Jogja Klaten – Asep Besta Wedding

Bulan Maret tanggal 26 Maret 2017 lalu, salah satu teman sepenempatan gue di Kapuas Hulu dulu menikah. Namanya Asep, umurnya paling muda di antara kami ber-10, anaknya paling lucu, jurusan kuliahnya Perbandingan Agama (like what? ada jurusan kayak gitu? hahah), tapi kisah asmaranya puji Tuhan lurus-lurus aja sampe akhirnya sukses menikah di Klaten bersama perempuannya, Besta.

Berhubung momen ini akan jadi reunian kami yang paling lengkap sejak sekian lama tidak bertemu, dengan niatnya gue udah pesen tiket dari jauh-jauh hari dong ya. Kalender udah dibuletin, rencana dimantapkan. Dan karena udah tau tanggalnya dari lama, jadi sempet beli tiket kereta deh ke Jogjanya! Excited karena udah lama ga naik kereta dan juga karena murah huhahah. Cuma sayangnya gue ga sejagoan itu naik keretanya yang ekonomi, heheh gue lemah jadinya naik eksekutif saja.

IMG_7900
Argo Dwipangga 10 Eksekutif

Jujur gue norak tapi seneng sih naik kereta. Entah karena emang gue naik kereta yang bagus dan eksekutif atau emang kereta lebih nyaman dari pesawat, tapi ini lapang banget :D Kaki gue bisa diselonjorin ke depan, guling kanan guling kiri ga mentok, kamar mandinya juga bersih dan tidak bau, ya menyenangkanlah. Kebanting banget sama pas naik pesawat pulangnya, dengkul langsung mentok sama bangku depan :))

IMG_7909
Pemandangan dari Kereta

Not to mention pemandangan dari dalam keretanya itu sendiri! Reminds me so much of Kalimantan back then deh. Hijau hijau dan banyak bocah berkeliaran. Cuma bedanya kalau Kalimantan dulu jarang ada sawah, hahaha karena biasanya rawa-rawa gitu. Memang ya tanah Jawa ini tanah penuh berkat, menanam apapun sepertinya sukses. Anyway! Foto di atas adalah satu detik dari sekian puluh menit mata gue melek selama di perjalanan. Karena kalau boleh jujur dalam hampir 8 jam perjalanan kereta itu, sebagian besar gue habiskan dengan tidur nyehehehe. Tidur adalah harta paling berharga saat ini.

IMG_7933
Tourists gotta do what tourists gotta do

Tiba di Jogja, first thing first lah. Ketemu anak-anak ini formasi lengkap! Dari kiri ke kanan ada Erna, Erni, Ican, Linda, Ray, Sali, Gaol, dan Ali. Susi ngga bisa bergabung karena masih sibuk bekerja di kota lain, sementara Tennie harus menjaga Theia anaknya yang baru sembuh dari pilek. 7 dari 10 bisa kumpul, udah lumayan banget kaaaan <3

IMG_7954
The happy couple: Asep & Besta!
IMG_7963
Kami satu untuk Kapuas Hulu <3
IMG_7982
Ican dan kamera barunya :)

IMG_8009

IMG_7949

Plakat beli online di sini

Nikahannya sendiri di Klaten karena Besta asli Klaten. Kami nginep di daerah Kalasan, lalu pagi-pagi naik mobil ke Klaten. Gue sangat berterima kasih pada teknologi karena berkat Waze gue bisa mengantarkan anak-anak ini naik mobil sewaan ke Klaten dengan selamat tanpa nyasar! Hahah.Akad nikahnya sendiri mulai 8.30, dan kami tiba tepat sebelum akadnya mulai. Habis akad lanjut resepsi dan makan-makan, kemudian tentu saja akhiri dengan sesi foto dan nyanyi bareng untuk Asep :)

Kalau udah kaya gini lucu banget rasanya, para Pengajar Muda, meskipun udah lama ga ketemu dan dan ngobrol, begitu ngumpul pasti langsung bawel lagi. Siapa yang berani bilang Indonesia Mengajar itu cuma antek-antek bapake aja yang mau maju politik? Kalau emang ada alumninya yang ikutan politik, ya itu pilihan aja sih. Tapi rasa-rasanya defaultnya PM itu nyampah deh :)) Berisik, ga tau malu, dan paling jago ngerusuh. Jadi gue sungguh sangat setuju kalau slogan Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi itu diganti jadi Setahun Mengajar, Seumur Hidup Keluarga. Because we are <3

IMG_8035
For the first time ever, wisata candi pakai kain! (tapi leggingnya keliatan hahaha)

IMG_8049IMG_8048IMG_8047

Dan setelah selesai kondangan, tentu ga sah nurisnya kalau ga wisata mainstream di Jogja. Sayang Asepnya ga bisa ikut diculik ke Prambanan juga :) Family for life! Yassss!

ps: Mobile invitation Asep dan Besta dibuat oleh Ican dan dapat diakses di sini. Kalau berminat dibikinin yang serupa bisa hubungi gue lalu nanti gue kenalkan ya. Per tanggal 6 April 2017 ini sih anaknya masih single dan available :))

3 Memories You Don’t Want To Erase

Seminggu yang lalu gue ngobrol panjang lebar sama seorang teman yang dengan sangat thoughtful mendownload apps berisi pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab supaya ada topik pembicaraan di antara dua orang atau lebih. Ada banyak banget sih pertanyaannya, dari mulai pertanyaan ringan kayak, “Kapan lo terakhir kali nangis” sampai pertanyaan yang rada-rada musti pake otak seperti, “Gimana caranya lo jelasin konsep Tuhan kepada seorang stranger?

Di antara puluhan pertanyaan itu, ada satu yang gue masih inget karena kebetulan kemarin baru melakukan sebuah hal yang berkaitan dengan jawabannya :D Pertanyaannya kurang lebih, Kalau otak lo diformat ulang dan cuma diberi kesempatan untuk memback up 3 peristiwa, memori apa yang akan lo simpan?”

Dan inilah jawaban gue.

1. Momen ketika gue masih SD, mungkin sekitar kelas 3 atau kelas 4, gue masih sekolah di Bandung, dan pada sebuah kesempatan Natal gue dipilih untuk ikut drama di gereja. Gue inget dramanya waktu itu tentang lonceng-loncengan. Jadi pemerannya ada si Lonceng Besar, ada Lonceng Sedang, ada lonceng ini itu, dan ada gue, si Lonceng Kecil. Gue pemeran utama dong pastinya :D :D Tapi gue inget banget setiap minggu dan beberapa hari sekali dalam satu minggu gue latihan di gereja dengan sangat giat, dengan kadang dianter nyokap (kadang enggak juga), dan waktu itu dramanya adalah drama musikal! Jadi banyak adegan gue nyanyi solo dan gue harus belajar banyak banget lagu.

Gue masih inget betapa bangganya gue jadi bintang utama di hari itu (karena again, gue pemeran utama hahaha) dan pastinya gue inget betapa bangganya mama papa serta abang melihat gue tampil. Sekarang gue ga inget satupun lagu yang gue bawain waktu itu sih, tapi gue masih inget semua excitement nya. Love!

Sayang, gue ga nyimpen fotonya. Padahal gue pake properti heboh kayak lonceng…

2. Peristiwa nenek gue meninggal, 17 Agustus 2002

Temen gue sempet nanya, itu kan peristiwa sedih, kenapa musti diinget-inget terus? Terus gue dengan (sok) wisenya menjawab, “Iya biar gue inget rasanya kehilangan orang yang ternyata sangat menjadi panutan hidup gue. Biar lain kali lebih memanfaatkan waktu sama orang-orang tersayang.”

Btw berkaitan dengan ini, yes, kemarin gue habis ziarah bersama mama ke makam ompung. Sudah 13 tahun dia tidak ada! Tapi rasanya gue masih bisa lihat bahwa mama kangen banget sama mamanya. Kami semua kangen <3

3. Perpisahan di desa Nanga Bungan, 21 Juni 2015

Malam itu gue merasakan kasih yang membludak dari banyak orang yang hingga saat ini sangat gue rindukan. Heheh momen itu juga merupakan puncak dari semua perjuangan selama setahun. Hari di mana air mata gue mengalir deras buanget (gue terisak isak meninggalkan desa dan meninggalkan kabupaten) tapi sekaligus lega karena tahu satu chapter yang paling berarti dalam hidup gue selesai sudah! Saatnya buka chapter baru.

Now, untuk siapapun yang lagi baca ini, I dare you to write down your own list! If could choose 3 memories from your past to last forever, what would they be and why? 

Tanda Tangan untuk Masa Depan

컴퓨터 정리하다가 이 사진 발견했어..

Rapor

Masih inget serunya, beberapa bulan lalu, hitung-hitung nilai anak-anak, kumpulin jejak-jejak catatan perkembangan mereka yang kadang nyelip di tas atau ketinggalan di notes HP, lalu masukin semuanya ke Excel, kemudian dicari apakah berdasarkan angka mereka layak naik kelas atau tidak. Setelah itu baru dipertimbangkan kembali satu per satu, mana yang pantas naik kelas karena sudah benar-benar tuntas belajarnya, mana yang pas-pasan, mana yang perlu diberi catatan kecil di dalam buku rapornya, mana yang harus dipanggil dulu orang tuanya. Prosesnya makan waktu, dan harus muter otak. Padahal murid di kelas saya waktu itu hanya 7 orang. Nggak kebayang kalau murid saya puluhan, pasti butuh effort lebih lagi untuk mengenal anak satu per satu.

Ketika akhirnya tiba di tahap penandatanganan rapor, saya ingat saya tersenyum sendiri. Ini kedua kalinya saya membubuhkan tanda tangan di buku rapor mereka karena semester sebelumnya juga sudah pernah saya lakukan. Itu artinya saya sudah mengajar dua semester! Itu artinya tugas saya sebagai wali kelas selesai sudah. Itu artinya saya harus pulang :”(

Emang rada-rada mellow waktu itu. Semua yang saya lakukan di detik-detik terakhir menjelang kepulangan rasanya berat sekali. Tetangga pun gitu. Lihat saya bawa baju pinjeman ke rumah orang, komentarnya pasti, “Bu Guru udah mau berkemas aja?? Cepat sekali???

Atau kalau saya berlagak selfie padahal mau bercermin doang di HP memastikan muka gatel itu karena digigit agas atau ada jerawat tumbuh, pasti komentar orang, “Mentang-mentang mau pulang Jakarta nih, Bu Guru foto-foto teruuus…

Paling parah waktu itu murid-murid saya yang perempuan. Di hari Sabtu terakhir kami olahraga bersama (which was actually 1 MONTH before my departure… still 1 month left….) saya memutarkan lagu “Terima Kasih Guruku” sebagai iringan musik sebelum kami mulai senam bersama. Lagunya sebenernya bagus, dan nadanya nggak sedih. Sama sekali gak sedih. Tapi tiba-tiba dari pojokan saya mendengar segerombolan anak perempuan tersedu-sedu dengan muka belepotan air mata. Salah satu dari mereka berkata, “Bu Guru, kami sedih Bu Guru udah mau pulang…

Kelas 3
Sali and the 7 dwarfs

Yaah anyway, inti dari cerita saya adalah, sudah hampir 2 bulan berlalu dan anak-anak saya masih suka kebawa mimpi >.< Pengalaman tiba-tiba punya anak banyak memang menjadi sesuatu cerita yang unik dalam hidup saya, tapi semoga pengalaman punya guru seperti saya juga menjadi kisah tidak terlupakan juga bagi mereka ya. Biar vice versa gitu (hahah maksa). Setidaknya saya yakin mereka akan tetap ingat saya kalau lagi mau daftar sekolah sih ;p Atau iseng-iseng buka rapor SD.

Sebenarnya selama ini sebagai orang yang pernah beberapa kali ikut organisasi dan menjadi karyawan perusahaan, saya sudah sering membubuhkan tanda tangan di mana-mana. Cukup penting sih ya waktu itu. Nanda tangan izin tertentu, nanda tangan kontrak kerja, atau nanda tanganin buku harian temen jaman SD.

Tapi rasanya tanda tangan yang saya tinggalkan di 7 buku rapor murid-murid saya ini yang paling berkesan deh. Berkesan buat saya, setidaknya. Karena saya merasa bertanggung jawab atas masa depan anak-anak ini. Dan berkesan juga, karena mungkin itu terakhir kalinya saya akan menuliskan tanda tangan dan nama saya di buku rapor, sebagai wali kelas!

xoxo,

Mantan Bu Guru

ps: Tulisan ini dipersembahkan untuk Flora, Rut, Reva, Pian, Amos, Titus, dan Isak. Laskar Bungan? Siaap, siaaap!

Tutup Satu Chapter

Butuh waktu 6 minggu sampai akhirnya saya menuliskan detik-detik terakhir saya meninggalkan Nanga Bungan!! Alasan heroiknya sih karena nggak sanggup, terlalu menyedihkan. Tapi alasan lebih jujurnya adalah karena ngga sempet hehehe sepulang kembali ke kehidupan nyata malah sibuk jalan-jalan lagi dan reunian sana sini.

Anyway ini beberapa penggalan kisah tanggal 21 dan 22 Juni 2015 yang lalu.

Ceritanya, malam terakhir saya meninggalkan desa Nanga Bungan, kami hepihepi di gedung sekolah. Saya sudah bilang sama semua anak dan semua orang tua murid, bahwa “pesta” terakhir saya harus dinikmati dan nggak boleh ada yang nangis!! Alhasil hari itu, Minggu tanggal 21 Juni 2015, semua orang ceria dan . Pagi harinya saya masih sempat bergereja untuk terakhir kalinya di desa, lalu siang para ibu-ibu sudah sibuk memasak nasi dan berbagai lauk-pauk. Anak-anak juga sudah mendapat titah merapikan bangku dan meja sekolah supaya ruangan itu muat untuk dipakai joget :D Teman-teman pemuda hari itu ngga ngapa-ngapain lagi, karena sehari sebelumnya mereka sudah ramai-ramai ke hulu sungai mencari ikan untuk saya hahaha.. Rasanya lucu melihat semua orang gotong royong demi melepas kepergian ibu guru Sali. Saya berasa mau nikah, soalnya biasanya satu desa heboh kayak gini kalau ada acara nikahan adat aja :p

Prosesi ngebungkusin nasi pakai daun untuk acara perpisahan bu guru kece. Sambil ngegosip sambil lipet lipet. #byeBungan

A post shared by Sangalian Jato (Sali) (@cutesalmon) on

Anyway ketika hari Minggu itu sudah semakin sore, seluruh warga desa mandi bersih dan siap menempati ruangan sekolah untuk “pesta” dengan Ibu Guru Sali. Acaranya sederhana, seingat saya cuma ada beberapa kata sambutan, penyerahan hadiah, lalu makan malam. Oh saya sempat didoakan juga oleh Pak Komite, dan tertawa ketika beliau mendoakan saya dapat jodoh baik hati dan seiman. Saya ingat teman saya menginjak kaki saya gara-gara saya beneran tertawa padahal lagi berdoa.

Lalu tentunya ada juga kata sambutan dari Bu Yanti, kepala sekolah sekaligus kakak kesayangan saya. Dia, tentu saja, menangis sambil memberi kata sambutan. Dia bilang dia pasti akan kehilangan saya karena mulai sekarang harus tidur sendiri lagi setelah setahun penuh satu kelambu dengan saya. Setelah Bu Yanti sambutan, gantian saya yang memberi kata sambutan, dan puji Tuhan saya sukses memberi kata-kata terakhir tanpa air mata! Nyaris sih, tapi yaaa segera diakhiri begitu mata berkaca-kaca.

Selepas makan malam, kami masuk ke puncak acara yaitu JOGET!! Heheheh. Seumur-umur nggak pernah suka lagu dangdut, tapi hidup 1 tahun di desa benerbener mengubah semuanya! Beberapa orang tua murid sempat menyumbangkan lagu buat saya, termasuk teman-teman pemuda dan tentunya anak-anak. Puncak acara ini lumayan heboh, karena semua orang bergerak. Tidak ada air mata yang mengalir, yang ada malah air keringat >.<

Sampai akhirnya hari keramat itu pun datang. 22 Juni 2015. Hari terakhir saya menginjakkan kaki di Nanga Bungan. Pagi itu saya sibuk beres-beres untuk terakhir kalinya, lalu pamit sama keluarga-keluarga terdekat saya di sana. Mendadak jadi artis juga, karena semua orang pengen foto terakhir :( Dan ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 11 siang, akhirnya saya harus turun ke perahu dan menyusuri sungai Kapuas untuk terakhir kalinya….. Ngga usah ditanya muka saya bentuknya begimana, seinget saya di perahu pun saya masih sesenggukan. Haha.

Hingga detik ini, saya berasa sebagian hati saya ketinggalan di desa itu. Kalau kata keluarga besar Indonesia Mengajar sih, untuk mempercepat proses move on sebaiknya bersihkan komputer dari foto dan video masa lalu, juga kurangi bicara tentang desa dan daerah penempatan sama siapapun. Hahaha tapi itu susah banget dilakukaaan… ini tiap hari aja saya masih suka SMSan sama murid-murid yang kebetulan lagi ada di Putussibau.

Buhuuuuu…. suatu saat nanti saya akan kembali ke desa itu. Mungkin tunggu ada sinyal dulu :p Ada yang mau ikut? Boleh daftar dari sekarang, biar kita bisa patungan uang bensin sama sama. Hahah. Anyway ini video terakhir yang dibuatkan oleh officer Indonesia Mengajar untuk merangkum jejak kami selama satu tahun. Ngeliatnya kadang bikin seneng, kadang bikin terharu, tapi paling sering sih bikin kangen desa.

Yess satu tahun mengajar seumur hidup susah move on!!

ps: ga cuma meninggalkan desa, tapi pas meninggalkan Putussibau untuk beranjak ke Pontianak pun saya belepotan kayak balon air pecah saking sedihnya. Hahaha pokonya mau pulang ke Jakarta rasanya berat banget. Damn I love Kapuas Hulu!!

Cinta Monyet

14  Mei 2015

Satu hari, saya sedang mengajar Bahasa Indonesia di kelas 3. Topik kami hari itu adalah kalimat pendapat. Setelah menjelaskan definisi kata pendapat dan kegunaannya dalam percakapan sehari-hari, saya mengajak anak-anak membuat kalimat pendapat masing-masing. Untuk memudahkan mereka, saya melontarkan sebuah pertanyaan dan anak-anak tinggal menjawab dengan memulai kalimat mereka menggunakan kata-kata, “Menurut saya, ….”

Maka mulailah tanya-jawab kami siang itu.

“Amos, bagaimana pendapatmu tentang model rambut baru Isak?”

Menurut saya, rambut Isak jelek.’

(semua tertawa)

“Isak, bagaimana pendapatmu tentang cincin di jari-jari Amos?”

Menurut saya, cincin Amos juga jelek.’

(satu kelas tertawa lagi)

Flora, bagaimana pendapatmu tentang bajunya Pian?”

‘Menurut saya, baju Pian sangatlah kotor.’

(satu kelas kembali tertawa)

“Pian, bagaimana pendapatmu tentang suara Flora?”

Menurut saya, suara Flora membuat telinga sakit.’

(lagi-lagi mereka tertawa, sambil mulai menepuk-nepuk meja karena ingin membalas)

Merasa kelas terlalu ricuh dan fokusnya berbelok menjadi ajang saling mengejek, saya pun melontarkan sebuah pertanyaan terakhir dengan harapan anak-anak tertawa ceria kemudian kelas pun selesai.

“Titus, bagaimana pendapatmu tentang wajah Ruth?”

Saya tahu jawabannya, karena sudah sejak lama Titus sering digoda-godai oleh teman-teman sekelasnya. Saya juga tahu bahwa murid-murid yang lain pun pasti menganggap pertanyaan ini retorik. Kami semua tahu bahwa Ruth cantik. Namun satu hal yang saya tidak tahu, yakni bahwa murid-murid saya ternyata punya keberanian lebih daripada yang saya pikirkan. Atau setidaknya lebih daripada yang saya alami dulu :p

Karena ketika saya melontarkan pertanyaan iseng tersebut tanpa mengharapkan jawaban serius dan saya pun sudah siap dengan kalimat, “Oke mari istirahat”, tiba-tiba anak laki-laki itu berkata dengan suara lantang,

Jak moeh Bu Guru…” (tunggu sebentar Bu Guru)

(kemudian menundukkan kepala dan membenamkan wajahnya dalam tangannya sendiri)

(dan berteriak)

“MENURUT SAYA, WAJAH RUTH SANGATLAH CANTIK.”

Maka meledaklah kelas kami, disusul dengan kelas sebelah, dan kelas sebelahnya lagi. Maklum, ruang-ruang kelas di sekolah kami hanya disekat papan kayu sehingga pembicaraan di ruangan sebelah dapat terdengar jelas dari mana saja. Saya sendiri tidak bisa berhenti tertawa sambil mengagumi keberanian kedua anak tersebut. Yang perempuan tetap cool tanpa merasa tersanjung maupun terganggu, sementara yang laki-laki luar biasa percaya diri. Sambil terus meneriakkan CIEEE CIEEEE ke arah mereka berdua, anak-anak lalu meninggalkan kelas untuk istirahat.

Sementara saya kembali ke bangku saya dan tersenyum melihat mereka semua. Kelas tiga SD? Naksir-naksiran? Sepertinya hal yang wajar. Saya dulu juga pertama kali naksir anak laki-laki ketika kelas 3 SD ,walaupun rasa itu memang tidak bertahan lama karena saya mendadak ilfeel  begitu mengetahui sang kakak kelas dihukum di luar karena nilai matematikanya 3. Tapi saya masih ingat jelas masa-masa itu. Masa-masa di mana rasa suka terasa sangat tulus; masa-masa di mana kekhawatiran terbesar adalah lupa mengerjakan PR; masa-masa di mana satu-satunya tanggung jawab adalah merapikan tempat tidur; masa-masa di mana hadiah ulang tahun terindah adalah tempat pensil baru. Masa-masa di mana hidup terasa jauh lebih sederhana, masa-masa cinta monyet.

Bungan itu dulu dijajah gak sih?

Sebagai pendatang yang sampai saat ini masih terheran-heran dengan keterpencilan desa Bungan Jaya karena akses darat saja belum ada, ada satu pertanyaan yang sering nyangkut di otak saya: daerah ini dulu sempat dijajah nggak ya?

Saya sering mendengar cerita dari masyarakat sekitar tentang betapa sulitnya hidup mereka jaman dulu ketika mesin perahu, atau yang biasa mereka sebut dengan mesin tempel, belum ada. Kalau sekarang sih dengan kemajuan jaman, telah tercipta mesin tempel 40 pk yang beratnya lebih dari bobot badan saya tapi kecepatannya bisa mempersingkat waktu milir mudik dari desa ke kota dan sebaliknya. Sebelum mesin 40 pk masuk desa ini, para penduduk memakai mesin 15 pk (dan sampai sekarang pun masih dipakai). Sebelumnya lagi, 3.3 pk. Nah yang menjadi pertanyaan saya, lalu sebelumnya lagi berarti… mendayung?

Tempel 40

Menurut cerita mereka sih demikian. Untuk sekedar pulang ke desa dari kota, mereka harus mendayung perahu kecil melawan arus hingga ke hulu dan itu semua memakan waktu dua sampai satu bulan. Tergantung debit air dan kekuatan otot tangan. Biasanya mereka mendayung ketika matahari masih di atas. Kalau matahari sudah terbenam, mereka menepi dan membuat pondok-pondok.

Oh iya dengan kata “mereka” ini yang saya maksud para tetangga saya yang sudah kakek-nenek yah, bukan cerita fiktif para manusia purba di jaman manusia masih makan manusia. Jadi sebenarnya kisah mendayung yang heroik ini diangkat dari pengalaman nyata orang-orang di sekitar saya ketika tahun 70an. Kenapa saya bisa memperkirakan tahunnya? Karena konon mesin tempel itu diperkenalkan ke desa kami oleh misionaris dari Amerika yang baru datang ke daerah ini sekitar akhir tahun 70an. Jadi berarti sebelum itu mereka belum kenalan sama si mesin ajaib.

Balik lagi ke pertanyaan aneh yang suka nyangkut di otak saya: jadi kalau jaman sekarang aja mau ke desa butuh perjuangan, dan di masa yang telah lampau mau mudik harus mendayung sampai gila, lalu waktu jaman penjajahan dan perang dulu.. daerah ini ikut-ikutan dijajah nggak ya? Kalau iya, gimana caranya para penjajah itu bisa tahu bahwa ada kehidupan di hulu Sungai Kapuas dengan jumlah manusia yang sangat-sangat sedikit? Saya nggak mau bawa-bawa Google Map, karena jelas jaman itu belum ada yang namanya internet. Tapi sebenarnya bahkan hingga saat ini pun desa ini belum terlacak di Google Map. Dan membahas tentang jumlah penduduk, aduh desa ini penduduknya cuma 70 KK. Kebayang? Kira-kira tidak sampai seratus rumah yang berdiri di desa ini. Jadi kalau memang para penjajah dulu sempat datang ke sini… ngapain?? Masa iya mereka ke sini untuk nyari emas? Atau mau belajar bikin manik? Atau mencari kayu gaharu mungkin?

Well beberapa pertanyaan terakhir tadi itu belum sempat terjawab sih, karena percakapan saya dengan salah satu nenek tetangga berakhir dengan kesimpulan bahwa iya, benar, para penjajah pun dulu sempat menginjakkan kaki di daerah ini. Tapi ternyata yang dimaksud dengan “daerah ini” bukanlah desa Bungan Jaya tempat saya saat ini berada, melainkan desa Tanjung Lokang dan daerah Uncak Bungan, sebuah pemukiman penduduk yang masih jauuuuuuuhh lagi ke hulu sungai. Perhatikan penggunaan huruf “U” berlebihan yang saya gunakan pada kata jauh di kalimat sebelumnya? Itu menunjukkan bahwa pemukiman tersebut jauh lebih terpencil lagi daripada desa yang saya diami sekarang. Kalau sekarang dari kota mau mudik ke Bungan butuh waktu 6 jam dengan mesin 40 pk, maka untuk mencapai Lokang butuh waktu seharian dan biasanya mereka menginap semalam. Nah kalau ke daerah Uncak Bungan itu ya…….. tambah setengah hari lagi. Atau mungkin satu hari.

CAM00416

“Mak, mamak dulu lahir di mana?”
‘Di.. Uncak Bungan’
“Di mana itu?”
‘Di hulunya Sungai Bungan.’
“Hulu lagi dari Tanjung Lokang?”
‘Iya, dari Lokang masih huluuu lagi.’
“Astaga. Lalu kenapa pindah sini?”
‘Karena.. terlalu jauh. Jadi kami pun turun ke Bungan’
“Lalu Mak.. dulu Bungan sempat dijajah nggak?”
‘Dijajah?’
“Iya.. sama Belanda, sama Jepang..”
‘Ohhh iyaaa!’
“Hah iya?? Tentara Belanda dan Jepang sempat ke sini??”
‘Jangankan ke sini, mereka ke hulu. Mereka ke Lokang dan Uncak Bungan sana..’
“Oh tapi mereka nggak ke Bungan?”
‘Iya dulu kan Bungan masih hutan. Waktu jaman perang Desa Bungan belum ada..’
“Oooo yayaya… tapi jadi nenek masih merasakan jaman perang?”
‘Oh masih! Saya masi ingat dulu waktu Jepang datang, saya lebih besar sedikit dari Pani.. (anak murid kelas 2 SD)’
“Lalu waktu perang selesai?”
‘Waktu perang selesai, tentara Jepang lari. Ada yang lari ke hulu, ada yang ke Kaltim, ada yang tembus Malaysia.’
“Pokoknya mereka lari ya?”
‘Iya karena kalau ndak lari kami bunuh.’
“Hah…”
‘Iya. Dulu orang-orang kami di hulu itu suruh kami bunuh semua tentara Jepang yang masih sisa. Mereka bilang, kalau kami ndak berani bunuh Jepang, nanti kami yang dibunuh. Jadi mau ndak mau kami pun mau bunuh Jepang, lalu Jepang lari semua..’
“Memang Jepang jahat ya?” (pertanyaan retorik)
‘Oh iya… jahat mereka. Kita disiksa. Dulu kalau kami melawan sempat diancam mau dijatuhkan bom pakai pesawat. Makanya begitu mereka kalah ya kami serang lalu mereka lari…’

Maka pertanyaan saya pun terjawab. Tidak, Desa Bungan Jaya tidak dijajah karena ketika itu desa ini masih merupakan hutan belantara. Tapi iya, nenek moyang orang Bungan yang tinggal di Lokang dan hulunya sungai Bungan merasakan kerja paksa jaman Belanda dan Jepang. Dan iya, yang namanya penjajah di mana-mana jahat. Mau itu di kota maupun di dusun terpencil di hutan Kalimantan, kalau statusnya penjajah tetap aja ngga ada yang namanya pencitraan dan berusaha baik-baikin masyarakat. Mereka tetap meninggalkan bekas menyakitkan di memori orang-orang yang mengalaminya.

Lalu sekarang giliran pertanyaan aneh berikutnya yang juga nyangkut di otak saya: para penjajah itu dulu makan apa ya? Apakah mereka bisa berburu dan mencari ikan juga seperti orang-orang sini? Apakah mereka nggak muak melihat hutan setiap hari? Apakah mereka nggak gatal-gatal mandi di sungai?

Iya saya tahu, itu pertanyaan-pertanyaan bodoh. Tapi nyangkut. Heheh gimana dong :3

Papi Amat Amat Baik

Jadi ceritanya kepala sekolah kami namanya Pak Amat. Orangnya baik hati dan sederhana. Kami menempati rumah dinas guru yang sama. Sebagai sesama pendatang, ternyata kami (sejauh ini) cukup kompak. Pak Amat juga orangnya sangat baik. Berikut cuplikan kisah kami.

Ketika waktu telah menunjukkan pukul 1 siang, dan tumben-tumbenan kelas 3 belum pulang karena masih banyak siswa yang belum mengerti cara perkalian dan pembagian…

*gedubrak* (pintu kelas terbuka)

“Belum selesaikah?”

‘Belum Pak Amat…’

“Kenapa?”

‘Anak-anak belum selesai mengerjakan tugas…’ (sambil menunjuk 5 anak di kelas)

“Jangan terlalu lama, sudah siang. Nanti kamu lapar.”

‘Heheh iya siap bos.’

“Pulang langsung makan ya.”

‘Okee….’

dan kelaspun segera saya bubarkan

 

Ketika botol-botol minum air saya di rumah sudah kosong…

“Kumasakkan air ya”

‘Kenapa?’

“Itu air minummu kan sudah habis” (sambil menunjuk botol-botol air matang yang sudah kosong)

‘Aih…. makasih Pak Amat’

 

Ketika pada suatu hari secara serempak seluruh murid saya tidak ada yang mau mendengar kata-kata saya sehingga tekanan darah saya naik drastis dan suara saya tidak bisa biasa lagi di kelas…

“Tadi marah ya sama kelas 3?”

‘Iya.. ndak ada yang mau dengar kata-kataku. Berisik semua.’

“Hahaha… ndak usah terlalu serius.. nanti nuan yang cape..”

‘Iya huhuhu’

“Nih makan.”

 

Ketika tahu saya suka ikut orang memancing (walaupun ujung-ujungnya cuma makan kue di perahu)

“Lihat deh!” (sambil memamerkan bambu kecil tipis cantik)

‘Apa nih Pak Amat?’

“Bambu..”

‘Dari mana?’

“Dari Kakek Saung di seberang. Mau kubuat pancing.”

‘Pancing? Untuk Pak Amat?’

“Ndaak… saya lebih suka jala daripada pancing.”

‘Lalu?’

“Ini mau kubuat pancing untukmu.”

‘Yaampun Pak Amat… terima kasih…’

“Iya kasian kan kalau pergi mancing harus pinjam orang terus.”

‘….. (terharu)’

“Tapi nanti latihan pegang cacing ya. Sia-sia pergi mancing tapi ndak bisa pasang umpan.”

‘ -__-“ ‘

 

Ketika sedang kecapekan dan hendak mengurung diri di kamar tapi lalu anak-anak memanggil…

“Bu Guru…”

(tidak menjawab)

“Bu Gurruuu…”

(masih tidak menjawab)

“Bu Guurruuuuuuu…”

‘Bu Guru tidur! Dia istirahat! Sudah kalian pulang dulu sana!’

(akhirnya malah Pak Amat yang menjawab)

 

Ketika saya ngidam ingin punya pohon Natal di rumah tapi apa daya yang keangkut cuma lampunya aja…

“Pak Amat hias meh dindingnya pakai lampu ini…”

‘Lampu apa?’

“Lampu kelap-kelip ini…”

‘Buat hiasan kayak apa?’

“Buat pohon Natal..”

Aoookkk meeh…’

 

Merry Christmas 2014

Taraaaaa~~ Selamat menjelang Natal! :)

Selamat Ulang Tahun, Ibu Guru Sali

So apparently gue ulang tahun lagi…

Dan kali ini ulang tahun gue dirayakan tanpa SMS, tanpa telepon, tanpa whatsapp, dan tanpa Facebook :)

Sensasinya lucu, karena baru pertama kali ini gue merayakan sesuatu di tengah tengah orang yang baru saja gue kenal namun ternyata sangat-sangat perhatian sama gue. Plus perayaannya penuh tepung dan telur, bersama puluhan bocah-bocah berseragam SD.

Terima kasih Tuhan untuk umur baru yang Kau limpahkan, ajarilah Sali supaya selalu rendah hati dan tetap melekat di bawah kaki-Mu :)

Happy 25th, Sali.

[Sahabat Pena-an Yuk!] Guru Nulis Berdiri, Murid Nulis Berlari

Sebenarnya judul di atas rada-rada ga nyambung sama isi postingan blog ini sih.. Ini ceritanya saya cuma mau bilang bahwa saya, Sangalian Jato, yang umurnya udah hampir seperempat abad dan (tadinya) hidup di lingkungan serba instan dengan akses internet di mana-mana ini masih juga hobi nulis buku harian dan surat-suratan.

Oleh karena itu ketika saya secara ajaib bisa jadi Pengajar Muda dan ditempatkan di sebuah sekolah dasar di hulu sungai Kapuas, hal pertama yang saya ajarkan kepada murid-murid saya adalah menulis!

PR IPA
PR IPA

Huhehe mimpi saya sih pengen membiasakan mereka menulis jurnal (atau istilah konvensionalnya “buku harian”) seperti yang dilakukan oleh guru jadi-jadiannya ini :p Tapi karena murid-murid saya masih kelas 3 dan susunan kalimatnya masih agak kurang jelas, jadi saya masih sampai di tahap memperbaiki tulisan mereka kalimat per kalimat.

Surat untuk Pak Guru
Surat untuk Pak Guru

Di atas adalah contoh tulisan salah seorang murid saya di hari pertama saya mengajar. Ketika itu secara bebas saya biarkan murid-murid saya menulis surat selamat Idul Fitri untuk para Pengajar Muda sebelum saya. Hasilnya beragam, ada yang tulisannya rapi, ada yang warna-warni, dan ada yang tata bahasanya masih perlu dipoles. Namun  itu justru menjadi pijakan awal saya untuk mengajar, karena saya bisa mengetahui di mana start point mereka.

Puji Tuhan sekarang mereka sudah mulai bisa menulis lebih rapi dan membedakan penggunaan huruf kapital dan huruf kecil. “Proyek” menulis mereka yang terakhir adalah membalas surat dari anak-anak di  SD GMIT Oeulu, Rote Ndao, sebuah sekolah yang menjadi penempatan rekan sesama Pengajar Muda.

Berikut adalah cuplikan keceriaan murid-murid kelas 3 SDN 17 Nanga Bungan menerima surat dari Rote :) Videonya memang berakhir kocak karena keadaan kelas mendadak tidak tenang, tapi terlihat betapa antusiasnya murid-murid saya berkenalan dengan orang luar dan membalas surat dari sahabat-sahabat pena mereka yang baru.

Mau ikutan menambah keceriaan kelas kami dan berkenalan dengan anak-anak luar biasa dari hulu sungai terpanjang di Indonesia? Kasi tau saya ya :)

Bungan Story, teruntuk kamu Bu Guru!

Tulisan ini adalah milik Rifki Furqan, yang diambil dari sini.

Isinya terlalu manis dan mengharukan, jadi saya post kembali di sini :)

Begitulah judul dari sebuah video kreasi saudara sepenugasanku. Ternyata, aku pun bisa rindu. Ya, serindu itu!

Sudah sejak weekend lalu aku teringat-ingat bagaimana Hulu. Apa kabarnya ya saudara sebangsaku di desa paling Hulu itu? Tak terasa sudah lebih dari dua bulan aku meninggalkan kampung halamanku itu. Dulu, ketika tiba di Jakarta dan bertemu dengan mereka-mereka, teman seangkatan, aku memasang janji diam-diam dalam hati untuk baru akan mengenang kisah hidup penuh makna ini paling tidak tiga bulan lagi. Dan ternyata kesombongan diri ini terus diuji hingga aku tak tahan lagi untuk mengaku sudah memasuki tahap sangat rindu ini.

Ini tentang korelasi antara memori dan masa transisi yang berjalan terbuka antara kita berdua. Kita saudara wahai Bu Guru, sejak awal dulu smsmu masuk dan terbaca ketika aku masih di perahu setelah empat jam turun dari hulu. Aku tak terlalu perduli awalnya siapa pun yang akan menggantikanku. Dan ternyata ketika kita berdiskusi cukup lama ketika aku bersinyal di kota, aku yakin kamu, yang sudah luar biasa, akan semakin jauh legawa, dewasa dan tentu lebih luar biasa dikemudian harinya.

Aku bersaksi bahwa kamu punya kapasitas untuk menyelesaikan tugas dengan gilang gemilang jauh dari tiga laki-laki sebelumnya. Kamu adalah pemberi beda. Tidak pernah ada sebelumnya Bu Guru yang dikirim ke desa paling hulu, dan itulah mengapa aku menyebut sejak mula bahwa kamu beruntung dan semoga terus berbahagia.

Ingat ini Bu Guru, ketika nanti di desa kamu sempat merasa putus asa, artinya alam sedang bekerja untuk membuatmu lebih luar biasa. Ketika kamu bingung karena tidak ada kata-kata yang dapat ditukar lewat pulsa, artinya pengalaman itu akan kamu kenang sebagai masa yang paling menguatkan perasaan diri juga logika. Ketika nanti apapun masalah dengan sekolah atau warga yang datang tanpa kamu bisa diskusikan bersama, simpan dan cerna baik-baik lewat tulisan atau apapun ragam kenangan lainnya.

Maka nanti, ketika kamu selesai dan meninggalkan Ketemenggungan Dayak Punan Hoovongan, mungkin rasa rindu seperti inilah yang akan terus menguatkan. Tak hanya menguatkan dengan ragam pengalaman mental, fisik dan spiritual tinggal di tengah hutan, tapi juga menguatkan rencana bintang gemintang kamu di masa depan.

Bu Guru, terima kasih bijaksana atas video kreasinya yang sukses membuat Pak Guru paling arogan di Bungan ini mengaku rindu. Jika nanti pertengahan kamu bertugas kamu pulang untuk sementara, kita harus bertemu karena aku akan menjamu tamu dari Hulu sambil kita akan tertawa-tawa membahas Bungan Jaya.

Semoga sehat selalu di Hulu ya Bu Guru! Aku tau bagaimana susahnya ternyata mengelola rindu pada seorang sahabat/saudara yang daerah penugasannya hanya bisa diakses lewat surat yang dibungkus kantong plastik dan dititipkan sebisanya. Jadi, tetaplah semangat jika naik ke Hulu dan turunlah ketika hati dan mimpimu berkata seperti itu. Kami akan selalu berdo’a agar Bu Guru dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa selama bertugas disana, mengajar dan belajar di desa yang punya SD paling akhir di aliran Kapuas Hulu.

Depok, 09.09.14. 23.11 WIB. *setelah berulang-ulang kali mengenang Nanga Bungan

Pak Guru sok mantap!!Pak Guru sok mantap!!

Makasih banyak ya Pak Guru, saya memang lagi membutuhkan ini…