Pelajaran IPA

Kamis, 21 Agustus 2014

“Coba berikan 10 contoh makanan yang manusia makan!”

‘Ikan, ayam, bebek, sapi, babi, anjing, kijang, beruang, …’

“…………..”

(tadi soalnya tentang jenis makanan apa hewan-hewan di kebun binatang ya?)

 

“Anak-anak, masih tentang makanan, coba sebutkan beberapa jenis hewan beserta makanannya masing-masing!”

‘Ikan Bu!’

“Ikan makan apaaa?”

‘Makan nasi!’

“Eh? Ikan makan nasi?”

‘Iya, biasa di rumah kalau ada nasi sisa lalu kami buang di sungai, nanti dimakan ikan.’

“Baiklah -___- berikutnya hewan apa lagi?”

‘Anjing bu!’

“Anjing makan apa?”

‘Makan nasi Bu.’

“Karena…. nasi sisa kalian juga kalian kasi ke anjing…?”

‘Iyaaa..’

“Baiklah -___- lalu hewan apa lagi?”

‘Beruang Bu!’

“Beruang makan apa?”

‘Makan manusiaaaa!’

(eng ing engg…)

“Lho katanya tadi manusia makan beruang. Kog sekarang jadi beruang makan manusia?”

‘Iya Bu tergantung siapa mati duluan.’

“……….”

 

“Yasudah sekarang Ibu Guru mau tanya. Karena dari tadi kalian sebut beruang terus, coba siapa yang pernah liat beruang?”

‘Sayaaaa!’ (beberapa anak mengangkat tangan)

“Isak pernah lihat beruang?”

‘Iya Bu’

“Beruang hidup?”

‘Iya Bu’

“Di mana?”

‘Di Aso Bu’ (nama dusun sebelah)

“Kog bisa?”

‘Waktu itu saya sama Reno lagi ke Aso, lalu lihat beruang di sana’

“Beruangnya lagi apa?”

‘Lagi berenang bu’

“Beruangnya berenang? Kamu yakin bukan ikan?”

‘Iya bu. Beruangnya besar warna hitam lagi di air.’

“……”

 

“Amos juga pernah lihat beruang?”

‘Pernah Bu!’

“Di TV?”

‘Ndak! Lihat yang betulan’

“Kog bisa? Lihat di mana?”

‘Lihat di rumah Bu, dibawa papa saya tiga ekor dari hutan’

“Sudah mati???”

‘Iya sudah mati Bu’

“Lalu kalian apakan beruangnya??”

‘Bulunya untuk dipakai menari Bu.’

“Lalu dagingnya??”

‘Dimakaaaan!’ (anak-anak menjawab serempak)

“Enak?”

‘Enak!’

“Seperti apa rasanya?”

‘Seperti babi.’

“Enak mana sama babi?”

‘Masih enak babi bu.’

“Oke. Ngomong-ngomong Ibu Guru ndak makan beruang ya. Juga kura-kura. Jadi kalau kalian dapat mereka tolong jangan kasi Bu Guru.”

‘Kalau pelanduk Bu?’

“Pelanduk juga ndak makan…….”

(dalam hati.. ini anak-anak isi perutnya apa aja sih T_T )

Ooh ternyataaa….

Rabu, 16 Juli 2014 – Nanga Bungan, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat

View from the Top

  1. Hari pertama sekolah itu ga cuma bikin gugup muridnya, tapi juga gurunya :3
  2. Jika murid-murid tampak kebosanan atau sibuk sendiri di kelas, itu bukan sepenuhnya salah mereka. Bisa jadi emang gurunya ga bisa me-manage kelas…. (sigh)
  3. Harus masuk sekolah jam 7.15 dan baru mandi jam 7 itu bukan ide baik. Agak malu juga begitu keluar rumah pake kain dan bawa ember mandi terus ketemu murid-murid yang udah pake seragam rapi nggak sabar mau mulai sekolah…
  4. Anak-anak pedalaman juga hafal marsnya Jokowi. Dan juga Prabowo. Dan mereka tahu istilah Pemilu Legislatif!! Terharu…
  5. Bahasa Korea sama bahasa Bungan beda-beda tipis. Banyak eo eo nya… ehuhehehe.
  6. Buku itu benar-benar jendela dunia. Setelah bertahun-tahun hidup dengan kemewahan internet lalu tiba-tiba kemewahan tersebut direnggut, saya sangat bersyukur ada banyak buku bacaan di rumah dan sekolah untuk bahan belajar dan mengajar. Terima kasih ya wahai penulis, penerbit, donatur, dan para pengantar buku-buku tersebut. Saya berhutang budi *salim*
  7. Tokek tuh bentuknya begitu!! Omg cicak versi gede….
  8. Sejernih-jernihnya air sungai di hulu tetep aja lebih jernih air hujan. Dan gue ga pernah sadar betapa pentingnya air hujan dalam hidup gue sampe sekarang :3 Kayanya balik ke Jakarta nanti gue bakal dikit-dikit bawaannya sigap ngeluarin ember penampung air deh kalau hujan turun..
  9. Pelajaran Fisika soal listrik dan teman-temannya itu sangat.. sangat… penting!! Terutama kalau lo berniat tinggal di rumah sendiri. Dan rumah lo ngga dialiri PLN jadi ngga bisa kapan saja protes ke PLN terus mas-masnya dateng.
  10. Begitu pula dengan pelajaran Tata Boga.
  11. Dan juga pelajaran olahraga, terutama bagian permainan volley. Ini khusus kalau lo mau hidup di Hulu Kapuas seperti gue sih, or else lo bakal jadi lawakan satu desa berusaha ngejar-ngejar bola dengan gaya yang nggak masuk akal di tengah lapangan sore-sore.
  12. Berenang juga penting! Dan yang gue maksud di sini bukan berenang cantik di kolam, melainkan berenang melawan arus. Ini sangat-sangat krusial kalau lo mau bonding secara cepat dengan anak-anak pedalaman Hulu Kapuas ketika main hanyut (=main arung jeram tapi tanpa perahu, alias orangnya aja gitu hanyut di antara jeram berbatu dan berarus).
  13. Bakar sampah itu ada triknya. Bakar yang mudah terbakar dulu, dan dari bawah. Sia-sia lo berusaha bakar tumpukan paling atas; udah girang liat apinya besar menari-nari terus lo baru sadar yang kebakar bagian atasnya doang!! (aigooh…)
  14. Duduk sambil nungguin sampah lo terbakar juga ada triknya. Jangan pernah duduk melawan arah angin berembus. Kasian paru-paru dan mata lo. Nyeseknya beda tipis sama pas kelaperan masak nasi tapi nggak mateng sempurna.
  15. Hidup tanpa sinyal tuh gini toh rasanya…… (lalu hening)

Terima kasih untuk hari pertama yang spesial, Bungan.

Tidak sabar untuk bertemu dengan ribuan ternyata-ternyata lainnya :)

 

Indonesia!

Tulisan ini dibuat pada hari Selasa, 6 Mei 2014.

Hai semua. Senang sekali rasanya jari-jari ini bisa mengetik lucu di atas keyboard komputer. Sudah beberapa minggu belakangan ini hidup saya hampa tanpa gadget huhehe. Kenapa tanpa gadget? Karena saya saat ini sedang berada di camp karantina Indonesia Mengajar yang mengharuskan saya berpisah dari segala jenis alat elektronik setiap hari Senin sampai Sabtu. HP baru dikembalikan dan bisa digunakan hanya hari Minggu. Untung kemarin akhirnya kami dapat hibahan netbook unyu jadi saya bisa kembali autis, walaupun tanpa internet :3 Oiya netbook baru ini saya namakan Aspirin.

Anyway beberapa update terkini tentang saya:

  1. Setelah resign dari kantor terakhir, saya sempat kabur dari kepenatan sejenak dengan tamasya ke Thailand dan Korea. Senang sekali rasanya bisa refreshing setelah sekian lama. Sayang waktu itu nggak sempat ngeblog juga, jadi kalau ditanya detil itinerarynya saya agak lupa lupa inget. Yang pasti saya super happy karena bisa main main sebelum dikarantina.
  2. Senin tanggal 21 April 2014 saya masuk karantina Calon Pengajar Muda angkatan 8. Total peserta 74 orang dari berbagai latar belakang yang berbeda, dan tempat karantina kami adalah di sebuah vila di daerah Cisarua.
  3. Karantina ini sendiri berlangsung selama 8 minggu, dan saat saya mengetik tulisan ini saya sudah berada di minggu ketiga. Nggak kerasa? Ha ha ha.. kerasa banget sih kalo boleh jujur :p
  4. Highlight minggu pertama karantina adalah saya berkenalan dengan 73 peserta lainnya, dan kecanggungan kami segera musnah karena minggu pertama itu diakhiri dengan pelatihan fisik selama 4 hari yang paling luar biasa dalam hidup saya, at least sampai saat ini.
  5. Pelatihan fisik yang saya sebut di poin sebelumnya adalah prosesi pelatihan oleh WANADRI yang jujur saya nggak tau itu apa sebelumnya, dan kami dilatih macamnya bocah-bocah masuk ospek. Dulu saya pikir training ala militer di Lotte pada bulan Desember 2011 adalah pengalaman terburuk saya dalam hidup, tapi ternyata pelatihan Wanadri ini berhasil mengalahkan rekor tersebut.
  6. Empat hari nggak mandi, empat hari ga gosok gigi, empat hari makan diburu waktu sampai agak trauma makan karena bawaannya pengen muntah kalau menjejalkan nasi ke mulut, empat hari harus lari ke mana mana sambil teriak “INDONESIA”, empat hari nggak bisa minum leluasa sambil berdiri, empat hari minum air dari sungai, empat hari bolak balik dihukum push up, tapi empat hari juga kami diajarkan pentingnya kerja sama dan yang paling penting saya jadi punya rekor baru dalam hidup: mendaki gunung!
  7. Walaupun kalau boleh milih nggak pengen lagi sih mendaki gunung dengan cara itu….
  8. Lanjut ke minggu kedua, kami dapat materi tentang filosofi pendidikan: bagaimana pengaturan aparatur sekolah, bagaimana cara mengajar dengan kreatif, bagaimana mengenal sifat dan karakter pribadi serta murid, bagaimana jenis-jenis kecerdasan manusia, dan masih banyak lagi. Semua topiknya menarik, dan semua materinya bermanfaat. Walaupun jujur sepanjang minggu saya harus perang melawan kantuk karena duduk mendengarkan sepanjang hari itu juga menguras energi L
  9. Kemudian di minggu ketiga ini saya sedang mengulang kembali pelajaran anak SD. Kemarin kami belajar matematika dasar (tambah, kurang, pecahan, luas, keliling, dll), dan hari ini kami belajar IPA (observasi anak ayam, membuat oven tenaga surya, dll).
  10. Oiya hari ini ketika belajar IPA kami bermain lari larian menghayati peran rantai makanan sebagai tikus yang dimangsa ular, dan saya dengan sukses jatuh di lapangan sampai paha biru dan kacamata penyok. Yah makin bocel bocel aja ni badan…
  11. Ngomong ngomong soal bocel bocel saat ini dengan bangga saya katakan muka saya nyaris mulus namun warnanya luar biasa gelap……………. terima kasih banyak wanadri, terima kasih banyak indonesia mengajar. Emang nggak salah sih slogan IM: “Setahun mengajar, seumur hidup perawatan…………………….”
  12. Sekarang kulit tangan saya pun terkelupas kayak ular, dan saya mulai berpikir untuk pakai jilbab ketika survival nanti supaya punya alasan untuk pakai baju tangan panjang.
  13. Eh iya bener, di akhir minggu ketujuh nanti kami punya program survival lagi, yang merupakan kelanjutan dari pelatihan fisik kemarin. Gosipnya sih ketika survival masuk hutan untuk kedua kalinya ini kami akan diajarkan cara makan ular dan dedaunan tidak beracun, serta tidak disediakan makanan lain selain makanan liar tersebut. Saya benar benar berharap itu hanya sekedar gosip, karena apabila tidak ya bisa dipastikan saya puasa empat hari….
  14. Buat yang penasaran, iya saya sudah ketemu Bapak Anies Baswedan. Sudah dua kali pula. Dan iya, beliau sangat berkharisma. Dan beliau bolak balik menyebut negara Korea Selatan karena menurut beliau pendidikan di Korea sudah sangat maju. Saya diem aja sih dengernya, nggak terlalu tau juga soalnya huheheh.
  15. Kehidupan saya sehari hari cukup menyenangkan tapi juga membosankan. Bangun pagi jam 5 kurang, olahraga jam 5.30, mulai kelas jam 8, teruuuus sampai jam 10 malam. Kalau ada waktu luang bisa pinjam buku di perpustakaan atau main ayunan. Kebetulan di depan barak saya ada meja biliar, jadi saya biasanya nempel di situ. Ntah apa yang ada di pikiran teman teman saya melihat orang tua muka bersahaja tapi mejengnya di meja biliar. Semoga nggak pada langsung berpikiran negatif..
  16. Selain itu ada kolam renang juga sih, tapi ini juga saya agak susah nyeburnya karena saya nggak biasa berenang pakai baju selain baju renang. Hehehe jadi doakan saja wiken ini saya sudah sanggup menyesuaikan dan berani nyebur.
  17. Di poin 15 saya juga sempat menyebut soal barak; jadi kami 74 orang ini dibagi ke dalam 3 kelompok besar untuk tidur. Gubuk alias barak pertama adalah barak putri, diisi oleh sekitar 29 orang, dan barak kedua adalah barak putri kecil yang diisi 14 orang. Barak yang satu lagi adalah barak putra, isinya 31 orang. Jangan bayangkan barak ini indah dan cozy ya, karena kami di sini tidur layaknya ikan teri berdempet dempetan. Tapi lucu sih sensasinya, dan mungkin ini bisa dijadikan latihan untuk penempatan juga..
  18. Oiya penempatan akan diberitahukan akhir minggu ketiga ini. Jadi bagi yang selama ini sudah bertanya tanya “sal lo bakal dibuang ke mana sih??” mohon bertanya lagi minggu depan karena ketika itu insyaallah saya pun sudah mendapatkan jawabannya.
  19. Setiap hari jam 11 malam sampai jam 4 subuh listrik dimatikan. Dan ini juga yang telah terjadi ketika saya sedang menuliskan karangan indah ini. Jadi izinkanlah saya untuk menutup tulisan saya dan segera menyusul teman teman sebarak saya ke alam mimpi dengan menggarisbawahi poin terakhir…………..
  20. Saya sehat walafiat, dan sangat sangat menikmati setiap proses karantina ini. Untuk pertama kalinya saya sadar kenapa saya harus belajar ini itu, dan untuk kesekian kalinya saya dibuat semakin bangga menjadi warga Indonesia. Semua oke, semua baik.

Good night!

Kisah di Tengah Minggu

Rabu, 19 Februari 2014

05.00: alarm bunyi untuk pertama kalinya

05.10: alarm bunyi untuk kedua kalinya, seret badan keluar dari selimut

05.11: masuk kamar mandi

05.20: masuk kamar

05.25: berpakaian lengkap

05.30: cari krim muka dan bedak

05.31: baru inget hari ini ga ngantor, taro lagi bedaknya

05.32: ambil jaket hijau, pakai jaket hijau

05.33: baru inget hari ini ga naik ojek, tuker jaket sama yang lebih tipis

05.35: keluar kamar, minum air putih

05.36: cek HP, ada SMS dari bluebird yang udah dipesan atau belum?

05.37: ga ada SMS, bangunin mbak buat bukain pintu pagar

05.40: mbak E terbangun, “kak sali mau ke mana pagi pagi masih gelap gini”

05.41: “mau tes kesehatan mbak,” lalu balik lagi ke sofa main flappy bird

05.43: mbak E nunggu taksi di depan

05.45: masih main flappy bird di sofa

05.47: taksi masih belum datang juga

05.50: telp Bluebird, tanya taksinya mana?

05.53: mbak E nyerah, masuk rumah lagi sambil bilang, “taksinya ga ada kak”

05.54: sali juga nyerah, flappy bird pagi ini masih belom bisa lewatin high score

05.55: ada yang ngebel – supir taksi!!

05.56: berucap pada pak supir, “Kartika Chandra ya pak”

06.10: pak supir bertanya, “turun di lobby mbak?”

06.11: lihat argo, tulisannya 27 ribu

06.12: memaki dalam hati, cih tau gini nggak manggil taksi dan berangkatnya siangan lagi

06.13: keluarkan selembar 50 ribu, dapat kembalian 10 ribu saja

06.14: berjalan ke lobby hotel, cari sofa

06.15: keluarkan hp sambil celangak celinguk

06.16: lobby hotel masih sepi rupanya, main flappy bird saja lah

06.17: masih main flappy brid

06.20: masih flappy bird juga..

06.25: beranjak dari sofa, cari toilet

06.30: kembali dari toilet, lanjut main flappy bird

06.35: bosen main, coba naik ke test centernya

06.37: sampe di tempat medical check up, duduk nunggu lagi sama orang-orang lain

06.38: kenalan sama 2 orang kandidat lainnya: Yudha & Ajeng

06.40: ngobrolin tentang kampus, jurusan, dan angkatan sama Yudha & Ajeng

06.45: sekali lagi dapet pertanyaan, “udah keren banget tinggal di Korea, kenapa pulang?”

06.46: sekali lagi tertawa dan berkata, “udah kelamaan ah, mau liat Indonesia juga”

06.48: dipanggil petugas, disuru isi formulir dan serahkan surat pengantar

06.51: kembali duduk bertiga, tapi tiga-tiganya masih ngantuk

06.52: Ajeng chatting, Yudha twitteran, Sali main flappy bird

06.54: mulai membahas berapa orang yang kami tahu yang lolos ke tahap ini

06.55: satu orang dokter datang, masuk ruangan

07.00: pasien pasien lain datang, ruangan mulai ramai

07.05: satu lagi laki-laki sebaya kami datang, agak-agaknya dari institusi yang sama dengan kami

07.10: bosen

07.11: Ajeng main HP lagi, Yudha masih twitteran, Sali kembali ke flappy bird

07.12: hape lemot, flappy birdnya jadi lelet

07.13: sebel sama flappy bird, masukin hape ke tas

07.15: Ajeng dipanggil masuk, ambil darah

07.18: Yudha dipanggil masuk, ambil darah juga

07.19: laki laki sebaya kami tadi ngeh nama Yudha, dia bangun dan memperkenalkan diri

07.20: namanya Teguh, ternyata dulu Direct Assessment di hari pertama juga, sama seperti gue dan Yudha haha (tapi kog gue lupa ya)

07.24: nama gue dipanggil, masuk ke ruangan ambil darah

07.25: petugas bertanya, “Terakhir makan kapan mbak?” dan gue jawab, “kemarin malam jam 9 mbak”

07.27: darah selesai diambil, disodorin tabung untuk urin

07.29: agak-agak bingung gimana cara masukin urin ke tabung seimut itu? gak dikasi media apa apa?? O.o

07.31: yasudalah…. *lega karena udah nahan pipis daritadi*

07.35: kembali bergabung dengan Yudha dan Ajeng, sarapan! yeay!

08.00: selesai sarapan, nunggu dipanggil lagi

08.15: disuru masuk ruangan periksa mata

08.16: disuru baca tulisan di tembok

08.17: panik karena ga keliatan apa apa. wtf?!

08.18: disuru ganti mata, tetep ga keliatan. serius nih bro??

08.21: perawatnya bilang, “saya kasi note supaya selalu pake kacamata ya mbak”

08.22: berjalan gontai sambil mikir, “kacamata ada sih, tapi males pake……”

08.30: rekam jantung, disuru baring di kasur

08.31: perawat memberi perintah, “rileks, angkat bajunya sampai ke atas dada ya”

08.32: dalam hati, “HAHH?”

08.33: perawat nempelin aneka kabel di sekujur dada, lengan dan kaki

08.34: sempet terbersit pikiran, “ini ga nyetrum kan ya…”

08.35: terus sadar bahwa pemikiran itu bodoh dan kemungkinan besar kakak F bakal ketawa kalo denger itu. dan juga papa.

08.45: dipanggil untuk rontgen

08.46: perawat berkata, “ganti bajunya sama kain ini, beha juga dicopot ya mbak”

08.47: dalam hati, “ini berasa pelecehan deh…”

08.48: tarik nafas, hembuskan nafas, rontgen pun selesai

08.55: tes pendengaran, disuru pakai headset dan pencet tombol

08.56: berusaha konsen dengerin suara di kuping kanan, lumayan sukses

08.57: berusaha konsen dengerin suara di kuping kiri, kog ga kedengeran ya?

08.58: mulai khawatir ternyata gue budek sebelah

08.59: perawat berkata, “bagus kog mbak” lalu kembali duduk di sofa

09.10: masuk ke ruang konsultasi, ngobrol sama dokter cantik

09.11: ditanya-tanya, “sudah pernah hamil? keguguran? aborsi?”

09.12: menjawab, “tidak”

09.13: disambung, “punya penyakit menurun? jantung? kanker? diabetes?”

09.14: menjawab lagi, “tidak,” tapi dalam hati bertekad mengkonfirmasinya kepada ayah ibu

09.15: disuru berbaring di kasur, badan dipencet pencet

09.16: punggung diketok, ditanya sakit atau tidak

09.17: perut dibejek, ditanya sakit atau tidak

09.18: mulai bingung ini sebenernya apa aja ya yang dicek?

09.19: konsultasi dengan dokter cantik selesai, kembali menunggu di sofa

09.25: dipanggil masuk untuk ukur-ukur

09.26: berat badan normal, tinggi 165, tekanan darah 110/70

09.27: disuru tes tiuptiup (spirometry) buat ngecek…. apa ya? yah sesuatu berhubungan dengan paru paru

09.28: diperagain sama perawatnya, “tarik napas pake mulut, hembuskan ke tabung”

09.29: percobaan pertama gagal, ga bisa hembuskan nafas

09.30: percobaan kedua gagal, grafiknya ga sesuai yang diharapkan

09.31: percobaan ketiga lumayan sukses, tapi katanya hembusannya kurang kuat

09.32: perawat curiga, “merokok ya mbak?”

09.33: mulai malu, bilang, “nggak kog mas -_-“ dan meniup untuk keempat kalinya

09.34: selesai, disuru cross check ke meja registrasi

09.36: semua tes beres! disuru tanda tangan

09.40: dadah-dadahan sama Yudha, keluar dari gedung sama Ajeng

09.41: teringat destinasi kedua yakni urus NPWP

09.42: telpon Kring Pajak 500200 untuk nanya kantor pajak setiabudi di mana

09.43: nomornya busy, akhirnya nanya sama om dan tante

09.44: dapet alamat kantor pajak, berjalan ke halte bus

09.47: nunggu Kopaja 66 di halte bus

09.48: yeay busnya cepat datang!

09.49: bayar 3,000 rupiah

09.50: keluarkan mp3 player, dengarkan musik

10.10: tiba di kantor pajak, ambil nomor antrian

10.11: nomor antrian langsung dipanggil. WOW!

10.12: diminta fotokopi KTP

10.13: petugas tersenyum, “mbak, alamat mbak harus urus di kantor pajak setiabudi 2”

10.14: bingung, “lho ini kantor apa?”

10.15: petugas menjawab, “ini kantor pajak setiabudi 1 mbak. mbak keluar aja dari pintu lalu muter ke belakang”

10.16: ambil tas, berjalan memutar ke gedung belakang

10.18: tiba di kantor pajak setiabudi 2, ambil antrian

10.19: ternyata masih harus nunggu 9 nomor antrian lagi. haiyah..

10.25: ngantuk

10.30: bosen

10.35: ngantuk

10.40: bosen

10.45: dipanggil! yeay!

10.46: serahkan formulir dan fotokopi ktp, dapet slip pembuatan NPWP

10.47: disuru dateng lagi untuk ambil kartunya besok

10.48: berpikiran untuk nggak dateng lagi besok, kapan-kapan aja ngambilnya yang penting udah dapet nomornya

10.49: masukkan semua benda ke dalam tas ransel, mulai berjalan menuju rumah

10.50: baru inget perlu ngadu sama mama perihal NPWP, keluarkan hp

10.51: kasitau mama bahwa NPWP udah diurus, tapi nama tetep salah karena sesuai KTP

10.52: mama bilang beliau turut prihatin

10.53: tetep protes kenapa papa ga bantuin ngurus KK dan KTP yang namanya salah

10.54: mama menyerah, diam di whatsapp

10.55: ikutan menyerah, lempar hp ke tas dan mulai menyeberang jalan

11.15: tiba di rumah, ganti baju

11.16: ditanya mau makan siang di rumah atau tidak

11.17: menjawab, “ya”

11.30: dipanggil untuk makan siang

11.31: berjalan ke dapur

11.35: mulai makan siang

11.45: bel berbunyi, adik sepupu pulang dari dokter gigi

11.50: adik sepupu ikutan makan siang

12.00: makanan hampir habis, ditawarin buah apel

12.05: makan apel sebagai dessert

12.06: kunyah apel sambil nonton TV

12.07: di TV ada kisah hidupnya Beyonce

12.08: bingung gimana caranya orang bisa punya suara sekeren Beyonce?

12.09: mulai membahas tentang Destiny’s Child sama adik sepupu

12.10: kenyang

12.15: tinggalkan dapur, beranjak ke kamar

12.20: ambil laptop, masuk kamar

12.30: berbaring di kamar, pangku laptop

12.40: mulai ngantuk

12.41: berasa berdosa habis makan langsung tidur, nggak jadi baring

12.42: ambil hp, duduk di sofa sambil minum air putih

12.43: bosen

12.44: ngantuk

12.45: balik lagi ke kamar, buka Facebook

12.50: ngantuk

12.51: tutup laptop, letakkan di samping kasur

12.52: buka HP, ganggu kakak F lagi kerja

12.53: gangguan kurang efektif, sepertinya sedang sibuk

12.54: masuk whatsapp dari mama, kasi tau bahwa beliau menuju Jakarta hendak bertemu teman

12.55: membalas whatsapp mama cepat

12.56: ngantuk

12.57: letakkan hape

13.00 (kira-kira): tertidur

16.00 (kira-kira): terbangun, balas whatsapp mama

16.01 (kira-kira): tertidur kembali

17.52: ucek-ucek mata, lihat HP

17.53: ucek-ucek mata, lihat jam dinding

17.54: berkata dalam hati, “WOW tidur siang gue pulas sekali”

17.55: keluar kamar, minum air putih

17.57: melihat keadaan rumah yang sepi

17.58: ke toilet

18.00: cek HP lagi, kakak F masih diam

18.01: panggil kakak F, cek apakah beliau masih hidup, “hari ini sibuk banget?”

18.05: “Like hell,” jawabnya singkat

18.08: main hape

18.10: main laptop

18.30: mulai mengetik blog post ini

19.00: masih mengetik blog post ini

19.30: masih belum selesai juga blog postnya

19.31: bingung sama diri sendiri, mau leyeh leyeh aja kog distractionnya banyak

19.32: oom pulang

19.35: masih ngetik, tapi mendadak laper

19.40: tante pulang

19.45: diajak makan malam

19.47: blog post disave dulu di draft

19.50: makan malam

20.20: selesai makan malam

20.30: ngobrol sama anak-anak di whatsapp

20.31: mulai main laptop lagi

20.32: nyalakan skype

20.33: lanjut mengetik

20.55: publish!