Closing Down The Year: Goodbye 2015

Sudah hari ke-20 di tahun 2016 dan gue baru sadar postingan ini masih mengendap di draft sejak Desember 2015 lalu.

Jadi, bicara tentang 2015, sepertinya hidup gue penuh diisi dengan keluarga. Baik itu keluarga Kaunang-Loebis, keluarga Indonesia Mengajar, maupun keluarga Nanga Bungan!

Semuanya direkam dengan cukup jelas oleh Instagram, yang menyebut bahwa best 9 moments gue di 2015 memang seputar itu itu aja. Naik perahu pas masih di desa, foto keluarga pake baju Dayak, nikahan teman sesama Pengajar Muda, ikutan talk show ala-ala sambil cerita tentang pengalaman ikut Indonesia Mengajar, turning 26, dan dua achievements terbesar dalam mengambil hatinya Rei Molad Kaunang!

cutesalmon_full.jpg

Sebenarnya ada 1 highlight yang belum sempat masuk bestnine versi instagram, yaitu new job! Heheh Tuhan baik sekali di tahun 2015 ini gue diizinkan membuka lembaran baru (ea) di tempat bekerja yang baru. Jangan lupa bukain lembaran-lembaran lainnya juga ya Tuhan di tahun 2016! (ngelunjak)

Anyway! This is my annual post. Click here to see related posts in 2014, 2013, and 2012.

Cheers!

A Birthday Prayer

Dear Sali, happy birthday! Senang bisa kenal Sali selama 5 bulan terakhir. In a way, I’m happy you left your tab on that bus, dan pool busnya kok pas searah jalan pulang ke rumah gue. Memang gaada yang kebetulan kan. 😁

I feel really energetic and passionate when you’re around! Itu kualitas Sali yang paling luar biasa, karena Sali memang orang yang sangat menyenangkan! Jadi doa pertama adalah semoga Sali selalu bisa jadi sumber keceriaan buat keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Doa kedua, semoga di umur yang baru Sali makin dekat dengan Tuhan, makin dekat dengan orang tua dan keluarga terdekat, dan selalu ada di komunitas positif yang bisa mengeluarkan seluruh potensi yang ada di dalam diri Sali, sehingga Sali bisa jadi berkat buat teman-temannya.

Doa ketiga adalah untuk semua harapan-harapan Sali, baik karir, kuliah master (kalo ada rencana), relationship, kucing-kucing yang lucu and all the desire of your heart. Check out Psalm 37:4 (NKJV).

I care a lot about you and I pray that God will always protect your path and hug your dreams. Once again, happy birthday!

image

Dari seorang teman yang ngucapin Selamat Ulang Tahun dengan tulus sebanyak DUA kali setahun ini :D God bless you too, B! :)

Petuah dari Bapake

“Sali, can I borrow your time?”

‘Yes, Sir’

“It won’t take too long, just 2 days.”

‘Ehh??’

“Kidding. 5 minutes.”

‘Hahah.. alright Sir.’

“So I just want you to know, that you have worked hard these past 3 months.”

‘Thank you..’

“But I want you to work even harder…”

‘Noted Sir…’

“And always remember these three things.”

*nyiapin catetan*

“First, please be digilogue. Digital and analogue. We live in the online world, working in the e-commerce industry, but we cannot work like a computer. We should be digilogue. Work with a digital mind, but have analogue heart.”

‘Oowwkay…’

“Also, please love the job, and love the company. I hope here is better than your previous company…”

‘Haha.. it definitely is, Sir.’

“And don’t forget, be the owner of this company. Someone who is an owner of a company works differently than a person who thinks he is just a regular employee. Be special. Take the responsibility. This company leans on you.”

“Got it Sir.”

“Happy 3 months, Sali.”

:)

Life’s Good

So! Gue berasa hutang cerita banyaaaak banget. Sama diri gue sendiri tapi. Hahaha. Karena gatau juga siapa yang butuh life updates gue :p Tapi yah buat bekal bahan bacaan gue sambil nostalgiaan di masa depan, I will write those down in points:

– SATU –

I’m now an office worker! Setelah setahun kerja di hutan dan main di sungai, akhirnya gue kembali menjadi pekerja kantoran di dalam gedung dan berkamar mandi baik. Gue ngga bilang gue budak korporat lagi, karena somehow kerjaan yang sekarang jauh lebih manusiawi. Masih di perusahaan Korea, (go check http://www.elevenia.co.id) namun suasananya jauh berbeda dengan kantor L. Teman-teman bermainnya juga menyenangkan, karena gue berkesempatan bekerja bersama teman-teman kuliah gue di Korea dulu, dan bertemu dengan banyak kawan-kawan baru yang super asyik :D Love!


 

– DUA –

Gue ngekos. Bertahun-tahun hidup jauh dari rumah membuat gue sadar bahwa gue…… memang prefer tinggal sendiri. Bukannya ngga kangen mama papa, tapi somehow gue merindukan kebebasan untuk.. ngapa-ngapain. Hahah lagian kantor yang sekarang lokasinya sangat jauh dari rumah. Well, lebih tepatnya emang rumah gue aja yang kejauhan T.T

Tapi! Ada baiknya gue ngekos. Gue jadi jauh lebih menghargai waktu yang gue punya dengan keluarga. Kalau lagi berakhir pekan dan pulang ke rumah, rasanya hepi maksimum! Apalagi kalau udah main main sama keponakan yang makin lama makin ga mirip gue mukanya :( (Dia makin cantik dan gue makin tua)


 

– TIGA –

Gue mendaftarkan diri gue sendiri untuk ikut gym!! Ini gila sih. Gue ga pernah suka olahraga sebelumnya, tapi seiring badan menjadi semakin tua dan kegiatan sepulang kantor semakin tidak bervariasi, akhirnya gue memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru dan menggerakan badan gue lebih banyak. Terus gue gym deh di samping kantor. Biasanya cuma ikut lari-lari kecil atau yoga sih. Tapi lumayanlah ya keringetan…

Oiya sejalan dengan ini, gue juga jadi doyan ikut event lari. Ngga yang hebat-hebat amat sih, biasanya lari cupu jarak pendek. Tapi lumayan, terakhir kali ikut run 5K, pulang pulang menang doorprize dapet setrika gratis heheh.


 

– EMPAT –

Gue… menggembil? Hahah ga tau pasti udah naik berapa kilo, tapi gue sangat berasa celana gue menyempit. Ga ngerti juga ini hal baik atau buruk, karena banyak yang bilang selama di hutan kemarin gue kurusan. Tapi gue lebih suka celana gue  longgar sih… kalo sempit gini kan jadi khawatir….

Lalu tangan juga… mulai menunjukkan tanda tanda mengembang….


 

– LIMA –

Kaki gue semakin panjang, alias gue jadi males diem aja :”( Pulang kantor adaaa aja kegiatan. Ketemu si ini, nonton sama si itu, janjian di sini, lari di sana, diajak meeting ke sini, rame-ramein acara ke sana. Untungnya Tuhan masih baik memberi gue rezeki cukup untuk ngegrabbike ke mana mana dan tenaga yang oke untuk selalu semangat! Hahah di satu sisi emang gue jadi keterusan aja sih pengen tetap aktif berkegiatan sejak pensiun dari Pengajar Muda, dan di sisi lain emang gue butuh distraction…. karena… you know why..

 

Heheheh anyway! Happy Monday! Excited sekali melewati minggu ini, karena di penghujung pekan bulan favorit Sali akan segera datang <3

10 things 10 years ago Sali should know…

Ngorek-ngorek harddisk hari ini, dan menemukan draft tulisan beberapa bulan lalu. Dibuang sayang, dipost pun agak gak relevan di poin terakhir. NAMUN! Gue mencoba tetap mempublish tulisan ini agar sedikit lebih otentik, sekaligus sebagai pengingat bahwa memang banyak hal yang akan berubah dalam hidup, tapi ya lo tetap harus hidup. Jadi selamat menikmati, but please be aware that the last point doesn’t count anymore.

Nanga Bungan, 19 Januari 2015

10 THINGS 10 YEARS AGO SALI SHOULD KNOW

Age when writing: 25

Ten years ago: 15, kelas 1 SMA, di Jakarta

10 tahun yang lalu kurang lebih Sali bentuknya seperti itu :D

  1. Teman-teman terdekat yang lo miliki saat ini akan tetap menjadi teman-teman terbaik lo sampai 10 tahun ke depan (and counting) meskipun selepas SMA kalian akan terpisah jauh selama bertahun-tahun. They are the best.
  2. Lo sama sekali nggak sia-sia udah merelakan malam minggu lo untuk les renang selama 2 tahun. Sepuluh tahun lagi lo akan hidup di hutan dan bergantung pada sungai, jadi bersyukurlah setidaknya lo sudah punya basic mengapung di air.
  3. Jempol kiri lo masih nggak bisa digerakkan? Relakan sudah. It’s been… 7? 8? years since the accident, dan lo tetap bisa melakukan segala hal dengan baik termasuk main piano. Jadi nggak usah terlalu diambil pusing, soalnya toh 10 tahun ke depan (dan sepertinya untuk selamanya) jempol itu nggak pernah sembuh.
  4. Tentang les piano… hmm….. lo bakal kaget nggak kalau bahkan 10 tahun ke depan lo akan tetap bisa main piano dan menemukan bahwa kemampuan itu sangat membantu lo dalam bersosialisasi dan melayani Tuhan? Jadi berlatihlah dengan baik, ngga usa banyak bolos, karena toh waktu lo untuk les hanya tinggal beberapa tahun lagi.
  5. Mimpi lo untuk sekolah di luar negeri dan tinggal di asrama bersama teman-teman yang manis akan menjadi nyata beberapa tahun lagi. Tapi luar negerinya pasti belum terbayang sama sekali ya di kepala lo? Yang pasti dia bukan negara berbahasa Inggris dan menggunakan alfabet. Tapi tenang aja, hidup lo akan berubah banyaaaak sekali di sana, dan lo akan menemukan banyak hal baru.
  6. Di antaranya lo akan menemukan bahwa lo ternyata berani juga ikut organisasi, even jadi ketuanya! Surprise surprise! Jadi coba itu formulir pendaftaran OSISnya buruan diisi, dia akan menjadi langkah awal lo loh :)
  7. Di negara tidak berbahasa Inggris itu lo juga akan mendapatkan pengalaman lain selain sekolah, yaitu bekerja di perusahaan raksasa dengan budaya yang lo sangat tidak familiar. Penuh dengan senioritas dan kerja keras. Tapi again, lo akan belajar banyak di situ. Dari mulai mengatur keuangan, patuh pada atasan, bekerja di bawah tekanan, sampai mengatasi jerawat.
  8. Dandanan lo masih kayak cowok? Tenang, lo sendiri yang tahu lo tidak dengan sengaja berpenampilan tomboy. Lo cuma males aja beli baju dan nggak punya duit untuk belil sepatu lucu. Pada akhirnya ketika lo sudah bisa menghasilkan uang sendiri penampilan lo nggak akan terlalu berantakan lagi kog. Lo akan mulai tertarik dengan segala dress elegan, alat make up, kuteks warna warni, aaand shoes!! Yess lo akan menemukan cinta kedua lo di sepatu, meskipun seringkali dompet lo berkata tidak. Jadi semacam cinta tapi benci gitu.
  9. Ngomong-ngomong soal cowok, surprisingly cowok-cowok yang lo kenal sekarang (yang jumlahnya sangat sedikit itu) akan tetap menjadi teman-teman lo untuk 10 tahun ke depan, walaupun pertemanannya sebatas di media sosial. Nah dua dari cowok yang sudah lo kenal saat ini akan menjadi pacar-pacar lo, walaupun akhirnya putus juga sih….
  10. Namun no worries! Pada akhirnya lo akan menemukan seseorang yang berbaik hati rela menjadi pacar lo dan bahkan meminta lo menjadi istrinya. Dia bukan pangeran berkuda putih ataupun si badboy 구준표, tapi dia adalah segalanya yang lo butuhkan. Smart, determined, patient. Dan mau mengerti lo!! Ini yang paling penting! Kalau saat ini lo pikir lo adalah perempuan paling simple dan nggak ngerepotin yang pernah ada di dunia, apparently 10 tahun lagi isi kepala lo tidak demikian lagi! Dan ini cukup menjengkelkan sehingga butuh skill khusus untuk menangani lo. Syukurnya laki-laki yang satu ini berani dan bisa. Dia akan membantu lo lebih mengenal diri lo sendiri dan menemukan jalan hidup lo. And he will be your sunshine, your only sunshine. Just like his name :)

^_^

Tambahan dari Sali di hari Rabu tanggal 14 Oktober 2015:

11. Saat ini lo ga kebayang hidup lo kayak apa? Lo penasaran masa depan lo bakalan begimana? Lo pengen cepet-cepet tua karena lo pikir kalo lo tuaan dikit lo akan lebih mengerti tentang hidup? Well, ini spoilernya: 10 tahun kemudian pun lo akan tetep ngga ngerti apa apa!! Hahahah lo akan tetep bingung jalan mana yang harus lo pilih, dan lo akan menjadi semakin bingung kalau ngeliat hidup lo ke belakang, kog belok belok banget?? Ngapain aja gue selama hidup?? Hehehe BUT! Tenang, di saat-saat seperti ini marilah kita menjadi sedikit terang dan mengingat lirik lagu I don’t know about tomorrow, but I know who holds my hand!!  :))

So take it easy, especially on yourself, and enjoy the ride. 

“Karena setiap cerita bisa dituliskan berbeda..”

3 Memories You Don’t Want To Erase

Seminggu yang lalu gue ngobrol panjang lebar sama seorang teman yang dengan sangat thoughtful mendownload apps berisi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab supaya ada topik pembicaraan di antara dua orang atau lebih. Ada banyak banget sih pertanyaannya, dari mulai pertanyaan ringan kayak, “Kapan lo terakhir kali nangis” sampai pertanyaan yang rada-rada musti pake otak seperti, “Gimana caranya lo jelasin konsep Tuhan kepada seorang stranger?

Di antara puluhan pertanyaan itu, ada satu yang gue masih inget karena kebetulan kemarin baru melakukan sebuah hal yang berkaitan dengan jawabannya :D Pertanyaannya kurang lebih, Kalau otak lo diformat ulang dan cuma diberi kesempatan untuk memback up 3 peristiwa, memori apa yang akan lo simpan?”

Dan inilah jawaban gue.

1. Momen ketika gue masih SD, mungkin sekitar kelas 3 atau kelas 4, gue masih sekolah di Bandung, dan pada sebuah kesempatan Natal gue dipilih untuk ikut drama di gereja. Gue inget dramanya waktu itu tentang lonceng-loncengan. Jadi pemerannya ada si Lonceng Besar, ada Lonceng Sedang, ada lonceng ini itu, dan ada gue, si Lonceng Kecil. Gue pemeran utama dong pastinya :D :D Tapi gue inget banget setiap minggu dan beberapa hari sekali dalam satu minggu gue latihan di gereja dengan sangat giat, dengan kadang dianter nyokap (kadang enggak juga), dan waktu itu dramanya adalah drama musikal! Jadi banyak adegan gue nyanyi solo dan gue harus belajar banyak banget lagu.

Gue masih inget betapa bangganya gue jadi bintang utama di hari itu (karena again, gue pemeran utama hahaha) dan pastinya gue inget betapa bangganya mama papa serta abang melihat gue tampil. Sekarang gue ga inget satupun lagu yang gue bawain waktu itu sih, tapi gue masih inget semua excitement nya. Love!

Sayang, gue ga nyimpen fotonya. Padahal gue pake properti heboh kayak lonceng…

2. Peristiwa nenek gue meninggal, 17 Agustus 2002

Temen gue sempet nanya, itu kan peristiwa sedih, kenapa musti diinget-inget terus? Terus gue dengan (sok) wisenya menjawab, “Iya biar gue inget rasanya kehilangan orang yang ternyata sangat menjadi panutan hidup gue. Biar lain kali lebih memanfaatkan waktu sama orang-orang tersayang.”

Btw berkaitan dengan ini, yes, kemarin gue habis ziarah bersama mama ke makam ompung. Sudah 13 tahun dia tidak ada! Tapi rasanya gue masih bisa lihat bahwa mama kangen banget sama mamanya. Kami semua kangen <3

3. Perpisahan di desa Nanga Bungan, 21 Juni 2015

Malam itu gue merasakan kasih yang membludak dari banyak orang yang hingga saat ini sangat gue rindukan. Heheh momen itu juga merupakan puncak dari semua perjuangan selama setahun. Hari di mana air mata gue mengalir deras buanget (gue terisak isak meninggalkan desa dan meninggalkan kabupaten) tapi sekaligus lega karena tahu satu chapter yang paling berarti dalam hidup gue selesai sudah! Saatnya buka chapter baru.

Now, untuk siapapun yang lagi baca ini, I dare you to write down your own list! If could choose 3 memories from your past to last forever, what would they be and why? 

Invisible di Gereja Sendiri

Setelah sekian lama, akhirnya hari ini gue bergereja di HKBP Menteng lagi. Walaupun sebenarnya gue sempet beribadah di sana satu kali pas gue “kabur” sebentar dari hutan bulan Desember 2014 yang lalu, gue memang sudah lama sekali ngga aktif di gereja itu. Begitu pula dengan keluarga gue. Padahal kami semua masih terdaftar sebagai jemaat di sana ;p Cuma yahh sejak rumah kami pindah ke ujung dunia dan mama jadi majelis di gereja lain, mau ngga mau keaktifan kami di gereja tersebut berkurang.

Anyway sore tadi, atas dasar mencari gereja yang di tengah kota dan waktu ibadahnya sesuai, gue dan kakak gue sekeluarga memutuskan ibadah jam 3. Gue sedikit excited karena emang rasanya udah lamaaaa banget ga ke sini. Dan gue selalu senang bergereja di sana karena memori masa kecil gue selalu terkuak kalau lagi ibadah di sana. Gue jadi inget masa masa sekolah minggu, inget acara acara Natal pas remaja, inget Ompung, dan banyak memori memori lain. Kalo kata film Inside Out sih, banyak “core memories” gue terbentuk di gereja itu. Meskipun salah satu yang paliiiinggg core banget mungkin warnanya biru, karena pas Ompung disemayamkan terakhir kali.

Anyway! Di tengah sibuknya imajinasi gue berkelana ke masa lalu, gue sadar banyak sekali hal yang berubah di gereja itu. Gedungnya beda. Nyanyiannya udah nggak cuma dari KJ, PKJ, dan NKB lagi. Musiknya lebih semangat. Song leadernya udah semakin mirip Worship Leader di gereja-gereja tetangga. Persekutuan pemudanya udah hampir semua orang baru.

Gue pun berkata sama kakak gue, “Gile, udah lama banget ya aku nggak ke sini, udah beda banget semuanya.”

Kakak gue mengiyakan. Tapi lucunya, setelah gue berkata demikian lantas sepasang suami istri yg duduk di belakang kami menyalam dan menyapa,

“Kamu borunya si Tiur ya? Waah apakabar?”
‘Baik tante, hehehe..’
“Waahh… udah ngga di Korea lagi kah sekarang? Udah for good ya? Duh mama pasti seneng yaa.. kamu lama banget kaan di Korea…”
‘Eh? Iya tante.. iya udah ga di Korea..’

“Lalu ini si abang ya? Waah udah lama banget ga ketemu.”
‘Iya tante, halo apakabar…’
“Trus ini temennya kah?” (Menunjuk kakak ipar gue)
‘Eh?’
“Waah.. kapan nih jadinya? Disegerakan aja yaa..”
‘Eerrrr….’
“Okedeh salam ya untuk mama papa!”
‘Iya tante.. mari oom…’

Beberapa detik kemudian gue, kakak gue, dan kakak ipar gue terdiam. Kemudian kami saling bertatapan. Lalu tertawa bersama.

Ternyata kami emang udah lama banget ya ga gereja di sana :3 atau emang segitunya nggak eksis aja selama ini.. hahahah :)) anyway, selamat hari Minggu! Semoga minggu ini pun banyak berkahnya.

xoxo,
Sali – yang sudah 2 tahun meninggalkan Korea dan abangnya sudah menikah hampir 2 tahun juga bahkan sudah punya anak berusia 9 bulan :))

Oma yang Saya Kenal

Sudah beberapa bulan ini Oma kurang sehat. Sering kali kami dibuatnya khawatir, jantungan, hingga ketakutan. Tapi Puji Tuhan saat ini kesehatan fisiknya semakin baik dan Oma sudah kembali mampu mondar mandir di rumah tanpa ketergantungan orang lain.

Namun, seperti layaknya manusia di usia lanjut, Oma mulai sering membuat kami harus berpikir 2 kali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Beberapa minggu lalu Oma menatap saya bingung dan bertanya saya siapa. Tidak lama kemudian, Oma bertanya kapan saya akan wisuda. Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan saya sudah golongan apa (Oma pikir saya PNS).

Hari ini, Oma kembali mengejutkan saya dengan berkata beliau ingin ikut saya kembali ke Korea. Saya tertawa dan bilang, “Paspornya Oma ada?” Oma pun lantas menjawab, ‘Iyo nanti mo cari noh..’

Jujur saya takjub melihat perubahan Oma. Oma yang saya kenal sangat segar, sehat, lincah, dan tentunya cerdas. Pengetahuannya luas, dan pengalaman sekolahnya jauuh lebih lama daripada saya. Tapi sekarang Oma begitu berbeda.

Papa bilang, ini hal normal. Semua manusia akan mengalami penurunan daya ingat. Saya tahu akan hal itu, karena sudah sering dijelaskan di pelajaran Biologi dulu. Tapi saya tidak menyangka akan menyaksikan hal itu terjadi di depan mata melalui keluarga yang sangat dekat.

Saya jadi penasaran saraf di otak kalau mengelupas itu bentuknya seperti apa sih? Kog bisa mengelupas bagian luarnya saja, sehingga yang diingat hanya memori memori dari jaman dahulu kala?

Menurut saya agak luar biasa melihat Oma masih hafal mati lirik lagu kesukaannya di sekolah Jepang dulu tapi bahkan kadang tidak bisa mengingat saya siapa, sedang apa, sudah lulus sekolah atau belum. Sekali waktu saya pernah menjelaskan bahwa Oma sempat hadir di wisuda saya di Korea dulu bersama mama, dan komentar Oma adalah, “Ah masa? Kita nyanda inga..”

Nggak masalah sih bagi saya, Oma ingat atau tidak. Yang penting Oma sehat fisiknya dan hepi hatinya. Saya hanya menjadi semakin kagum bagaimana organ organ tubuh manusia bisa bekerja dan bisa rusak. Dan saya mulai sadar bahwa cerita cerita manusia hilang ingatan itu ternyata memang nyata..

Anyway, seberapa pun berbedanya Oma sekarang, buat saya (dan keluarga kami) Oma tetap sosok paling segar dan paling gaul yang pernah ada. Oma yang saya kenal itu cerdas, berpendidikan, dan berwawasan luas. Oma yang saya kenal rajin olahraga dan masih suka jogging setiap minggu. Oma yang saya kenal saking lincahnya di umur 80an masih jalanjalan ke Malaysia dan Korea. Oma yang saya kenal, waktu muda (mungkin seumuran saya sekarang) cantiknya luar biasa.

image

Tanda Tangan untuk Masa Depan

컴퓨터 정리하다가 이 사진 발견했어..

Rapor

Masih inget serunya, beberapa bulan lalu, hitung-hitung nilai anak-anak, kumpulin jejak-jejak catatan perkembangan mereka yang kadang nyelip di tas atau ketinggalan di notes HP, lalu masukin semuanya ke Excel, kemudian dicari apakah berdasarkan angka mereka layak naik kelas atau tidak. Setelah itu baru dipertimbangkan kembali satu per satu, mana yang pantas naik kelas karena sudah benar-benar tuntas belajarnya, mana yang pas-pasan, mana yang perlu diberi catatan kecil di dalam buku rapornya, mana yang harus dipanggil dulu orang tuanya. Prosesnya makan waktu, dan harus muter otak. Padahal murid di kelas saya waktu itu hanya 7 orang. Nggak kebayang kalau murid saya puluhan, pasti butuh effort lebih lagi untuk mengenal anak satu per satu.

Ketika akhirnya tiba di tahap penandatanganan rapor, saya ingat saya tersenyum sendiri. Ini kedua kalinya saya membubuhkan tanda tangan di buku rapor mereka karena semester sebelumnya juga sudah pernah saya lakukan. Itu artinya saya sudah mengajar dua semester! Itu artinya tugas saya sebagai wali kelas selesai sudah. Itu artinya saya harus pulang :”(

Emang rada-rada mellow waktu itu. Semua yang saya lakukan di detik-detik terakhir menjelang kepulangan rasanya berat sekali. Tetangga pun gitu. Lihat saya bawa baju pinjeman ke rumah orang, komentarnya pasti, “Bu Guru udah mau berkemas aja?? Cepat sekali???

Atau kalau saya berlagak selfie padahal mau bercermin doang di HP memastikan muka gatel itu karena digigit agas atau ada jerawat tumbuh, pasti komentar orang, “Mentang-mentang mau pulang Jakarta nih, Bu Guru foto-foto teruuus…

Paling parah waktu itu murid-murid saya yang perempuan. Di hari Sabtu terakhir kami olahraga bersama (which was actually 1 MONTH before my departure… still 1 month left….) saya memutarkan lagu “Terima Kasih Guruku” sebagai iringan musik sebelum kami mulai senam bersama. Lagunya sebenernya bagus, dan nadanya nggak sedih. Sama sekali gak sedih. Tapi tiba-tiba dari pojokan saya mendengar segerombolan anak perempuan tersedu-sedu dengan muka belepotan air mata. Salah satu dari mereka berkata, “Bu Guru, kami sedih Bu Guru udah mau pulang…

Kelas 3
Sali and the 7 dwarfs

Yaah anyway, inti dari cerita saya adalah, sudah hampir 2 bulan berlalu dan anak-anak saya masih suka kebawa mimpi >.< Pengalaman tiba-tiba punya anak banyak memang menjadi sesuatu cerita yang unik dalam hidup saya, tapi semoga pengalaman punya guru seperti saya juga menjadi kisah tidak terlupakan juga bagi mereka ya. Biar vice versa gitu (hahah maksa). Setidaknya saya yakin mereka akan tetap ingat saya kalau lagi mau daftar sekolah sih ;p Atau iseng-iseng buka rapor SD.

Sebenarnya selama ini sebagai orang yang pernah beberapa kali ikut organisasi dan menjadi karyawan perusahaan, saya sudah sering membubuhkan tanda tangan di mana-mana. Cukup penting sih ya waktu itu. Nanda tangan izin tertentu, nanda tangan kontrak kerja, atau nanda tanganin buku harian temen jaman SD.

Tapi rasanya tanda tangan yang saya tinggalkan di 7 buku rapor murid-murid saya ini yang paling berkesan deh. Berkesan buat saya, setidaknya. Karena saya merasa bertanggung jawab atas masa depan anak-anak ini. Dan berkesan juga, karena mungkin itu terakhir kalinya saya akan menuliskan tanda tangan dan nama saya di buku rapor, sebagai wali kelas!

xoxo,

Mantan Bu Guru

ps: Tulisan ini dipersembahkan untuk Flora, Rut, Reva, Pian, Amos, Titus, dan Isak. Laskar Bungan? Siaap, siaaap!

Tutup Satu Chapter

Butuh waktu 6 minggu sampai akhirnya saya menuliskan detik-detik terakhir saya meninggalkan Nanga Bungan!! Alasan heroiknya sih karena nggak sanggup, terlalu menyedihkan. Tapi alasan lebih jujurnya adalah karena ngga sempet hehehe sepulang kembali ke kehidupan nyata malah sibuk jalan-jalan lagi dan reunian sana sini.

Anyway ini beberapa penggalan kisah tanggal 21 dan 22 Juni 2015 yang lalu.

Ceritanya, malam terakhir saya meninggalkan desa Nanga Bungan, kami hepihepi di gedung sekolah. Saya sudah bilang sama semua anak dan semua orang tua murid, bahwa “pesta” terakhir saya harus dinikmati dan nggak boleh ada yang nangis!! Alhasil hari itu, Minggu tanggal 21 Juni 2015, semua orang ceria dan . Pagi harinya saya masih sempat bergereja untuk terakhir kalinya di desa, lalu siang para ibu-ibu sudah sibuk memasak nasi dan berbagai lauk-pauk. Anak-anak juga sudah mendapat titah merapikan bangku dan meja sekolah supaya ruangan itu muat untuk dipakai joget :D Teman-teman pemuda hari itu ngga ngapa-ngapain lagi, karena sehari sebelumnya mereka sudah ramai-ramai ke hulu sungai mencari ikan untuk saya hahaha.. Rasanya lucu melihat semua orang gotong royong demi melepas kepergian ibu guru Sali. Saya berasa mau nikah, soalnya biasanya satu desa heboh kayak gini kalau ada acara nikahan adat aja :p

Anyway ketika hari Minggu itu sudah semakin sore, seluruh warga desa mandi bersih dan siap menempati ruangan sekolah untuk “pesta” dengan Ibu Guru Sali. Acaranya sederhana, seingat saya cuma ada beberapa kata sambutan, penyerahan hadiah, lalu makan malam. Oh saya sempat didoakan juga oleh Pak Komite, dan tertawa ketika beliau mendoakan saya dapat jodoh baik hati dan seiman. Saya ingat teman saya menginjak kaki saya gara-gara saya beneran tertawa padahal lagi berdoa.

Lalu tentunya ada juga kata sambutan dari Bu Yanti, kepala sekolah sekaligus kakak kesayangan saya. Dia, tentu saja, menangis sambil memberi kata sambutan. Dia bilang dia pasti akan kehilangan saya karena mulai sekarang harus tidur sendiri lagi setelah setahun penuh satu kelambu dengan saya. Setelah Bu Yanti sambutan, gantian saya yang memberi kata sambutan, dan puji Tuhan saya sukses memberi kata-kata terakhir tanpa air mata! Nyaris sih, tapi yaaa segera diakhiri begitu mata berkaca-kaca.

Selepas makan malam, kami masuk ke puncak acara yaitu JOGET!! Heheheh. Seumur-umur nggak pernah suka lagu dangdut, tapi hidup 1 tahun di desa benerbener mengubah semuanya! Beberapa orang tua murid sempat menyumbangkan lagu buat saya, termasuk teman-teman pemuda dan tentunya anak-anak. Puncak acara ini lumayan heboh, karena semua orang bergerak. Tidak ada air mata yang mengalir, yang ada malah air keringat >.<

Sampai akhirnya hari keramat itu pun datang. 22 Juni 2015. Hari terakhir saya menginjakkan kaki di Nanga Bungan. Pagi itu saya sibuk beres-beres untuk terakhir kalinya, lalu pamit sama keluarga-keluarga terdekat saya di sana. Mendadak jadi artis juga, karena semua orang pengen foto terakhir :( Dan ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya harus turun ke perahu dan menyusuri sungai Kapuas untuk terakhir kalinya….. Ngga usah ditanya muka saya bentuknya begimana, seinget saya di perahu pun saya masih sesenggukan. Haha.

Hingga detik ini, saya berasa sebagian hati saya ketinggalan di desa itu. Kalau kata keluarga besar Indonesia Mengajar sih, untuk mempercepat proses move on sebaiknya bersihkan komputer dari foto dan video masa lalu, juga kurangi bicara tentang desa dan daerah penempatan sama siapapun. Hahaha tapi itu susah banget dilakukaaan… ini tiap hari aja saya masih suka SMSan sama murid-murid yang kebetulan lagi ada di Putussibau.

Buhuuuuu…. suatu saat nanti saya akan kembali ke desa itu. Mungkin tunggu ada sinyal dulu :p Ada yang mau ikut? Boleh daftar dari sekarang, biar kita bisa patungan uang bensin sama sama. Hahah. Anyway ini video terakhir yang dibuatkan oleh officer Indonesia Mengajar untuk merangkum jejak kami selama satu tahun. Ngeliatnya kadang bikin seneng, kadang bikin terharu, tapi paling sering sih bikin kangen desa.

Yess satu tahun mengajar seumur hidup susah move on!!

ps: ga cuma meninggalkan desa, tapi pas meninggalkan Putussibau untuk beranjak ke Pontianak pun saya belepotan kayak balon air pecah saking sedihnya. Hahaha pokonya mau pulang ke Jakarta rasanya berat banget. Damn I love Kapuas Hulu!!