God wants you to know

Today, Sangalian Jato, we believe God wants you to know that …

it is also important to know what you do not want.

Sometimes when you go through a period of great difficulty and struggle, it is so that you can finally realize what you do NOT want in your life. Then finally, at long last, you can embrace what you DO want.

 

Sometimes gue penasaran yang bikin aplikasi facebook ini siapa sih? messagenya SELALU tepat sasaran. hohoho!

And just after I published my last post..

This UpWords email popped up in my inbox telling me just exactly what I need to hear.

You Have Hope

by Max Lucado • June 24

For many, hope is in short supply. Hopelessness is an odd bag. Unlike others, it isn’t full. It’s empty, and its emptiness creates the burden. Unzip the top and examine all the pockets. Turn it upside down and shake it hard. The bag of hopelessness is painfully empty! Not a very pretty picture, is it?  What would it take to restore your hope? One comes quickly to mind…a person.  Not just any person. You need someone to look you in the face and say, “This isn’t the end.  Don’t give up.  There’s a better place than this.  And I’ll lead you there.”

David, in Psalm 23, used these words, “He restores my soul.”  God majors in restoring hope to the soul. Please note that you always have hope!  Psalm 121:7 says, “The Lord will keep you from all harm—He will watch over your life.” He’s the perfect one to do so!

From Traveling Light

Day 5 : Your Views on Religion

Lahir di keluarga yang sangat menghargai keragaman budaya dan agama, saya dari kecil merasa bahwa agama lebih ke arah… ajaran.. dan aturan… dan gaya hidup. Saya merasa demikian karena kalau ditanya soal belajar agama, pasti saya ingetnya tentang pengalaman gimana saya dulu sekolah minggu, dites ayat ayat hafalan sama bu guru, belajar buat ulangan agama di sekolah, sampe ngafalin tata cara ibadah agama lain.

Mengapa bisa begitu? Karena walaupun keluarga saya Kristen Protestan, saya dari kecil selalu masuk sekolah Katolik dan somehow teman teman saya juga banyak yang Katolik. Saya inget pernah ada satu titik dalam hidup saya di mana saya lebih hafal jenis jenis sakramen dalam agama Katolik daripada istilah istilah dalam Kristen Protestan. Sampai sebelum saya ke Korea ini bahkan saya masih suka salah baca Doa Bapa Kami di gereja karena kebolak balik sama versi Katoliknya. Heheh dan pas SMA dulu, secara ajaib sekolah saya yang keren itu nggak ngajarin agama Katolik secara khusus melainkan ngasih pelajaran Religiositas, yang intinya adalah membahas sebuah topik tertentu tiap minggunya dan kemudian dilihat dari sudut pandang masing masing agama. Misalnya, topik minggu ini adalah pernikahan. Yaaaaudah, dibahas deh pernikahan di agama Islam gimana, maknanya dalam ajaran Buddha gimana, yang harus disiapkan sebelum melakukan pernikahan itu dalam versi Kristen apa aja, dan seterusnya. Saya inget di buku pelajaran saya itu dibahas juga tentang sudut pandang dari agama Kong Hu Cu ehuhehe.

Kalau dipikir pikir agak keren sih waktu itu, di saat sekolah lain memfokuskan agama dalam satu ajaran saja, kami gadis gadis yang hobinya duduk sembarangan di lantai ini malah dipaksa membuka mata akan enam ajaran agama yang ada di Indonesia. Eh wait, ada animisme dinamisme juga kah waktu itu? O.o hmm agak lupa.

Tapi ya anyway.. dengan semua keabsurdan dan pencampuradukan ajaran agama itu untungnya itu nggak bikin saya malah ragu sama Tuhan. Karena saya tau Tuhan yang saya andalkan itu datang ke dunia pure untuk mengajarkan cinta kasih, bukan bawa bawa label agama tertentu, atau dalam hal ini agama Kristen. Hehehe lagipula… kalau memang ada satu hal yang bisa saya simpulkan dari semua yang sudah saya resapi selama hidup saya yang bahkan belun seperempat abad ini (YEAY!), itu adalah fakta bahwa….. semua agama mengajarkan kebaikan. Semua agama ingin dunia ini damai macamnya para kontestan Miss Universe yang mencitacitakan world peace. Nggak ada agama yang ngajarin perang, nggak ada agama yang ngajarin cara memaksa orang untuk pindah ke agama lain.

Topik yang berat, I know, apalagi mengingat saya menulis ini via HP dalam penantian saya boarding di airport hihihi. Nggak nggak.. bukan mau pulang ke Jakarta kog. Cuma mau kabur sebentar dari Seoul. Anyway, have a blessed day and happy happy weekend semua!

ps: Why am I writing this? Click here to see the full story.

Today, you should take a vacation from worries.

Gue subscribe app Message From God di fb, dan surprisingly setelah sekian lama nggak ngecek notifnya, kali ini message yang dateng sangatlah menyenangkan. Hihih sometimes I wonder apakah bener yang buat aplikasi ini Tuhan yak…

Today, Sali, we believe God wants you to know that …
today you should take a vacation from worries.

Take this moment to conjure up a fond memory. A time in your life when you were content and happy. Dwell on that moment for a while, let those feelings of contentment permeate your soul. Today is a good day to be content, so take a vacation from your worries.

Happy Sunday!

Malam yang sangat emosional – 외국인예배 terakhir

Aneh rasanya ngepost beginian untuk publik, tapi iya malam ini saya mewek sejadi-jadinya pas kebaktian bersama anak indo di sekolah alias 외국인예배 (tergerak sih pengen banget ngepost tentang ini dan kasi foto-foto tapi malam ini terlalu larut).

Seinget saya (dan seinget temen-temen saya) saya belom pernah nangis di depan umum karena saya super anti akan hal itu, tapi tadi itu buset deh… kalo ga inget hari ini pake eyeliner dan dress bagus kayanya itu mata udah saya kucek kucek dan ingus udah saya peperin di mana mana deh :$

Hahaha ga sejorok itu juga sih cuma yah, saya bener bener ga tahaann. Mengawali minggu ini rumet saya udah bilang “wah hari senin terakhir lo di busan nih sal”, terus tengah tengah minggu saya udah panik peking sana sini tapi belom kelar kelar juga, dan sekarang udah hari JUMAT, artinya satu minggu sudah hampir habis dan waktu saya bener bener lenyap bentar lagi. EMO TOTAL ㅜ____ㅜ

Emang sih saya belum tanda tangan kontrak, belum dapet rumah, dan visa pun belum diurus, tapi yah dengan doa dan iman saya mempersiapkan diri aja deh untuk meninggalkan Busan, which is susah bener soalnya semua bener-bener berasa serba terakhir :”(

Kembali lagi ke cerita awal, iyah jadi hari ini adalah acara 외국인예배 terakhir saya. Dari kemarin adik kelas saya udah suru hari ini pake baju bagus, dan tanpa menolak saya mengiyakan perintah mereka, karena saya tahu ini adalah 외국인예배 terakhir saya.

Terakhir.

Men… terakhir. Saya masih bisa inget 외국인예배 saya yang pertama, dengan ada kakak kelasnya Daniel, Jeany, plus kakak-kakak UPH. Saya masih bisa inget 외국인예배 saya di kelas dua, ketika ibu saya datang dan saya bertugas main piano. Saya masih bisa inget 외국인예배 saya di tahun ketiga, ketika kami dapet tempat yang super nyaman dengan grand piano tapi suatu malam digedor tetangga ngamuk sampai kami semua ketakutan. Dan ofkors.. saya juga inget 외국인예배 mengawali tahun keempat saya semester lalu, yang tidak bisa saya hadiri karena saya cacar!! (ga hadir tapi kog inget ya? hehehe)

Cuma yah.. memori-memori itulah yang keflashback di otak saya ketika Novel rame-rame ngajak kami semua berdoa untuk anak-anak tahun keempat yang akan segera lulus. Dan pas dia secara khusus menyebut nama Sali dan Karen yang minggu depan udah meninggalkan Busan, wetsss air mata mulai berlinang. Ditambah lagi pake acara nyanyi 이 시간 너의 맘속에 (kapan2 saya post lirik dan translate-annya, kalo ga lupa :D ) bersama, aduuh mewek wek wek. Dan emang adik-adik kelas tega.. pas air mata udah kering, tetep aja ya endingnya pake acara peluk-pelukan sama semua orang. Oh tidak. Gue pun langsung meledak pas meluk tante Seo, dan dilanjutkan pelukan pelukan lainnya.

Hiks :'(

I feel so much loved, aaand blessed. Thank you Jesus, dan terima kasih teman teman serta adik adik kelas yang manis. Mari tidur dengan hangat.

Tuhan yang baik dan Sali si beruntung

Postingan berikut ini terinspirasi dari hasil percakapan saya malam ini dengan seorang teman, tentang masa kecil saya (masa SD sih lebih tepatnya) yang setelah saya pikir pikir sangatlah… beruntung (kalau pakai bahasa manusia) alias luar biasa terberkati (kalau pakai bahasa yang sedikit lebih rohani). Iya, Tuhan sangatlah sayang sekali pada saya sehingga Dia benar-benar tidak pernah membiarkan saya mengalami kejadian kejadian buruk, sampai detik ini. Berikut adalah penjelasan mengapa saya bisa bersaksi demikian:

1. Saya gak pernah nyasar – as in bener-bener nyasar sampe ga bisa pulang ke rumah

Sedikit cerita latar belakang tentang masa SD saya, saya pernah jadi anak baru EMPAT kali ketika SD, dikarenakan pekerjaan ayah saya yang mengharuskan kami pindah pindah kota. Salah satu kota yang saya tinggali adalah kota Bandung, dan rumah saya di ujung Ciumbuleuit sana sementara sekolah saya adalah di jalan Jawa, dago ujung sananya lagi. Sekarang sih jarak rumah dan sekolah saya mungkin udah jadi super dekat, karena kalau naik mobil tinggal duduk manis merem dan pas melek nyampe. Tapi ketika saya masih kelas 3 SD dulu saya harus 2 kali naik angkot, memakan waktu 1 jam perjalanan saja (2 jam kalau bolak balik), dan tentu saya pergi pulang sendirian tanpa ibu saya menemani. Kalau emang saya lahir di desa pedalaman pulau manaa gitu mungkin masih sedikit masuk akal ya, rumah sama sekolah satu jam perjalanan lewat hutan gunung lembah gitu dan gak pake nyasar, kan anak desa patut diakui jauh lebih berani dan cerdas daripada anak kota. Tapi kalau orang kayak saya yang gampang banget nangis ini dilepas di kota yang kejam tanpa GPS dan peta (waktu itu Dora belom ada) dan gak pernah satu kali pun nyasar, apalagi namanya kalau bukan berkat Tuhan Yang Maha Kuasa? Owyeah.

2. Saya gak pernah dijambret, dipalak, diperkosa, apalagi diculik  (AMIT AMIT)

Masih berkaitan sama cerita di atas, saya teh gak pernah diantar jemput pas sekolah. Okelah pas kelas 1 SD mungkin saya dijemput seseorang (enggak tau siapa) atau pulang sama kakak saya (tapi jujur ingatan saya samar-samar sih kalau pas kelas 1). Tapi pas saya kelas 2, 3, 4, 5, 6, SMP 1, 2, 3, SMA 1, 2, 3, … tentu saja saya pulang sendiri. Rasanya pernah sih pas SMP kelas 1 kah.. atau kelas 2 gitu, kami sempet punya supir, tapi ga bertahan lama. Jadi bisa disimpulkan interaksi paling banyak yang saya lakukan di masa sekolah saya adalah dengan supir angkot dan abang bajaj! Saya gak doyan shopping dan saya gak bisa nawar baju, tapi saya paling jago nawar bajaj. Saya mungkin ga bisa ngafalin istilah biologi dan rumus-rumus fisika, tapi saya (dulu pernah) hafal nomor-nomor angkot dan bus di Bandung maupun Jakarta. Bukan hal yang membanggakan sih, tapi yaudalah.

EH iya jadi balik lagi ke ide utama point kedua ini, walaupun saya sering banget sendirian mengarungi kejamnya kota-kota besar di Indonesia, saya gak pernah sekalipun dijahatin sama orang tak dikenal. Padahal kalau dipikir-pikir astagaaa berapa besar itu resiko gue dijadiin mangsa orang orang jahat di luar sana?? Anak gadis bertampang manis berkeliaran sendirian ke sana ke mari…. ah memang ada Tuhan yang jaga sih ya :D

3. Saya gak pernah didatengin orang-orang aneh ke rumah

Kan banyak tuh di berita berita, kejahatan yang tiba-tiba ada orang gak dikenal masuk ke rumah terus nyuri lah, ngebunuh lah, bakar rumah lah (mulai berimajinasi) dan lain sebagainya. Nah mungkin untuk sebagian besar orang point saya yang ketiga ini terdengar gak terlalu penting, karena kalian juga gak pernah dapet kasus aneh-aneh di rumah sendiri, dan toh namanya juga rumah, supposed to be the safest place in earth dong ya.

Tapi berbeda dengan kasus saya saudara-saudari. Saya sering banget sendirian di rumah. Bangetnya kayak.. banget. Sendiriannya kayak… sendirian (apa sih). Hehe tapi maksudnya beneran, gak tau kenapa, keluarga saya teh suka iseng banget ninggalin saya sendirian di rumah. Dan rumah saya kan di kota besar yang jahanam itu ya, even di kota kecil pun segala sesuatu bisa terjadi, apalagi di ibukota yang tingkat kriminalitasnya luar biasa tinggi dan terbilang kreatif itu? Jadiii sekali lagi saya merasa beruntung, dan bersyukur, selama saya sendirian di rumah tanpa gembok pager segede dosa dan jampi-jampi apapun rumah dan keluarga kami selalu aman <3

4. Saya gak pernah kecelakaan lalu lintas

Saya pertama kali diajarin nyebrang sama ibu saya kelas 3 SD. Kenapa kelas 3 SD? Karena sejak itulah secara resmi pertarungan saya pulang pergi ke sekolah naik angkot dimulai (sebelum sebelumnya jalan kaki). Kenapa nyebrang aja perlu diajarin? Karena jalannya super besar. Sebesar apakah jalannya? Sebesar jalan utama, dengan kira kira 6 lajur mobil muat berjejer ke samping. Sebesar apakah saya waktu itu? Kecil banget, saya super mungil dulu pas masih SD. Emangnya ga ada zebra cross atau jembatan penyeberangan? Dude, ini Indonesia.

Nah jadi, dengan perjuangan setengah hidup berlalu lalang di tengah padatnya lalu lintas kota-kota besar, saya merasa tidak tersenggol mobil ataupun terlontar dari dalam angkot keluar merupakan sebuah prestasi tersendiri. Kalau betis kena knalpot motor itu kan bukan kecelakaan lalu lintas ya, jadi itu ga perlu diitung. Tapi untuk kasus bener-bener ditabrak mobil, atau bus, atau truk, itu puji Tuhan tidak pernah saudara-saudara! Saya ga bilang mata saya jeli jadi bisa menghindari semua kendaraan-kendaraan itu, tapi yang pasti saya merasa banget dijaga sama yang di atas. Dan perlindungan ini masih berlaku hingga hari ini. Dalam hal mengendarai mobil sendiri pun puji Tuhan tidak pernah nabrak makhluk hidup kecuali rumput. Pernahnya nabrak portal besi >.<

 

Okey saudara-saudari itulah tadi 4 hal yang saya syukuri berhasil saya lewati sepanjang hidup saya. Sekali lagi tujuannya bukan buat nyombong tapi buat mengingatkan diri sendiri betapa Tuhan sayang sekali sama saya :) Hehehe dan Dia juga pasti sayang sama kalian semua. Saya gak pernah kog doa secara khusus supaya dijagain pas lagi nyebrang jalan, atau supaya gak salah naik angkot pas mau ke sekolah, tapi Dia sudah tahu kebutuhan saya tanpa saya perlu bilang lagi.

Dan sebelum saya semakin panjang berceloteh gak jelas malam ini (karena saya merasa postingan ini banyak komen-komen ga jelasnya, seperti salah satunya ini yang sedang saya tulis) mari kita sudahi hari Senin yang indah ini dan bergegas menuju peraduan. Good night, world.

Doa termanis dari adik yang manis

kak sali.. aku terharu….:) aku berdoa semua bakat n talenta yg Tuhan percayain buat hidup kak sali semua boleh dipakai sempurna dalam destiny Tuhan yg Tuhan tetapin dalam hidup kak sali…

God bless kak sal!

— hehehe email singkat itu benar benar membawa senyum super lebarr di muka saya seharian ini

A Self Reminder

My beloved,
I know you become frustrated when I don’t tell you what to do. But it is because I love you and gave you a free will. I didn’t make you to be a robot. And that is why I understand when you are weak.

Love,
God

– Sena, July 26, 2011