[Sahabat Pena-an Yuk!] Guru Nulis Berdiri, Murid Nulis Berlari

Sebenarnya judul di atas rada-rada ga nyambung sama isi postingan blog ini sih.. Ini ceritanya saya cuma mau bilang bahwa saya, Sangalian Jato, yang umurnya udah hampir seperempat abad dan (tadinya) hidup di lingkungan serba instan dengan akses internet di mana-mana ini masih juga hobi nulis buku harian dan surat-suratan.

Oleh karena itu ketika saya secara ajaib bisa jadi Pengajar Muda dan ditempatkan di sebuah sekolah dasar di hulu sungai Kapuas, hal pertama yang saya ajarkan kepada murid-murid saya adalah menulis!

PR IPA
PR IPA

Huhehe mimpi saya sih pengen membiasakan mereka menulis jurnal (atau istilah konvensionalnya “buku harian”) seperti yang dilakukan oleh guru jadi-jadiannya ini :p Tapi karena murid-murid saya masih kelas 3 dan susunan kalimatnya masih agak kurang jelas, jadi saya masih sampai di tahap memperbaiki tulisan mereka kalimat per kalimat.

Surat untuk Pak Guru
Surat untuk Pak Guru

Di atas adalah contoh tulisan salah seorang murid saya di hari pertama saya mengajar. Ketika itu secara bebas saya biarkan murid-murid saya menulis surat selamat Idul Fitri untuk para Pengajar Muda sebelum saya. Hasilnya beragam, ada yang tulisannya rapi, ada yang warna-warni, dan ada yang tata bahasanya masih perlu dipoles. Namun  itu justru menjadi pijakan awal saya untuk mengajar, karena saya bisa mengetahui di mana start point mereka.

Puji Tuhan sekarang mereka sudah mulai bisa menulis lebih rapi dan membedakan penggunaan huruf kapital dan huruf kecil. “Proyek” menulis mereka yang terakhir adalah membalas surat dari anak-anak di  SD GMIT Oeulu, Rote Ndao, sebuah sekolah yang menjadi penempatan rekan sesama Pengajar Muda.

Berikut adalah cuplikan keceriaan murid-murid kelas 3 SDN 17 Nanga Bungan menerima surat dari Rote :) Videonya memang berakhir kocak karena keadaan kelas mendadak tidak tenang, tapi terlihat betapa antusiasnya murid-murid saya berkenalan dengan orang luar dan membalas surat dari sahabat-sahabat pena mereka yang baru.

Mau ikutan menambah keceriaan kelas kami dan berkenalan dengan anak-anak luar biasa dari hulu sungai terpanjang di Indonesia? Kasi tau saya ya :)

Day 21 : How Important I Think Education Is

SUPER PENTING!!

Untuk memulainya saya ingin terlebih dahulu membagikan tulisan teman saya yang manis di singapura yang juga menuliskan postingan dengan topik yang sama di blognya. Saya seratus persen setuju sama semua kata-katanya!!

Apparently mengenyam pendidikan di sekolah homogen yang super keras dan disiplin selama 6 tahun cukup membuat kami memiliki pendapat yang sama tentang pendidikan, terutama pendidikan untuk perempuan: bahwa perempuan juga nggak kalah sama laki-laki, bahwa perempuan harus dan wajib punya dasar edukasi yang kuat supaya kelak mereka gak harus bergantung sama orang lain alias bisa mandiri dan menghidupi dirinya sendiri.

Andaikan memang ujung-ujungnya perempuan cuma masak-masak di dapur atau ngurus anak, ya itu masalah nanti. Hidup kan pilihan. Asal jangan sampai dia jadi ibu rumah tangga cuma karena dia merasa “nggak bisa apa apa“. Atau even worse, karena orang lain ngejudge dia nggak bisa apa-apa!!

(yang mana banyak terjadi kan di keluarga keluarga kurang terbuka, begitu melihat anak putrinya bertumbuh besar dan cukup cantik untuk merayu laki-laki, instead of disuru cari kerja malah langsung dinikahi sama siapaaa gitu)

Lagipula menurut saya, jadi ibu rumah tangga pun harus pintar. Harus terdidik. Harus punya wawasan luas. Kalau ibunya nggak pintar, gimana bisa menghasilkan anak-anak yang pintar?

Ibu saya juga bukan sosok wanita karir yang punya jabatan luar biasa di perusahaan, tapi buat saya beliau sangat pintar seperti namanya hehehe. Dan saya nggak inget satu momen pun di mana saya nanya sesuatu ke ibu saya dan beliau nggak bisa jawab. Dia kayak ensiklopedi. Semuanyaa tahu.

Makanya saya suka agak miris kalau denger kisah anak-anak kecil yang putus sekolah dengan alasan biaya, terutama karena dia perempuan! Kalau anak laki-laki masih dibela-belain disuru sekolah. Tapi kalau anak perempuan, ah toh besarnya nanti bisa dinikahi dengan siapaa gitu.

Uhuk kalau baca artikel kaya gini rasanya pengen cepet-cepet bikin sekolah gratis khusus buat anak perempuan terus didoktrin deh semuanya biar bisa jadi jagoan dan berwawasan luas. Gak boleh manja! Kalo perlu orang tuanya disuru sekolah lagi aja biar mindsetnya berubah.

Sounds feminist enough?

Ehehe bukan feminist aliran keras kog. Cuma nggak suka aja kalau denger perempuan terlalu lembek dan jadi korban pelecehan gender. Kalo gagal dikit langsung dilempari celotehan, “Ah cewek sih..

Kayanya emang saya besar di lingkungan yang mengajarkan bahwa perempuan itu harus mandiri sih. Baik di sekolah maupun di keluarga. Tapi saya suka kog akan hal itu, dan juga setuju. Who run the world? Girls!

ps: Why am I writing this? Click here to see the full story.

Now I know why we’re friends…

Happy Summer!

Fuhaha satu minggu liburan sama auditor seksi bikin otak gue super fresh tapi kualitas pembicaraan tetep gak naik naik levelnya.

* Di dalam HnM

“Chik gue inget dulu lo nasehatin gue, kalo beli baju belilah baju yang bisa menghasilkan uang alias baju yang bisa dipake ke kantor”

‘Betul mon’ (ngangguk ngangguk)

“Tapi kan gue bentar lagi pengangguran, jadi yaudalah yaaa?” (nyengir sambil nyamber tank top)

* Nggak lama kemudian.. (masih di HnM)

‘Mon gue nyerah. Kalo ga bisa beli baju yang menghasilkan uang gue cari baju yang bisa menghasilkan pacar aja deh’ (sambil nenteng baju baju cute ke fitting room)

* Habis ngeliatin tingkah laku cowo cowo Korea yang aneh aneh (ngaca pake cermin segede laptop yang dikeluarin dari dalam tas, mencet jerawat di subway, pake celana ngatung kayak kebanjiran, dll dsb)

“Aduh cowo korea aneh aneh aja ih” (bergidik jijik)

‘Iya makanya chik gue mau cari cowo konvensional yang tinggal di gua aja sekalian biar sederhana dan gak neko neko’

* Hampir selesai ngiterin satu museum dan udah mau nyampe pintu keluar

“Chik udah sampe ujung nih, ulang lagi aja yuk dari awal liatnya. Kan sayang..”

‘Yaelah mon pantesan susah move on, apa juga diulaang diulaaang lagi dari awal.’

* Jeju Island, lagi di dalam Manjang Lava Cave yang dasarnya super licin dan berbatu batu ga rata…

“Mon pelan pelan dong susah nih gue jalannya musti hati-hati liat bawah terus.”

‘Eh buset chik dalam hidup kita harus liat ke atas juga kali biar termotivasi. Kalo liat ke bawah terus kapan majunya.”

* dan sadar bahwa gua itu super gelap dan ga jelas ujungnya mana…

“Ah edan ini gua kog kagak ada endingnya gini sih”

‘Mon everything tuh ends up okay, jadi ini kan belom oke nih jalannya nah berarti emang belom ending..’

* terus nyaris kepleset pula…

“Oh no! (grusuk) aku hampir terjatuh chik.”

‘Dan lo ga bisa bangkit lagi?’

“Bisa dong, kan hampir doang. Lagian kan gue bukan butiran debu, kayanya lebih cocok butiran sampah”

‘Butiran? Bongkahan sampah kali maksud lo mon’

* Lagi bobok bobok manis di hotel

“Chik gue pengen jadi pramugari dong…”

‘ (dengan tatapan menghina) Lo kira lo cantik apah mon?!’

* Lagi main hape ga jelas di atas kasur

“Eh mon gue masih bisa ga ya ikut pemilihan koko cici?”

‘……’

“Ah tapi gue ga cantik dan gue gendut”

‘……………………..’

(terdiam, terbahak-bahak, lalu langsung ngetweet)

* Ketika masuk ke museum dan ga berhenti jepret jepret pake kamera

“Chik ini foto kalii di sinii kita kan masuk udah bayar jadi semua harus difoto-fotoin.”

‘Cina lo mon..’

* Nami island, lagi lewatin spot foto sama patung kayu dua buah

“Yaelah moonn itu patung aja ada couplenya, lo manaa??”

‘Ngaca!!’

* Mau naik taksi 

“Cieee chikaa naik taksi aja pintunya dibukain sama supir taksi.”

‘Iya ni pacar gue aja dulu ga bukain gue pintu’

“Yaudalah pacaran sama supir taksi aja chik”

* Di Seongsan Sunrise Peak, mau foto dengan background tebing, laut, dan gua-guaan

“Mon mon geser mon, biar pas latarnya future house lo”

‘Future house gue?’

“Iya katanya mau nyari cowo yang tinggal di gua?”

* Baru pulang dari Jeju, benahin baju-baju kotor

“Mon itu kamar mandi lo jadi pasar sukowati dulu ya bentar”

‘Hah??’

“Iya itu kamar mandi lo sekarang lagi penuh sama dress dress bali kita, gue gantung gantungin”

* Begitu chika mulai hilang di kerumunan manusia

“Mon lo manaaa jangan ilang”

‘Duh iye iye gue di sini manja banget sih’

“Iyalah mon gue di sini kan bergantung sama lo”

‘Gue ga suka ngegantungin orang kali chik’

* Tiap kali ngeliatin cewe-cewe Korea berseliweran

“Gila ya mon cewe Korea cantik cantik banget, mukanya mulus mulus pula.”

‘Iya dan mereka semua kurus padahal porsinya kuli. Bingung ga sih lo?’

“Makanyaaa gue harus buru buru balik nih. Gue gendut gini ga cocok banget tinggal di sini.”

‘Bener sih chik’ (ngeliatin perut dan lengan)

“Ya elo juga harus balik kali mon, liat tuh muka lo”

‘Sejelek itu ya muka gue dibandingin orang Korea?’

“Iya lah mon.. at least di Indo banyak yang lebih jelek dari lo, lah kalo di sini? Alay aja masi lebih cakep daripada lo”

* Hari terakhir, shopping dadakan di Dongdemun

“Mon gue pengen deh beli baju baju overall gitu yang nyambung dari atasan sampe celana”

‘Ya beli lah’

“Tapi gue orangnya beseran, ntar kalo pipis susah”

‘Oiya bener juga ya’ (ngangguk ngangguk ga peduli)

“Apa gue pake popok aja ya?”

* Pas akhirnya berpisah dan chika boarding :( 

“Mon balik lagi dong sini.. jemput gue… ga mau pulang indoo huhu” (nangis nangis manis)

‘Iya gue udah di subway ni, lo stay aja di airport ntar gue jemput dua hari lagi.’

“Kampret.”

anak panti baru keluar dari penjara

Ah ini baru berdua, gimana kalo lebih rame lagi ya yang ngumpul ♥

Belajar di Luar Sekolah

Topik yang menginspirasi kawan saya untuk membuat postingannya duluan (lihat di sini), dan sekarang giliran saya untuk menulis sebentar.

 

 

Berikut adalah kursus yang pernah saya ambil dalam hidup saya sejauh ini…

1. Les Organ di Serafica (Jakarta, 1994-1995)

Kenapa les: ngefans sama ompung yang suka main piano di rumah, dan mupeng liat kakak yang udah dilesin musik duluan. gak kesampean langsung les piano karena kebetulan di tempat les yang diinginkan itu adanya organ doang…

Alasan berhenti: pengen nyobain les piano dan juga karena musti pindah ke Bandung

Hasil les: bisa baca not balok dan lagu lagu dasar (Beyer)

 

2. Les Menyanyi di Serafica juga (Jakarta, 1995-1996)

Kenapa les: terinspirasi dari tante dan sepupu sepupu yang jago nyanyi

Alasan berhenti: bosan dan lesnya kebanyakan berubah menjadi belajar nada, bukan mengolah vokal (masih kecil udah belagu)

Hasil les: terbiasa baca not angka

 

3. Les Piano di Melodia (Bandung, 1997-2000)

Kenapa les: udah kepalang tanggung belajar organ, naikin lah levelnya dikit jadi piano. sekalian untuk terus menjaga keseimbangan otak kanan dan kiri. tapi alhasil malah dianggep belajar piano dari awal..

Alasan berhenti: pindah ke Jakarta

Hasil les: sempet recital piano sekali, dapet status “level 1” di standar piano royal, dan bisa main lagu-lagu yang lumayan dikenal publik macemnya Santa Lucia dan Love Story

 

4. Les Piano di deket rumah (Jakarta, 2000-2001)

Kenapa les: niat mau masuk sekolah musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) tapi tahun ajarannya belum buka, jadi untuk sementara les di sini dulu aja

Alasan berhenti: masuk YPM

Hasil les: puji Tuhan masih inget lagu lagu yang sudah dipelajari selama ini walaupun telah melampaui jarak dan waktu

 

5. Les Piano di YPM (Jakarta, 2001-2008)

Kenapa les: sayang kalo ga dilanjutin pianonya…

Alasan berhenti: terbang ke Korea

Hasil les: bisa mencintai musik klasik dan indera pendengaran semakin terasah

 

6. Les Bahasa Inggris di AECS Pancoran (Jakarta, 2001-2004)

Kenapa les: malu sama temen-temen, masa nulis 1000 aja masih one tauzen..

Alasan berhenti: sadar bahwa tempat les di situ kurang asik dan pelajaran bahasa Inggris di sekolah malah lebih maju

Hasil les: mengenal daerah Pancoran (ketika itu pengetahuan saya tentang Jakarta masih minim sekali)

 

7. Les Renang di Hotel Indonesia – BUKAN bunderan HI (Jakarta, 2003-2005)

Kenapa les: dipaksa papa, beliau ingin anaknya sehat bugar dan siap melawan banjir

Alasan berhenti: Hotel Indonesianya tutup, renovasi jadi Kempinski dan Grand Indonesia

Hasil les: menguasai 4 gaya renang dan bisa salto dalam air, sayang semuanya udah ngelupas dari otak saya dan sekarang saya kembali ke gaya katak bebas saja…

 

8. Les Bahasa Belanda di Erasmus Huis (Jakarta, 2004-2005)

Kenapa les: lagi lagi terinspirasi dari ompung yang fasih bahasa Belanda, plus bosen di rumah bengong doang..

Alasan berhenti: mau naik kelas tapi kurang murid jadi kelasnya dibatalkan

Hasil les: bisa nulis surat panjang dalam bahasa Belanda dan udah belajar past tense segala macem, tapi lagi lagi sayang… sekarang saya bisanya ik ben sali doang……

 

9. Les Salsa di Senayan Trade Centre (Jakarta, 2005-2006)

Kenapa les: dorongan kuat untuk menggerakkan tubuh di akhir pekan dan ajakan menarik dari teman teman SMA

Alasan berhenti: naik kelas 3 SMA dan harus mulai konsentrasi belajar sesuatu yang akan beneran berguna di masa depan…

Hasil les: bisa pake high heels dan basic stepsnya salsa: one-two-three, five-six-seven

 

10. Les TOEFL di Pondok Indah (Jakarta, 2006-2007)

Kenapa les: persiapan mencari perguruan tinggi

Alasan berhenti: udah selesai ujian TOEFL

Hasil les: walopun pronunciation masih suka kacau tapi at least baca tulis bahasa Inggris udah sesuai ejaan yang baik dan benar

 

11. Les Nyetir di Ulisa (Jakarta, 2006-2007)

Kenapa les: papa ingin anaknya mandiri (alias papa gak mau nyupirin sali lagi huuu) namun dirinya gak bisa ngajarin sendiri, jadi terpaksa dititipkanlah sang anak di ulisa

Alasan berhenti: udah bisa nyetir

Hasil les: puji Tuhan bisa bawa mobil sendiri dan belum pernah memakan korban jiwa

 

12. Les Bahasa Korea di Slipi (Jakarta, 2007-2008)

Kenapa les: karena akan pergi ke Korea

Alasan berhenti: karena sudah saatnya untuk pergi ke Korea

Hasil les: bisa memperkenalkan diri di hari pertama kuliah dan dapet temen orang Korea

 

13. Les Renang di Sport Center Kyungsung (Busan, Maret-Juni 2011)

Kenapa les: dapet musibah sakit penyakit banyak banget di awal tahun 2011 termasuk cacar air, dan mendadak sadar tubuh ini perlu diolah raganya

Alasan berhenti: liburan summer pulang ke Indonesia jadi lesnya stop

Hasil les: berhasil mengembalikan ingatan akan gaya punggung dan gaya kupu-kupu untuk beberapa saat (tapi coba suru praktekkan kedua gaya itu lagi sekarang….. ahahaha pasti gagal)

 

14. Les Drum di Dangsan (Seoul, Juli-Agustus 2012)

Kenapa les: butuh pengalihan perhatian akan stressnya hidup di Seoul dengan kerjaan dan status baru

Alasan berhenti: dikirim ke Indonesia dari kantor

Hasil les: seperti yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya, yaah lumayan bisa ngiringin lagu standar 4 per 4 ala Kidung Jemaat

 

 

Beberapa les yang ingin saya ambil di masa depan…

1. Drum

Maksudnya sih pengen ngelanjutin yang udah dimulai ini. Pengen mulai ngelanjutin sekarang di Jakarta, tapi stik drumnya ketinggalan di Seoul (yaa kalo emang niat ya tinggal beli lagi lah ya sal)

2. Masak

Gak musti masuk institusi beneran sih, rasanya belajar masak sama oma ato mbak di rumah juga udah cukup. Kalo ga kasian kan anak suami gue di masa depan cuma makan McD dan delivery Pizza Hut tiap hari…

3. Mandarin

Saya akui saya setengah cina, tapi saya mau banget deh ditawarin sekolah bahasa gratis gitu ke Cina (alias jalan-jalan gratis).. hehehe ada yang mau pergi sama saya gaaak…

 

Lagu Terakhir

Akhirnya tersadar harus mulai peking karena pesawat saya terbang hari minggu ini, dengan berat hati saya pun membuka koper sambil seperti biasa menyetel musik dari komputer. Tapi entah kerasukan apa, saya lagi kangen kangennya sama musik klasik dan satu album greatest hits nya Chopin pun mulai berkumandang. Salah satu lagu yang saya suka dan paling memiliki memori adalah… lagu berikut ini, Chopin Nocturne in E Flat Major Op.9 No.2

 

 

Lagu ini bisa dibilang lagu klasik terakhir yang saya pelajari dengan.. cukup sungguh-sungguh, karena waktu itu saya masih terdaftar sebagai murid di salah satu sekolah musik di Jakarta. Guru saya ketika itu sudah tua, seorang oma-oma, dan tampaknya sangat kelelahan mengajari saya lagu ini, karena saya memang agak malas sekali latihan di rumah. Saya ingat suatu hari di sebuah resital kecil di rumahnya, saya memainkan lagu ini (dengan sangat jauh dari sempurna) dan mengakibatkan dia naik pitam dan berkata, “Sali, kamu main Chopin kog kayak lagu dangdut!!” Kalimat itu meluncur diarahkan pada saya di depan semua murid-muridnya yang lain. Agak sedih dan terpuruk, saya bertekad berlatih lebih keras lagi dan berjanji dalam hati untuk menyelesaikan lagu ini suatu saat nanti.

Namun akhirnya les piano saya itu terhenti begitu saja karena saya sudah harus siap-siap berangkat ke Korea. Sibuk ini-itu, saya makin malas latihan piano. Akhirnya saya menyerah, pamit pada guru saya, namun tidak melupakan janji saya untuk menyelesaikan lagu ini sampai sempurna suatu saat nanti dan menelepon guru saya itu dengan bangga untuk bilang, “Tante aku mainnya ga kaya main dangdut lagi loh!”

Tapi sayangnya, beberapa bulan kemudian ketika saya sudah berada di negeri kimchi saya mendengar kabar bahwa ibu guru piano saya yang terakhir itu telah meninggal dunia. Sedikit  kaget dan sedikit syok… karena dulu rasanya beliau segar bugar, walaupun sudah lansia.

Jadi begitulah.. tiap kali saya dengar lagu ini -di subway, di pertokoan, di komputer- saya otomatis ingat pada janji saya dan pada guru saya itu.. Dan malam ini lagu ini pun kembali berputar.. Hmm pertanda apa ya? Haruskah mulai latihan piano lagi? Hahaha tapi sekarang membaca (not balok) saja sulit…

제가 요새 뭐하고 지내냐면은….

1. 수영 교실

Terhitung mulai 1 April 2011 yang lalu, saya ikut kelas renang di sekolah. Bayar, maaf sekolah saya sedikit cina, tapi tidak terlalu mahal. 35 ribu won untuk satu bulan, perminggu 5 hari (Senin sampai Jumat), sehari sejam (saya pilih pukul 4 sore). Gurunya laki-laki, teman-teman sekelas saya kira kira ada 5 orang, dan sebagian besar perempuan. Saya ikut kelas ini sendirian, maksudnya tidak ada teman yang saya kenal sebelumnya, tapi murid-murid renang ini sangat bervariasi dan baik hati sekali. Mereka senang bertemu orang asing seperti saya. Kadang kalau saya dimarahin oleh sang guru yang jahat itu karena tidak bisa melakukan gerakan dengan benar, teman-teman saya membela saya dengan berkata, “Makanya Ssem ngajarnya pake bahasa Inggris dong!”

Selain peristiwa kepala saya dicelupin ke air, badan saya dijungkir balikkan dengan paksa, bahu saya dicubit, dan kaki saya ditarik mundur kalau salah gerakan, tampaknya bisa dikatakan kelas renang saya menyenangkan. Oiya, saya bukannya les renang karena ingin bisa berenang, karena dengan bangga saya katakan saya BISA berenang. Sudah pernah belajar sebelumnya ketika saya masih di Jakarta. Tapi saya ikut les ini karena saya ingin sehat >.< Tahun 2011 saya awali dengan berbagai macam penyakit bersarang dalam tubuh saya, jadi saya pikir apa salahnya berolahraga dengan lebih teratur, setuju?

2. 승무원 지원하기

Tidak banyak yang tahu, tapi mungkin melalui blog ini jadi banyak yang tahu sekarang, bahwa saya ingin menjadi pramugari. Sangat ingin. Sejak kapan? Sejak kecil. Kecilnya sekecil apa? Sekecil sekali (halah). Maaf, tapi iya saya sudah sangat tertarik dengan pesawat dan pelabuhan udara sejak saya TK. Ketika sekolah dasar, teman-teman saya banyak yang ingin jadi dokter, tapi saya lebih tertarik untuk menjadi pramugari. Naik ke SMP, masih sedikit tertarik menjadi pramugari, tapi orang-orang mulai merendahkan pekerjaan ini dan bilang “buat apa sih sekolah mahal mahal kalo gedenya cuma melayani orang di pesawat”. Naik ke SMA, tiba-tiba cita-cita saya juga naik. Ketika itu saya sempat ingin menjadi pilot. Hehehehe cita-cita yang agak unik untuk seorang perempuan, tapi yaah saya juga sadar kayanya saya ga sesehat itu untuk jadi pilot. Mata saya mulai kabur dan badan saya suka sakit-sakitan. Lagipula lingkungan tidak ada yang menyetujui. Jadilah saya banting setir ke arah komputer dan terdampar di negeri ini….

Namun akhir akhir ini tiba-tiba saya kembali tertarik untuk menjadi pramugari. Entah memang sudah panggilan alam, atau karena sudah desperate nyari kerja di bidang komputer (lagi agak muak liat kode), jadilah ketika salah satu teman saya yang juga tertarik ingin menjadi pramugari mengajak saya sama sama mendaftar di airline  tertentu, saya pun tertarik. Tadinya hanya satu CV dilayangkan. Kisahnya pun bersambut baik, Asiana memanggil kami untuk interview. Namun kami gagal di interview tahap pertama, mungkin karena mereka memang tidak butuh orang Indonesia (secara ga ada penerbangan ke Indonesia juga). Namun lama-lama rasa penasaran kami ini tidak pudar juga, dan sejauh ini sudah banyak sekali iklan lowongan menjadi pramugari yang kami teliti. Beberapa CV lain juga sudah dilayangkan, dan beberapa CV lain pun menyusul.

Ayah ibu saya tentu tidak suka saya menjadi pramugari, katanya pekerjaan apa itu, sekolah jauh-jauh kog jadinya pramugari. Demikian pula dengan teman-teman saya, banyak yang heran kog anak komputer dan arsitek malah lulus jadi pramugari? Namun entahlah, hati kecil saya berkata kalau memang bisa diperjuangkan, selama itu tidak mengganggu kegiatan saya yang lain, kenapa tidak? Lagipula ini sudah cita-cita saya dari kecil, mewujudkan cita-cita sendiri boleh dong? :D

3. 화장 배우기

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali! Hehehehe di tahun keempat saya, barulah sekarang saya sadar bahwa make up itu penting. Grrrr….. Dan ketika saya mulai mengejar ketertinggalan saya, ada satu lagi hal yang saya sadari, bahwa alat make up harganya mahal banget buseeet emosi nian kalau tau harga satu brush saja bisa seratusan ribu rupiah, belum lagi kalau ingin mencari make up merk luar yang kualitasnya bagus. Aih.. andaikan muka ini bisa dipercantik setiap hari dengan adobe.. pasti kantong lebih stabil dan hati lebih senang…

4. TOPIK 공부하기

HA! Yang ini bohong sih. Yang ini baru tiba di tahap hendak… dan belum terlaksana. Hehehe. Rencananya ingin mengambil tes bahasa korea semester depan… tapi aih malasnyaa belajar >.< melihat bukunya saja saya muak, tidak bisa membayangkan harus mempelajarinya berbulan-bulan, karena saya akui untuk tes tingkat 고급 kemampuan saya masih jauh dari yang seharusnya. Doakan saya.

Tragedi Website

Seinget saya dulu saya pertama kali belajar HTML pas masih SMP.. diajarin bikin website pake notepad dan segala macemnya. Masuk SMA.. kerenan dikit, disuru bikin website pake Dreamweaver. Lanjut ke bangku kuliah tahun pertama, HTML nya udah dimodifikasi sama PHP dan kawan kawannya jadi bisa ditambahin tabel dan pake login-loginan. Naik kelas ke tahun kedua, belajar pake Javascript dan membuat websitenya jadi cantik dikit. Sekarang.. di tahun ketiga… kami dapet project bikin web yang bener bener jadi total.. bisa diakses dari mana aja, dan lengkap dengan tambahan Board, Photo Gallery, plus dipercantik oleh Flash dan Photoshop.

Dan project inilah yang mewarnai pagi saya hari ini.

Bermula dari minggu ujian yang baru selesai minggu lalu, pak Guru yang agak gak peduli sama jadwal murid-murid menyuru kami menyelesaikan web ini dalam satu minggu. Buat saya yang sudah menyelesaikan 80 persen website saya (hasil gak tidur sama sekali minggu lalu, lihat efeknya di postingan ini) hal ini tidak terlalu sulit, karena tinggal dihubungkan dengan si Zeroboard sialan, semuanya beres! Namun tidak demikian halnya dengan kawan kawan terdekat saya: Minji, Minju, dan Oppa.  Demi menyelesaikan project ini, mereka lagi-lagi gak pulang ke rumah, stay di sekolah sampe pagi ini, dan cuma tidur di ruang kelas beberapa jam. Orang yang lihat mungkin bisa bilang mereka niat, tapi sayangnya pak Guru tidak berpikir demikian.

Setelah website masing-masing dipresentasikan di depan kelas, pak Guru langsung memberikan nilai saat itu juga dan nilainya dituliskan di depan kelas. Gak ada yang berhasil dapat 100, tapi yang merasa dirinya bagus boleh memohon-mohon dapet 95. Inilah yang dilakukan kawan saya Minju… hanya saja kurang berhasil…

Nilainya Minju lumayan jelek, padahal dia udah lengkap dengan flash dan board ini itu.. belum lagi dia sama sekali ga tidur sampe pagi.. dan dia memang punya sifat berusaha ingin mendapat nilai paling tinggi di kelas… Jadilah.. ketika Pak Guru menurunkan nilainya dari 95 jadi 90.. meledaklah tangisnya.

Agak kasian juga liatnya.. tapi saya bisa apa? Mau ngasi tisu pun ga bisa, karena saya bukan tipe perempuan yang nenteng tisu ke mana mana… Huhu..

Beginilah pagi hari saya yang cerah ini.. diramaikan dengan tragedi seorang kawan yang menangis :(

Ketika kata menyerah hampir keluar dari lidah…

Senin DES, Selasa tugas Graphics, Rabu PR Network Programming, Kamis menyelesaikan Edelweiss Pension, Jumat rapat acara penyambutan rombongan MGBK. Secara berturut turut hari Senin, Selasa, dan Rabu ada latihan Saman, sementara tanggung jawab mengontrol LPJ teman-teman Perpika 3 pun turut menghiasi di tengah-tengah minggu. Gak ketinggalan latihan musik untuk 외국인 예배, dan ujian Art Therapy yang akhirnya menutup masa ujian saya dengan indah.

Hari ini hari Kamis, tinggal 2 hari lagi menuju akhir minggu. Kemarin saya sukses tidur jam 6 pagi demi mengerjakan tugas Edelweiss Pension website upgrade,  dan keadaan tubuh saya sangat ini amat sangat lemah sekali. Mata merah, badan hangat, otak tidak berputar dengan sempurna.

Satu satunya yang saya butuhkan saat ini adalah tempat tidur dan selimut hangat, namun apa daya pak guru dari pihak International Affairs sibuk menagih terjemahan teks untuk acara penyambutan guru-guru MGBK ke sekolah saya minggu depan.

Hasrat hati ingin menangis, namun tenaga untuk mengeluarkan air mata pun sudah tidak tersisa lagi.

Ah ya! Dan sampai akhir minggu ini saya harus memikirkan topik untuk Computer Graphics project saya yang berikutnya. Ada yang punya ide? Ada yang akrab dengan Processing? Huhu.. ㅡ.ㅡ”

12 Hours to Database Exam

Tenaga saya habis sudah.

Penyesalan memang selalu datang belakangan, tapi apakah belajar mepet-mepet sebelum ujian tetap tidak termasuk ‘belakangan’? Sampai detik ini saya belum juga menyesali kegiatan daydreaming saya di kelas setiap kali Mr. Hong bercuap-cuap susah payah menjelaskan pelajaran ini.. Karena saya sadar saya memang kurang berjodoh dengan setiap pelajaran teori seperti ini.. Mereka kian bermentalan dari otak saya setiap kali saya berusaha menjejalkannya ke dalam kepala. Aeh..

Saya mau tidur.

Jam doraemon sudah menunjuk pukul 2.35 di pagi hari. Mata pun mulai merengek minta dipejamkan.. dan badan ini sudah sedari tadi merayu saya minta digeletakkan di atas kasur berbalutkan sprei kuning. Haruskah saya turuti kemauan daging ini?