teman bermain juga :D
  • Family gatherings all around the year, mulai dari ulang tahun Oma ke-86, merayakan 17 Agustus sama keluarga mama, nikahan sepupu dekat, Natalan di Kencana, tahun baruan sama Oma, and so on and so on! Kesempatan ini yang selalu terlewatkan kalau merantau jauh dari rumah, tapi tahun 2016 saya sukses menghadiri semuanya! Yippie :D
  • Very short trip to Kawah Putih with fellow elevenians, yang lumayan membuat saya super norak tapi seneng karena jadi turis dadakan
  • Rajin ketemuan, reunian, karaokean, sama para alumni PM, yang mengisi hari-hari saya menjadi lebih positif
  • Oh plus! Hampir lupa! Kesempatan untuk “pulang kampung” ke Nanga Bungan di awal tahun 2016 dalam rangka menyambut pak guru penerus saya dan pamit dari kabupaten Kapuas Hulu
  • Weddings here and there, ga kehitung berapa banyak teman-teman dan saudara yang menikah di tahun 2016
  • Lari, lari dan lari. Terima kasih papa! Terima kasih IM Runners! Dua ini yang membuat saya masih rajin lari selama 2016. Highlight dalam kisah perlarian ini bisa dibilang Jakarta Marathon 2016, di mana saya ikut lari 10K tapi di tengah hujan yang bikin basah sampe ke dalem-dalem :))
  • And I did some yoga too…. walaupun bukan sesuatu yang bisa dibanggakan karena bolong-bolong latihannya dan kayang aja masih ga bener. Tapi gapapah! Biarlah ini jadi pelajaran di tahun 2016 dan resolusi di 2017. Demi perut rata seperti Tara Basro..
  • Last but not least, 2016 menjadi spesial karena di tahun ini saya punya kesempatan baru :) Kesempatan untuk memaafkan, kesempatan untuk memulai kembali. Kalau nyontek lagunya mbak Raisa, kali kedua.. pada yang samaaa… :)) Well you know who you are!

 

Once again, thank you to every each of you who is part of my world! I’m beyond blessed ❤ 2017, bring it on!

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China (tapi habis itu langsung buru-buru pulang aja)

Jadi ini adalah postingan yang menjadi hutang terbesar saya 2 bulan terakhir ini, karena saya udah janji pada diri sendiri dan orang-orang untuk nulis kisah miris ini tapi ngga pernah kesampean juga, sampai hari ini!

So! Tanggal 2-9 Juli 2016 yang lalu saya melakukan perjalanan ke negeri China bersama 2 teman saya, Bania dan Obi. Perjalanan ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari karena bahkan tiket pesawatnya sudah saya dan Bania beli awal Maret. Obi bergabung belakangan.

1_00005.jpg
Bania, Sali, Obi (2012)

Menjelang keberangkatan, kami bertiga sudah menyusun jadwal, membeli tiket kereta, dan memesan hotel. Untuk memudahkan semua proses pemesanan dan koordinasi bahkan kami punya Google Docs sendiri yang tab nya senantiasa terbuka di laptop kantor supaya sewaktu-waktu gampang diakses. Bania setiap hari hobinya adalah memandangi foto-foto China, dan kami sudah install VPN duluan dari Jakarta supaya di sana tinggal ganti simcard dan beres. Intinya, kami SENIAT ITU.

Tapi kadang, manusia berencana Tuhan berkehendak kan yah. Dan ini mematahkan pepatah lainnya: “Di mana ada niat, di situ ada jalan” –> KURANG TEPAT! Di mana ada niat, di situ memang ada jalan. Tapi jalannya ke mana dulu cuy :”( Bisa jadi nyasar, bisa jadi nyangkut di kota yang tidak diinginkan, bisa jadi jalan di tempat.

Anyway, untuk mempersingkat basa-basi, biarkan saya mewawancarai diri saya sendiri supaya cerita ini lebih dramatis.

Jadi.. ke China? Ke belahan mananya China?

Tujuan awalnya sih mau ke 2 kota utama, yaitu Zhangjiajie dan Guilin. Zhangjiajie itu daerah yang jadi latar belakang film Avatarnya James Cameron, dan juga daereah yang sekarang udah ada jembatan kaca tertinggi di dunianya itu.

Kalo Guilin?

Guilin kota kecil yang paling banyak jadi latar belakang lukisan-lukisan cina ehehehe. Kota indah yang dikelilingi pegunungan Karst, trus ada sungainya, trus ada kakek-kakek nelayan bawa lentera pake nyari ikan pakai burung yang diiket lehernya.. Duh ini tujuan utama si Bania banget nih pengen motret kakek-kakek semacam itu.

Terus apa yang terjadi?

Yang terjadi adalaaah… kami nggak kesampean pergi ke Zhangjiajie. Kami cuma berhasil ke Guilin.

Kog bisa? Katanya semua tiket kereta udah dipesan?

Iya udah. Jadi flight kami dari Indonesia itu adalah naik Tiger Air menuju ke Guangzhou. Transit dulu sehari di Singapore, tapi itu ya cuma numpang tidur aja di Singapore. Nah di Guangzhou, kami tiba di airport jam 10 pagi dan harusnya jam 2 siang kami langsung naik kereta ke kota Zhangjiajie itu. Harusnya keretanya bermalam di jalan, jadi kami udah mesen tiket hard sleeper.

Lantas? Kan udah tinggal naik kereta tuh, terus apa yang salah?

Yang salah adalah negaranya! Hahaha oke maaf gak boleh nyalahin orang lain tapi gimana dong duh ga pengen banget nyalahin diri sendiri :”( Masalahnya adalah, even begitu kami tiba di stasiun kereta api di Guangzhou, kami ga menemukan petunjuk di mana harus tuker tiket, di mana harus ngantri masuk, di mana bisa nanya, di mana ini di mana itu. Semua papan petunjuk dalam bahasa Cina. Terus semua orang ga bisa ditanyain.

Semua banget dalam bahasa Cina? Masa iya ga ada yang bisa ditanyain Inggris?

Semua banget broh. Jadi di Guangzhou itu ada beberapa stasiun, yang paling baru dan paling bagus ada di Guangzhou Selatan dan itu bahkan stasiunnya gede banget dan banyak alfabet. Serta banyak bule. Tapi sialnya, kereta tujuan ke Zhangjiajie yang udah kami pesan itu berangkatnya dari stasiun tua yang semua loketnya berhuruf Mandarin dan orang-orangnya kalo diajak ngomong Inggris langsung pasang tampang judes tanpa belas kasihan T_T

Jadi-jadi gimana akhirnya?

Jadiii semua masalah ya berawal dari stasiun Guangzhou itu. Kami udah pegang kertas bukti pembelian tiket, dan kami tahu bahwa kertas itu harus ditukar dengan tiket betulan. Tapi, kami gatau dan ga berhasil nanya tempat nuker tiketnya di mana. Dengan bahasa Cina terbata-bata, Bania sempet nanya ke 2 petugas, di mana loketnya, dan petugas A menunjuk ke kanan sementara petugas B nunjuk ke kiri. Dengan percaya diri kami ngikut orang di sebuah antrian panjang selama 30 menit, tiba-tiba di ujung petugasnya menolak kami dan suru kami ngantri di tempat lain lagi. Pas udah di loket (yang mungkin benar), kami ngantri panjaaang banget cuma untuk nukerin tiket, dan ditengah tengah antrian loketnya tutup seenak jidat. Petugasnya istirahat. Ketika akhirnya kami sudah memegang tiket yang benar, kami berlari ke arah gerbang masuk dan itu HARUS ANTRI LAGI. WHY SO MANY PEOPLE, WHY? Sampe akhirnya kami berhasil masuk ke dalam gedung stasiun, dan kami berlari ke arah boarding gate yang salah :”( Saking buru-buru dan ga ada tulisan alfabetnya, kami ga tau bahwa kalo waktunya udah mepet, boarding kereta bisa langsung dari lantai 1. Ini kami naik dulu ke lantai 2, dan diteriakin sama nenek-nenek Cina yang kepala batu banget. Dibilangin gue kagak ngarti lu ngomong apa, ngapain lu marahin gue? Nolongin juga kagak >.< Akhirnya kami berdua lari lagi ke lantai 1 dan ketika tiba di boarding gate, petugas bilang “NO”. Kereta kami udah berangkat.

Jadi kalian ketinggalan kereta.

Iya. Di hari pertama kami tiba di China, kami ketinggalan kereta.

Dan kalian nyangkut di Guangzhou.

Di Guangzhou Station lebih tepatnya. Karena kami belum melihat sisi lain dari kota itu, selain stasiun.

1
Guangzhou Railway Station

Lalu habis itu nyerah?

Oh tentu tidak. Kami masih pantang menyerah ketika itu. Setelah ketinggalan kereta ke Zhangjiajie, kami lanjut ngantri lagi untuk beli tiket keberangkatan berikutnya. Ngantrinya ini lama banget ya fyi. Ntah kenapa manusia di China itu banyak banget jadi mau beli selembar tiket aja perjuangannya amit-amit. Terus pas udah di depan petugas penjual tiket, ada lagi tragedi tiket ke Zhangjiajie habis.

Habis?!

Iya. Di hari itu harusnya ada 2 kereta lain lagi yang berangkat lebih sore, tapi semua habis.

Terus?

Terus ya kami pakai plan B, berangkat ke kota Changsha dulu, yaitu sebuah kota yang letaknya ada di tengah-tengah Guangzhou dan Zhangjiajie, terus nanti dari Changsha lanjut kereta lain lagi ke Zhangjiajie. Cuma ini emang agak gambling, karena sistem perkeretaapian di China itu somehow rumit banget, jadi kalo gue mau beli tiket Guangzhou – Changsha – Zhangjiajie, gue ga bisa beli semua tiketnya di Guangzhou. Gue harus ke Changsha dulu, nanti sampe di stasiun Changsha baru deh bisa beli tiket kereta lanjutannya ke Zhangjiajie. Ngebayangin sampe stasiun Changsha harus ngantri lagi beli tiket berikutnya udah bikin gemes sih, but we had no choice… Jadi akhirnya malam itu kami naik kereta ke Changsha.

Akhirnya yaa naik ke kereta. Keretanya gimana?

Nah ini. Berhubung Guangzhou – Changsha itu adalah perjalanan di luar dugaan, jadi pas beli tiket di loket kami udah ga peduli lagi nomor tempat duduk, harga tiket, dll dsb. Pokonya beli ke Changsha aja udah. Gak taunyaaa tiket yang kami pesan itu kelas ekonomi, yang duduknya berhadap hadapan, dan di dalam gerbong itu orang bisa berdiri. Satu bangku duduknya bertiga tanpa sekat, lalu kalo hadap hadapan itu kita bisa bertautan dengkul sama orang-orang di depan. Hell banget. Dan kereta ini super lelet, jadi kami menghabiskan sekitar 10 jam duduk hadap-hadapan dempet-dempetan sama orang-orang China yang mukanya sama semua.

Berhasil tidur?

Mana ada -___- Saking sempitnya gue dan Bania susah banget mau gerakin badan. Akhirnya Bania jadi ada kesempatan untuk ngobrol dalam bahasa China sepotong-sepotong dengan orang sekeliling, dan dari hasil percakapannya yang sangat terbata-bata itu Bania berhasil mengetahui bahwa orang yang duduk di samping dan di depan kami BARU PERTAMA KALI NAIK KERETA SEUMUR HIDUP. Like… wow.. gue dan Bania mesen tiket jenis apa di gerbong apa sih, kog orangnya bisa antik-antik banget begini? Mereka bahkan ngajak Bania foto bareng karena se-amazed itu sama orang asing. Mereka baru pertama kali ngobrol atau ketemu langsung sama orang asing :| Singkat cerita kami ga tidur. Dan tiba di Changsha dalam keadaan cape banget jam 4 pagi keesokan harinya.

Puji Tuhan akhirnya udah bukan di Guangzhou lagi. Welcome to Changsha! Gimana di kota ini?

Begitu nyampe, hal pertama yang kami lakukan adalah bergegas ke loket penjualan tiket. Belajar dari pengalaman hari sebelumnya, berurusan sama tiket itu artinya berurusan sama banyak sekali manusia, sehingga kami khawatir banget ga dapet tiket lagi atau antriannya panjang lagi. So yah, kami ga terlalu notice apa apa di kota itu awalnya. Kami fokus sama beli tiket Changsha – Zhangjiajie.

Dapet tiketnya?

Dapet! Sempet drama dulu gimana cara mencari loket penjualan tiket, dan sempet ngemper dulu di KFC dan disamperin tukang minta-minta yang bolak balik nyindir, “Lo udah kenyang belom? Lo udah kenyang belom?” sambil tangannya diulur minta duit gitu. (Trus akhirnya gue bales pake bahasa Indonesia, “Pak, saya itu ga ngerti Bapak ngomong apa, dan saya juga laper, saya juga cape, saya mau beli tiket. Udah ya Pak, sorry saya ga ada uang.”) Tapi akhirnya kami sukses ngantri pagi-pagi jam 5 dan dapet tiket kereta Changsha – Zhangjiajie sekitar jam 7an.

Finally! Back on track dong, berhasil ke Zhangjiajie?

Yeaaaaaaaaaaaaa….. not really. Kami juga mikirnya gitu. Pas udah pegang tiket ke Zhangjiajie, rasanya bahagia banget. Duduk manis nunggu kereta dateng. Sempet pipis di stasiun pagi-pagi yang katanya horor banget dan ternyata enggak. Sempet foto-foto keadaan stasiun. Wah udah tenang lah. Sampe akhirnya boarding di kereta, saking excitednya kami sempet memperhatikan bahwa ternyata keadaan stasiun dan kereta di sana mirip banget sama Korea Utara yang digambarkan di internet dan di TV. Hahaha ternyata stasiunnya didominasi oleh bendera warna merah dan tulisan kuning. Jadi berasa balik ke jaman perang trus banyak komunis gitu. Cuma yah proses menyerap informasi sekeliling ini ga berlangsung terlalu lama karena sekitar 5 menit setelah keretanya mulai jalan, gue ketiduran…

Dan bangun-bangun udah sampe Zhangjiajie?

Dan bangun-bangun ternyata keretanya berhenti.

What? Kog cepet?

Iya, gue juga bingung. Kog cepet? Perasaan gue baru tidur sekitar 30 menit paling lama. Dan itupun gue kebangun karena dibangunin Bania.

Kenapa dibangunin?

Soalnya Bania bingung. Bania bangunin gue dan bilang, “Sal, keretanya ga jalan. Udah dari tadi ga jalan.”

Trus lo bangun?

Kalo ga salah iya hahahah. Gue bangun, ucek-ucek mata, lalu sadar bahwa keretanya diem. Masih berpikir positif bahwa mungkin keretanya lagi nungguin sesuatu yang bentar lagi lewat, gue pun lanjut ketiduran bentar. Tapi ga lama kemudian gue bener-bener terbangun dan sadar bahwa kereta ini sungguh-sungguh tidak jalan.

Nanya ke orang sebelah ga, kenapa keretanya ga jalan?

Bania yang nanya, again dengan bahasa China terbata-bata. Tapi sayangnya orang sebelah Bania juga ga ngerti kenapa keretanya ga jalan. Waktu itu memang hujan deraass sekali, dan kami berada di sebuah tempat yang sekelilingnya ga ada gedung. Jadi gue juga ga ngerti posisi kami sebenarnya di mana. Jarak beberapa rel dari kami, keliatan ada kereta lain yang juga berhenti. So untuk sesaat gue menduga mungkin nunggu hujan reda dikit. Atau ada sesuatu yang mau lewat sehingga kereta kami dan juga kereta sebelah kami harus diem bentar.

Terus akhirnya jalan?

Nah itu dia. Perkiraan bahwa kami harus diem bentar tadi itu salah total. Keretanya jalan sekitar jam 7an, terus dari jam setengah lapan itu kereta udah diem. Jam 9, gue mulai gelisah. Nestapa banget lah. Sampe siang itu kereta diem ajaa…

Emang orang-orang ga protes?

Protes!! Lo bayangin ya, itu di gerbong gue banyak banget ibu-ibu gitu, dan setiap ada petugas kereta yang lewat di gerbong kami, para ibu-ibu langsung menghadang dan nyerocos dari A sampe Z. Tapi si petugas tetep ga bilang apa yang terjadi; apakah relnya putus, apakah nungguin hujan, apakah keretanya rusak, ato kenapa gitu dia ga bilang penyebab si kereta diem. Kami disuru sabar aja katanya. Padahal udah berjam-jam nunggu.

Terus sambil nunggu lo akhirnya ngapain?

Macem-macem. Dengerin lagu, main HP, buka socmed. Liat batre hp udah mau habis, gue beralih baca Intisari yang gue beli di Soekarno Hatta. Habis itu lanjut main HP lagi. Habis itu tidur. Habis itu main HP lagi. Habis itu baca Intisari lagi. Parah lah bosennya.

Penumpang lain pada ngapain?

Ada yang bolak balik beli makanan. Ada yang anteng nonton film lewat HPnya. Ada yang ngobrol-ngobrol. Tapi paling jagoan sih nenek-nenek yang duduk berhadapan sama gue.

Kenapa si nenek-nenek?

Doi ngerokok.

Wow, seorang nenek merokok.

Ralat, DUA ORANG nenek.

Okey, dua orang nenek merokok.

Iyah, duduknya berhadapan sama gue.

Polusi udara banget dong ya.

Iyah, dan salah satu dari mereka buka baju.

Hah, buka baju?

Yep, salah satu dari dua orang nenek yang duduk di depan gue merokok sambil buka baju.

Jadi cuma pake BH di dalem kereta?

Nggak, dia pake singlet. Singlet putih yang kayak punya cowok gitu.

Oh okey..

Tapi dia ga pake BH.

Dafuq? Maksudnya?!

Ya dia lepas kemeja, cuma singletan doang, dan merokok di depan gue.

Dan lo bisa lihat dia ga pake BH?

Iya karena nyeplak dan keliatan lah ya bentuk dada manusia yang singletan doang dan ga pake behaaa…

OMG…

Tragis banget pokonya. Neraka. Di luar hujan, kereta udah diem berjam-jam, dan gue stuck di dalam gerbong kereta berhadap hadapan dengan nenek-nenek yang merokok sambil buka baju ga pake BH. Polusi udara, polusi pemandangan.

1_00004
Nenek Fenomenal

Cobaannya berat ya sis…

Berat banget. Not to mention kami berdua belum mandi dan makan properly sejak nyampe di China. Oh dan belum ketemu kasur. Terakhir kali mandi, makan, tidur yang bener tuh Singapore pas transit. Jadi kami udah setengah gila waktu itu..

Pukpukpuk…

Dan kejadian mengenaskan itu terus berlangsung sampeeee sekitar jam 5 sore.

Astaga dari jam 7 sampai jam 5 sore keretanya diem??

Well kurang lebih. Mungkin terhitung berhenti itu jam setengah lapan ya. Dan akhirnya keretanya jalan hampir jam 5 gitulah. Dan ketika kereta itu akhirnya jalan, petugas bilang bahwa kereta itu akan berjalan kembali ke stasiun Changsa.

BALIK LAGI?!

Yeap! Setelah menunggu berjam-jam di kereta terkutuk yang ga jelas kenapa berhentinya, akhirnya kami jalan tapi balik lagi ke stasiun awal.

Yaampun… tau gitu lo kabur ya dari tadi.

Masalahnya ga bisa broh! Keretanya tadi tuh diem di sebuah tempat yang ga jelas di mana, ga keliatan gedung, dan hujan deras banget. Mau turun terus nyusurin rel kereta juga kayanya naas banget, mau manggil Uber juga kelihatannya mustahil.. Jadi ya tadi pasrah aja.

1_00000
Pemandangan dari dalam kereta laknat

Dan akhirnya lo balik lagi ke stasiun Changsha.

Iya. Benci banget ga dengernya? Gue benci banget sih. Dan yang paling menyebalkan adalah, sekitar 15 menit setelah keretanya mulai bergerak, KAMI UDAH SAMPE DI STASIUN. Artinya apa? Artinya tempat berhentinya kereta terkutuk tadi sebenernya ga jauh dari stasiun. Kalo emang keretanya rusak, kenapa perbaikinya lama banget? Kalo emang perjalanan dibatalkan karena cuaca buruk, kenapa ga dari tadi balik ke stasiunnya? Tragis.

Turut sedih mendengarnya..

Iya gue juga sedih sama nasib kami sendiri. Kami bener-bener buang waktu dan tenaga.

Dan kalian belum makan maupun mandi.

Dan kami belum makan maupun mandi. *ngangguk ngangguk*

Terus akhirnya gimana? Balik ke stasiun Changsha, lalu naik bus?

Enggggg…..ga juga. Bania punya temen yang tinggal di Guilin dan dia bilang bahwa bus ke Zhangjiajie malam itu udah habis. Kami juga udah kemaleman sampe di Changshanya. Jadi gue dan Bania memutuskan untuk nginep aja di Changsha, dan naik kereta keesokan paginya. Tapi di sini pun perubahan rencana besar sudah kami lakukan.

Perubahan rencana gimana?

Iya kami harusnya itu stay di Zhangjiajie hanya semalam. Hari kedua,  yakni keesokan harinya, harusnya kami udah turun naik kereta lagi ke Guilin. Tapi ternyata malam itu kami stuck di Changsha, jadi kalau keesokan harinya kami baru naik ke Zhangjiajie dan sorenya naik kereta lagi ke Guilin, kayanya ga masuk akal banget. Akhirnya kami sepakat skip Zhangjiajie, dan langsung cari tiket ke Guilin.

Zhangjiajie.. si gunung Avatar yang ada jembatan kacanya.. yang udah kalian liatin foto-fotonya sejak lama.. akhirnya kalian skip?

Iya. Mau gimana lagi. Kami di China ga lama, jadi ya apaboleh buat, harus segera menyesuaikan diri dengan keadaan. Padahal dalam hati nangis darah.

Oke… terus anyway akhirnya gimana? Dari Changsha dapet tiket ke Guilin?

Nah balik lagi ke stasiun Changsha, lagi-lagi first thing first: cari tiket! Gue sama Bania udah hobi banget lah ngantri di lautan manusia dan perang demi cari tiket. So sekitar jam 6 sore kami mulai ngantri untuk dapetin tiket ke Guilin besok paginya. Sayang, stasiun ketika itu rameeeeeeee banget sehingga kami ga dapet tiket.

Hah, ga dapet tiket lagi?

Hahaha iyah.. Jadi ini lagi-lagi tragedi karena ga bisa bahasa China dan karena kebanyakan manusia. Jam 6 sore itu kami mulai berdiri mengantri di sebuah jalur loket. Jalur loket itu ga ada alfabetnya, tapi karena kami percaya diri berpikiran bahwa setiap petugas loket pasti bisa mesenin tiket, jadi kami ngantri dengan sabar. Sesabar itu sampe kami sanggup berdiri ngantri literally 3 jam. Sesabar itu sampe ga ikutan marah diserobot banyak orang dan menyaksikan banyak orang lain yang berantem karena saling serobot. Sesabar itu sampai kami ngga ngebacok siapasiapa meskipun pas udah nyampe ujung loket petugasnya bilang kami ga bisa beli tiket di situ karena kami ngantri di loket refund :”)

1_00001
BANYAK AMAT MANUSIANYA?

A…paa….??!

Iya, kami 3 jam ngantri dengan penuh penderitaan di loket yang salah. Dan pas ngomong dengan bahasa Inggris bahwa kami mau beli tiket, plis bantuin, kami orang asing, dll dkk, si petugas cuma ngomong dua kata, “NO BUY”. Dan kalimat itu dilontarkan sambil setengah melempar paspor kami balik. Mukanya datar. Ga ada perasaan bersalah, ga ada perasaan kasihan sama sekali.

Bete dong?

BANGET.

Pengen pulang?

BANGET.

Terus pulang?

Hahaha pulang ke mana dulu nih? Setelah tragedi ngantri di loket yang salah, kami akhirnya beli minum. Dan kami berniat, habis beli minum itu, kami akan check in di hotel samping stasiun, naro barang, mandi, lalu balik ngantri tiket lagi.

Gile… Terus akhirnya check in hotel?

Akhirnya BERNIAT check in di hotel. Malam itu masih gerimis, jadi becek-becekanlah kami jalan ke hotel di samping stasiun. Tapi sayangnya niat itu lagi-lagi hanya menjadi niat.

Kenyataannya gagal lagi?

Kenyataannya gagal lagi. Sampe hotel, bilang mau pesen kamar satu, ternyata kamarnya full semua. Ga ada tiket, ga ada kamar hotel, belom mandi, belom makan, stress, hujan, kesel, cape. Semua jadi satu. Gue sempet berkaca-kaca ketika itu :))

Jadi akhirnya gimana?

Akhirnyaaa… Kami balik lagi ke stasiun. Kami balik lagi ke tempat pembelian tiket, dan kali ini ngantri di loket yang benar. Gue inget waktu itu waktu sudah menujukkan sekitar pukul 10.30 malam, dan kami berniat sekali lagi mencoba beli tiket supaya keesokan harinya tenang, baru habis itu nyari hotel di  luar stasiun. Sambil ngantri, mulut gue udah komat kamit berdoa biar kali ini plis banget harus dapet tiket. Sepanjang ke China hidup kami cuma dihabiskan dengan ngantri di stasiun demi tiket, jadi kami muak banget.

Sayangnya nasib sial masih juga nyangkut sama kami berdua; karena ketika akhirnya kami bisa ngomong sama petugas loketnya dan minta tiket kereta ke Guilin esok hari, beliau bilang NO TICKET. WHY? *jedot jedotin kepala*

Beneran jedotin kepala?

Ngga sih.

Terus gimana?

Lemes. Itu udah mendekati midnight. Kesel banget sebenernya, soalnya gue dan Bania yakin masih ada tiket yang available. Di atas loket ada papan real time yang memberitahukan availability semua tiket kereta ke berbagai tujuan untuk beberapa hari ke depan. Dan gue ngecekin bahwa tiket besok itu ada. Tapi, si petugas itu pas kami ngomong dalam bahasa Inggris dan minta tiket besok, dia langsung jawab ga ada tiket tanpa ngetik apapun di komputer. Like.. emang situ afal semua stok tiket buat besok? Situ cenayang? Ga perlu liat ke sistem dulu? Gue emosi banget dan curiga dia emang males aja ngecekin. Mungkin karena lelah. Mungkin karena gue ga berbahasa China. Mungkin karena emang jahat aja.

Akhirnya…?

Akhirnya kami nyerah. Gue mengutuk seluruh perjalanan kami ke China so far, gue mengutuk orang-orang di sana, gue mengutuk sistem pembelian tiket kereta di China yang katro banget masih harus ngantri manual dan ngeprint pake kertas. JACK MA PLIS LAH DO SOMETHING. Alibaba segede itu masa iya ga bisa nyontek Tokopedia yang even bisa jualan tiket kereta? Die gue lama lama di negara itu huhuh die die die.

1_00002
Stasiun Changsha

So malam itu kalian habiskan bagaimana?

Bania akhirnya reservasi hotel. Kadar stress kami sudah di ambang batas, dan kami pikir kami layak mendapatkan hotel yang baik dan berbahasa Inggris, at least untuk malam itu. Oleh karena itu dengan bantuan Toto, Bania berhasil nelpon Sheraton Changsha dan memesan satu kamar hotel untuk kami berdua. Untuk sesaat kami lupa bahwa kami masih belum punya tiket kereta ke Guilin besok, tapi sebodo amat. Kami ambil taksi, lalu minta diantar ke hotel.

1_00003
Taksi

Seneng ga sampe hotel?

Seneng banget. Bisa dibilang Sheraton Changsha itu satu-satunya tempat yang indah yang pernah kami datangi di Changsha hahaha. Pas sampe kamar rasanya bahagiaaa banget.. lihat kasur, lihat air panas, liat toilet bersih.

Makan ngga?

Enggak hahahaha.. Sampe hotel udah jam setengah satu pagi kayanya. Room service juga udah tutup kali ya? Terus ajaibnya kami emang ga laper. Dan untung kami ga maag. Jadi kami cuma mandi selamaaa mungkin, lalu masuk selimut. Tidur, dan sejenak melupakan dunia mengerikan di luar sana…

:))

bersambung ke Part 2

Closing Down The Year: Goodbye 2015

Sudah hari ke-20 di tahun 2016 dan gue baru sadar postingan ini masih mengendap di draft sejak Desember 2015 lalu.

Jadi, bicara tentang 2015, sepertinya hidup gue penuh diisi dengan keluarga. Baik itu keluarga Kaunang-Loebis, keluarga Indonesia Mengajar, maupun keluarga Nanga Bungan!

Semuanya direkam dengan cukup jelas oleh Instagram, yang menyebut bahwa best 9 moments gue di 2015 memang seputar itu itu aja. Naik perahu pas masih di desa, foto keluarga pake baju Dayak, nikahan teman sesama Pengajar Muda, ikutan talk show ala-ala sambil cerita tentang pengalaman ikut Indonesia Mengajar, turning 26, dan dua achievements terbesar dalam mengambil hatinya Rei Molad Kaunang!

cutesalmon_full.jpg

Sebenarnya ada 1 highlight yang belum sempat masuk bestnine versi instagram, yaitu new job! Heheh Tuhan baik sekali di tahun 2015 ini gue diizinkan membuka lembaran baru (ea) di tempat bekerja yang baru. Jangan lupa bukain lembaran-lembaran lainnya juga ya Tuhan di tahun 2016! (ngelunjak)

Anyway! This is my annual post. Click here to see related posts in 2014, 2013, and 2012.

Cheers!

A Birthday Prayer

Dear Sali, happy birthday! Senang bisa kenal Sali selama 5 bulan terakhir. In a way, I’m happy you left your tab on that bus, dan pool busnya kok pas searah jalan pulang ke rumah gue. Memang gaada yang kebetulan kan. 😁

I feel really energetic and passionate when you’re around! Itu kualitas Sali yang paling luar biasa, karena Sali memang orang yang sangat menyenangkan! Jadi doa pertama adalah semoga Sali selalu bisa jadi sumber keceriaan buat keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Doa kedua, semoga di umur yang baru Sali makin dekat dengan Tuhan, makin dekat dengan orang tua dan keluarga terdekat, dan selalu ada di komunitas positif yang bisa mengeluarkan seluruh potensi yang ada di dalam diri Sali, sehingga Sali bisa jadi berkat buat teman-temannya.

Doa ketiga adalah untuk semua harapan-harapan Sali, baik karir, kuliah master (kalo ada rencana), relationship, kucing-kucing yang lucu and all the desire of your heart. Check out Psalm 37:4 (NKJV).

I care a lot about you and I pray that God will always protect your path and hug your dreams. Once again, happy birthday!

image

Dari seorang teman yang ngucapin Selamat Ulang Tahun dengan tulus sebanyak DUA kali setahun ini :D God bless you too, B! :)

10 things 10 years ago Sali should know…

Ngorek-ngorek harddisk hari ini, dan menemukan draft tulisan beberapa bulan lalu. Dibuang sayang, dipost pun agak gak relevan di poin terakhir. NAMUN! Gue mencoba tetap mempublish tulisan ini agar sedikit lebih otentik, sekaligus sebagai pengingat bahwa memang banyak hal yang akan berubah dalam hidup, tapi ya lo tetap harus hidup. Jadi selamat menikmati, but please be aware that the last point doesn’t count anymore.

Nanga Bungan, 19 Januari 2015

10 THINGS 10 YEARS AGO SALI SHOULD KNOW

Age when writing: 25

Ten years ago: 15, kelas 1 SMA, di Jakarta

10 tahun yang lalu kurang lebih Sali bentuknya seperti itu :D

  1. Teman-teman terdekat yang lo miliki saat ini akan tetap menjadi teman-teman terbaik lo sampai 10 tahun ke depan (and counting) meskipun selepas SMA kalian akan terpisah jauh selama bertahun-tahun. They are the best.
  2. Lo sama sekali nggak sia-sia udah merelakan malam minggu lo untuk les renang selama 2 tahun. Sepuluh tahun lagi lo akan hidup di hutan dan bergantung pada sungai, jadi bersyukurlah setidaknya lo sudah punya basic mengapung di air.
  3. Jempol kiri lo masih nggak bisa digerakkan? Relakan sudah. It’s been… 7? 8? years since the accident, dan lo tetap bisa melakukan segala hal dengan baik termasuk main piano. Jadi nggak usah terlalu diambil pusing, soalnya toh 10 tahun ke depan (dan sepertinya untuk selamanya) jempol itu nggak pernah sembuh.
  4. Tentang les piano… hmm….. lo bakal kaget nggak kalau bahkan 10 tahun ke depan lo akan tetap bisa main piano dan menemukan bahwa kemampuan itu sangat membantu lo dalam bersosialisasi dan melayani Tuhan? Jadi berlatihlah dengan baik, ngga usa banyak bolos, karena toh waktu lo untuk les hanya tinggal beberapa tahun lagi.
  5. Mimpi lo untuk sekolah di luar negeri dan tinggal di asrama bersama teman-teman yang manis akan menjadi nyata beberapa tahun lagi. Tapi luar negerinya pasti belum terbayang sama sekali ya di kepala lo? Yang pasti dia bukan negara berbahasa Inggris dan menggunakan alfabet. Tapi tenang aja, hidup lo akan berubah banyaaaak sekali di sana, dan lo akan menemukan banyak hal baru.
  6. Di antaranya lo akan menemukan bahwa lo ternyata berani juga ikut organisasi, even jadi ketuanya! Surprise surprise! Jadi coba itu formulir pendaftaran OSISnya buruan diisi, dia akan menjadi langkah awal lo loh :)
  7. Di negara tidak berbahasa Inggris itu lo juga akan mendapatkan pengalaman lain selain sekolah, yaitu bekerja di perusahaan raksasa dengan budaya yang lo sangat tidak familiar. Penuh dengan senioritas dan kerja keras. Tapi again, lo akan belajar banyak di situ. Dari mulai mengatur keuangan, patuh pada atasan, bekerja di bawah tekanan, sampai mengatasi jerawat.
  8. Dandanan lo masih kayak cowok? Tenang, lo sendiri yang tahu lo tidak dengan sengaja berpenampilan tomboy. Lo cuma males aja beli baju dan nggak punya duit untuk belil sepatu lucu. Pada akhirnya ketika lo sudah bisa menghasilkan uang sendiri penampilan lo nggak akan terlalu berantakan lagi kog. Lo akan mulai tertarik dengan segala dress elegan, alat make up, kuteks warna warni, aaand shoes!! Yess lo akan menemukan cinta kedua lo di sepatu, meskipun seringkali dompet lo berkata tidak. Jadi semacam cinta tapi benci gitu.
  9. Ngomong-ngomong soal cowok, surprisingly cowok-cowok yang lo kenal sekarang (yang jumlahnya sangat sedikit itu) akan tetap menjadi teman-teman lo untuk 10 tahun ke depan, walaupun pertemanannya sebatas di media sosial. Nah dua dari cowok yang sudah lo kenal saat ini akan menjadi pacar-pacar lo, walaupun akhirnya putus juga sih….
  10. Namun no worries! Pada akhirnya lo akan menemukan seseorang yang berbaik hati rela menjadi pacar lo dan bahkan meminta lo menjadi istrinya. Dia bukan pangeran berkuda putih ataupun si badboy 구준표, tapi dia adalah segalanya yang lo butuhkan. Smart, determined, patient. Dan mau mengerti lo!! Ini yang paling penting! Kalau saat ini lo pikir lo adalah perempuan paling simple dan nggak ngerepotin yang pernah ada di dunia, apparently 10 tahun lagi isi kepala lo tidak demikian lagi! Dan ini cukup menjengkelkan sehingga butuh skill khusus untuk menangani lo. Syukurnya laki-laki yang satu ini berani dan bisa. Dia akan membantu lo lebih mengenal diri lo sendiri dan menemukan jalan hidup lo. And he will be your sunshine, your only sunshine. Just like his name :)

^_^

Tambahan dari Sali di hari Rabu tanggal 14 Oktober 2015:

11. Saat ini lo ga kebayang hidup lo kayak apa? Lo penasaran masa depan lo bakalan begimana? Lo pengen cepet-cepet tua karena lo pikir kalo lo tuaan dikit lo akan lebih mengerti tentang hidup? Well, ini spoilernya: 10 tahun kemudian pun lo akan tetep ngga ngerti apa apa!! Hahahah lo akan tetep bingung jalan mana yang harus lo pilih, dan lo akan menjadi semakin bingung kalau ngeliat hidup lo ke belakang, kog belok belok banget?? Ngapain aja gue selama hidup?? Hehehe BUT! Tenang, di saat-saat seperti ini marilah kita menjadi sedikit terang dan mengingat lirik lagu I don’t know about tomorrow, but I know who holds my hand!!  :))

So take it easy, especially on yourself, and enjoy the ride. 

“Karena setiap cerita bisa dituliskan berbeda..”

Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru!

Tulisan ini adalah milik Rifki Furqan, yang diambil dari sini.

Isinya terlalu manis dan mengharukan, jadi saya post kembali di sini :)

Begitulah judul dari sebuah video kreasi saudara sepenugasanku. Ternyata, aku pun bisa rindu. Ya, serindu itu!

Sudah sejak weekend lalu aku teringat-ingat bagaimana Hulu. Apa kabarnya ya saudara sebangsaku di desa paling Hulu itu? Tak terasa sudah lebih dari dua bulan aku meninggalkan kampung halamanku itu. Dulu, ketika tiba di Jakarta dan bertemu dengan mereka-mereka, teman seangkatan, aku memasang janji diam-diam dalam hati untuk baru akan mengenang kisah hidup penuh makna ini paling tidak tiga bulan lagi. Dan ternyata kesombongan diri ini terus diuji hingga aku tak tahan lagi untuk mengaku sudah memasuki tahap sangat rindu ini.

Ini tentang korelasi antara memori dan masa transisi yang berjalan terbuka antara kita berdua. Kita saudara wahai Bu Guru, sejak awal dulu smsmu masuk dan terbaca ketika aku masih di perahu setelah empat jam turun dari hulu. Aku tak terlalu perduli awalnya siapa pun yang akan menggantikanku. Dan ternyata ketika kita berdiskusi cukup lama ketika aku bersinyal di kota, aku yakin kamu, yang sudah luar biasa, akan semakin jauh legawa, dewasa dan tentu lebih luar biasa dikemudian harinya.

Aku bersaksi bahwa kamu punya kapasitas untuk menyelesaikan tugas dengan gilang gemilang jauh dari tiga laki-laki sebelumnya. Kamu adalah pemberi beda. Tidak pernah ada sebelumnya Bu Guru yang dikirim ke desa paling hulu, dan itulah mengapa aku menyebut sejak mula bahwa kamu beruntung dan semoga terus berbahagia.

Ingat ini Bu Guru, ketika nanti di desa kamu sempat merasa putus asa, artinya alam sedang bekerja untuk membuatmu lebih luar biasa. Ketika kamu bingung karena tidak ada kata-kata yang dapat ditukar lewat pulsa, artinya pengalaman itu akan kamu kenang sebagai masa yang paling menguatkan perasaan diri juga logika. Ketika nanti apapun masalah dengan sekolah atau warga yang datang tanpa kamu bisa diskusikan bersama, simpan dan cerna baik-baik lewat tulisan atau apapun ragam kenangan lainnya.

Maka nanti, ketika kamu selesai dan meninggalkan Ketemenggungan Dayak Punan Hoovongan, mungkin rasa rindu seperti inilah yang akan terus menguatkan. Tak hanya menguatkan dengan ragam pengalaman mental, fisik dan spiritual tinggal di tengah hutan, tapi juga menguatkan rencana bintang gemintang kamu di masa depan.

Bu Guru, terima kasih bijaksana atas video kreasinya yang sukses membuat Pak Guru paling arogan di Bungan ini mengaku rindu. Jika nanti pertengahan kamu bertugas kamu pulang untuk sementara, kita harus bertemu karena aku akan menjamu tamu dari Hulu sambil kita akan tertawa-tawa membahas Bungan Jaya.

Semoga sehat selalu di Hulu ya Bu Guru! Aku tau bagaimana susahnya ternyata mengelola rindu pada seorang sahabat/saudara yang daerah penugasannya hanya bisa diakses lewat surat yang dibungkus kantong plastik dan dititipkan sebisanya. Jadi, tetaplah semangat jika naik ke Hulu dan turunlah ketika hati dan mimpimu berkata seperti itu. Kami akan selalu berdo’a agar Bu Guru dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa selama bertugas disana, mengajar dan belajar di desa yang punya SD paling akhir di aliran Kapuas Hulu.

Depok, 09.09.14. 23.11 WIB. *setelah berulang-ulang kali mengenang Nanga Bungan

Pak Guru sok mantap!!Pak Guru sok mantap!!

Makasih banyak ya Pak Guru, saya memang lagi membutuhkan ini…

Ooh ternyataaa….

Rabu, 16 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

View from the Top

  1. Hari pertama sekolah itu ga cuma bikin gugup muridnya, tapi juga gurunya :3
  2. Jika murid-murid tampak kebosanan atau sibuk sendiri di kelas, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bisa jadi emang gurunya ga bisa me-manage kelas…. (sigh)
  3. Harus masuk sekolah jam 7.15 dan baru mandi jam 7 itu bukan ide baik. Agak malu juga begitu keluar rumah pake kain dan bawa ember mandi terus ketemu murid-murid yang udah pake seragam rapi nggak sabar mau mulai sekolah…
  4. Anak-anak pedalaman juga hafal marsnya Jokowi. Dan juga Prabowo. Dan mereka tahu istilah Pemilu Legislatif!! Terharu…
  5. Bahasa Korea sama bahasa Bungan beda-beda tipis. Banyak eo eo nya… ehuhehehe.
  6. Buku itu benar-benar jendela dunia. Setelah bertahun-tahun hidup dengan kemewahan internet lalu tiba-tiba kemewahan tersebut direnggut, saya sangat bersyukur ada banyak buku bacaan di rumah dan sekolah untuk bahan belajar dan mengajar. Terima kasih ya wahai penulis, penerbit, donatur, dan para pengantar buku-buku tersebut. Saya berhutang budi *salim*
  7. Tokek tuh bentuknya begitu!! Omg cicak versi gede….
  8. Sejernih-jernihnya air sungai di hulu tetep aja lebih jernih air hujan. Dan gue ga pernah sadar betapa pentingnya air hujan dalam hidup gue sampe sekarang :3 Kayanya balik ke Jakarta nanti gue bakal dikit-dikit bawaannya sigap ngeluarin ember penampung air deh kalau hujan turun..
  9. Pelajaran Fisika soal listrik dan teman-temannya itu sangat.. sangat… penting!! Terutama kalau lo berniat tinggal di rumah sendiri. Dan rumah lo ngga dialiri PLN jadi ngga bisa kapan saja protes ke PLN terus mas-masnya dateng.
  10. Begitu pula dengan pelajaran Tata Boga.
  11. Dan juga pelajaran olahraga, terutama bagian permainan volley. Ini khusus kalau lo mau hidup di Hulu Kapuas seperti gue sih, or else lo bakal jadi lawakan satu desa berusaha ngejar-ngejar bola dengan gaya yang nggak masuk akal di tengah lapangan sore-sore.
  12. Berenang juga penting! Dan yang gue maksud di sini bukan berenang cantik di kolam, melainkan berenang melawan arus. Ini sangat-sangat krusial kalau lo mau bonding secara cepat dengan anak-anak pedalaman Hulu Kapuas ketika main hanyut (=main arung jeram tapi tanpa perahu, alias orangnya aja gitu hanyut di antara jeram berbatu dan berarus).
  13. Bakar sampah itu ada triknya. Bakar yang mudah terbakar dulu, dan dari bawah. Sia-sia lo berusaha bakar tumpukan paling atas; udah girang liat apinya besar menari-nari terus lo baru sadar yang kebakar bagian atasnya doang!! (aigooh…)
  14. Duduk sambil nungguin sampah lo terbakar juga ada triknya. Jangan pernah duduk melawan arah angin berembus. Kasian paru-paru dan mata lo. Nyeseknya beda tipis sama pas kelaperan masak nasi tapi nggak mateng sempurna.
  15. Hidup tanpa sinyal tuh gini toh rasanya…… (lalu hening)

Terima kasih untuk hari pertama yang spesial, Bungan.

Tidak sabar untuk bertemu dengan ribuan ternyata-ternyata lainnya :)

 

Apa yang akan selalu sama?

Cikoneng, 8 Juni 2014

“Apa yang akan selalu sama, di masa dua bulan pelatihan, satu tahun penempatan, dan bertahun-tahun ke depan?” – Hikmat Handono

Lulus!

sahabat?

cinta?

Tuhan?

harapan?

pilihan?

masalah?

tantangan?

Saya menjawab IYA untuk semua poin-poin di atas.

Tapi saya berteriak paling keras ketika poin ini disebut:

RASA CINTA PADA INDONESIA

Indonesia :)

Empat tahun kuliah plus bonus hampir dua tahun kerja jauh dari tanah air membuat saya kadang bertanya-tanya, apa ya yang terjadi pada bangsa saya?

Di saat orang-orang muda lainnya sibuk berorganisasi dan aktif berpolitik ketika kuliah di dalam negeri, saya malah pura-pura nggak tahu sama keadaan kampung sendiri. 

Di saat saya hepi-hepi volunteering di Korea dan hura-hura ke sana kemari, kog saya malah menjadi relawan untuk bangsa orang lain ya? 

Apakabar bangsa saya sendiri?

Kog mendadak jadi merasa berhutang budi ya?

Dan begitulah terus kurang lebih pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala saya. Sok idealis memang :p tapi jujur pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya membawa saya ke keputusan untuk mengikuti program Indonesia Mengajar.

Dan setelah 2 bulan pelatihan intensif alias karantina layaknya kontestan dangdut, akhirnya hari minggu yang lalu saya beserta 74 teman lainnya resmi dilantik sebagai Pengajar Muda Angkatan 8 :)

Rasa bangga menyelimuti saya, tapi rasa takut juga gak kalah menanti di balik itu hehehe.

Yang pasti sih rasa haru biru sudah sangat tidak terbendung ketika pada pelantikan kemarin kami harus maju satu persatu mencium bendera Merah Putih dengan penuh hormat sambil bernyanyi..

Dari yakin ku teguh

hati ikhlasku penuh

akan karuniaMu

Tanah Air Pusaka

Indonesia Merdeka

Syukur aku sembahkan

ke hadirat-Mu, Tuhan

Indonesia!

Tulisan ini dibuat pada hari Selasa, 6 Mei 2014.

Hai semua. Senang sekali rasanya jari-jari ini bisa mengetik lucu di atas keyboard komputer. Sudah beberapa minggu belakangan ini hidup saya hampa tanpa gadget huhehe. Kenapa tanpa gadget? Karena saya saat ini sedang berada di camp karantina Indonesia Mengajar yang mengharuskan saya berpisah dari segala jenis alat elektronik setiap hari Senin sampai Sabtu. HP baru dikembalikan dan bisa digunakan hanya hari Minggu. Untung kemarin akhirnya kami dapat hibahan netbook unyu jadi saya bisa kembali autis, walaupun tanpa internet :3 Oiya netbook baru ini saya namakan Aspirin.

Anyway beberapa update terkini tentang saya:

  1. Setelah resign dari kantor terakhir, saya sempat kabur dari kepenatan sejenak dengan tamasya ke Thailand dan Korea. Senang sekali rasanya bisa refreshing setelah sekian lama. Sayang waktu itu nggak sempat ngeblog juga, jadi kalau ditanya detil itinerarynya saya agak lupa lupa inget. Yang pasti saya super happy karena bisa main main sebelum dikarantina.
  2. Senin tanggal 21 April 2014 saya masuk karantina Calon Pengajar Muda angkatan 8. Total peserta 74 orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan tempat karantina kami adalah di sebuah vila di daerah Cisarua.
  3. Karantina ini sendiri berlangsung selama 8 minggu, dan saat saya mengetik tulisan ini saya sudah berada di minggu ketiga. Nggak kerasa? Ha ha ha.. kerasa banget sih kalo boleh jujur :p
  4. Highlight minggu pertama karantina adalah saya berkenalan dengan 73 peserta lainnya, dan kecanggungan kami segera musnah karena minggu pertama itu diakhiri dengan pelatihan fisik selama 4 hari yang paling luar biasa dalam hidup saya, at least sampai saat ini.
  5. Pelatihan fisik yang saya sebut di poin sebelumnya adalah prosesi pelatihan oleh WANADRI yang jujur saya nggak tau itu apa sebelumnya, dan kami dilatih macamnya bocah-bocah masuk ospek. Dulu saya pikir training ala militer di Lotte pada bulan Desember 2011 adalah pengalaman terburuk saya dalam hidup, tapi ternyata pelatihan Wanadri ini berhasil mengalahkan rekor tersebut.
  6. Empat hari nggak mandi, empat hari ga gosok gigi, empat hari makan diburu waktu sampai agak trauma makan karena bawaannya pengen muntah kalau menjejalkan nasi ke mulut, empat hari harus lari ke mana mana sambil teriak “INDONESIA”, empat hari nggak bisa minum leluasa sambil berdiri, empat hari minum air dari sungai, empat hari bolak balik dihukum push up, tapi empat hari juga kami diajarkan pentingnya kerja sama dan yang paling penting saya jadi punya rekor baru dalam hidup: mendaki gunung!
  7. Walaupun kalau boleh milih nggak pengen lagi sih mendaki gunung dengan cara itu….
  8. Lanjut ke minggu kedua, kami dapat materi tentang filosofi pendidikan: bagaimana pengaturan aparatur sekolah, bagaimana cara mengajar dengan kreatif, bagaimana mengenal sifat dan karakter pribadi serta murid, bagaimana jenis-jenis kecerdasan manusia, dan masih banyak lagi. Semua topiknya menarik, dan semua materinya bermanfaat. Walaupun jujur sepanjang minggu saya harus perang melawan kantuk karena duduk mendengarkan sepanjang hari itu juga menguras energi L
  9. Kemudian di minggu ketiga ini saya sedang mengulang kembali pelajaran anak SD. Kemarin kami belajar matematika dasar (tambah, kurang, pecahan, luas, keliling, dll), dan hari ini kami belajar IPA (observasi anak ayam, membuat oven tenaga surya, dll).
  10. Oiya hari ini ketika belajar IPA kami bermain lari larian menghayati peran rantai makanan sebagai tikus yang dimangsa ular, dan saya dengan sukses jatuh di lapangan sampai paha biru dan kacamata penyok. Yah makin bocel bocel aja ni badan…
  11. Ngomong ngomong soal bocel bocel saat ini dengan bangga saya katakan muka saya nyaris mulus namun warnanya luar biasa gelap……………. terima kasih banyak wanadri, terima kasih banyak indonesia mengajar. Emang nggak salah sih slogan IM: “Setahun mengajar, seumur hidup perawatan…………………….”
  12. Sekarang kulit tangan saya pun terkelupas kayak ular, dan saya mulai berpikir untuk pakai jilbab ketika survival nanti supaya punya alasan untuk pakai baju tangan panjang.
  13. Eh iya bener, di akhir minggu ketujuh nanti kami punya program survival lagi, yang merupakan kelanjutan dari pelatihan fisik kemarin. Gosipnya sih ketika survival masuk hutan untuk kedua kalinya ini kami akan diajarkan cara makan ular dan dedaunan tidak beracun, serta tidak disediakan makanan lain selain makanan liar tersebut. Saya benar benar berharap itu hanya sekedar gosip, karena apabila tidak ya bisa dipastikan saya puasa empat hari….
  14. Buat yang penasaran, iya saya sudah ketemu Bapak Anies Baswedan. Sudah dua kali pula. Dan iya, beliau sangat berkharisma. Dan beliau bolak balik menyebut negara Korea Selatan karena menurut beliau pendidikan di Korea sudah sangat maju. Saya diem aja sih dengernya, nggak terlalu tau juga soalnya huheheh.
  15. Kehidupan saya sehari hari cukup menyenangkan tapi juga membosankan. Bangun pagi jam 5 kurang, olahraga jam 5.30, mulai kelas jam 8, teruuuus sampai jam 10 malam. Kalau ada waktu luang bisa pinjam buku di perpustakaan atau main ayunan. Kebetulan di depan barak saya ada meja biliar, jadi saya biasanya nempel di situ. Ntah apa yang ada di pikiran teman teman saya melihat orang tua muka bersahaja tapi mejengnya di meja biliar. Semoga nggak pada langsung berpikiran negatif..
  16. Selain itu ada kolam renang juga sih, tapi ini juga saya agak susah nyeburnya karena saya nggak biasa berenang pakai baju selain baju renang. Hehehe jadi doakan saja wiken ini saya sudah sanggup menyesuaikan dan berani nyebur.
  17. Di poin 15 saya juga sempat menyebut soal barak; jadi kami 74 orang ini dibagi ke dalam 3 kelompok besar untuk tidur. Gubuk alias barak pertama adalah barak putri, diisi oleh sekitar 29 orang, dan barak kedua adalah barak putri kecil yang diisi 14 orang. Barak yang satu lagi adalah barak putra, isinya 31 orang. Jangan bayangkan barak ini indah dan cozy ya, karena kami di sini tidur layaknya ikan teri berdempet dempetan. Tapi lucu sih sensasinya, dan mungkin ini bisa dijadikan latihan untuk penempatan juga..
  18. Oiya penempatan akan diberitahukan akhir minggu ketiga ini. Jadi bagi yang selama ini sudah bertanya tanya “sal lo bakal dibuang ke mana sih??” mohon bertanya lagi minggu depan karena ketika itu insyaallah saya pun sudah mendapatkan jawabannya.
  19. Setiap hari jam 11 malam sampai jam 4 subuh listrik dimatikan. Dan ini juga yang telah terjadi ketika saya sedang menuliskan karangan indah ini. Jadi izinkanlah saya untuk menutup tulisan saya dan segera menyusul teman teman sebarak saya ke alam mimpi dengan menggarisbawahi poin terakhir…………..
  20. Saya sehat walafiat, dan sangat sangat menikmati setiap proses karantina ini. Untuk pertama kalinya saya sadar kenapa saya harus belajar ini itu, dan untuk kesekian kalinya saya dibuat semakin bangga menjadi warga Indonesia. Semua oke, semua baik.

Good night!

18 November 2013

Terima kasih Tuhan.

Terima kasih Tuhan atas Jakarta yang mendadak indah kalau dikelilingi dengan ojek.

Terima kasih Tuhan atas tumpangan tempat tinggal sementara dari Bujing dan Uda jadi bisa kembali beraktifitas dengan mudah di pusat kota Jakarta.

Terima kasih Tuhan atas kegiatan baru untuk mengisi keseharian selama beberapa bulan ke depan.

Terima kasih Tuhan atas teman-teman yang lucu lucu dengan doa mereka yang beraneka ragam.

Terima kasih Tuhan atas Bania, Obi, dan Cifen yang sudah meramaikan detik detik menjelang 18 November.

Terima kasih Tuhan atas keluarga yang sangat suportif dan penuh kehangatan.

Terima kasih Tuhan atas Papa yang pengertian, Mama yang selalu ngangenin, kakak yang overprotektif, juga kak Melissa yang hari ke hari makin mirip muka dan seleranya sama saya.

Terakhir, terima kasih Tuhan atas peneliti romantis ini, yang sukses membuat saya cekikikan sepanjang hari.

Best gift ever, both manusia dan papernya :)

Terima kasih.

Terima kasih !!