Long Way Home (Part 1 – Farewell and Japan Trip)

Sebuah postingan yang sudah mengendap di draft berjuta-juta tahun. Hehehe mari kita tuntaskan sebelum keburu lupa semuanya.

Jadiii in case ada yang belum tahu, gue yang hampir 6 tahun (4 tahun sekolah, nyaris 2 tahun kerja) tinggal di Korea ini akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada bulan September 2013 yang lalu. Kepulangan ini tidak diiringi dengan air mata darah melainkan tangisan penuh haru biru karena bisa dibilang gue udah lama menantikan ini ^.~

Namun namun namuun.. perjalanan gue dari Korea ke Indonesia tentu tidak ditempuh dalam 7 jam saja karena gue sempet nyangkut sana-sini dulu sebelum menginjakkan kaki di Jakarta.

Tercatat gue meninggalkan Korea itu tanggal 14 September 2013 dan akhirnya masuk Jakarta tanggal 6 Oktober 2013. Lumayan lama :D

Jadi.. nyangkut di mana sajakah gue? Inilah kisahnya.

KOREA

Detik-detik sebelum gue pulang sih tentu diisi dengan farewell sana sini. Heheh..

Bye Koreaaa

Searah jarum jam: makan-makan sama anak-anak gereja IWE (8 Sept 2013), makan malam 2 monster yang lapar mata dan berujung pada kekenyangan menghabiskan melon bingsu di 안양역 (11 Sept 2013), permainan jenga berdarah yang entah kenapa harus banget gue yang kalah?? hahah di pinggir sungai Han bersama anak anak IWE (8 Sept juga), farewell bersama adik kesayangan si Cresti Palupi yang makin hari makin sering dibilang mirip gue di Busan (6 Sept 2013), dan akhirnya cap “완전출국” yang dibubuhkan dengan sempurna di paspor gue, menandakan bahwa gue sudah meninggalkan Korea demi kebaikan dan ID card gue ditarik (14 Sept 2013).

Last Dinner
3S: Sali Sayang Semua

Tapi foto farewell paling sweet mungkin yang di atas ini, diambil dengan sempurna oleh sang timer, dengan tema “semua peluk saliii” heheh tapi akhirnya yang meluk Farra dan Apple doang juga sih;;; Ya anyway terima kasih banyak sekali teman teman kesayangankuuu hehehe all the best for all of you :) :)  – Kangnam, 13 September 2013.

JAPAN

Day One – 14 Sept

Menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Jepang! Hehe naik AirAsia, siang bolong mendarat dengan sukses di Narita. Susah payah cari kantor pos untuk mengambil pesanan wifi portable yang sudah gue pesan sehari sebelumnya, juga tiket JR Pass yang membantu hidup gue selama di Jepang nanti biar bisa naik turun kereta sepuasnya.

Fyi, Jepang itu pelit wifi dan pelit alfabet. Jadi buat gue yang buta arah dan buta aksara di sana, gue tau gue akan butuh banget sambungan internet ke HP gue dan oleh sebab itu gue udah cari duluan perusahaan mana yang menyewakan wifi router mini yang bisa dibawa ke mana-mana. Waktu itu gue mesen yang kecepatan 42Mbps untuk 10 hari dan mengeluarkan 5,800 Yen sahaja untuk benda ini. Mahal emang, tapi worth it.

Sementara untuk  JR Pass.. hmm JR Pass itu gampangnya bisa diartikan sebagai magic ticket yang mengizinkan lo untuk naik kereta yang dikelola oleh JR company sepuasnya di Jepang. Gue beli yang harganya 284 USD untuk 7 hari, dan karena gue tau ini harga yang cukup mahal maka gue manfaatkan semaksimal mungkin tentunya hehehe. Ohiya JR Pass ini juga bisa dipakai untuk naik shinkansen, sementara normal price one way shinkansen dari Tokyo ke Osaka sendiri aja bisa 150 USD, jadi bayangkanlah betapa “ekonomis”nya kalau kita keliling Jepang pake shinkansen menggunakan si JR Pass ini.

JR Pass

Anyway day one gue dihabiskan dengan menyesuaikan diri dari rasa shock dan beradaptasi dengan kesendirian. Ahuhahah najis bener bahasa gue tapi iya sih, kalo ga salah day one gue cuma istirahat, lalu ngecharge semua barang elektronik gue, terus tidur deh. Postingan gue hari itu bisa dibaca di sini, dan sebagai catatan untuk diri sendiri waktu itu gue nginep di sebuah capsule guest house murah meriah untuk ukuran Jepang yang berada di Shinjuku. Namanya Ace Inn, gue nginep di Economy Floor dengan tarif 3,150 Yen per malam. Sekilas mengenai tempat ini, lokasinya cukup strategis (dekat dengan subway) dan petugasnya sungguh sangat ramah. Showernya bayar sih 100 Yen untuk 5 menit (atau 10 menit? lupa), tapi overall gue ga punya keluhan apa apa tentang tempat ini. Recommended!

Day Two – 15 Sept

Gue ke Hiroshima! Heuhehe. Tokyo ke Hiroshima naik Shinkansen itu memakan waktu sekitar 5 jam, jadi gue cabut dari Tokyo pagi/siang dan tiba di Hiroshima sore hari menjelang matahari terbenam.

Nyampe di Hiroshima, gue langsung check in di guest house berikutnya bernama Lappy Guest House, yang petugasnya sangat sangat lucu karena dia tidak bisa bahasa inggris jadi gue ngomong sama dia pake bahasa Jepang :3 bisa dibayangkan gue cuma Hai Hai doang sama sesekali Arigatou.. Gue nginep di Separate Dormitory untuk 4 orang dengan tarif 2,200 yen per malam.

Shinkansen, Hiroshima City, and Lappy Guest House

Dan demikianlah day two gue habiskan lagi-lagi dengan agak sia-sia karena cape di jalan dan cuma berhasil ngiterin daerah sekitar guest house untuk cari makan malam. Gagal menemukan okonomiyaki T.T tapi yasudalah.

Day Three – 16 Sept

Hari yang sempurna untuk berkelana di kota Hiroshima! Puji Tuhan cuaca ketika itu super sangat bagus, jadi gue berhasil naik city tour bus setempat dan bertandang ke Hiroshima Castle, A-Bomb Dome (dome yang kejatuhan atomic bomb dan masih berbentuk rangkanya sampai sekarang), Hiroshima Peace Memorial Park (museum tentang penjatuhan bom jaman perang dunia dulu), Ground Zero, dan nyebrang ke Miyajima Island untuk melihat Itsukushima Shrine – sebuah shrine di tengah laut. Lalu malamnya kembali menginap di si Lappy! Hehehe.

Itsukushima Shrine, A Bomb Dome, Ground Zero, Hiroshima Castle

Day Four – 17 Sept

Hari keempat iniiii adalah salah satu hari perjalanan panjang gue. Pagi pagi buta gue ngejar Shinkansen untuk pergi dari Hiroshima menuju ke kota di utaranya Tokyo yang bernama Nikko. Waktu tempuhnya sendiri sekitar 6 jam, dan gue ke mana mana itu bawa backpack dan barang-barang gue yang sebanyak dosa (gue ceritanya lagi pindahan negara lho hahaha). Jadi bisa dibayangkan sebenernya energi gue agak terkuras dengan pindah pindah kota yang super jauh ini. Mana random banget pula, gue jauh jauh ke Hiroshima buat liat foto korban bom dan naik ke Nikko buat melihat sebuah shrine (again). Hahahah untung shrine yang gue kunjungi, Toshogu Shrine, memang besar dan bagus.

Kota Nikko nya sendiri juga bagus banget sebenernya, di sana banyak spot-spot lain yang bisa dikunjungi. Tapi karena gue cuma punya 4 jam untuk mengeksplorasi kota tersebut, jadi yah gue cuma sempet ke si Toshogu Shrine.

Habis dari Nikko gue lalu mengejar kereta lagi dan pindah ke kota lain bernama Nagano. Gue bermalam di sebuah guest house lucu di Nagano bernama 1166backpackers. Gue nginep di female dorm untuk 4 orang dengan harga per malam 2,600 Yen.

Long Way Home2

Oiya saking randomnya gue, gue ga tau dong Nagano itu sebenernya di mana. Jadi gue sok asyiik aja pake baju seadanya dengan tas bawaan seberat berat beban hidup, lalu tau-taunya nyampe Nagano itu udah dingiiiin benar. Ya bukan dingin winter sih, masih dinginnya fall. Tapi kostum gue waktu itu belum siap untuk menyambut musim lain selain musim panas… :( Jadi moral yang didapat: cari tau dulu letak geografis kota yang akan Anda tuju! (ngomong ke diri sendiri)

Day Five – 18 Sept

Bangun pagi di Nagano, gue langsung cabut ke tujuan gue berikutnya yaitu Jigokudani Monkey Forest. Di sini lah kerandoman trip gue mulai mencapai puncaknya, ketika gue sadar bahwa tempat tujuan gue itu adalah sebuah hutan. Ya gue tau sih emang gue menuju ke monkey forest, tapi di otak gue “ah itu palingan kayak kebun binatang gitu.. naik bus, turun, masuk kebun, liat monyet, selesai“.

Tau-taunya nggak dong…… dari tempat nginep gue di Nagano gue masih harus naik kereta plus bus untuk mencapai tempat tersebut, dan gue menghabiskan 2 setengah jam untuk sampe di hutan. Dan pas di hutan itu pun gue sempet goyah karena gue masuk kepagian, nggak ada orang, dan gue sebenernya penakut kan di hutan…..

Huuu jadi ya begitulah, dengan kecepatan sangat lambat gue masuk hutan sampe akhirnya ketemu pos penjagaan di mana gue bisa nitip tas (akhirnya!!) kemudian masuk ke area di mana si monyet-monyet itu berada.

Nikko, Jigokudani

Sebenernya yang unik dari tempat ini adalah mereka, para monyet, punya hobi mandi di onsen. Tapi sayangnya gue dateng pas musim panas, jadi nggak ada satupun monyet yang nyemplung ke air. Semua sibuk nyari kutu di badan temennya masing masing.

Sepulang dari Jigokudani Monkey Forest, gue mampir dulu di Kanbayashi Onsen Guchi, yakni sebuah jalan yang kiri kanannya penuh dengan onsen. Lucu sih, pas gue ke sana gue beneran liat orang lalu-lalang pake yukata, karena mereka lagi mandi pindah pindah dari satu onsen ke onsen lainnya. Heheh. Kalo ga salah total ada sekitar 10 onsen di sana, dan gue diperbolehkan masuk ke salah satunya. Lumayan, numpang mandi habis masuk hutan sendirian pagi pagi.

Monyet-monyet Berjemur, Kanbayashi Onsen Guchi

Kemudian dari onsen gue balik ke Nagano, dan kemudian kembali keee Tokyo. Di Tokyo gue bergabung dengan teman seperjalanan gue berikutnya (yeayy akhirnya nggak foto pake timer lagi) dan kami lalu langsung bergegas naik bus menuju ke Osaka. Jadi yeap malam itu gue “menginap” di bus dalam perjalanan dari Tokyo menuju ke Osaka. Busnya dioperasikan oleh Willer Express, kami naik bus jam 24.30 dan tiba di Osaka 7.50. Bus kami bertipe double-decker tanpa bagasi untuk penyimpanan tas, jadi tas kami dititipkan di loker umum di subway station yang berbaik hati mau ngejagain tas kami untuk beberapa hari hehehe.

Day Six – 19 Sept

Bangun pagi, lusuh, bau, keringetan, laper, semua campur aduk. Untung gue sudah tidak sendiri lagi (ets) jadi at least ga musti takut nyasar karena peta langsung gue lempar ke partner gue yang mengaku lebih jago baca peta dari gue huhehehe. Nyampe di Osaka, kami langsung cabut ke guest house buat naro barang dan numpang cuci-cuci. Jadilah kami bergegas ke Hana Hostel yang lokasinya sangat strategis, yakni di Shinsaibashi.  Hana hostel ini salah satu group hostel murah berkualitas di Jepang, jadi sangat recommended!! Heheh tapi agak laris parah juga, jadi harus cepet-cepet book dari jauh jauh hari kalau mau menginap. (Gue sempet mau nginep di Hana Hostel Tokyo, Hiroshima dan Nagano juga, tapi sudah penuh)

Anyway keliling keliling Osaka kami cuma berhasil mengunjungi Osaka Castle, Shinsaibashi, Umeda Skye Building, dan sebuah daerah yang gue juga lupa namanya tapi tampilannya kayak pasar baru lengkap dengan jajanannya yang lucu lucu. Menyenangkan sih, tapi kalo boleh jujur badan gue udah hampir rontok semua hahaha jadi betapa bahagianya gue ketika malam datang dan akhirnya gue bisa mandi lagi properly (terakhir mandi beneran itu dua malam sebelumnya) dan juga tiduuur di tempat tidur. Heaven.

Osaka Temple, Umeda Sky Building, Osaka at Night

Day Seven – 20 Sept

Bangun pagi kuterus bertolak ke Kyoto :D

Namun berhubung kondisi badan dan waktu tidak memungkinkan, Kyoto yang sebenernya buanyak banget templenya itu akhirnya hanya kami sempat kunjungi dua spot menariknya yakni Kuramadera dan Fushimi Inari Shrine. Kuramadera itu memang udah jadi spot incerannya partner traveling gue, karena konon dulu di situlah sang jagoan pedang Minamoto no Yoshitsune berguru ilmu pedang pada Tengu King. Tempatnya di pelosok Kyoto, dan untuk mencapainya bahkan si subway harus menembus hutan hehehe. Agak shock pas masuk ternyata lagilagi harus semi naik gunung, tapi untung kali ini ada pemandu sekaligus mas mas yang ngangkatin tas hahaha :) (ampun tuan)

Kuramadera, Fushimi Inari Shrine

Lalu kalau Fushimi Inari itu si shrine dengan 1000 gerbang merah. Udah banyak sih fotonya beredar di internet, dan gue sempet liat banyak temen gue ke situ juga. Jadi dengan sisa waktu dan tenaga yang ada kami mampir ke situ baru kemudian mengejar Shinkansen kembali ke Tokyo. Mulai malam itu gue jadi anak Tokyo lagi.

Day Eight – 21 Sept

Hari kedelapan gue dipenuhi oleh keliling keliling Tokyo demi memuaskan hasrat terpendam sejak kecil. Pagi pagi ke Tokyo Tower untuk lihat pameran Doraemon (memuaskan hasrat gue) lalu habis ikut ke Odaiba demi lihat gundam raksasa (memuaskan hasrat si kakak). Habis itu kami ke……. mana lagi ya? Hahahaha sial cuma ke dua tempat itu doang ternyata. Di Odaibanya sendiri lama sih muter-muter, jadi agak makan waktu. Pulangnya mampir ke Shibuya dulu untuk lihat Hachiko di malam hari, yang ternyata lagi dikepung sama manusia manusia perokok Jepang.

Tokyo Tower: Doraemon Exhibition, Odaiba: Gundam raksasa, Legoland, Rainbow Bridge

Day Nine – 22 Sept

Masih menjadi anak gaul Tokyo, hari ini kami dapet guide lokal! Huhehe jadi spot yang dikunjungi adalah Shibuya (demi foto sama Hachiko), Harajuku (mau nyari cosplay tapi nemunya taman nan asri), Akihabara (sok sokan mau masuk maid cafe tapi akhirnya batal juga), Asakusa (daerah turis yang cukup lucu), dan Tokyo Skytree (tapi nggak masuk karena udah habis tiketnya hahaha). Malamnya karena gagal ke Skytree, kami kembali ke daerah Asakusa lalu menikmati hidangan makan malam di sana.

Shibuya, Asakusa Shrine, Akihabara, Tokyo Skytree, Harajuku

Day Ten – 23 Sept

Hari terakhir!! Hebat banget gue ternyata nggak punya foto di Jepang pada hari terakhir. Hahah kayaknya gue terlalu lelah karena harus packing dan siap siap terbang lagi, kali ini makin jauh dari Korea yang pernah gue sayangi (sampai sebelum masuk kerja).

Pagi-pagi bertolak ke Narita, lalu naik Malaysian Airlines menuju Kuala Lumpur. Final destination gue sebenernya Hanoi, tapi pesawatnya transit di Kuala Lumpur semalam, jadilah gue punya waktu untuk mampir ke Petronas Twin Towers dan mejeng bentar.

Malam itu gue nginep di BackHome hostel dengan tipe kamar 4 Bed Mixed Dorm seharga 46 Ringgit per malam. To be honest itu pertama kalinya gue nginep di mixed dorm (sebelumnya di Jepang sempet tapi capsule, jadi lebih private) dan gue sempet grogi ketika roommates gue tidur nggak pake kaos >.< hahaha untung gak pada ganti celana di kamar juga, kalo nggak gue bisa mimisan di tempat kayanya.

Petronas

Anyway sekian untuk sepertiga perjalanan pulang gue. Special thanks to kakak matahari pagi yang sudah rela “nganter” sampe ke Narita (hahaha pengorbananmu besar di surga kak) dan Jess yang udah jadi fotografer sebentar, juga temannya si kakak yang bersedia jadi guide lokal.

(to be continued..)

This is Home

Setelah sekian lama ngidam pengen pake cuti perdana saya di kantor, akhirnya kesampean juga! Huzzah! Jujur awalnya sempet serem ngomong ke pakbos bilang bahwa mau bolos kerja, apalagi saya nggak punya alasan kuat untuk cuti. Kalo temen-temen kantor biasanya alasannya ada ulang tahun kakek lah, ada nikahan sodara lah, atau musti ke rumah sakit lah.. pokonya yang bermutu gitu.

Tapi saya minggu lalu akhirnya memberanikan diri bilang bahwa saya mau ke Busan karena ada acara “nikahan kakak kenalan orang Korea yang paling akrab sama saya” yang jelas banget sifatnya imajiner alias ngibul heheh. Syukurlah pakbos tak tanya panjang lebar, dia ngangguk ngangguk dan memberi petuah “have fun, makan sashimi banyak banyak yaaa…” – terus saya nyengir -__-

Anyway! Pergilah saya dengan badan semriwing semriwing habis demam karena pilek dan hidung yang tak kunjung berhenti menghasilkan ingus, dengan KTX di hari Jumat pagi yang indah. Heheh saya ngga ingat sih gimana perjalanannya, karena saya tidur pulas di bawah pengaruh obat. Pokonya tau tau saya udah nyampe Busan dan tralala trilili hati saya gembira luar biasa ^__^

image

Perhentian pertama saya adalah Spaland!!

Sebuah jenis tempat yang dulu paling saya hindari di Korea karena harus sauna bugil sama puluhan orang tak dikenal, tapi lucunya sekarang malah jadi super biasa dan berasa sangat segar kalau habis mandi di tempat seperti itu. Saya ke Spaland sama adik sepupu saya, Cresti, tapi jujur sepanjang main di dalam sana saya nggak berhenti kepikiran temen-temen seangkatan saya yang dulu “graduation trip” ke sana.. hahah rindu sekali :3

image

Pemberhentian kedua saya tak lain tak bukan adalah Gwangahnli.

Yang ini juga sempet bikin saya mellow karena inget betapa banyak memori yang dihabiskan di sana. Sok sokan nginep di pantai gelar tiker pas tahun pertama, main kora-kora di ujung gwangahn, fireworks festival, olahraga pagi jaman liburan, main ke sini sama anak perpika, foto malem malem kedinginan sama mamah, dan juga hujan-hujanan pake payung sama papah..

image

Dulu bahkan pernah nyusurin garis pinggir pantai ini sama seseorang kayak orang bodoh.. hahaha aduh penuh kenangan sekali sih kota ini. Dan ngangenin sekali!

image

Daan.. spot berikutnya yang bikin saya makin mellow ofkors gedung ini. Ehehehe. Asrama!!

Jujur banget tadinya saya sempet kepikiran nginep di guest house aja pas ke Busan, karena saya nggak mau ngerepotin siapa siapa, apalagi adik kelas nggak ada yang se..e akrab itu untuk saya tega repotin. Adik sepupu saya juga punya roommate sendiri jadi nggak enak sama roommatenya kalo musti nebeng.

Tapi special thanks to Sara yang “kebetulan” lagi berlibur di Jeju dan menawarkan meminjamkan kasurnya untuk semalam, dan ofkors Alenza yang rela membagi kasurnya bersama saya untuk malam berikutnyaa.. heheh saya pun nggak jadi nginep di luar. Dan untuk 3 hari 2 malam resmi merasakan indahnya tinggal di asrama lagi.

Sambil lewatin lorong asrama tuh saya kayak orang gila nengok kanan kiri liatin papan nama, dan senyam senyum sendiri menemukan papan-papan nama itu sebagian besar nama namanya saya kenal. Dan sebagian dari mereka pintunya nggak ditutup alias diganjel sepatu, diganjel payung, dan diganjel gabus dari daiso. Persis seperti angkatan kami dulu juga. Hihihi senang sekali yah cuma ngesot dikit langsung nyampe kamar temen :D saya nggak pernah nyangka hidup di asrama itu sebenernya udah paling sempurna. Kenapa juga dulu pengen keluar dari sana ya?

image

Dan sekarang, setelah 2 tahun berlalu, saya juga baru sadar cuaca Busan itu buaguuuss banget T___T apa karena nggak pernah nengok ke atas kalo lagi di Seoul ya? Apa kelamaan terkurung di dalam gedung kantor? Hahaha even mantan gedung jurusan saya aja kemarin itu tampak indah.

image

Dan kenorakan saya pun ngak berhenti di situ. Tangga kematian pun ikutan saya abadikan. Sumpah trip ini emo nya maksimal banget.

image

Heheh tapi tentu saja berhubung tujuan saya ke Busan sebenernya bukan untuk emo-emoan, maka hari minggu pun diisi dengan kegiatan yang super ceria yakni bermain di pantai! Kali ini mainnya di Haeundae, dengan adik adik kelas yang manis manis di atas.

Oh lagi-lagi saya norak, saya nggak tau Haeundae sebagus itu kalo datengnya bulan Juni. Hahahah orangnya masih dikit, dan karena kami datengnya jam 9 pagi jadi mataharinya juga sangat bersahabat! Biasanya Haeundae kan panas lembab terus kotor dan ramai fufufu tapi kali ini syukurnya tidak :D

image

summer summer summer ^__^

image

Dan kami juga sempet main game-game konyol seperti yel-yel, pancasila lima dasar, sampe tebak kata per kelompok hahahah kadang saya nggak ngerti sih itu oom oom sesepuh pada hepi beneran ato nggak main sama bocah bocah seperti kami :p

Hopefully seneng seneng aja sih ya. Apalagi kalo liat foto di atas, kayanya itu mas mas di tengah juga hobiii banget dikubur :D

Anyway!! Inilah saya! Duduk manis di Ryujeong Building lantai 5, siap kembali ke alam bawah sadar untuk sekejap lalu lanjut ke kehidupan nyata besok pagi. Busan memang selalu menjadi home saya, tapi Seoul adalah kenyataan yang harus dihadapi saat ini (huk.. huk..) jadi mari!

Bring it on, Monday!!

ps: special thanks to Alenza yang udah menjaga mood saya terus high dan hype selama 3 hari berturut-turut! Juga untuk Sara atas pinjaman kamar dan cerita cerita Jejunya (ehem), Rissa atas sambutan dan tawarannya ke cat cafe (lain kali ya Ris), Cresti dan Hilly untuk keceriaannya ala anak tahun pertama (heheh enjoy your first summer holiday girls), Nobel atas date manisnya di sabtu siang (aku iri sama kisah AADCmu!! huhuhu), mas Noka dan kak Byan atas kelucuan dan kepintarannya yang berhasil membuat kami kalah terus main pancasila lima dasar (please lah, itu RPUL dulu dibaca apa dikunyah sih?), dan gak ketinggalan Adit atas bantuannya menyelundupkan dua laki-laki pintar itu ke asrama. Thank you :)

December 2011

Warning: postingan kali ini adalah luapan curahan hati saya selama berminggu-minggu di bulan Desember ini, jadi akan sangat panjaaang sekali dan mungkin membosankan. Tulisan ini saya buat untuk menghibur hati saya sendiri. Here we go…

Bulan Desember saya diawali dengan farewell di sana sini. Setelah dibikin nangis di acara kebaktian seperti di postingan saya sebelumnya, kepergian saya juga dilepas oleh teman-teman di gereja, dan akhirnya tanggal 8 Desember saya nyaris resmi meninggalkan Busan.

8 Desember 2011, pagi-pagi saya dan seorang teman pergi ke Seoul untuk ngurus ganti alamat rumah dan apply visa kerja. Ganti alamat rumah sangat mudah sekali, cuma bawa KTP dan pergi ke kelurahan. Hari itu masih indah, sampai ketika visa kerja saya ditolak di kantor imigrasi. Alasannya ga masuk akal, katanya saya kecepetan datengnya dan disuru balik lagi akhir Desember. Padahal teman saya yang lain berhasil apply beberapa hari sebelumnya. Emang orang imigrasi ga ada yang bener. Dengan sedikit kecewa, saya dan teman saya mulai luntang-lantung di Seoul karena gak tau mau ngapain lagi. Akhirnya kami memutuskan masuk sauna sekitar jam 4 sore, dan berencana keluar keesokan harinya jam 7 pagi. Sauna selalu menyenangkan, saya selalu suka berendam air panas. Tapi berbeda dari biasanya,, sauna ketika itu sangatlah menyedihkan dan saya menangis di atas karpet dan bantal yang keras itu karena tiba-tiba saya tersadar bahwa semua ga akan sama lagi.. Ketakutan akan training yang segera dimulai keesokan harinya menghantui saya, dan fakta bahwa mulai saat itu saya benar-benar akan berdiri di kaki saya sendiri bikin saya lemas.

9 Desember 2011, saya bangun dengan mata bengkak. Namun thanks to make up seadanya muka saya tetap terlihat segar dan saya pun siap berangkat meninggalkan sauna pukul 8 pagi. Dengan gagah berani saya dan teman saya keluar gedung, dan kami disambut oleh salju yang deras di pagi hari. Saya biasanya senang melihat salju, tapi berhubung di hari itu saya pake blazer, rok, stocking, dan HIGH HEELS, oh serta menyeret koper segede-gede dosa ke arah subway station, saya benar-benar mengutuk salju untuk pertama kalinya. Untunglah saya tiba di Lotte World Hotel dengan selamat, dan segera bergabung dengan ratusan peserta training lainnya.

Dan begitulah, job training alias karantina saya pun dimulai.

Karantina saya berlangsung selama dua minggu. Minggu pertama diadakan di sebuah tempat bernama Osan. Minggu kedua diadakan di sebuah resort bernama Buyeo. Peserta karantina saya ketika itu sekitar hampir 250 orang, dan ini baru kloter pertama. Total ada 4 kloter, jadi bisa dibayangkan kira-kira 1000 orang baru bergabung di group tempat saya bekerja nanti.

Kalau ditanya karantina saya seru atau tidak, saya pasti jawab seru. Menyenangkan. Banyak yang saya pelajari. Saya dapat teman-teman baru. Makanan saya lebih bergizi. Badan saya (mustinya) lebih sehat. Gigi saya lebih kinclong karena lebih sering disikat. Gak ada snack, harusnya lemak lebih berkurang. Dan gak ketinggalan, bahasa korea saya sedikit lebih diasah lagi.

Tapi itu tadi baru plus-plusnya saja. Kalau harus diurutkan kisahkisah dukanya…. waaaaaaa….. waaaaa…. bisa histeris. hehehe. Yang paling saya inget aja deh ya. Jadi tiap hari saya harus bangun paling lambat jam 5.40, karena sekamar bertiga dan kami harus ganti2an kamar mandi. Jam 6.20 sudah di lapangan bola, siap lari keliling lapangan dan senam pagi. Sekedar informasi, jam 6.20 matahari belum bersinar dan suhu dinginnya udah ngalahin dinginnya hati saya (halah). Di hari-hari pertama malah sempat salju, jadi kami berlari di atas es T__T

Sehabis olahraga biasanya lanjut lecture di hall, yang selalu menjadi ajang untuk lanjut tidur. Namun ofkors gak bisa bener-bener tidur, karena kalau ketahuan sama senior pengawas kami akan disuru berdiri di belakang ruangan. Gak boleh nyender, dan ga boleh melipat kaki (ini susah sekali buat saya, saya sangat suka melipat kaki saya >.< ). Gak boleh terlambat!! Ini penting banget, terlambat satu menit aja akan jadi bahan omelan sepanjang hari. Yang gak kalah pentingnya, jam 12 malam semua udah harus di kamar dan udah harus matikan lampu. Di hari-hari pertama kami masih ga peduli dan tetep aja jam 12 malem pasang lampu, toh ga diperiksa. Siapa sangka keesokan harinya kami habis dimarah-marahi karena senior pengawas melihat dari luar gedung, ditandai kamar kamar mana saja yang lampunya masih nyala setelah lewat jam 12 malam…

Hmm terus apa lagi ya. Setiap kali ketemu senior udah pasti, wajib, kudu membungkuk memberi hormat. Tangan ga boleh masuk ke kantong baju sama sekali, dengan alasan ga sopan pose tangannya kayak nantangin (jadi kalo kedinginan yaudalah tangannya di…. tiup tiup pake mulut aja). Kemudian kamar saya itu di lantai 4, sementara ruang kelas saya di lantai 4 juga tapi di gedung lain. Dan kami dilarang pakai lift, jadi tiap hari saya emang olahraga mati-matian.

Dan olahraga paling mematikan adalah 2 hari yang lalu, yakni tanggal 22 Desember 2011. Saya akan mengingat tanggal keramat ini sampai sepanjang masa karena banyak sekali yang terjadi di hari itu.

Untuk meramaikan hari training trakhir sebelum pelantikan, acara training kami di hari itu diisi dengan Amazing Race! atau kalo versi koreanya adalah Running Man. Cumaaa walaupun terdengarnya keren, aslinya amat sangat menyedihkan. Dari jam 10 pagi sampe jam 4 sore kami harus lari-lari dari satu pos ke pos lainnya, dan setelah dihitung ternyata kami menempuh jarak 20 km dalam seharian itu (sambil jalan sambil megang GPS, jadi ketrack berapa jarak yang ditempuh). Dan sebagai pemanasan sebelum mulai lari-lari ke pos, kami harus latihan fisik ala militer yang bener-bener bikin gue hampir nyerah. Push up, jongkok berdiri, loncat loncat, dan segala kegiatan mematikan lainnya bikin badan saya sakit duluan sebelum bahkan mulai jalan. Sedih sedih sedih.

Masih di hari yang sama, setelah acara amazing race selesai, kami dikumpulkan di hall besar dan dimarah-marahin lagi oleh senior pembimbing. Dalam keadaan cape dan stress dimarah-marahin, kami disuru menutup mata dan menunduk. Tiba-tiba lampu dimatikan dan ada suara rekaman ibu-ibu ngomong (dalam bahasa korea) “XX-ya, selamat ulang tahun.. Mama dengar training kamu berat sekali ya, tapi semangat ya… mama selalu mendoakan kamu, semoga selalu sukses”.

Rekaman itu disambung dengan rekaman ibu-ibu dan bapak-bapak lain, yang juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk anak-anak yang kebetulan ulang tahun di hari itu. Dan saya yang lagi kecapean, kangen sama mama juga, dan pengen pulang, denger itu bener-bener meleleh… Mana hari itu adalah hari Ibu di Indonesia, dan siang itu Ibu saya beserta keluarga yang lain sedang berduka, sibuk memakamkan Tulang saya yang meninggal tanggal 20 Desember kemarin. Belum lagi tanggal 22 Desember menandakan hari bersejarah lainnya dalam hidup saya, yang sayangnya akhir-akhir ini malah bikin hati saya perih kalau ingat hal itu…

22 Desember malam, hari pun ditutup dengan “Lotte-in Night”, di mana tiap kelas menampilkan perwakilannya untuk unjuk bakat nyanyi, dance, dan lain lain. Menyenangkan.. sangat menyenangkan, untuk pertama kalinya kami tidak pakai baju training biru seragam yang buruk rupa itu, dan semua tampak senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan yang namanya BEER. Tiba di kamar, badan saya yang hampir patah masih harus dipaksa bekerja ngepack barang untuk siap pulang keesokan harinya, sambil terus BBM-an dengan ayah saya demi mengupdate keadaan keluarga Loebis yang masih berkabung.

Yep highlight training saya selama dua minggu bisa dibilang adalah tanggal 22 Desember kemarin, hari di mana semua perasaan digabung jadi satu. Begitu keesokan harinya datang, kami dilantik dan dipasang badge alias lencana “L” di jas masing masing, dan siap berpisah dengan teman teman seangkatan. Terpincang-pincang saya menyeret koper saya kembali ke rumah baru saya di Seoul, lalu segera kembali ke Seoul station untuk kembali ke Busan.

24 Desember 2011 jam 2 pagi, saya tiba kembali di asrama dengan perasaan campur aduk. Asrama lantai saya sudah kosong, semua orang sudah pulang. Kamar saya masih sama, dan ada Bania yang sudah saya rindukan sekali. Pagi harinya saya lanjut packing, karena memang itulah tujuan saya kembali ke busan, yaitu untuk merampungkan barang-barang saya yang belum dikardus. Siang harinya saya dengan sukses mengirimkan total 7 kardus dari Busan ke alamat rumah baru saya di Seoul,  dan inilah saya saat ini, mengupdate kehidupan saya di bulan terakhir di tahun 2011, dengan Ajeng di pangkuan saya setelah sekian lama tak berjumpa.

Kereta saya malam ini jam 7 malam, KTX menuju Seoul (lagi). Kali ini saya pergi dan tidak kembali lagi ke Busan. Eh.. kembali sih, tapi mungkin masih dua bulan lagi. Kaki kiri saya pincang, cidera pas amazing race kemarin. Tangan, punggung, paha, betis, bahkan pant*t saya pegel setengah mati, rasanya pengen berendam di counterpain. Perasaan saya nano nano, masih gak percaya ini malam natal dan saya akan menghabiskannya di dalam kereta.

Besok? Besok hari Natal.. entah apa rencana saya. Entah ke gereja mana, entah apa yang harus saya lakukan. Ingin tidur sih, karena senin saya sudah mulai masuk kantor jadi harus simpan energi… tapi kog rasanya sedih banget tidur seharian di hari Natal. Lagipula saya belum punya kasur di rumah baru saya. :$

Seingat saya Desember tahun lalu adalah Desember terbaik dalam hidup saya.. kalau saya ingat-ingat lagi memori liburan winter saya tahun lalu, rasanya ingin berteriak protes sama Tuhan kenapa liburan kali ini berat sekali. Tapi saya ingat saya harus bersyukur.

Banyak orang ga punya kerja, jadi saya harus tetap semangat. Banyak orang gak punya ayah atau ibu, jadi saya harus tetap bersyukur punya mereka walaupun gak bisa merayakan Natal bersama. Banyak yang ga punya rumah, jadi walaupun rumah baru saya masih kosong melompong saya pun harus tetap merasa nyaman di sana. Banyak orang gak bisa jalan, jadi saya harus berhenti mengeluh walaupun kaki kiri saya sakitnyaaa luar biasa. Dan tentu saja, banyak orang gak punya teman.. jadi saya juga harus stop protes sama Tuhan kenapa saya harus pisah lagi sama teman-teman saya.. karena saya tau mereka akan tetap ada di hati saya (aww).

Hehehe anyway, saya udah harus siap siap pergi. Inilah postingan terakhir saya dari Busan! Semoga Seoul gak terlalu dingin deh, gakpapalah White Christmas, asal jangan Blue Christmas :)

Happy holiday, Merry Christmas, Godspeed!!

 

Malam yang sangat emosional – 외국인예배 terakhir

Aneh rasanya ngepost beginian untuk publik, tapi iya malam ini saya mewek sejadi-jadinya pas kebaktian bersama anak indo di sekolah alias 외국인예배 (tergerak sih pengen banget ngepost tentang ini dan kasi foto-foto tapi malam ini terlalu larut).

Seinget saya (dan seinget temen-temen saya) saya belom pernah nangis di depan umum karena saya super anti akan hal itu, tapi tadi itu buset deh… kalo ga inget hari ini pake eyeliner dan dress bagus kayanya itu mata udah saya kucek kucek dan ingus udah saya peperin di mana mana deh :$

Hahaha ga sejorok itu juga sih cuma yah, saya bener bener ga tahaann. Mengawali minggu ini rumet saya udah bilang “wah hari senin terakhir lo di busan nih sal”, terus tengah tengah minggu saya udah panik peking sana sini tapi belom kelar kelar juga, dan sekarang udah hari JUMAT, artinya satu minggu sudah hampir habis dan waktu saya bener bener lenyap bentar lagi. EMO TOTAL ㅜ____ㅜ

Emang sih saya belum tanda tangan kontrak, belum dapet rumah, dan visa pun belum diurus, tapi yah dengan doa dan iman saya mempersiapkan diri aja deh untuk meninggalkan Busan, which is susah bener soalnya semua bener-bener berasa serba terakhir :”(

Kembali lagi ke cerita awal, iyah jadi hari ini adalah acara 외국인예배 terakhir saya. Dari kemarin adik kelas saya udah suru hari ini pake baju bagus, dan tanpa menolak saya mengiyakan perintah mereka, karena saya tahu ini adalah 외국인예배 terakhir saya.

Terakhir.

Men… terakhir. Saya masih bisa inget 외국인예배 saya yang pertama, dengan ada kakak kelasnya Daniel, Jeany, plus kakak-kakak UPH. Saya masih bisa inget 외국인예배 saya di kelas dua, ketika ibu saya datang dan saya bertugas main piano. Saya masih bisa inget 외국인예배 saya di tahun ketiga, ketika kami dapet tempat yang super nyaman dengan grand piano tapi suatu malam digedor tetangga ngamuk sampai kami semua ketakutan. Dan ofkors.. saya juga inget 외국인예배 mengawali tahun keempat saya semester lalu, yang tidak bisa saya hadiri karena saya cacar!! (ga hadir tapi kog inget ya? hehehe)

Cuma yah.. memori-memori itulah yang keflashback di otak saya ketika Novel rame-rame ngajak kami semua berdoa untuk anak-anak tahun keempat yang akan segera lulus. Dan pas dia secara khusus menyebut nama Sali dan Karen yang minggu depan udah meninggalkan Busan, wetsss air mata mulai berlinang. Ditambah lagi pake acara nyanyi 이 시간 너의 맘속에 (kapan2 saya post lirik dan translate-annya, kalo ga lupa :D ) bersama, aduuh mewek wek wek. Dan emang adik-adik kelas tega.. pas air mata udah kering, tetep aja ya endingnya pake acara peluk-pelukan sama semua orang. Oh tidak. Gue pun langsung meledak pas meluk tante Seo, dan dilanjutkan pelukan pelukan lainnya.

Hiks :'(

I feel so much loved, aaand blessed. Thank you Jesus, dan terima kasih teman teman serta adik adik kelas yang manis. Mari tidur dengan hangat.

Sembilan Belas

Butuh waktu tiga tahun buat saya untuk ngaplot video ini.. karena terlalu malu, apalagi bagian tengah-tengahnya. Tapi setelah saya liat-liat lagi video ini sungguh sangat nostalgic, merayakan umur saya yang ketika itu bahkan belum berkepala dua.

Ketika itu teman-teman saya yang manisnya ga ketulungan membuat surprise party kecil kecilan dan menggiring saya ke lantai satu di mana mereka sudah berkumpul bersama dan menghadiahkan saya DUA orang laki-laki di dalam kardus.

Saya ga bisa berhenti senyum liatin video ini, menyadari betapa waktu berjalan super cepat. Banyak kakak-kakak kelas saya di video itu yang sudah lulus, bahkan salah satu dari laki-laki yang “dihadiahkan” untuk saya sekarang sudah di Jakarta, sementara yang satunya lagi sudah berpacar dengan sangat bahagia dengan wanitanya.

Anyway inilah bukti cinta teman-teman saya yang sangat oke, yang meluangkan waktunya untuk “memestakan” umur sembilan belas saya, tiga tahun yang lalu. Dilarang ketawa, dilarang komen yang aneh aneh. Hehehe.

 

 

This Weekend’s Highlights

1.
Highlight pertama adalah festival kembang api. Hmm satu kata untuk mendeskripsikan festival ini kemarin: MENGECEWAKAN. Nyampe sana udah telat, alas duduk sangat terbatas (tapi akhirnya dapet sumbangan dari tetangga), orang bolak balik ngelewatin tempat duduk kami, paha gue diinjek orang (dobel keselnya, antara sakit dan kotor), hujan, dan yang paling menyedihkan sih kembang apinya itu sendiri mirip sama tahun lalu. Temen-temen gue pun berpendapat demikian, yaitu bahwa kembang apinya kurang seru T___T kecewa kecewa kecewa.

Pulang dari kembang api baju kami basah kuyup, sepatu udah penuh pasir yang nyampur sama air hujan, dan tampang juga udah ga beraturan. Untung saja kami berhasil mendapatkan subway yang kosong melompong jadi gak perlu berdesak-desakan di dalam subway..

Jam 5 sore di Gwangahn Station, lautan manusia hendak lihat kembang api

2.
Highlight kedua adalaah… pesta Halloween. Bisa dibilang ini kedua kalinya gue ikut berkostum ria dalam rangka menyambut tanggal 31 Oktober. Pertama kali dulu pas masih kelas 1, ikut seru-seruan aja pesta di asrama bareng anak-anak sekolah. Sementara yang kali ini personilnya beberapa masih sama sih, ada ovi dan fenny, tapi tempatnya tentu bukan di sekolah :D

Acara ini menyenangkan, walaupun hujan masih rintik-rintik tapi semua orang ramai bertebaran di lorong-lorong areal Kyungsung. Sayang gue ga punya fotonya, tapi seinget gue banyak kostum-kostum menarik yang bikin gue nganga seperti Angry Birds, Marge and Homer Simpson, Audrey Hepburn, dan….. Jesus.

Foto di tahun 2008, sali jadi kucing huhehehe agak gagal tapi yasudalah ya. Kuping dibuat dari karton, muka dicoreng dengan pensil alis murahan dari Daiso. Di samping gue ada Karl, guru kami yang sangat strict, dan sampingnya lagi adalah Fenny sebagai Kitty.

Nah kalau ini foto kemarin, tahun 2011 :) Dari kiri ada Ella jadi… dirinya sendiri? Kemudian Sara sebagai Black Swan, Amanda jadi kuntilanak, Ovi sebagai anak sekolahan, Fenny kali ini bertransformasi jadi kelinci (lihat buntutnya!), dan gue sendiri sebagai…

Hmm oke mungkin foto ini lebih jelas untuk memperlihatkan kostum gue atas bawah. Jujur gue belum mandi ketika foto ini diambil (ettsss kalau yang di atas atasnya lagi udah kog :D ), tapi bisa ketebak kan ini siapa? Kalau ga ketebak juga liat ini deh.

3.
Highlight terakhir adalah ke gereja, dan masuk sekolah minggu. Gue ga tau gue pernah nyebut ini di blog sebelumnya atau enggak, tapi sudah setahun belakangan ini gue melayani di sekolah minggu sebagai pemusik. Salah satu pilihan tersulit yang pernah gue buat sih, karena jujur gue benci anak kecil. Graorr bisa gue tendang-tendangin anak-anak kecil kalo ada yang ribut di sekeliling gue. Tapi itulah, talenta yang gue punya kan pemberian Tuhan, jadi gue merasa harus menggunakannya sebaik mungkin untuk kemuliaan Dia juga, dan gue pikir melayani di sekolah minggu bukan ide yang buruk karena temen-temen baik gue juga melayani di sana..

Dan memang, setiap kali gue masuk sekolah minggu, kerjaan gue cuma main piano habis itu sibuk bantuin ngurus konsumsi mereka. Sebisa mungkin gak disuru bantuin mereka gunting-gunting, atau atur mereka supaya jangan berisik.. karena gue gak suka hehehe. Cuma walaupun gue ga suka anak kecil, gue selalu merasa beruntung bisa berada di lingkungan mereka karena tiap hari minggu cukup dengan ngeliatin makhluk makhluk mungil itu bergereja gue jadi teringat kembali sama masa kecil gue. Jadi kangen mama papa. Dan abang juga.

Momen yang paling gue suka dari sekolah minggu adalah pas kebaktian sudah selesai, saatnya pulang, dan mereka semua dijemput oleh orang tua masing masing. Huaaa kalian harus banget liat muka mereka satu-satu. Anak paling nakal sekalipun begitu liat mamanya dateng nyamperin pasti langsung berubah manis. Dan belum lagi ekspresi ekspresi mereka menyambut orang tua masing-masing.

Gue inget satu saat gue lagi bersihin nampan bekas makanan salah satu kelompok, dan ada satu anak perempuan kecil lari dari ujung ruangan ke arah pintu sambil merentangkan kedua tangannya dan teriak, “Papaaaaaaaaa!”

Huaaa…. papanya pasti seneng banget disambut kaya gitu. Gue jadi mikir.. gue pernah ga ya kaya gitu :$ pas kecil gue manis ga ya terhadap bokap gue… ee…. entahlah. Yang pasti gue jadi kepikiran banyak hal kalau lagi sekola minggu. Belum lagi setiap kali liat guru-guru sekolah minggu itu sibuk ngatur anak-anak kecil, gue jadi inget nyokap gue yang selama berpuluh puluh tahun jadi guru sekolah minggu juga. Aih. Luar biasa deh. Rindu sana sini pokonya gue kalau udah hari Minggu. Hahaha dan detik ini pun gue lagi rindu rumah banget, tadi mama BBM bilang dia habis masak buat makan malam sama Passah :”( ahh fly me home dong seseorang…

Home home homeee

Setelah tiga malam terlunta-lunta di ibukota akhirnya saya kembali ke Busan yang dinamis. senangnyaaa tak terkira. cape jasmani rohani, sekarang saatnya leha-leha dulu sebelum minggu yang baru dimulai…

BIFF – Film Indonesianya dipilih dipilih dipilih….

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Oktober adalah bulan kesukaan saya, satu-satunya bulan yang membuat saya merasa sangat beruntung karena tinggal di Busan.. karena di bulan ini ada 2 festival besar yang biasanya diadakan. Yang pertama adalah BIFF (Busan International Film Festival) dan yang kedua adalah BIFF juga! Tapi yang kedua sih kependekan dari Busan International Fireworks Festival, dan info lebih lanjut bisa dilihat di web ini. Asal diinget-inget aja dulu, festival kembang apinya diadakan tanggal 21-29 Oktober, dan selanjutnya akan saya update di postingan berikutnya (kalo inget).

Untuk postingan kali ini.. kebetulan aja saya lagi high banget habis menelusuri jadwal film-film yang bakal tayang di BIFF , khususnya film Indonesia, dan saya menemukan TUJUH film Indonesia yang bakal tayang di Busan, dan inilah dia listnya! Jeng jeeng…

Harga tiketnya berkisar antara 6 sampai 10 ribu won (khusus untuk opening dan closing ceremony harganya 20ribu won), jadi kalau mau nonton semua film di atas, mari puasa jajan dan mulai nabung dari sekarang. Cara beli tiketnya bisa ke Busan Bank terdekat, tapi bisa juga pergi ke websitenya langsung. Festival ini diadakan mulai 6 Oktober sampai 14 Oktober, sementara tiket sudah bisa dibeli sejak 26 September (khusus pemesanan online dari daum untuk opening/closing ceremony) dan 28 September untuk general screeningsnya.

Jujur dari ketujuh film di atas yang paliing saya nanti nantikan adalah The Raid. Kenapa? Karena film ini memang udah santer di mana-mana bahwa ini akan menjadi film action yang menandakan bangkitnya kembali perfilman Indonesia (directornya seorang Welsh bernama Gareth Huw Evans, tapi pemainnya tentu orang Indonesia semua). Kabarnya film The Raid ini akan tayang di Indonesia bulan Januari 2012 mendatang, jadi mumpung dia lagi muter di Busan, mengapa tidak nonton duluan dan selangkah lebih maju dari semua orang? ehehehe #nyengirlicik

 

Sementara film kedua yang masuk list saya adalah The Mirror Never Lies. Film bergenre drama disutradai oleh Kamila Andini tentang seorang gadis kecil yang mencoba mencari ayahnya yang hilang di laut ini entah kenapa banyak diresensikan oleh peminat-peminat film di blog-blog naver, dan juga dimasukkan dalam list film film yang harus ditonton di BIFF kali ini. Oh selain itu si Mirror Never Lies ngambil lokasi di Wakatobi.. salah satu tempat yang sangat ingin saya kunjungi di Sulawesi Tenggara sana. Jadi.. WAJIB NONTON!

 

Selain film-film di atas tentu masih banyak lagi film yang layak ditonton.. tapi beneran deh, kalau mau ditonton semuanya saya rasa puasa jajan doang ga cukup, kudu puasa makan siang makan malem sekalian. Cuma saya berani jamin pengalaman nonton BIFF itu seru kog, apalagi buat pencinta film kayak saya hehehe. BIFF tahun ini akan menjadi BIFF keempat yang saya datangi, dan dengan hadirnya TUJUH (suka banget deh nulis angka 7 pake kapital dan bold) film Indonesia, saya yakin BIFF kali ini seru!!

Mendadak Pulang

Untuk ketiga kalinya saya pulang ke Indonesia. Setelah perjuangan yang cukup panjang menjelang summer, akhirnya saya sukses memesan tiket dan terbang pulang ke rumah. Saya masih bisa inget sekitar dua bulan lalu saya sakit-sakitan, lalu ngebujuk mama papa minta dipulangin, sampe akhirnya saya udah sembuh dan sibuk sama interview sama sini sementara mama papa di rumah yang gantian memaksa saya pulang. Akhirnya dengan modal nekat tanpa pemikiran yang terlalu panjang, kira kira minggu lalu saya beli tiket dan 2 hari berikutnya pulang.

Senang sekali rasanya bisa pulang. Kembali tidur di rumah.. kembali dimasakin sama mbak (setelah beberapa saat sibuk memasak sendiri di rumah homestay).. kembali disupirin passah dan papa (kalau mereka emang lagi ga sibuk).. dan sibuk bikin janji sana sini (tapi belum ada yang ditepati juga, karena rasanya super malas keluar rumah). Tapi gak bisa saya pungkiri kepulangan kali ini rasanya agak.. sepi juga. Temen-temen di Korea ga ada yang pulang, sementara temen-temen SMA semuanya sibuk kerja. Dan setiap kali saya ketemu temen atau sanak saudara, mereka dengan kaget bilang, “eh Sali pulang? loh, udah lulus ya?” yang mana cuma bisa gue balas dengan senyuman manis dan mengatakan bahwa sayasaya masih punya sisa satu semester lagi sampai lulus tahun depan. (Tapi untuk pertanyaan kali ini saya dihibur oleh teman dari Korea sih, yang mengatakan kasus saya itu jauh lebih beruntung daripada dirinya yang selalu ditanya, ‘Kapan kawin?’)

Lalu apakah yang sudah saya lakukan dan akan saya lakukan di liburan saya kali ini?

Yang sudah saya lakukan sih belum banyak, di minggu pertama kepulangan saya ini saya sangat malas keluar rumah. Pertama karena matahari Jakarta gak santai banget panasnya, dan saya agak kurang rela pake hot pants keliling kota dan diliatin mas mas di jalanan, jadi saya milih ngadem di rumah (yang mana sebenernya rumah saya ga adem adem juga, tapi kl emang kepepet bisa lah guling gulingan di ubin).

Alasan kedua adalah karena macetnya Jakarta benar-benar ga  bisa dimaafkan lagi. Sempet kemarin kepikiran apa saya 2 bulan tinggal di Menado aja ya.. kayaknya lumayan bisa ke pantai tiap hari dan ga perlu macet-macetan. Mungkin saya juga bisa belajar naik motor di sana, atau melancarkan naik sepeda saya yang dari dulu ga pernah lancar-lancar amat. Ide baik kan? Sayang kayanya mama masih kangen sama putrinya yang manis ini jadi mungkin ide pindah ke menado bisa ditunda sampai kapan-kapan. Dan untuk sementara ya terpaksa saya mendekam di Jakarta. Btw sekilas tentang lalu lintas Jakarta, di daerah Casablanca lagi ada pembangunan sesuatu, entah flyover entah terowongan entah apapun itu, pokonya daerah situ sangat sangat macet 24 jam setiap harinya. Sayangnya ibu dan kakak saya lupa menginfokan itu, jadi kemarin dengan percaya diri saya ambil rute pulang melewati casablanca yang berakhir dengan kaki saya sakit dan rasanya pengen nangis kena macet terus :( Info satu lagi, truk gandeng dan teman-temannya kini tidak bisa seenaknya lewat di tol dalam kota. Mereka boleh lewat pada jam-jam tertentu saja, (jam malam gitu kalau ga salah) dengan tujuan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di jam pulang kantor, namun malah berakibat tol dalam kota teteeepp aja macet pas malem nya. Mau nangis tiap kali liat macet.

Sementara itu hal yang akan saya lakukan di liburan kali ini adalah ke PANTAI. Emang miris, di Busan saya tinggal di pinggir pantai, eeh bukannya dimanfaatkan malah kabur ke Indonesia. Tapi ya apaboleh buat, pantai di Busan gitu gitu ajaa T___T  semua orang udah mulai menyarankan saya mantai ke Ancol, yang mana cuma bikin saya memasang tampang swt, sementara ibunda mengajak ke Natuna. Buat yang belum tau di mana itu Kepulauan Natuna berada, silakan cek  di peta antara singapura dan kalimantan, ada sebuah kepulauan yang agak menyerempet ke arah laut cina selatan sana. Dan dengan logika saya yang masih sedikit berjalan, saya pun bertanya pada ibu, “Emang pantai di Natuna bisa dimasukin airnya? Bukannya ombaknya gede ya?” lantas ibu pun menjawab, “Oh ya enggak, kamu ke sana liat air aja, main airnya ya di kolam…” lagi lagi tampang swt saya pun keluar.

Selain pantai, saya juga sudah rindu sekali sama toko buku. Sudah saatnya kembali membeli novel roman picisan yang bisa bikin imajinasi saya meliar di siang bolong, namun lagi-lagi ngebayangin saya harus menembus macetnya jakarta demi ke toko buku rasanya bikin saya pengen melototin facebook aja daripada baca novel. Atau mungkin mulai membaca majalah kedokteran ayah saya jaman dia masih kuliah dulu, kemarin baru sadar ada banyak tumpukan majalah tua di belakang rumah.. hmm mungkin besok bisa dilirik.

Sekian dulu tentang update kehidupan saya terakhir di ibukota. Bisa dibilang liburan musim panas saya kali ini sangat tidak terduga. Yang tadinya mau daftar internship, lalu jalan-jalan ke HongKong, ikut training di sekolah, sampe daftar kerja di Lotte,, semuanyaa gagal total dan berakhir dengan liburan tenang di rumah.

Yep.. saya harap ini memang yang terbaik. Keluarga saya sih tampak senang melihat saya pulang, apalagi sang ibu karena supir dan teman bermainnya telah kembali. Jadi yah.. mari kita isi liburan ini dengan senyum dan semangat. Selamat hari minggu semuanya!

Pesta Kembang Api (Part 3)

Seminggu yang lalu saya menikmati tontonan indah di pinggir pantai. Seminggu yang lalu saya kedinginan di pinggir pantai. Seminggu yang lalu saya jerit-jeritan kayak orang gila saking bagusnya apa yang saya lihat dari pinggir pantai. Seminggu yang lalu saya makan malam di pinggir pantai…

Oke ini mulai ga penting. Pokonya, inilah tontonan yang saya nikmati seminggu yang lalu di Gwangahnli. Momen yang sukses membuat saya histeris saking bagusnya… Enjoy!