View from the Bottom

DSC08817

Bagi yang sudah mengenal gue sejak lama, pasti tau kalau gue dulu pernah sangat ingin menjadi pramugari. Sejak SD cita-cita gue pengen jadi pramugari, dan walaupun di pertengahan masa labil cita-cita gue mencong-mencong ke sana sini akhirnya selepas kuliah gue pernah beneran apply untuk jadi pramugari. Kalau ditanya kenapa gue pengen jadi pramugari, gue juga gatau jawaban yang paling tepat itu apa. Mau jawab “karena saya ingin melayani orang” kog terdengar terlalu bullshit, mau jawab “karena gajinya besar” juga terdengar kurang berkualitas. Yang pasti emang dari kecil gue selalu suka ke bandara dan selalu suka naik pesawat. Ditambah lagi bonus kalau jadi pramugari adalah bisa jalan-jalan ke banyak tempat. Pas SMA sempet sih cita-cita gue ini naik pangkat dikit yaitu pengen jadi pilot. Tapi lalu mata gue mulai mengalami kerusakan dan gue tetep berpendapat bahwa seragam pramugari lebih cantik daripada seragam pilot. Untuk ukuran anak SMA pemikiran gue ini memang agak kurang intelek. Cuma yah intinya adalah, dulu, untuk waktu yang sangaaaat lama, gue pernah bercita-cita untuk berada di atas sana.

Salah satu bukti
iseng :D

Tapi lalu semuanya berubah. Pemikiran gue berubah, keputusan yang harus diambil berbeda, waktu terus mengalir, gue tambah tua, dan tentunya Tuhan berkehendak lain. Untuk saat ini gue tengah menjalani pekerjaan yang jauh sekali berbeda dengan cita-cita gue ketika kecil dulu. Dengan kolega dan stakeholder yang 180 derajat berbeda, memakai pakaian dan fasilitas yang bagaikan langit dan bumi dengan cita-cita gue dulu, dan tentunya mendapat pemasukan yang jauh sekali iming-imingnya si cita-cita itu. Cuma satu hal yang sama sih: sama-sama bikin happy. Kalau dulu imajinasi tentang gue menjadi seperti yang gue cita-citakan itu aja udah cukup bikin happy, sekarang gue berada di tempat ini melakukan pekerjaan ini juga bikin gue happy.

Dan pastinya sekarang nggak terdengar bullshit lagi kalo gue dikasi pertanyaan kenapa lo mau melakoni pekerjaan lo sekarang dan gue jawab “karena saya ingin melayani orang”.

IMG_20140829_060534

Inilah yang sering nempel di otak gue kalau lagi milir mudik Nanga Bungan – Putussibau. Sambil gue (berusaha untuk) baring di perahu, gue nengok ke atas dan kedip-kedip sama awan-awan di langit sana. Sambil senyum gue pun ngomong dalam hati. “Gila ya, dulu gue mimpi untuk ada di atas sana. Melihat dunia dari balik awan. Dan sekarang gue ada di tempat yang paling bawah. Cuma bisa memandangi awan dengan tatapan takjub karena benda itu guedeee banget. Dan cantik. Dan pengen gue comot karena beneran mirip kembang gula.”

Apakah gue merasa sedih? Nggak sih. Cuma lucu aja. Sambil terombang-ambing di perahu, gue semakin diyakinkan bahwa Tuhan punya selera humor yang cukup tinggi. Karena Dia juga suka kebalik antara “atas” sama  “bawah”. Huhehe. Tapi yang pasti Dia emang selalu jauh melampaui akal pikiran manusia, karena ternyata, di luar ekspektasi lo, pemandangan dari bawah pun indahnya luar biasa. Dan rasanya macam-macam. Dan pengalamannya tak terbayar.

Dan video di atas, adalah cuplikan pemandangan dari bawah sini. Banyak hal yang bisa lo rasakan kalau lo berada di dalam perahu kayu selama 6 sampai 7 jam tanpa atap. Ada kalanya mataharinya bersahabat sehingga perjalanan lo menyenangkan. Ada kalanya si matahari laper, jadi rese. Panasnya nggak pake ampun. Ada kalanya mendung nyaris gerimis tapi ngga jadi hujan, jadi meskipun lo udah sigap dengan kantong plastik untuk nutupin tas lo, lo ga perlu khawatir karena ternyata ga jadi hujan dan lo ga perlu takut basah.

Nah tapiii ada kalanya juga hujan yang tidak diharapkan datang dan membawa segerombolan teman-temannya, menjadi hujan deras, lalu naik pangkat jadi badai. Nah…. di situ.. kadang… saya merasa…….. lepek.

Surat untuk Hujan

Jumat, 18 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Dear hujan,

Terima kasih sudah membasahi sekujur desa kami. Kemarau yang panas mendadak terasa sejuk dengan kedatanganmu.

Dear hujan,

Terima kasih sudah mengisi bak penampung air di belakang rumah saya. Kini persediaan air untuk cuci piring dan kamar mandi saya lebih dari cukup hingga waktunya milir kembali ke kota. Saya pun bisa cuci kaki dengan leluasa dan tidak ragu-ragu mem-flush toilet saya dengan air yang banyak.

Dear hujan,

Terima kasih sudah memuntahkan banyak sekali air di desa kami. Malam ini listrik kami tidak redup seperti beberapa hari sebelumnya, dan menurut perkiraan rekan guru saya ini pasti karena debit air di bendungan cukup untuk memutar turbin di pembangkit listrik kami. Semoga dengan begini laptop saya tidak pernah meledak karena tegangan yang naik turun.

Dear hujan,

Terima kasih telah memberikan sensasi baru dalam sejarah kehidupan permandian saya. Baru pertama kali ini saya mandi sore di sungai terpanjang di Indonesia sambil diguyur hujan deras sehingga saya serasa mandi di bawah pancuran supeeeerr besar. Angin dan kabut yang dibawa serta oleh dirimu juga menambah sensasi mistis ketika mandi. Ingin rasanya mandi sambil bawa kamera untuk mengabadikan momen berharga tadi, tapi untung akal sehat saya masih bekerja jadi saya urungkan niat tersebut. Nanti kalau saya sudah punya plastik anti air untuk kamera dan kebetulan sungai lagi kosong, turun lagi ya! ^.~

Dear hujan,

Terima kasih telah memperingatkan saya akan bahaya baru yang bisa saya temui di tempat ini, yakni…….  pacet. Jujur ya hujan, saya takut pacet. Mau dia pacet kecil, pacet sedang, pacet besar, semuanya saya takut. Dan berkat dirimu yang datang dalam jumlah besar hari ini, segala jenis pacet pun bermunculan dan salah satunya dengan asyik nangkring di kobokan tempat sunlight dan sabut cuci piring saya berada tadi. Dan kamu mau tahu sesuatu, hujan? Saya paling hobi cuci piring. Jadi bisa bayangkan apa yang terjadi ketika dengan riang gembira saya memenuhi ember cuci saya dengan air yang melimpah, mengambil sabut, memasukkan segenap tangan saya sepenuh hati ke dalam air bersunlight, dan mengobok-ngobok mangkok tersebut siap mengusap-usap piring beling di tangan kiri, lalu tiba-tiba ada pacet gendut menggeliat di jari manis  tangan kanan saya?

Sensasinya luar biasa mengerikan, hujan. Luar biasa mengerikan. Saya menjerit dan serentak meletakkan piring dari tangan kiri saya. Untung lantai rumah saya dari kayu, hujan. Jadi piringnya tidak pecah. Dan lebih beruntung lagi karena tangan kanan saya berlumuran sunlight, jadi pacet jahat itu langsung lepas dan lanjut menggeliat-geliat di piring kotor lainnya. Ya ampun hujan….. tragis….. 나 미치겠어 정말 ㅠ.ㅠ

Tapi hujan,

Seburuk-buruknya dirimu, setega-teganya dirimu telah membuat pacet bermunculan, saya tetap berterima kasih telah disambut dengan cara yang manis di tempat ini. Sepanjang hidup saya pernah menetap di beberapa tempat yang berbeda, namun saya tidak pernah ingat hujan pertama yang turun ketika saya tinggal di Bandung dulu, ataupun hujan pertama ketika kami pindah kembali ke Jakarta, atau hujan pertama di Cileungsi, dan bahkan hujan pertama saya di Korea.

Namun rasanya hujan pertama saya di Nanga Bungan ini akan saya kenang selalu. Sensasi girangnya melihat bak penuh, sensasi mandi di bawah pancuran raksasa dengan suasana Silent Hill, sensasi paniknya mengobok-ngobok mangkuk berpacet…. semuanya super!

Langit di Hulu Kapuas ini memang selalu menyimpan banyak keistimewaan ya, hujan? Kemarin malam lautan bintang memayungi desa kami dengan sangat terang, dan malam ini giliran dirimu yang akan menemani tidur kami sepanjang malam.

Jangan terlalu heboh ya turunnya, hujan. Please turun secukupnya saja supaya saya juga tidak menggigil kedinginan. Dan besok sekolah kami ada jadwal olahraga, jadi kalau bisa besok gantian sama matahari ya eksis di langitnya :D Supaya kami bisa senam riang anak Indonesia tanpa berbecek-becek ria. Hehehe.

Selamat tidur, hujan.

“Baru saja berakhir, hujan di sore ini..”

Ooh ternyataaa….

Rabu, 16 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

View from the Top

  1. Hari pertama sekolah itu ga cuma bikin gugup muridnya, tapi juga gurunya :3
  2. Jika murid-murid tampak kebosanan atau sibuk sendiri di kelas, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bisa jadi emang gurunya ga bisa me-manage kelas…. (sigh)
  3. Harus masuk sekolah jam 7.15 dan baru mandi jam 7 itu bukan ide baik. Agak malu juga begitu keluar rumah pake kain dan bawa ember mandi terus ketemu murid-murid yang udah pake seragam rapi nggak sabar mau mulai sekolah…
  4. Anak-anak pedalaman juga hafal marsnya Jokowi. Dan juga Prabowo. Dan mereka tahu istilah Pemilu Legislatif!! Terharu…
  5. Bahasa Korea sama bahasa Bungan beda-beda tipis. Banyak eo eo nya… ehuhehehe.
  6. Buku itu benar-benar jendela dunia. Setelah bertahun-tahun hidup dengan kemewahan internet lalu tiba-tiba kemewahan tersebut direnggut, saya sangat bersyukur ada banyak buku bacaan di rumah dan sekolah untuk bahan belajar dan mengajar. Terima kasih ya wahai penulis, penerbit, donatur, dan para pengantar buku-buku tersebut. Saya berhutang budi *salim*
  7. Tokek tuh bentuknya begitu!! Omg cicak versi gede….
  8. Sejernih-jernihnya air sungai di hulu tetep aja lebih jernih air hujan. Dan gue ga pernah sadar betapa pentingnya air hujan dalam hidup gue sampe sekarang :3 Kayanya balik ke Jakarta nanti gue bakal dikit-dikit bawaannya sigap ngeluarin ember penampung air deh kalau hujan turun..
  9. Pelajaran Fisika soal listrik dan teman-temannya itu sangat.. sangat… penting!! Terutama kalau lo berniat tinggal di rumah sendiri. Dan rumah lo ngga dialiri PLN jadi ngga bisa kapan saja protes ke PLN terus mas-masnya dateng.
  10. Begitu pula dengan pelajaran Tata Boga.
  11. Dan juga pelajaran olahraga, terutama bagian permainan volley. Ini khusus kalau lo mau hidup di Hulu Kapuas seperti gue sih, or else lo bakal jadi lawakan satu desa berusaha ngejar-ngejar bola dengan gaya yang nggak masuk akal di tengah lapangan sore-sore.
  12. Berenang juga penting! Dan yang gue maksud di sini bukan berenang cantik di kolam, melainkan berenang melawan arus. Ini sangat-sangat krusial kalau lo mau bonding secara cepat dengan anak-anak pedalaman Hulu Kapuas ketika main hanyut (=main arung jeram tapi tanpa perahu, alias orangnya aja gitu hanyut di antara jeram berbatu dan berarus).
  13. Bakar sampah itu ada triknya. Bakar yang mudah terbakar dulu, dan dari bawah. Sia-sia lo berusaha bakar tumpukan paling atas; udah girang liat apinya besar menari-nari terus lo baru sadar yang kebakar bagian atasnya doang!! (aigooh…)
  14. Duduk sambil nungguin sampah lo terbakar juga ada triknya. Jangan pernah duduk melawan arah angin berembus. Kasian paru-paru dan mata lo. Nyeseknya beda tipis sama pas kelaperan masak nasi tapi nggak mateng sempurna.
  15. Hidup tanpa sinyal tuh gini toh rasanya…… (lalu hening)

Terima kasih untuk hari pertama yang spesial, Bungan.

Tidak sabar untuk bertemu dengan ribuan ternyata-ternyata lainnya :)