Ganti Baju Setelah Sekian Lama…

Ntah kenapa akhir-akhir ini keinginan gue untuk cuap-cuap di blog melunjak lagi. Dan mumpung hasrat itu ada, sekalian lah ya gue “ganti baju” alias ubah theme setelah bertahun-tahun tampilannya gitu-gitu aja hehehe.

Anyway, random and quick updates for today:

  • Hari ini Selasa, 18 April 2017. Saat gue mulai mengetik blog ini, kerjaan hari ini udah beres dan gue lagi menanti waktu pulang untuk bergegas ke Sarinah bertemu dengan Bania, Obi, dan Feyusu. (ps: Feyusu is getting married!)
  • Kemacetan ketika berangkat ke kantor tadi pagi dimulai dari depan apartemen. Jakarta akhir-akhir ini macetnya luar biasa dan luar binasa. Di mana-mana dan sungguh tak terduga. Gatot Subroto MT Haryono udah kayak neraka, dengan Pancoran jadi titik pusatnya. Satu hal yang bisa menguatkan hati gue setiap kali bengong kepanasan di tengah polusi Jakarta adalah, “For a better Jakarta,” dan disusul oleh, “This too shall pass…”
  • Besok, 19 April 2017, adalah Pilkada putaran ke-2. Antara Pak Ahok dan Pak Anies. Gue ga usa lah ya ikut-ikutan ngomongin politik? Udah bosen juga jadi anak IM ditanyain mulu sekarang dukungnya yang mana :p Jadi biarlah hari esok segera berakhir dan berlalu, karena siapapun Gubernurnya yang penting KRISTUS SUDAH BANGKIT *EDISI HOLY*
  • Ohiya kenapa barusan gue nulis edisi Holy, karena memang Paskah baru saja terlewati hari Minggu yang lalu. Yang spesial di Paskah ini adalah, ehm, kami ibadah sekeluarga dan makan malam bersama habis itu. Kenapa spesial? Karena udah lama banget ga gereja dan makan bareng. Maklum anak durhaka ini jarang pulang….
  • Hari ini Selasa, 18 April 2017. Saat gue mengetik ulang kalimat barusan waktu pulang sudah tiba dan gue bisa bergegas meninggalkan kantor! Ini priviledge, karena bekerja di bawah pemerintahan bos Korea ga setiap hari bisa pulang on time. Yang ngerti coba angkat tangan! :)

Selamat nyoblos ya, Jakarta!

Closing Down The Year – Goodbye 2014

Cukup dua kata untuk mewakili 2014: SUPER CEPAATTT!!!!

Tiap tahun ketika sudah saatnya saya membuat postingan berjudul yang sama seperti di tahun 2012 dan 2013, memang sih saya selalu mengawalinya dengan kata-kata serupa yang menyiratkan bahwa satu tahun itu sebenarnya bukan waktu yang lama (kalau kita sudah sampai di penghujungnya). Tapi khusus untuk tahun 2014 ini, sungguh dari lubuk hati paling dalam, saya merasa waktu berjalan terlampau ekspres.

Terutama 6 bulan terakhir :D Mungkin ini efek-efek hidup di pedalaman yang ngga ada sinyal dan baru bisa tersambung dengan dunia luar satu bulan satu kali aja kali yah… jadi saya berasa hidup di 2 dunia berbeda yang sama-sama di fast forward..

Dan ketika akhirnya saya sampai di titik akhir di tahun 2014 ini (bahkan sebenarnya ini udah hari pertama di tahun 2015 -__- ) saya tidak bisa berhenti tersenyum mengingat kembali setahun yang lalu dan membayangkan betapa baiknya Tuhan pada saya, dan kita semua. Berikut adalah se per sekian dari banyaaaakkk sekali hal yang saya syukuri di tahun 2014..

1. Kakak laki-laki menikah, membuat keluarga kami semakin melebar dan bertambah besar :)

2. Berkesempatan bekerja di perusahaan Korea di Jakarta…

3. …. dan ternyata sangat menikmati pekerjaan tersebut

4. Jalan-jalan ke Korea lagi!!

5. Belajar banyak tentang kasih, memaafkan, dan bertahan hidup.

6. Dapet keponakan yang sangat cantik <3

Rei Molad Kaunang
Rei Molad Kaunang

7. Sehat, jasmani dan rohani. Penyakit paling parah “cuma” penyakit kulit gatal-gatal..

8. Keluarga pun sehat dan dalam keadaan baik. Begitu pula dengan kucing-kucing.

9. Masih punya tabungan, masih ada rezeki untuk jajan-jajan cantik dan bayar tagihan HP.

10. Ikut Indonesia Mengajar, yang cukup merangkum jutaan pengalaman, cita-cita, dan rasa syukur saya sepanjang hidup.

SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu
SDN 17 Nanga Bungan, Kapuas Hulu

Khusus untuk poin ke-10 di atas, rasanya ngga berlebihan kalau saya bilang bahwa saya sedang hidup di mimpi saya sendiri. Dua tahun lalu saya pernah menulis postingan berjudul “Where you’d like to be in 10 years” dan secara impulsif saya menebalkan kalimat “hidup di pedalaman, sibuk bermain air dan bergelantungan di pohon” padahal ketika itu saya masih sedang meniti karir (tssah) di Seoul. Postingan tersebut saya lanjutkan dengan tulisan lain berjudul “What you’d like to do in 10 years” yang ternyata dengan jelas menyebutkan kerinduan random saya untuk volunteering ke pedalaman Indonesia.

(Untungnya) Nggak nyampe 10 tahun, saya beneran bisa merasakan jadi Tarzanwati. Yang mana hal ini membawa saya ke jutaan rasa syukur lainnya, seperti kesempatan mendaki gunung untuk pertama kalinya, bersahabat dengan alam, memiliki sanak saudara dan keluarga baru di sebuah tempat yang jauh dari rumah, belajar untuk mandi dan hidup dari sungai, dan pastinya tersinpirasi dari guru-guru pilihan dan puluhan anak-anak terbaik di hulu Sungai Kapuas.

Para Ibu Guru
Para Ibu Guru – Harap maklumi ekspresi muka saya ya *.*

Jadi… seiring dengan habisnya tahun 2014, saya juga ingin sekalian menandai beberapa poin tambahan yang telah berhasil dicapai di postingan 25 Before 25, seperti misalnya:

4. try an adrenaline sport : DONE! –> rafting tiap kali milir mudik dari desa ke kota kayanya cukup memicu adrenalin

19. camp under the stars : DONE! –> waktu kemping Pramuka sama anak-anak! dan juga pas pelatihan Wanadri sih tentunya…

dan juga pencapaian lainnya dari Things to do before 30, yakni…

41. ridden a motorcycle : DONE! –> hore saya sekarang bisa bawa motor! Tapi cuma di Putussibau ya… kalo suru bawa motor di Jakarta kayanya prefer jalan kaki sekalian deh…

dan bonus, ridden a 40 pk longboat : DONE!–> ga berani lewat riam, tapi lumayan lah pengalaman baru nyetir perahu..

Huhehe akhir kata, terima kasih Tuhan, terima kasih semua, terima kasih 2014. Bye-bye.

Bye 2014!

[Sahabat Pena-an Yuk!] Sekolah Paling Selatan vs Sekolah Paling Hulu

Melanjutkan “proyek” menulis murid-murid saya di kelas 3 SDN 17 Nanga Bungan yang telah saya post di sini, bulan lalu saya mendapatkan “balasan” video dari rekan Pengajar Muda di SD GMIT Oeulu, Rote Ndao.

Lucu sekali melihat anak-anak di belahan Indonesia lain terkagum-kagum melihat dahsyatnya sungai Kapuas dan perjuangan anak-anak saya untuk mudik ke desa di hulu. Tapi mungkin ini sama halnya seperti kami terkagum-kagum melihat indahnya pemandangan Rote yang air sama langit warna birunya saingan -__-”

Video ini belum sempat saya perlihatkan kepada anak-anak karena gurunya masih nyangkut di kota >.< Tapi bisa dijamin nanti mereka pasti girang mengetahui surat mereka benar-benar tiba di pulau paling selatan Indonesia dan dibaca oleh teman-teman baru mereka.

Terima kasih Pak!

Dan, masih seperti iklan sebelumnya, kalau mau ikutan menambah keceriaan kelas kami dan berkenalan dengan anak-anak luar biasa dari hulu sungai terpanjang di Indonesia tolong kasi tau saya ya :)

ps: video dan semua-muanya credit to Farli Sukanto

Surat untuk Hujan

Jumat, 18 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

Dear hujan,

Terima kasih sudah membasahi sekujur desa kami. Kemarau yang panas mendadak terasa sejuk dengan kedatanganmu.

Dear hujan,

Terima kasih sudah mengisi bak penampung air di belakang rumah saya. Kini persediaan air untuk cuci piring dan kamar mandi saya lebih dari cukup hingga waktunya milir kembali ke kota. Saya pun bisa cuci kaki dengan leluasa dan tidak ragu-ragu mem-flush toilet saya dengan air yang banyak.

Dear hujan,

Terima kasih sudah memuntahkan banyak sekali air di desa kami. Malam ini listrik kami tidak redup seperti beberapa hari sebelumnya, dan menurut perkiraan rekan guru saya ini pasti karena debit air di bendungan cukup untuk memutar turbin di pembangkit listrik kami. Semoga dengan begini laptop saya tidak pernah meledak karena tegangan yang naik turun.

Dear hujan,

Terima kasih telah memberikan sensasi baru dalam sejarah kehidupan permandian saya. Baru pertama kali ini saya mandi sore di sungai terpanjang di Indonesia sambil diguyur hujan deras sehingga saya serasa mandi di bawah pancuran supeeeerr besar. Angin dan kabut yang dibawa serta oleh dirimu juga menambah sensasi mistis ketika mandi. Ingin rasanya mandi sambil bawa kamera untuk mengabadikan momen berharga tadi, tapi untung akal sehat saya masih bekerja jadi saya urungkan niat tersebut. Nanti kalau saya sudah punya plastik anti air untuk kamera dan kebetulan sungai lagi kosong, turun lagi ya! ^.~

Dear hujan,

Terima kasih telah memperingatkan saya akan bahaya baru yang bisa saya temui di tempat ini, yakni…….  pacet. Jujur ya hujan, saya takut pacet. Mau dia pacet kecil, pacet sedang, pacet besar, semuanya saya takut. Dan berkat dirimu yang datang dalam jumlah besar hari ini, segala jenis pacet pun bermunculan dan salah satunya dengan asyik nangkring di kobokan tempat sunlight dan sabut cuci piring saya berada tadi. Dan kamu mau tahu sesuatu, hujan? Saya paling hobi cuci piring. Jadi bisa bayangkan apa yang terjadi ketika dengan riang gembira saya memenuhi ember cuci saya dengan air yang melimpah, mengambil sabut, memasukkan segenap tangan saya sepenuh hati ke dalam air bersunlight, dan mengobok-ngobok mangkok tersebut siap mengusap-usap piring beling di tangan kiri, lalu tiba-tiba ada pacet gendut menggeliat di jari manis  tangan kanan saya?

Sensasinya luar biasa mengerikan, hujan. Luar biasa mengerikan. Saya menjerit dan serentak meletakkan piring dari tangan kiri saya. Untung lantai rumah saya dari kayu, hujan. Jadi piringnya tidak pecah. Dan lebih beruntung lagi karena tangan kanan saya berlumuran sunlight, jadi pacet jahat itu langsung lepas dan lanjut menggeliat-geliat di piring kotor lainnya. Ya ampun hujan….. tragis….. 나 미치겠어 정말 ㅠ.ㅠ

Tapi hujan,

Seburuk-buruknya dirimu, setega-teganya dirimu telah membuat pacet bermunculan, saya tetap berterima kasih telah disambut dengan cara yang manis di tempat ini. Sepanjang hidup saya pernah menetap di beberapa tempat yang berbeda, namun saya tidak pernah ingat hujan pertama yang turun ketika saya tinggal di Bandung dulu, ataupun hujan pertama ketika kami pindah kembali ke Jakarta, atau hujan pertama di Cileungsi, dan bahkan hujan pertama saya di Korea.

Namun rasanya hujan pertama saya di Nanga Bungan ini akan saya kenang selalu. Sensasi girangnya melihat bak penuh, sensasi mandi di bawah pancuran raksasa dengan suasana Silent Hill, sensasi paniknya mengobok-ngobok mangkuk berpacet…. semuanya super!

Langit di Hulu Kapuas ini memang selalu menyimpan banyak keistimewaan ya, hujan? Kemarin malam lautan bintang memayungi desa kami dengan sangat terang, dan malam ini giliran dirimu yang akan menemani tidur kami sepanjang malam.

Jangan terlalu heboh ya turunnya, hujan. Please turun secukupnya saja supaya saya juga tidak menggigil kedinginan. Dan besok sekolah kami ada jadwal olahraga, jadi kalau bisa besok gantian sama matahari ya eksis di langitnya :D Supaya kami bisa senam riang anak Indonesia tanpa berbecek-becek ria. Hehehe.

Selamat tidur, hujan.

“Baru saja berakhir, hujan di sore ini..”

Ooh ternyataaa….

Rabu, 16 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

View from the Top

  1. Hari pertama sekolah itu ga cuma bikin gugup muridnya, tapi juga gurunya :3
  2. Jika murid-murid tampak kebosanan atau sibuk sendiri di kelas, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bisa jadi emang gurunya ga bisa me-manage kelas…. (sigh)
  3. Harus masuk sekolah jam 7.15 dan baru mandi jam 7 itu bukan ide baik. Agak malu juga begitu keluar rumah pake kain dan bawa ember mandi terus ketemu murid-murid yang udah pake seragam rapi nggak sabar mau mulai sekolah…
  4. Anak-anak pedalaman juga hafal marsnya Jokowi. Dan juga Prabowo. Dan mereka tahu istilah Pemilu Legislatif!! Terharu…
  5. Bahasa Korea sama bahasa Bungan beda-beda tipis. Banyak eo eo nya… ehuhehehe.
  6. Buku itu benar-benar jendela dunia. Setelah bertahun-tahun hidup dengan kemewahan internet lalu tiba-tiba kemewahan tersebut direnggut, saya sangat bersyukur ada banyak buku bacaan di rumah dan sekolah untuk bahan belajar dan mengajar. Terima kasih ya wahai penulis, penerbit, donatur, dan para pengantar buku-buku tersebut. Saya berhutang budi *salim*
  7. Tokek tuh bentuknya begitu!! Omg cicak versi gede….
  8. Sejernih-jernihnya air sungai di hulu tetep aja lebih jernih air hujan. Dan gue ga pernah sadar betapa pentingnya air hujan dalam hidup gue sampe sekarang :3 Kayanya balik ke Jakarta nanti gue bakal dikit-dikit bawaannya sigap ngeluarin ember penampung air deh kalau hujan turun..
  9. Pelajaran Fisika soal listrik dan teman-temannya itu sangat.. sangat… penting!! Terutama kalau lo berniat tinggal di rumah sendiri. Dan rumah lo ngga dialiri PLN jadi ngga bisa kapan saja protes ke PLN terus mas-masnya dateng.
  10. Begitu pula dengan pelajaran Tata Boga.
  11. Dan juga pelajaran olahraga, terutama bagian permainan volley. Ini khusus kalau lo mau hidup di Hulu Kapuas seperti gue sih, or else lo bakal jadi lawakan satu desa berusaha ngejar-ngejar bola dengan gaya yang nggak masuk akal di tengah lapangan sore-sore.
  12. Berenang juga penting! Dan yang gue maksud di sini bukan berenang cantik di kolam, melainkan berenang melawan arus. Ini sangat-sangat krusial kalau lo mau bonding secara cepat dengan anak-anak pedalaman Hulu Kapuas ketika main hanyut (=main arung jeram tapi tanpa perahu, alias orangnya aja gitu hanyut di antara jeram berbatu dan berarus).
  13. Bakar sampah itu ada triknya. Bakar yang mudah terbakar dulu, dan dari bawah. Sia-sia lo berusaha bakar tumpukan paling atas; udah girang liat apinya besar menari-nari terus lo baru sadar yang kebakar bagian atasnya doang!! (aigooh…)
  14. Duduk sambil nungguin sampah lo terbakar juga ada triknya. Jangan pernah duduk melawan arah angin berembus. Kasian paru-paru dan mata lo. Nyeseknya beda tipis sama pas kelaperan masak nasi tapi nggak mateng sempurna.
  15. Hidup tanpa sinyal tuh gini toh rasanya…… (lalu hening)

Terima kasih untuk hari pertama yang spesial, Bungan.

Tidak sabar untuk bertemu dengan ribuan ternyata-ternyata lainnya :)

 

Apa yang akan selalu sama?

Cikoneng, 8 Juni 2014

“Apa yang akan selalu sama, di masa dua bulan pelatihan, satu tahun penempatan, dan bertahun-tahun ke depan?” – Hikmat Handono

Lulus!

sahabat?

cinta?

Tuhan?

harapan?

pilihan?

masalah?

tantangan?

Saya menjawab IYA untuk semua poin-poin di atas.

Tapi saya berteriak paling keras ketika poin ini disebut:

RASA CINTA PADA INDONESIA

Indonesia :)

Empat tahun kuliah plus bonus hampir dua tahun kerja jauh dari tanah air membuat saya kadang bertanya-tanya, apa ya yang terjadi pada bangsa saya?

Di saat orang-orang muda lainnya sibuk berorganisasi dan aktif berpolitik ketika kuliah di dalam negeri, saya malah pura-pura nggak tahu sama keadaan kampung sendiri. 

Di saat saya hepi-hepi volunteering di Korea dan hura-hura ke sana kemari, kog saya malah menjadi relawan untuk bangsa orang lain ya? 

Apakabar bangsa saya sendiri?

Kog mendadak jadi merasa berhutang budi ya?

Dan begitulah terus kurang lebih pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala saya. Sok idealis memang :p tapi jujur pertanyaan-pertanyaan inilah yang akhirnya membawa saya ke keputusan untuk mengikuti program Indonesia Mengajar.

Dan setelah 2 bulan pelatihan intensif alias karantina layaknya kontestan dangdut, akhirnya hari minggu yang lalu saya beserta 74 teman lainnya resmi dilantik sebagai Pengajar Muda Angkatan 8 :)

Rasa bangga menyelimuti saya, tapi rasa takut juga gak kalah menanti di balik itu hehehe.

Yang pasti sih rasa haru biru sudah sangat tidak terbendung ketika pada pelantikan kemarin kami harus maju satu persatu mencium bendera Merah Putih dengan penuh hormat sambil bernyanyi..

Dari yakin ku teguh

hati ikhlasku penuh

akan karuniaMu

Tanah Air Pusaka

Indonesia Merdeka

Syukur aku sembahkan

ke hadirat-Mu, Tuhan

Menuju IM

Berikut highlight kehidupan saya beberapa bulan ini.

1 November 2013 adalah hari pertama dibukanya pendaftaran untuk jadi Pengajar Muda angkatan 8. Langsung buat account di websitenya, tapi seketika juga nyerah pas nyampe di bagian mengisi esai. Kejam sekali sodara sodara,, esainya terlalu panjang, bahkan untuk saya yang (ngakunya) hobi ngeblog. Berhari-hari formulir aplikasi ini tergeletak begitu saja, sampai menjelang 15 Desember 2013 (hari penutupan pendaftaran) saya bolak balik dikirimin email reminder untuk menyelesaikan aplikasi saya :p

Form

Cuma yah anyway saya kerjain juga sih esainya. Daaan… tentunya bukan Sali namanya kalau nggak submit aplikasi di detik detik terakhir…. hahahah ngakunya niat tapi kelakuan minus.

Selesai mengirim aplikasi, saatnya saya nyantai-nyantai nunggu hasil :) Kalau emang udah jalannya ya paling dipanggil interview, kalau enggak ya berarti saya harus mencerdaskan anak bangsa dengan cara lain.

Walaupun sejujurnya agak ngeri juga, karena menurut info yang saya dapatkan, biasanya yang ngirim aplikasi itu ribuan tapi yang dipanggil interview cuma sekitar 300 orang.

Namun ternyataaaa Tuhan berkehendak baik! Hore!

Sekitar 298 pendaftar disaring dari total 9359 aplikasi online. Lumayan bikin nyengir sih sampe tahap ini. Heheh pengumuman resminya bisa klik di website Indonesia Mengajar: Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I Pengajar Muda Angkatan VIII

Tanggal 20 Januari 2014 saya pun ikut Direct Assessment. Seharian penuh saya ambil off dari kantor untuk mejeng di tempat DA yang sudah ditentukan guna mengikuti serangkaian seleksi dari IM. Rangkaian seleksinya sendiri terdiri dari buanyuaaak buanget tahap. Ada presentasi diri, group discussion, interview sepanjang 1 jam lebih, tes psikotes, sampai simulasi ngajar. Kalau diinget-inget ketika itu persiapan saya biasa biasa saja; nggak berlebihan tapi nggak kekurangan juga. Cumaaa begitu hari seleksi tahap 2 itu terlewati rasanya langsung down banget dan pesimis karena saya berasa… performa saya biasa-biasa saja juga. Hahaha lebih lengkap tentang seleksi tahap 2 ini kapan-kapan saya bikinin tulisannya deh, waktu itu saya mengurungkan niat untuk nulis draft karena pesimis lolos :D

Anyway masuk ke pasca Direct Assessment alias seleksi tahap II, saya mulai cemas-cemas harap (banyakan cemasnya daripada ngarepnya) apalagi setelah diberi tahu bahwa pengumuman hasilnya nggak serentak, alias nggak ada tanggal pasti. Beruntung kerjaan saya di kantor juga lagi gila-gilanya, sampe saya “agak lupa” sama Indonesia Mengajar hingga suatu siang saya dapet email ini……

WAAAA GIRANG BUKAN KEPALANG.

Hahah asli deh sebelumnya saya super pesimis, soalnya kandidat lainnya itu keren keren banget pas seleksi tahap 2. Saya bahkan sempet mogok ngomong dan menolak membahas soal kelangsungan Direct Assessment itu sama kakak F :p saking ga yakinnya..

Kemudian tahap terakhir adalah Medical Check Up, yang ulasannya sudah saya post di sini secara implisit hehehe. Sempet khawatir karena menjelang MCU saya pilek agak parah dan terpaksa minum obat pilek, sampe sehari sebelum MCU saya bela-belain minum Bear Brand padahal nggak pernah minum sebelumnya.

Untung saja saya dinyatakan sehat dan email ini pun dataaang……

^_______^

Jadiii….

Tanda tangan kontrak sudah, mengajukan resign sudah.

Berikutnya?

Karantina mulai April 2014. Wish me luck! :)

Kisah di Tengah Minggu

Rabu, 19 Februari 2014

05.00: alarm bunyi untuk pertama kalinya

05.10: alarm bunyi untuk kedua kalinya, seret badan keluar dari selimut

05.11: masuk kamar mandi

05.20: masuk kamar

05.25: berpakaian lengkap

05.30: cari krim muka dan bedak

05.31: baru inget hari ini ga ngantor, taro lagi bedaknya

05.32: ambil jaket hijau, pakai jaket hijau

05.33: baru inget hari ini ga naik ojek, tuker jaket sama yang lebih tipis

05.35: keluar kamar, minum air putih

05.36: cek HP, ada SMS dari bluebird yang udah dipesan atau belum?

05.37: ga ada SMS, bangunin mbak buat bukain pintu pagar

05.40: mbak E terbangun, “kak sali mau ke mana pagi pagi masih gelap gini”

05.41: “mau tes kesehatan mbak,” lalu balik lagi ke sofa main flappy bird

05.43: mbak E nunggu taksi di depan

05.45: masih main flappy bird di sofa

05.47: taksi masih belum datang juga

05.50: telp Bluebird, tanya taksinya mana?

05.53: mbak E nyerah, masuk rumah lagi sambil bilang, “taksinya ga ada kak”

05.54: sali juga nyerah, flappy bird pagi ini masih belom bisa lewatin high score

05.55: ada yang ngebel – supir taksi!!

05.56: berucap pada pak supir, “Kartika Chandra ya pak”

06.10: pak supir bertanya, “turun di lobby mbak?”

06.11: lihat argo, tulisannya 27 ribu

06.12: memaki dalam hati, cih tau gini nggak manggil taksi dan berangkatnya siangan lagi

06.13: keluarkan selembar 50 ribu, dapat kembalian 10 ribu saja

06.14: berjalan ke lobby hotel, cari sofa

06.15: keluarkan hp sambil celangak celinguk

06.16: lobby hotel masih sepi rupanya, main flappy bird saja lah

06.17: masih main flappy brid

06.20: masih flappy bird juga..

06.25: beranjak dari sofa, cari toilet

06.30: kembali dari toilet, lanjut main flappy bird

06.35: bosen main, coba naik ke test centernya

06.37: sampe di tempat medical check up, duduk nunggu lagi sama orang-orang lain

06.38: kenalan sama 2 orang kandidat lainnya: Yudha & Ajeng

06.40: ngobrolin tentang kampus, jurusan, dan angkatan sama Yudha & Ajeng

06.45: sekali lagi dapet pertanyaan, “udah keren banget tinggal di Korea, kenapa pulang?”

06.46: sekali lagi tertawa dan berkata, “udah kelamaan ah, mau liat Indonesia juga”

06.48: dipanggil petugas, disuru isi formulir dan serahkan surat pengantar

06.51: kembali duduk bertiga, tapi tiga-tiganya masih ngantuk

06.52: Ajeng chatting, Yudha twitteran, Sali main flappy bird

06.54: mulai membahas berapa orang yang kami tahu yang lolos ke tahap ini

06.55: satu orang dokter datang, masuk ruangan

07.00: pasien pasien lain datang, ruangan mulai ramai

07.05: satu lagi laki-laki sebaya kami datang, agak-agaknya dari institusi yang sama dengan kami

07.10: bosen

07.11: Ajeng main HP lagi, Yudha masih twitteran, Sali kembali ke flappy bird

07.12: hape lemot, flappy birdnya jadi lelet

07.13: sebel sama flappy bird, masukin hape ke tas

07.15: Ajeng dipanggil masuk, ambil darah

07.18: Yudha dipanggil masuk, ambil darah juga

07.19: laki laki sebaya kami tadi ngeh nama Yudha, dia bangun dan memperkenalkan diri

07.20: namanya Teguh, ternyata dulu Direct Assessment di hari pertama juga, sama seperti gue dan Yudha haha (tapi kog gue lupa ya)

07.24: nama gue dipanggil, masuk ke ruangan ambil darah

07.25: petugas bertanya, “Terakhir makan kapan mbak?” dan gue jawab, “kemarin malam jam 9 mbak”

07.27: darah selesai diambil, disodorin tabung untuk urin

07.29: agak-agak bingung gimana cara masukin urin ke tabung seimut itu? gak dikasi media apa apa?? O.o

07.31: yasudalah…. *lega karena udah nahan pipis daritadi*

07.35: kembali bergabung dengan Yudha dan Ajeng, sarapan! yeay!

08.00: selesai sarapan, nunggu dipanggil lagi

08.15: disuru masuk ruangan periksa mata

08.16: disuru baca tulisan di tembok

08.17: panik karena ga keliatan apa apa. wtf?!

08.18: disuru ganti mata, tetep ga keliatan. serius nih bro??

08.21: perawatnya bilang, “saya kasi note supaya selalu pake kacamata ya mbak”

08.22: berjalan gontai sambil mikir, “kacamata ada sih, tapi males pake……”

08.30: rekam jantung, disuru baring di kasur

08.31: perawat memberi perintah, “rileks, angkat bajunya sampai ke atas dada ya”

08.32: dalam hati, “HAHH?”

08.33: perawat nempelin aneka kabel di sekujur dada, lengan dan kaki

08.34: sempet terbersit pikiran, “ini ga nyetrum kan ya…”

08.35: terus sadar bahwa pemikiran itu bodoh dan kemungkinan besar kakak F bakal ketawa kalo denger itu. dan juga papa.

08.45: dipanggil untuk rontgen

08.46: perawat berkata, “ganti bajunya sama kain ini, beha juga dicopot ya mbak”

08.47: dalam hati, “ini berasa pelecehan deh…”

08.48: tarik nafas, hembuskan nafas, rontgen pun selesai

08.55: tes pendengaran, disuru pakai headset dan pencet tombol

08.56: berusaha konsen dengerin suara di kuping kanan, lumayan sukses

08.57: berusaha konsen dengerin suara di kuping kiri, kog ga kedengeran ya?

08.58: mulai khawatir ternyata gue budek sebelah

08.59: perawat berkata, “bagus kog mbak” lalu kembali duduk di sofa

09.10: masuk ke ruang konsultasi, ngobrol sama dokter cantik

09.11: ditanya-tanya, “sudah pernah hamil? keguguran? aborsi?”

09.12: menjawab, “tidak”

09.13: disambung, “punya penyakit menurun? jantung? kanker? diabetes?”

09.14: menjawab lagi, “tidak,” tapi dalam hati bertekad mengkonfirmasinya kepada ayah ibu

09.15: disuru berbaring di kasur, badan dipencet pencet

09.16: punggung diketok, ditanya sakit atau tidak

09.17: perut dibejek, ditanya sakit atau tidak

09.18: mulai bingung ini sebenernya apa aja ya yang dicek?

09.19: konsultasi dengan dokter cantik selesai, kembali menunggu di sofa

09.25: dipanggil masuk untuk ukur-ukur

09.26: berat badan normal, tinggi 165, tekanan darah 110/70

09.27: disuru tes tiuptiup (spirometry) buat ngecek…. apa ya? yah sesuatu berhubungan dengan paru paru

09.28: diperagain sama perawatnya, “tarik napas pake mulut, hembuskan ke tabung”

09.29: percobaan pertama gagal, ga bisa hembuskan nafas

09.30: percobaan kedua gagal, grafiknya ga sesuai yang diharapkan

09.31: percobaan ketiga lumayan sukses, tapi katanya hembusannya kurang kuat

09.32: perawat curiga, “merokok ya mbak?”

09.33: mulai malu, bilang, “nggak kog mas -_-“ dan meniup untuk keempat kalinya

09.34: selesai, disuru cross check ke meja registrasi

09.36: semua tes beres! disuru tanda tangan

09.40: dadah-dadahan sama Yudha, keluar dari gedung sama Ajeng

09.41: teringat destinasi kedua yakni urus NPWP

09.42: telpon Kring Pajak 500200 untuk nanya kantor pajak setiabudi di mana

09.43: nomornya busy, akhirnya nanya sama om dan tante

09.44: dapet alamat kantor pajak, berjalan ke halte bus

09.47: nunggu Kopaja 66 di halte bus

09.48: yeay busnya cepat datang!

09.49: bayar 3,000 rupiah

09.50: keluarkan mp3 player, dengarkan musik

10.10: tiba di kantor pajak, ambil nomor antrian

10.11: nomor antrian langsung dipanggil. WOW!

10.12: diminta fotokopi KTP

10.13: petugas tersenyum, “mbak, alamat mbak harus urus di kantor pajak setiabudi 2”

10.14: bingung, “lho ini kantor apa?”

10.15: petugas menjawab, “ini kantor pajak setiabudi 1 mbak. mbak keluar aja dari pintu lalu muter ke belakang”

10.16: ambil tas, berjalan memutar ke gedung belakang

10.18: tiba di kantor pajak setiabudi 2, ambil antrian

10.19: ternyata masih harus nunggu 9 nomor antrian lagi. haiyah..

10.25: ngantuk

10.30: bosen

10.35: ngantuk

10.40: bosen

10.45: dipanggil! yeay!

10.46: serahkan formulir dan fotokopi ktp, dapet slip pembuatan NPWP

10.47: disuru dateng lagi untuk ambil kartunya besok

10.48: berpikiran untuk nggak dateng lagi besok, kapan-kapan aja ngambilnya yang penting udah dapet nomornya

10.49: masukkan semua benda ke dalam tas ransel, mulai berjalan menuju rumah

10.50: baru inget perlu ngadu sama mama perihal NPWP, keluarkan hp

10.51: kasitau mama bahwa NPWP udah diurus, tapi nama tetep salah karena sesuai KTP

10.52: mama bilang beliau turut prihatin

10.53: tetep protes kenapa papa ga bantuin ngurus KK dan KTP yang namanya salah

10.54: mama menyerah, diam di whatsapp

10.55: ikutan menyerah, lempar hp ke tas dan mulai menyeberang jalan

11.15: tiba di rumah, ganti baju

11.16: ditanya mau makan siang di rumah atau tidak

11.17: menjawab, “ya”

11.30: dipanggil untuk makan siang

11.31: berjalan ke dapur

11.35: mulai makan siang

11.45: bel berbunyi, adik sepupu pulang dari dokter gigi

11.50: adik sepupu ikutan makan siang

12.00: makanan hampir habis, ditawarin buah apel

12.05: makan apel sebagai dessert

12.06: kunyah apel sambil nonton TV

12.07: di TV ada kisah hidupnya Beyonce

12.08: bingung gimana caranya orang bisa punya suara sekeren Beyonce?

12.09: mulai membahas tentang Destiny’s Child sama adik sepupu

12.10: kenyang

12.15: tinggalkan dapur, beranjak ke kamar

12.20: ambil laptop, masuk kamar

12.30: berbaring di kamar, pangku laptop

12.40: mulai ngantuk

12.41: berasa berdosa habis makan langsung tidur, nggak jadi baring

12.42: ambil hp, duduk di sofa sambil minum air putih

12.43: bosen

12.44: ngantuk

12.45: balik lagi ke kamar, buka Facebook

12.50: ngantuk

12.51: tutup laptop, letakkan di samping kasur

12.52: buka HP, ganggu kakak F lagi kerja

12.53: gangguan kurang efektif, sepertinya sedang sibuk

12.54: masuk whatsapp dari mama, kasi tau bahwa beliau menuju Jakarta hendak bertemu teman

12.55: membalas whatsapp mama cepat

12.56: ngantuk

12.57: letakkan hape

13.00 (kira-kira): tertidur

16.00 (kira-kira): terbangun, balas whatsapp mama

16.01 (kira-kira): tertidur kembali

17.52: ucek-ucek mata, lihat HP

17.53: ucek-ucek mata, lihat jam dinding

17.54: berkata dalam hati, “WOW tidur siang gue pulas sekali”

17.55: keluar kamar, minum air putih

17.57: melihat keadaan rumah yang sepi

17.58: ke toilet

18.00: cek HP lagi, kakak F masih diam

18.01: panggil kakak F, cek apakah beliau masih hidup, “hari ini sibuk banget?”

18.05: “Like hell,” jawabnya singkat

18.08: main hape

18.10: main laptop

18.30: mulai mengetik blog post ini

19.00: masih mengetik blog post ini

19.30: masih belum selesai juga blog postnya

19.31: bingung sama diri sendiri, mau leyeh leyeh aja kog distractionnya banyak

19.32: oom pulang

19.35: masih ngetik, tapi mendadak laper

19.40: tante pulang

19.45: diajak makan malam

19.47: blog post disave dulu di draft

19.50: makan malam

20.20: selesai makan malam

20.30: ngobrol sama anak-anak di whatsapp

20.31: mulai main laptop lagi

20.32: nyalakan skype

20.33: lanjut mengetik

20.55: publish!

Kenapa sih orang harus mengumpat?

Alkisah di suatu sore yang tenang, semua karyawan sedang duduk manis di tempatnya masing-masing sementara pakbos terdengar sedang berdiskusi dengan seseorang di pojok ruangan. Sayup-sayup suara mereka terdengar, dalam bahasa Korea.

Entah orang itu siapa, entah orang itu dari mana, dan entah apa yang sedang mereka bicarakan, tiba-tiba terdengar pakbos berang,

넌 똑바로 설명 안 해??? / jelasin yang bener nggak!!!

니가 말을 제대로 해야 내가 알 수 있잖아 / lo ngomong yang bener dulu lah baru gue bisa ngerti 

나 이 내용 뭔지도 모르고 도대체 어떻게 돈을 달라는거야!! / gue ini apaan juga kagak tau, kog seenaknya minta duit sih

난 무슨 *데 *버뉴 주인이냐??? / lo kira gue yang punya perusahaan ini???

안돼!!! / kagak bisa!!!

… (sayup sayup orang itu menjawab tapi ga kedengeran dari tempat saya)

adegan berikutnya pakbos sudah dalam posisi berdiri dan suaranya menggelegar

왜?? / kenapa?

기분 나빠?? / lo ga suka??

함번 뒤집어질래???  어???? / lo mau gue abisin ya???

… (orang tersebut masih berusaha menjawab dengan suara super sangat kecil)

야!! / heh!!

나가!! / keluar lo!!

pakbos sambil berdiri dan mengarahkan telunjuknya ke pintu

빨리 나가, 시발!!! / buruan keluar, m*nyet!!!

orang tersebut bangun dan beranjak ke arah pintu keluar

야!! 새끼야!!  / anj*ng lu ya emang

시발 새끼…

Maka gelap lah aura kantor sore itu. Kasian sih si orang tadi, dimaki maki di satu kantor. Mungkin dia memang ada salahnya, atau mungkin orang itu juga menawarkan proposal yang nggak masuk akal. Tapi tetep aja sih… punya bos yang perbendaharaan katanya kayak preman pasar gitu lumayan bikin aura kantor jadi ngga enak. (eh tapi ini bos yang berbeda dengan bos colongan sebelumnya kog, kalo yang itu sih kebalikannya banget)

Aigoo……

Kenapa sih orang harus mengumpat?

Selamat Datang Kembali di Jakarta

Delapan minggu semenjak menginjakkan kaki kembali di Jakarta, dua belas hari setelah mencicipi umur baru.

Berikut isi otak saya akhir-akhir ini…

1. Jakarta tuh panas ya.. panasnya pake banget… tapi kenapa ya gak bisa pake celana pendek di Jakarta? Bukan bermaksud sok seksi atau pamer, tapi sungguh deh panasnya gak termaafkan..

2. Kenapa sih Jakarta gak punya trotoar? Dan tempat nyeberang yang bener? Gue ga bisa nyalahin manusia berseliweran di jalan raya dan nyebrang sembarangan lagi sekarang, wong ternyata emang trotoar itu nyaris nggak ada di Jakarta. Dan zebra cross? selamat mencari sendiri.

3. Well sebenarnya jembatan penyeberangan masih banyak sih, tapi jujur naik jembatan penyebrangan sensasinya kayak mau naik halilintar. Serem. Bolong-bolong. Antara takut jatoh dan takut rok gue diintipin orang di bawah (macemnya anak SD banget gue ngomong kayak begini, tapi beneran deh itu tangganya bolong bolong…..)

4. Masih dengan topik berjalan kaki, agaknya fasilitas untuk para pejalan kaki yang nggak terlalu baik di Jakarta ini membuat orang-orang udah males banget kalo musti ke mana-mana jalan kaki. Jarak yang sebenernya deket pun dianggap jauh oleh kebanyakan orang di sini (atau at least di sekeliling gue) dan ini mengakibatkan gue sering banget dapet tatapan aneh dari temen-temen gue kalo gue bilang mau jalan kaki karena toh jaraknya cuma 2 kilo. Misalnya dari ambassador mau ke plaza semanggi, gue ngotot mau jalan kaki dan temen-temen gue mengecap gue gila seraya memaksa gue naik taksi… Hmmm gue yang aneh ya?

5. Nyambung sama poin sebelumnya, mungkin alasan lain orang-orang melarang gue jalan kaki ke mana mana adalah karena udah ga aman lagi sih Jakarta ini. Selain kemungkinan lo ditabrak pas lagi jalan kaki cukuplah besar (again.. thanks to trotoar trotoar yang eksistensinya hampir nol), juga karena lo bisa apa kalo tiba-tiba segerombolan preman menghadang lo pas lo lagi jalan kaki dengan riang gembira? Oke alasan keamanan ini cukup masuk akal sih di otak gue.

6. Dulu gue pikir asap rokok itu udah polusi paling membunuh di dunia. Kebencian gue sama asap rokok sebenarnya cukup tinggi :3 Namun sekarang selaamat! Asap rokok udah turun level! Gue ketemu polusi udara berikutnya yang sangat gue benci akhir-akhir ini.. yakni asap knalpot. Nah jackpot tuh kalo lo lagi nunggu bus di pinggir jalan sambil samping sampingan sama orang orang merokok. Pengen bawa tabung oksigen sendiri rasanya.

7. Kapan ya Jakarta bebas macet?

8. Perasaan dulu pas masi kecil ngerencanain perjalanan di dalam kota Jakarta gak sampe berjam-jam, kenaapa sekarang harus kayak mau ke luar kota gini sih waktu tempuh ke manamana?

9. Gue bahkan sekarang udah sampe di pemikiran bahwa mungkin memang kota ini nggak layak dikelilingi naik kendaraan roda empat. Gue udah sampe di tahap di mana gue mikir bahwa sepeda motor diciptakan dengan tujuan yang sangat mulia (padahal biasanya gue benci banget liat motor kalo lagi di dalam mobil). Pas gue bilang sama nyokap “ma apa sali bawa motor aja ya…” dia cuma jawab setengah ga peduli “terserah“. Sementara abang gue tanpa ekspresi berkomentar “coba aja kalo berani ajuin proposal ke papa, abang aja bawa motor dilarang, apalagi kamu..” yang mana mungkin dia ada benarnya, bokap gue pasti nggak ngizinin. Phew… mungkin sudah saatnya berinvestasi membeli helikopter.

10. Padahal sebenernya Jakarta cantik loh. Coba deh ngebut di sepanjang jalan Sudirman sampe ke Monas. Malem malem tapi yah.. udah gelap dan cuma lampu-lampu kota yang nyala. Hihi pasti bakal lebih cantik lagi kalau pohon pohon itu didekorasi pake lampu Natal warna warni. Ato ga jalan Diponegoro! Sepanjang jalan ini juga pohon pohon cemaranya rindang banget kan. Bakal bagus banget loh kalo dikasi pita pita merah.. atau salju boongan.. atau ya tentunya lampu kelap kelip ^.^ Ah ini mah emang khayalan gue doang.

Happy Weekend, all!

25 days to Christmas, 21 days to December 21 :) :)

ps: foto diambil dari sini http://www.habegraphy.com/?gallery=jakarta