tentang seorang teman baik

Vanessa Gloria Engelen, atau yang biasa dipanggil vane, sempat down dan merasa sangat pesimis belakangan ini. dia baru saja menyelesaikan program wajib belajar 12 tahunnya bulan lalu, dan sedang sibuk memilih universitas untuk melanjutkan studinya.

ketika 3 hari lalu kami bertemu di msn, dia kehilangan seluruh rasa kepercayaan dirinya karena hingga saat itu sekolah impiannya di Jerman masih belum memberi kabar apa-apa. terlebih lagi mengingat fakta bahwa dia sempat salah mengambil tes kemampuan bahasa Jerman (harusnya ambil yang intermediate, tapi malah ambil yang beginner). sampai akhirnya kami harus menyudahi pembicaraan kami, dia masi merasa sangat tidak yakin akan diterima dan melanjutkan sekolah di Jerman. kami keempat teman baiknya pun udah ga tau lagi musti menyemangati dia dengan cara apa.

namun untung saja, Tuhan mendengar doa kami semua. 20 menit yang lalu masuk sms dari vane yang isinya membuat aku dan chika, seorang teman kami yang lain, yang sedang chatting di msn sama sama heboh dan bahagia.

SELAMAT SELAMAT SELAMATT!!

bulan depan berangkat kan ne? waaaaahhh akhirnya kita berlima beneran bakal kepisah di negara yang beda-beda. unbelievable! hihi.

Jul 12, 2008 3:24 AM

kehilangan teman sekamar (lagi)

setelah ditinggal roommate ke Jakarta untuk pertama kali pada tanggal 21 juni yang lalu, lagi-lagi saya akan mengalaminya dalam 10 menit ke depan. roommate yang sekarang, Jeje, akan meninggalkan negri ini dan bermain-main di Singapore dan Thailand selama 3 minggu. apakah yang akan terjadi pada seorang sali dalam kurun waktu 3 minggu tersebut? ntahlah.

baiklah. kini mari mengantarnya turun dan mengucapkan selamat tinggal :D

huhu. akan merindukannya nih tampaknya.

Jul 6, 2008 9:41 PM

bo-hae

di hari ke-18 ini, kulihat seorang anak perempuan, ntah umur berapa, yang jelas masih di tingkat sekolah dasar. potongan rambutnya pendek, badannya kurus normal, mukanya mulus (tentu tanpa jerawat) dan gerak-geriknya lincah. sifatnya begitu ceria, tidak tampak takut berada di tengah kerumunan kakak-kakak yang tidak dikenalnya. otak tampak cemerlang, tercermin dari caranya bicara.

duh game nya pake bahasa indonesia aja deh..’

‘iya ato ga bahasa inggris deh bahasa inggris…’

‘bahas cina? bahasa jepang?’

“JANGAAANN.. BAHASA KOREA! KAN HARUS BELAJAR!!”

tertawalah kami (padahal dalam hati sedikit miris) dan menuruti kemauan anak kecil yang lucu itu. permainan menghubung-hubungkan kata pun dimulai -dalam bahasa korea-, dan apabila otak kami sedikit macet, memohonlah kami pada sang ibu.

sonsengnim.. tolongiiin..

apaan nih, dimulai dengan RI..

ri.. risoto? riyanto? hua…’

sayangnya anak kecil itu terlalu pintar (sudah kubilang kan tadi).

“GA BOLEH!

MAMA GA BOLEH NGAJARIN!!

GA BOLEH DIBANTUIN!!”

ah betapa lucunya anak itu. 이보해. andai aku juga bisa seperti itu. otaknya seperti punya remote dvd yang sewaktu-waktu bisa diubah pilihan bahasanya: Korea, Indonesia, atau Inggris. iri.

saya memang mengecewakan

malam ini tiga orang teman bercerita tentang masalah mereka kepada saya. dengan senang hati saya mendengarkan, namun rupanya tidak dengan senang hati saya melakukannya. sementara mereka bercerita, otak saya sedikit bekerja lebih lambat, dan hati saya ikutan terasa pedih. miris sekali.

orang pertama bercerita tentang nilai dan pergaulannya yang menurutnya sama-sama bisa dibilang cukup buruk sejauh ini. dia tidak mengharapkan saran atau penghiburan dari saya, dia hanya butuh didengarkan. tapi itulah yang membuat saya sangat merasa bodoh tadi. boro-boro kasi kata-kata mutiara, memenuhi keinginannya untuk didengarkan saja rasanya saya kurang berhasil.

mengapa demikian? karena ada orang kedua yang bercerita tentang keburukan yang baru dialaminya. wajah buruk, keimanan buruk, pendidikan buruk, dan status buruk. ya. dia baru putus dari pacarnya.

sampai pada orang ketiga, kesedihan saya semakin menjadi-jadi. orang ketiga adalah teman baik saya sendiri, yang lokasinya sekarang berada di bintaro. sangat sangat jauh bukan dari kota Busan? aah. kesal. saya ingin sekali main ke rumahnya tadi, sekadar memberi pelukan, atau mengangkat telepon dan mendendangkan suara cempreng saya supaya dia tertawa dan tidak miris lagi. namun apa daya, hanya msn messenger yang dapat menyatukan kami. dan melalui program itu pulalah dia bercerita panjang lebar tentang masalah antara dia dan pacarnya (YA LAGI LAGI MASALAH CINTA), sementara saya hanya bisa berkomentar singkat dan memberi smiley-smiley seperlunya.

ah. sebenarnya inti dari cerita ini adalah, ya, saya kadang merasa sedih melihat teman teman saya sedih. tapi lebih sering lagi sih sedih melihat diri saya sendiri yang tidak bisa memberi bantuan berarti untuk teman teman yang sedang sedih.

huhu ayo semangat ya teman teman!

KUNGFU PANDA!

sedikit terlambat, tapi at least akhirnya tertonton jugalah film dreamworks ini. filmnya lucu, bioskopnya dekat, cuacanya bagus, hati sedang senang, kondisi perut kenyang, maka terbentuklah perpaduan yang cukup sempurna :D

dan sekarang..

mari kita sambut kembali tempat tidur berbungkuskan Spongebob tercinta. i’m soo coming!

hari ke-13 selesai.

nilai keluar!!

HAHAHAHA

indahnya hidup ini.

ketika pagi-pagi masi ngantuk dan dibangunin paksa sama jess, akhirnya seorang sali yang malas dan seorang jeje yang mudah kebosanan membuka mata mereka dan berjalan ke arah komputer masing masing.

“JE!! Nilai gue bagus jeeee!! Wah jadi de gue nraktir lo.”

‘Waaahhh hebat hebat! Gue juga nih..’

“haaaa gila je, A+ semua? Huahahaha asikk asiik.”

maka kami pun turun sarapan dengan riang gembira.

hari ke-10

di hari yang indah ini badanku kakiku tanganku pegal sekali. setelah mengikuti ibadah singkat bersama teman teman, sarita menyeretku ke dalam sebuah wawancara singkat bersama 3 orang perwakilan Summer Mud Festival, sebuah acara besar besaran yang akan diadakan pada bulan Juli nanti. dalam waktu 15 menit saja tiba-tiba kutemukan fakta bahwa aku harus berduet bersama sarita di atas panggung dalam sebuah kontes besar besaran di pinggir pantai. ahh tolong aku. aku shock sekali tadi. grrrr. tak bisa kusalahkan sarita yang menyeretku, karena dia sendiri juga tidak tau bahwa kami akan termakan kebohongan Kim sonsengnim yang bilang “cuma summer camp kog, palingan kalian hanya perlu sedikit bernyanyi..”

papa, mama, lihat! sebentar lagi aku jadi artis!

putting yourself in other people's shoes

sebenarnya kalimat di atas ini punya makna lebih dalam dari hanya sekedar ‘memasukkan kaki ke sepatu orang’. dulu saya pernah baca buku Jennifer Weiner yang judulnya In Her Shoes, dan buku itu mengingatkan saya supaya jangan seenaknya menjudge kehidupan orang lain.

kita ga bisa bilang si ini hidupnya kog tampak santai santai saja, si itu kog kayanya ga perna punya masalah dalam hidupnya, si ini kog mukanya kayak orang susah banyak masalah terus, si itu kog kesian banget kayanya ga sempat punya waktu buat main main sama teman, dan lain sebagainya sebelum kita merasakan sendiri kehidupan dia. alias menjalani hidup menjadi orang lain – yang mana dalam buku ini dianalogikan dengan cara “coba jalan jalan tapi minjem sepatu orang”.

nah.

ngomong ngomong soal minjem sepatu orang, di hari ke-6 libur musim panas saya ini saya sempat menukar paksa sepatu saya dengan sepatu seorang teman, dengan imbalan setengah porsi roti krim Paris Baquet yang saya beli siang tadi. saya kira rasanya bakal gimana bangeeeett gitu tukeran sepatu. atau setidaknya membawa efek positif lah, seperti peribahasa di judul postingan ini.

tapi tampaknya efeknya agak sedikit jelek.

ketika tiba di kamar, pergelangan kaki saya sedikit gatal karena tergesek gesek oleh sepatu adidas putih hijau milik teman saya yang jelas jelas kebesaran di kaki saya. (tenang, gatalnya bukan karena bakteri virus jamur racun atau apalah itu)

sementara teman saya itu mengaku sangat membenci saya tadi, karena dia terpaksa menahan malu sangat amat besar ketika berada di bus dalam perjalanan pulang dengan kedua kakinya diselimuti kaos kaki doraemon plus sepatu Natal saya yang berwarna emas.

hihi.

maaf ya Kak, at least sepatunya bukan high-heels kan?

hari ke-5 : dear rommie

ACHAAAAAA!!

pakabar sih lo. hari ini ke gereja gak? bolos lagi ya. haha. seharian ini gue ga mandi loh. rese abis. ini semua gara gara Kangen! gara gara seorang Kim! dasar. masa kemarin dia minta pagi ini ketemuan, SEKITAR jam 10an. gak jelas gitu kan cha jam nya jam berapa. jadi gue tidur santai aja. ehhh pas gue kebangun jam 10 pagi tadi, uda ada sms dari si kangen. minta ketemu saat itu juga. akhirnya tanpa mandi tanpa cuci muka tanpa nyisir (lagi) gue ganti baju dan bergegas ke gereja.

eh iya. gue ke gereja sendiri tadii. sarita ga ikutan paduan suara. dan asli.. di gereja gue uda mau tewas. ngantuk. berasa kotor. ingin pulang. ga betah. ga ngerti. segala macem, nyampur jadi satu. untung pas sell teamnya, pas belajar alkitabnya, rada menarik dan kami ga beneran belajar. cuma ngobrol2, jadi gue ga perlu susah payah melawan rasa kantuk. hihi.

balik dari gereja.. uda jam 7 kurang 15. ga makan deh gue cha. hah. biasanya gue yang ngingetin lo makan kan. huahahaha. semoga lo tetap sehat ya di sana cha. gue lagi dilanda kebosanan yang amat sangat nih sekarang. kamar sempit ini tiba tiba terasa sangat luas untuk gue yang sangat sempit (otaknya).

dan sekarang gue sedang mengunyah kripik kentang. rasanya mirip chitato. nyumm!

hari ke-4 : cerita tentang sahabat

sudah hampir sebulan kami sama sama menjadi orang aneh. aku tau apa yang dia tau, dan dia tau bahwa aku tau apa yang dia tau. ketika bertemu sapa ‘hai’ hanya menjadi formalitas, dan topik obrolan kami sebisa mungkin dijauhkan dari hal keramat itu.

sampai satu saat, telepon berdering.

15 menit sudah kami berbicara tidak jelas, sama sama tidak mau memulai apa yang harusnya kami akhiri saat itu.

‘….’

“yaudalah mon!! jadi mau lo apa??”

‘gue ga mau apa apa kog. kaya gini juga uda cukup. gue cuma sedih kenapa ga dari dulu lo cerita..’

“tapi buat apa gue cerita dari dulu dulu?? justru karena itu gue anggap GA PENTING makanya gue ga cerita sama lo!!”

‘oh, GA PENTING? jadi lebi penting gue tau dari orang lain. tau dari pihak yang ga semestinya?? gue cuma berharap sahabat gue yang cerita sama gue. bukan orang lain. karena gue lebih percaya dia. tapi dia malah ga cerita..’

“tapi itu beneran ga penting mon.. ga perlu diceritain.. karena semuanya juga ga ada yang bener…”

‘….’

dan meledaklah tangis kami saat itu. aku masi ingat gagang teleponku benar benar basah, dan setengah mati kutahan suaraku yang sudah sangat ingin menjerit.

tapi lalu kupikir, kami harus menyelesaikan ini.

“yaudalah ya.. itu uda lewat. ga perlu dibahas lagi. gue malah minta maaf barusan gue teriak teriak sama lo.. hehe.”

‘hmm iya mon. sori juga ya. mustinya gue cerita sama lo dari dulu. emang kurang ngajar tuh dia. gue uda ngancem jangan sampe dia ngomong sama lo, eeehhh ini malah ngadu. gue takut banget waktu itu mon. takut lo marah sama gue..’

“waktu itu emang gue marah. tapi gue marah bukan karena apa yang dilaporkan sama dia. maksud gue, lo mau jadian sama dia juga gue ga peduli. bukannya gue ga peduli sama lo.. cuma yaa… maksud gue,, gue cuma butuh lo yang cerita sama gue. bukan dia. tapi uda ah, ga usa dibahas lagi!”

‘hoho. iya. benci banget sekarang gue sama dia.. dasarr laki laki tidak tau diri..’

“eittss ga usa disebut sebut dehh. yauda. mau pergi kan lo sama kakak lo?”

‘yep. blitz megaplex. nontonnnn hahaa..’

“ahh curang bangettt!! ikuttt hehehe”

dan dunia pun terasa lebih indah.

“Whoever says Friendship is easy has obviously never had a true friend!” (Bronwyn Polson)