Indonesia 6D5N

With only approximately 800 USD….

FOR 2 PERSONS!!

Haha jadi saya menuliskan postingan ini sebenarnya untuk rekam jejak pribadi aja. Semua bermula dari teman baik saya di Korea dulu tiba-tiba ngabarin bahwa dia ingin berkunjung ke Indonesia bersama adiknya, dan minta dikasi saran musti pergi ke mana aja. Dia sendiri hanya mention beberapa nama kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja, tanpa menyebut secara spesifik mau ke mana.

Mengetahui dengan jelas bahwa teman saya itu, sebut saja MJ, tidak berbahasa Inggris sama sekali, akhirnya saya super ga tega menelantarkan dia begitu saja. Apalagi ini kali pertama dia jalan-jalan ke luar negeri. Dia pergi dengan adiknya sih, tapi itu ga membantu banyak juga karena adiknya sama-sama ga berbahasa Inggris, apalagi Indonesia :D

Akhirnya dengan brutal saya membuatkan itinerary sekaligus memesan semua hotel, tour, rent car, dll dkk untuk MJ dan adiknya dan karena pertemanan kami seakrab itu jadi saya rela nalangin dulu semua pengeluarannya. Baru kemudian setelah dia tiba di Indonesia, dia membayar sesuai dengan catatan pengeluaran yang saya buat, dan saya sendiri amazed karena pengeluaran dia kurang lebih 800 USD saja untuk 2 orang! Hahaha kenapa amazed, karena ini udah termasuk tiket pesawat PP ke Jogja, nginep di tempat yang bukan backpackeran amat, makan di restoran yang baik (sebaik itu sampe harus reservasi dulu) dan saya ga setega itu untuk bawa dia makan di pinggir jalan.

Jadi untuk siapa pun itu yang butuh contekan kalau ada temennya mampir ke Indonesia dan nanya kurang lebih habisnya berapa, silakan bisa nyontek list ini di bawah ini. Harga tercantum itu untuk 1 orang asing ya. Dan saya pergi sama mama saya dan teman-teman saya juga, jadi kalau ada harga yang perlu patungan, ada yang dibagi 4 (waktu ke Jogja) dan ada yang dibagi 5 (waktu ke Bandung).

Day 1 (Jumat, 17 Feb 2017)

Pengeluaran hari pertama adalah biaya taksi saja, karena mereka nginepnya di rumah sayah heheh.

15.35 Incheon Departure  
20.40 Jakarta Arrival
22.00 Sali’s House Arrival

Day 2 (Sabtu, 18 Feb 2017)

Di hari kedua ini, kami naik pesawat Airasia ke Jogja. Di sana sewa mobil tanpa supir dari seorang teman (ada nomor HPnya yaa kalau butuh) dan kami patungan ber-4. Terus wisata candi kami pakai yang satu paket, Prambanan plus Ratu Boko, cuma harganya ternyata dibedain antara WNI dan WNA. Habis dari candi, makan di restoran yang lumayan kece dan WAJIB reservasi dulu. Tempat ini terlampau hits jadi kalau ga reservasi kemungkinan besar ga dapet tempat.

10.25 Jakarta Departure 442,700 IDR
12.00 Rent Car  300,000 IDR
13.00 Prambanan & Ratu Boko 25 USD
17.30 Abhayagiri  100,000 IDR (DP untuk 4 org)
20.00 Greenhost Boutique Hotel 479,788 IDR per kamar (2 org)

Day 3 (Minggu, 19 Feb 2017)

Untuk Day 3 ini kami pakai 1 Day Tour dari Nagan Tour, bisa cek di sini.

Kurang lebih harga untuk WNI 418,000 IDR, dan untuk WNA 705,000. Kenapa bedanya jauh sekali? Karena tiket masuk Borrobudur aja 30USD kalau ngga salah :( Sedih memang Indonesia ini ya untuk WNA dimahalin sekali harganya.

Btw hari ini pengeluaran ada pas makan siang (87,000 berdua, dan saya lupa nama restonya -__- somewhere lah between Borrobudur dan Ullen Sentalu) dan makan malam (264,000 berdua, La Pergola). Sisanya udah termasuk di biaya tur di atas.

07.30-08.00 Departure from hotel
08.00-09.00 Breakfast Soto Pak Soleh
09:00-11.00 Borrobudur
11.00-12.00 Lunch
12.00-13.30 Moving
13.30-14.30 Ullen Sentalu
14.30-15.00 Move to Merapi
15.00-16.30 Jeep Lava Tour
16.30-17.30 Moving
17.30-19.30 Malioboro
19.30-20.00 Moving
20.00-22.00 Dinner (La Pergola)

Day 4 (Senin, 20 Feb 2017)

Karena hari ini adalah hari terakhir kami di Jogja, jadi rencananya sederhana: mampir liat Keraton &Taman Sari, lalu makan siang dan balik ke Jakarta. Di Jakarta sendiri MJ dijamu oleh teman-teman saya yang lain, Bania dan Obi, sementara saya kabur sejenak untuk nonton The Moffatts :D

08.00-09.00 Hotel checkout Sambil pesan Grab Car :)
09:00-11.00 Keraton & Taman Sari 20,000 + 15,000 IDR
11.00-12.00 Ayam Suharti 78,500 IDR
13.50-15.05 Jogja-Jakarta 503,250 IDR
17.30-18.30 Moving to Central Park 36,500 IDR (Uber)
18.30-21.00 Dinner Diakhiri dengan tidur di rumah Bania

Day 5 (Selasa, 21 Feb 2017)

Kami ke Bandung, nyewa mobil dengan supir. Rate sewanya 550,000 per 10 jam, dengan overtimenya 50,000 per jam. Kami sendiri pakai sampai kena overtime 8 jam, jadi pengeluaran kami 550,000 + (8*50,000) + 100,000 [tip] = 1,050,000 IDR. Isi bensin sampai 300,000 IDR, tol PP  53,000 kali 2. Rent mobilnya di sini.

05.00 Jakarta-Bandung 220,000 IDR (per orang PP)
08.00 Dusun Bambu (lunch) 150,000 IDR
11.00 Tangkuban Perahu 200,000 IDR (WNA)
14.00 Farm House 26,000 IDR
17.30 Miss Bee (dinner) 125,000 IDR
19.30 Bandung-Jakarta
22.00 Artotel Arrival

Day 6 (Rabu, 22 Feb 2017)

Hari terakhir MJ dan adiknya jalan-jalan sendiri di Grand Indonesia sementara saya kembali bekerja. Niatnya sih malamnya kembali saya antarkan ke bandara sepulang kantor, tapi ternyata malam itu hujan deras sekaliii huhuhu. Jadi akhirnya MJ dan adiknya naik Uber lagi ke airport, sampe argonya sekitar 250,000 IDR :)

Anyway yah.. walaupun tidak dicantumkan di tabel atas, sebenarnya jalan-jalan kali ini sebagian besar disponsori oleh Uber, Gojek, dan Grab! Hahahah dikit-dikit kalo mau pindah tempat langsung manggil sesuatu. Mau jadi apa liburan kami kalau takada ojek online :$ Plis lah semoga fasilitas murah ini terus ada selamanyah!

 

My Big Fat Bataknese Family

Sebagai half-blood Batak, kadang gue suka lupa bahwa Sangalian Jato Kaunang itu bukan seorang Manado saja. Gak semua orang di keluarga gue ngomongnnya pake kita-ngana. Ada juga sodara yang kalo ngumpul bawanya ulos dan suka mempertanyakan kenapa gue ga aktif di HKBP atau GKPA.

Heheh anyway, thanks to acara ngumpul-ngumpul setahun sekali seperti Bona Taon hari Minggu, 2 April 2017 lalu, (yessss exactly, udah April tapi masih Bona Taon, YA BIAR LAH YAA lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali), gue diingatkan bahwa ada sebagian diri gue yang berdarah Batak.

Terus ngumpul ngumpul kaya gini bikin gue sadar sih kenapa gue suka liat acara musik, ga bisa diem kalo lagunya seru, punya kecenderungan joget-joget ga behave, dan selalu senang kalo diajak karaoke. It’s in the blood menn!! :))

Sebagai info tambahan, Manado juga kalo ngumpul-ngumpul pasti ada nyanyi dan jogetnya. Nah kalo Batak digabung Manado paket kombo lah ya….

Belajar Menjadi Perempuan

Saya adalah perempuan yang beruntung. Saya sehat, saya berpendidikan, saya dibesarkan dalam keluarga yang takut akan Tuhan dan penuh kasih sayang, dan saya punya banyak panutan hidup. Salah satunya Oma.

Saya memang tidak pernah tinggal bersama Oma dalam waktu yang cukup lama, karena kami terpaut jarak. Saya lahir dan besar di Jakarta, sempat pindah ke Bandung dan Korea, sementara Oma menikmati hari-harinya di Manado. Tentunya sesekali Oma pesiar ke luar kota dan luar negeri, tapi tetap saja ujung-ujungnya Oma akan kembali ke “markasnya” di Manado. Meskipun demikian, Oma mengajarkan banyak hal kepada saya, terutama sebagai perempuan.

Pelajaran pertama: perempuan harus selalu waspada.

Belasan tahun lalu, saya masih kecil dan kami sekeluarga tinggal di Bandung. Suatu hari, saya bermain Play Station di rumah bersama abang saya dan teman-temannya. Saya asyik bercengkerama dengan mereka, tertawa riang gembira, tanpa menyadari saya satu-satunya anak perempuan di ruangan itu. Oma yang kebetulan sedang berlibur di rumah kami kemudian melihat hal itu dan memanggil saya keluar. “Sali! Jangan ketawa-ketiwi nempel sana-sini dengan laki-laki semua! Anak perempuan jangan mau ditepuk ditoyor begitu!” omel Oma.

Ketika itu saya diam saja. Saya tidak mengerti, dan dalam hati saya menggerutu dan bingung. Rasanya tadi saya cuma main PS? Apa yang salah dengan tertawa terbahak-bahak sana sini? Jangan-jangan saya dimarahi karena saya kalah main PS (seperti biasanya)?

Bertahun-tahun kemudian baru saya mengerti moral pertama dari adegan di atas, yakni bahwa perempuan tidak boleh membiarkan dirinya tanpa perlindungan. Bahkan ketika saya pikir semua aman, ketika saya pikir saya sedang bermain, bisa saja keadaan tidak seindah yang saya kira. Okesip. Terima kasih, Oma!

Pelajaran kedua: perempuan harus cerdas.

Sedikit informasi, hobi Oma adalah belajar. Dari zaman Indonesia masih dijajah, hingga Indonesia sudah merdeka, hingga Indonesia dijajah kembali oleh korupsi dan teman-temannya, Oma terus belajar. Oma pernah belajar di sekolah Jepang, sekolah Belanda, dan pernah dapat beasiswa ke Australia dan Amerika. Di usia 80-an Oma berhasil menamatkan sekolah S3 sehingga nama Oma sekarang menjadi luar biasa panjang dengan hiasan gelar aneka rupa.

Syukurnya, hobi belajar ini ditularkan kepada anak-anak dan cucu-cucu Oma, meskipun mungkin skalanya belum setinggi Oma. Oma memastikan kami semua bersekolah tinggi, dan Oma selalu menyediakan waktu untuk datang ke acara sekolah atau wisuda kami. Februari 2012, Oma berusia 82 tahun dan rela menembus kejamnya musim dingin di Korea Selatan demi menghadiri wisuda saya, cucu perempuan Oma satu-satunya. Betapa bangganya saya bisa mengenakan toga S1 dan resmi dinyatakan lulus dari program Computer Science, Kyungsung University, Busan, Korea Selatan dengan disaksikan oleh Oma. Pertanyaan pertama Oma begitu kami kembali ke hotel setelah seharian berjuang melawan dinginnya angin Busan adalah, “So, what’s next, Sali? Mo sekolah apa lagi ngana?”

Pertanyaan ini cukup unik dan fundamental. Buktinya, di tahun 2015 lalu ketika Oma sempat sakit dan mengalami penurunan daya ingat, pertanyaan Oma setiap kali melihat saya tetaplah satu, “Sali kapan wisuda?” Mungkin Oma lupa saya sudah lulus S1 dan bahkan dirinya pernah menghadiri wisuda saya. Namun saya sungguh bersyukur saya punya Oma yang ketika pikun otomatis pertanyaan yang dilontarkan adalah seputar sekolah, bukannya pertanyaan paling mainstream ‘kapan menikah’ :D

Pelajaran nomor tiga: perempuan harus cantik.

Pernah dengar kabar burung yang mengatakan bahwa perempuan Manado itu cantik-cantik? Pernah dengan gosip perempuan Manado paling pintar bergaya? Well, itu gosip belaka sodara-sodarih!! Perempuan Manado cantik, pandai merias diri, suka menata rambut, gemar membeli baju, dan hobi mengoleksi sepatu baru. Ini bukan bicara tentang saya, karena saya akui saya hanya setengah Manadonya :D Bukti nyatanya yahh Oma saya sendiri!

Saya kenal Oma sejak Oma sudah menjadi…. seorang Oma. Saya tidak pernah melihat langsung Oma ketika masih gadis rupanya seperti apa. Saya hanya berkesempatan melihat sosok Oma ketika muda lewat foto. Namun, bahkan di usia lanjutnya pun Oma selalu tampil menawan, tidak seperti oma-oma pada umumnya. Ini tentu saja mematahkan pandangan saya ketika masih kecil dulu, di mana sosok seorang nenek dalam buku pelajaran biasanya digambarkan dengan seorang perempuan tua renta memakai kain lusuh dan bertumpu pada tongkat reyot, sementara rambutnya putih dan digulung ke atas.

Oma dengan suksesnya membuyarkan khayalan masa kecil saya tersebut. Oma tidak pernah berambut putih; rambut Oma selalu dicat dan Oma punya koleksi wig satu lemari. Oma tidak memakai tongkat; Oma masih sanggup berjalan cepat mengelilingi lapangan dekat rumahnya di Manado. Oma memakai kain lusuh? Sama sekali tidak pernah! Baju Oma jauh lebih berwarna-warni dari saya, dan koleksi sepatu serta tas Oma lebih heboh dari remaja kebanyakan.

Suatu kali ketika Oma sedang sakit dan tinggal bersama keluarga kami di Jakarta, saya berkesempatan memandikan dan membantu Oma berpakaian. Tidak ada jadwal keluar rumah hari itu, karena badan Oma masih sangat lemah. Otomatis saya memilihkan sepotong daster nyaman untuk Oma, dan mengira tugas saya berhenti di sana karena toh Oma tidak ke mana-mana. Di luar dugaan, Oma memilih pakaian yang lebih rapi, dan meminta saya membantunya berdandan. Pensil alis segera diraut, bibir pucat pun berubah menjadi merah merona. Penuh keheranan, saya bertanya, “Oma mo pi mana so? Pe cantik skali berdandan…

Seakan pertanyaan saya adalah sesuatu yang luar biasa aneh, Oma menjawab juga dengan penuh keheranan, “Perempuan harus cantik! Biar nyanda mo ke mana-mana maar harus tetap cantik!”

Kalimat di atas saya terjemahkan ke dalam banyak arti. Cantik bisa jadi cantik mukanya, atau cantik hatinya. Cantik kelakuannya, cantik tutur bahasanya. Cantik hasil karyanya, cantik wawasannya. Cantik tanggung jawabnya, cantik juga rezekinya. AMIN!!

Selamat menyambut usia delapan puluh enam tahun, Oma sayang!

– Jakarta, menjelang 19 Juni 2016

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oma yang Saya Kenal

Sudah beberapa bulan ini Oma kurang sehat. Sering kali kami dibuatnya khawatir, jantungan, hingga ketakutan. Tapi Puji Tuhan saat ini kesehatan fisiknya semakin baik dan Oma sudah kembali mampu mondar mandir di rumah tanpa ketergantungan orang lain.

Namun, seperti layaknya manusia di usia lanjut, Oma mulai sering membuat kami harus berpikir 2 kali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Beberapa minggu lalu Oma menatap saya bingung dan bertanya saya siapa. Tidak lama kemudian, Oma bertanya kapan saya akan wisuda. Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan saya sudah golongan apa (Oma pikir saya PNS).

Hari ini, Oma kembali mengejutkan saya dengan berkata beliau ingin ikut saya kembali ke Korea. Saya tertawa dan bilang, “Paspornya Oma ada?” Oma pun lantas menjawab, ‘Iyo nanti mo cari noh..’

Jujur saya takjub melihat perubahan Oma. Oma yang saya kenal sangat segar, sehat, lincah, dan tentunya cerdas. Pengetahuannya luas, dan pengalaman sekolahnya jauuh lebih lama daripada saya. Tapi sekarang Oma begitu berbeda.

Papa bilang, ini hal normal. Semua manusia akan mengalami penurunan daya ingat. Saya tahu akan hal itu, karena sudah sering dijelaskan di pelajaran Biologi dulu. Tapi saya tidak menyangka akan menyaksikan hal itu terjadi di depan mata melalui keluarga yang sangat dekat.

Saya jadi penasaran saraf di otak kalau mengelupas itu bentuknya seperti apa sih? Kog bisa mengelupas bagian luarnya saja, sehingga yang diingat hanya memori memori dari jaman dahulu kala?

Menurut saya agak luar biasa melihat Oma masih hafal mati lirik lagu kesukaannya di sekolah Jepang dulu tapi bahkan kadang tidak bisa mengingat saya siapa, sedang apa, sudah lulus sekolah atau belum. Sekali waktu saya pernah menjelaskan bahwa Oma sempat hadir di wisuda saya di Korea dulu bersama mama, dan komentar Oma adalah, “Ah masa? Kita nyanda inga..”

Nggak masalah sih bagi saya, Oma ingat atau tidak. Yang penting Oma sehat fisiknya dan hepi hatinya. Saya hanya menjadi semakin kagum bagaimana organ organ tubuh manusia bisa bekerja dan bisa rusak. Dan saya mulai sadar bahwa cerita cerita manusia hilang ingatan itu ternyata memang nyata..

Anyway, seberapa pun berbedanya Oma sekarang, buat saya (dan keluarga kami) Oma tetap sosok paling segar dan paling gaul yang pernah ada. Oma yang saya kenal itu cerdas, berpendidikan, dan berwawasan luas. Oma yang saya kenal rajin olahraga dan masih suka jogging setiap minggu. Oma yang saya kenal saking lincahnya di umur 80an masih jalanjalan ke Malaysia dan Korea. Oma yang saya kenal, waktu muda (mungkin seumuran saya sekarang) cantiknya luar biasa.

image

Malam Klasik

Iseng :))

Salah dua dari lagu-lagu ciptaan Bach yang merupakan kesukaan saya.

Bach – Air on a G String

Bach – Sheep May Safely Graze

Dear future kids, rajin-rajin latihan musik ya biar pandai dan bisa main lagu cakep cakep begini..

Dear future husband, jangan kerja mulu dan luangkan waktu buat hadir di recital musik anak anaknya yaa…

 

14.01.14 – Hari Bersejarah

Beberapa hal kecil yang perlu diingat dari hari bersejarah ini:

1. Tuhan itu baik. Sudah berminggu-minggu Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan dan dilanda banjir, tapi tepat pada hari Selasa, 14 Januari 2014 matahari bersinar cerah sekali :) Banyak tamu yang nanya, “Pake pawang ya?” dan kami hanya menjawab, “Nggak, cuma pake doa aja kog..” (kalo cuma pake shampo nggak nyambung soalnya)

2. Kalo emang nggak biasa pake heels, apalagi heelsnya sepatu baru pula, mendingan nggak usah sok. Seharian lari-lari pake sepatu baru super tinggi sukses membuat langkah gue kayak tentara mau perang dan bolak balik diprotes sodara, “Sali jalannya feminin dikit dong!” Okeh lain kali pake flats aja. Sip.

3. Harta yang paling berharga memang keluarga, tapi kalo nggak hati-hati si harta ini bisa bikin manusia saling membenci juga. Maaf untuk pihak-pihak yang kena omel karena ngalangin fotografer, atau dandannya lelet, atau seenaknya nyosor pengen ikutan prosesi dan terpaksa gue usir. Maaf sekali lagi, hamba khilaf dan di bawah tekanan. Plus kaki sakit juga. Maar torang samua basudara toh? *wink*

4. Pake korset itu nyiksa. Rajin-rajinlah berolahraga agar perut rata alami.

5. Punya rambut super pendek kadang berbuah baik juga. Ga perlu nyalon, ga perlu nyatok, tinggal kasi hiasan rambut dan selesai!

6. Selalu ingat, secape-capenya keluarga atau teman terdekat atau panitia pesta, tetep aja kedua mempelai itu yang paling cape. Capenya maksimal. Kita capenya baru seminggu, mereka capenya udah setahun. Jadi kurang-kurangilah mengeluh.

7. Kalau acara pernikahan kebetulan bertepatan dengan hari spesial lainnya, misalnya ulang tahun ibu atau bahkan ulang tahun mempelai wanita, jangan lupa rencanakan surprise party ^.~ tentu ini optional sih, hanya kalau masih ada energi tersisa saja.

8. Nah lalu kalau memang mau bikin surprise party dengan kue, sediakanlah kue yang kecil dan mudah dibawa. Ngangkat kue 3 susun pake heels setinggi harga diri itu agak ribet juga loh hahaha.

9. Makanan kurang ketika acara berlangsung memang bikin panik, tapi sebenarnya kalau dipikir dari sisi sebaliknya justru itu berkah sekali. Bayangkan betapa banyaknya orang yang datang memberi restu di acara spesial ini, sampai melebihi ekspektasi. Terberkatilah kalian!!

10. Senyum sepanjang hari itu susah ya ternyata huheheh mari berlatih senyum untuk hari-hari spesial berikutnya :D

J45A2704

Kaunangers dan oma!

J45A4422

Happy birthday Mama dan kak Melissa!

J45A4431

Pengiring pengantin dan kedua adik

J45A4504

Lain kali harus latihan nangkep bunga lebih baik lagi!!

J45A3194

Welcome to the family, beautiful bride :)

18 November 2013

Terima kasih Tuhan.

Terima kasih Tuhan atas Jakarta yang mendadak indah kalau dikelilingi dengan ojek.

Terima kasih Tuhan atas tumpangan tempat tinggal sementara dari Bujing dan Uda jadi bisa kembali beraktifitas dengan mudah di pusat kota Jakarta.

Terima kasih Tuhan atas kegiatan baru untuk mengisi keseharian selama beberapa bulan ke depan.

Terima kasih Tuhan atas teman-teman yang lucu lucu dengan doa mereka yang beraneka ragam.

Terima kasih Tuhan atas Bania, Obi, dan Cifen yang sudah meramaikan detik detik menjelang 18 November.

Terima kasih Tuhan atas keluarga yang sangat suportif dan penuh kehangatan.

Terima kasih Tuhan atas Papa yang pengertian, Mama yang selalu ngangenin, kakak yang overprotektif, juga kak Melissa yang hari ke hari makin mirip muka dan seleranya sama saya.

Terakhir, terima kasih Tuhan atas peneliti romantis ini, yang sukses membuat saya cekikikan sepanjang hari.

Best gift ever, both manusia dan papernya :)

Terima kasih.

Terima kasih !!

Day 26 : Someone who fascinates you and why

Postingan ini ternyata sangat nyambung ke postingan sebelumnya yang saya tulis semalam sebelum tidur. Hahah someone who fascinates me? Of course jawabannya nenek saya dari pihak ibu.

Saya cukup beruntung karena sempat tinggal bersama beliau ketika saya masih kecil. Bahkan kami satu gereja, jadi saya masih ngerasain dulu pergi ke sekolah minggu atau tampil pajojorhon ditonton oleh ompung saya.

Ompung yang semasa hidupnya pernah bekerja sebagai apa saja – literally apa saja karena dia pernah jadi ground staff garuda, translator, guru piano, sampe pencipta lagu – benar benar mengajarkan bahwa hidup itu keras tapi ga ada alasan untuk menyerah.

2070_46208602389_478_n
Passah, Dana, Ompung, Sali

Satu quote dia yang selalu saya inget sampe sekarang adalah: “Kalau lagi nyasar terus cape, yaudalah berenti aja dulu terus minum teh botol. Baru habis ikut mikir musti ke mana.”

Hehe dia bilang begitu karena emang dia sering seperti itu sih, cape kan keliling keliling kota dengan angkutan umum, jadi kalo cape yaudah ngaso aja dulu. Tapi agaknya ajaran di atas berlaku juga secara umum dalam kehidupan yak :D

Ompung meninggal tanggal 17 Agustus 2002, menjadikan hari kemerdekaan Indonesia itu sebuah tanggal yang nggak bakal pernah saya lupa dalam hidup saya. Apalagi pas tahun 2002 itu saya pingsan di sekolah pas upacara, ehuhehehe mana pernah saya tau pas saya pingsan itu kayanya pas banget ompung menghembuskan nafas terakhirnya.

Anyway, thanks for the memories and salam buat Bilbo dan Poussy ya pung!! :)

Baca juga: Ompung, Apa Kabar? dan Nenek dari masa depan.

ps: Why am I writing this? Click here to see the full story.

Ompung, Apa Kabar?

Hai pung!
Hari ini sali baru dari rumah ompung setelah nginep dua malam sejak hari Jumat. Rumahnya sepi, cuma ada uda Hari karena bujing Tatap lagi ke Bali. Tapi walaupun manusianya dikit, hewannya banyak pung. Mungkin ompung bakalan puas ngelusin mereka satu satu kalo udah bosen sama buku novel. Hehe.
Hai pung!
Ngomong ngomong soal rumah, rumah Kencana masih seperti dulu. Well beberapa kamar berubah fungsi sih, tapi tata letak ruangannya masih sama. Ruang kantor masih di pojokan, piano juga masih di ruang tamu. Kamar sali yang dulu dicat pink juga masih ada walaupun sekarang catnya udah biru ehuhehe. Kamar ompung tentunya masih ada, walaupun lorong gelap menyeramkan di depannya sudah hilang. Oiya! Tadi sali masuk kamar lain juga, dan menemukan meja riasmu! Hahah masih kebayang dulu suka ngegeratakin meja rias ompung itu.. yang cerminnya penuh dengan foto foto kami para cucu.
Hai pung!
Macetnya Jakarta udah makin ga termaafkan. Harga bajaj dan taksi juga udah makin mahal, jadi rasanya ga pengen ke mana mana deh kalau udah di jakarta. Akhir akhir ini sali ke mana mana naik ojek terus dengan alasan males macet, sampe kepikiran apa belajar naik motor aja sekalian? I know my dad would kill me tapi ompung pasti ngijinin, ya kan?? (lirik lirik foto jaman dulu ompung bawa vespa)
Hai pung!
Sali sempet ke pasaraya manggarai kemarin dan mampir ke Hero yang sekarang sudah berubah jadi Giant. pas mau bayar sali liat makanan kesukaan jaman dulu, Koala!! Inget banget dulu tiap kali ompung belanja ke supermarket pasti beliin snack itu buat sali, hahah sekarang hampir ngga ada yang sadar sali suka banget sama snack itu ;p
Hai pung!
Kami semua kangen ompung.Kangennya pake banget. Januari besok Passah akan menikah; calonnya cantik dan baik hati. Ompung pasti suka. And she’s a Manadonese, just like your mother :) Sali inget ompung dulu ga sempet lihat Passah malua dulu, naaah kalau nikahan kali ini jangan lupa liat akang dari surga juga neh. Jangan pake baju terlalu formal tapi pung, pestanya pesta kebun dan ga bakal ada ulos plus arsik diangkat angkat.
Hai pung!
Lagu Nyanyikanlah Nyanyian Baru dan Nyanyikan Tuhanmu Haleluya masih seriiing banget dinyanyiin di gereja lho. Sali kadang mikir, itu gimana cara ciptainnya sih pung?? Gimana cara cari inspirasinya? Gimana mulainya?
Hai pung!
Kabar sali baik baik saja. Ga kerasa terakhir ketemu masih SMP, sekarang udah lulus kuliah dan udah pengangguran ehuhehe woops. Agak bertanya dalam hati sih, kalo ompung ada di depan sali sekarang ompung bakal komentar apa ya? O.o baru sadar dulu gak pernah benar benar minta nasehat dari ompung. How I wish I could do it now..
Hai pung!
Bentar lagi bulan November. Boleh minta kado? Kencan yuk di alam mimpi. Udah beberapa hari ini sali mimpi buruk terus sampai terbangun di tengah tengah karena takut. I think it would be nice to see you in my dreams daripada orang orang random itu yang berlalu lalang di mimpi sali. Ngapain coba ada guru matematika jaman SMA nongol di mimpi? Unglam sekali kan pung mimpinya…
Anyway.. this is the last one pung.
Hai pung!
You know what, yang main jadi Legolas udah cerai dari istrinya. I thought you should know, secara ompung kan die hard fansnya Lord of the Rings.
Hehehe good night, pung.

ps : why am I writing this? salahkan para hormon itu yang membuat saya jadi sangat emosional. dan juga lapar. makin random deh tulisannya..

Baca juga: Someone who fascinates you and why, dan Nenek dari masa depan.

Day 25 : My Favorite Movie

Hehehehe dengan mudah jawabannya adalaaaah

LION KING !!

Gue inget pertama kali nonton Lion King itu sama mama (dan mungkin ada abang serta orang-orang lain juga) di bioskop di Taman Ismail Marzuki. Mama yang seorang seniman di hati itu emang gak pernah absen bawa anak-anaknya nonton bioskop demi menikmati tayangan film-film bermutu, dan buat dia film cocok untuk anak kecil adalah film kartun, serta film kartun yang paling oke ya buatan Walt Disney.

Heheh jadi begitulah, dari kecil gue agak banyak dicekokin sama film kartun Disney, dan dari sekian banyak film yang gue tonton kayaknya pilihan gue selalu jatuh ke Lion King.

Kalau ditanya kenapaa yaaaa jawabannya gampang lah. Karena Lion King punya semuanya!

Kisah kekeluargaannya dalem, ngajarin kepemimpinan, juga mengajarkan perbedaan dan uniknya dunia yang isinya macem macem.

Belom lagi ngajarin tentang kenyataan hidup, bahwa nggak semua dalam hidup itu baik dan menyenangkan. Pasti ada orang jahat dan ada momen-momen sedih dalam hidup contohnya ditinggal orang yang disayang; cuma kita tetep kita harus menjalani hidup ke depan dengan hepi and with no worries for the rest of your day :D

Well itu alasan generalnya sih. Tapi kalau alasan personal, mungkin bisa dibilang suka banget banget banget dan kalo ditanya apa film Disney, atau even film ajah, kesukaan lo jawabannya adalah Lion King karenaaa dulu pas kecil setelah filmnya tayang lalu versi VHS nya keluar, mama beli itu dan diputer di rumah tiap pagi. SETIAP PAGI.

Gue inget setiap gue sarapan pagi mau ke sekolah, pasti sarapan gue ditemani oleh Lion King. Lucu sih kalo dipikir-pikir.. orang mah sarapan nontonnya Liputan 6 Pagi gitu yah, ini si mama malah nyetel kartun.

Kebiasaan itu pun berlanjut sampe keluar Lion King 2, huhahaha.. Kalo ga salah pas Lion King 2 keluar kami ga nonton di bioskop karena masih cupu, nggak tau bioskop di Bandung itu di mana (waktu itu keluarga kami lagi berdomisili di Bandung), jadi mama juga beli VHS nya (eh atau udah VCD? -__- lupa) daaaann diputer juga dong tiap hari.

So…… dengan penggabungan emang filmnya bagus DAN gue dicekokin tiap hari tiap pagi, jadilah gue pasti ga bakal pernah lupa film ini. Plus sequelnya juga tentu, si Lion King 2.

Iniii lagu kesukaan gue di Lion King pertama. Lingkaran terdekat gue pasti tau kebiasaan aneh gue yang suka menguap sambil nyanyi pembukaannya lagu ini ehuhehe.

Dan yang ini adalah lagu kesukaan gue di Lion King kedua, yang jujur kalo didengerin pas habis patah hati lagu ini agak bikin air mata mengalir deras. Dalem.

Nah jadi sehubungan dengan ini maka bisa dibilang salah satu penyesalah hidup gue terbesar adalah gue gak bisa nonton Lion King musical di Singapore dulu. Jujur sedih :3

Hahah anyway… ngomong-ngomong nama “Kiara” cukup bagus nggak untuk dijadikan nama anak? :p Menurut gue namanya bagus. Tapi kalo tau diambil dari nama singa… agak lucu juga ya.

ps: Why am I writing this? Click here to see the full story.