Ketika kata menyerah hampir keluar dari lidah…

Senin DES, Selasa tugas Graphics, Rabu PR Network Programming, Kamis menyelesaikan Edelweiss Pension, Jumat rapat acara penyambutan rombongan MGBK. Secara berturut turut hari Senin, Selasa, dan Rabu ada latihan Saman, sementara tanggung jawab mengontrol LPJ teman-teman Perpika 3 pun turut menghiasi di tengah-tengah minggu. Gak ketinggalan latihan musik untuk 외국인 예배, dan ujian Art Therapy yang akhirnya menutup masa ujian saya dengan indah.

Hari ini hari Kamis, tinggal 2 hari lagi menuju akhir minggu. Kemarin saya sukses tidur jam 6 pagi demi mengerjakan tugas Edelweiss Pension website upgrade,  dan keadaan tubuh saya sangat ini amat sangat lemah sekali. Mata merah, badan hangat, otak tidak berputar dengan sempurna.

Satu satunya yang saya butuhkan saat ini adalah tempat tidur dan selimut hangat, namun apa daya pak guru dari pihak International Affairs sibuk menagih terjemahan teks untuk acara penyambutan guru-guru MGBK ke sekolah saya minggu depan.

Hasrat hati ingin menangis, namun tenaga untuk mengeluarkan air mata pun sudah tidak tersisa lagi.

Ah ya! Dan sampai akhir minggu ini saya harus memikirkan topik untuk Computer Graphics project saya yang berikutnya. Ada yang punya ide? Ada yang akrab dengan Processing? Huhu.. ㅡ.ㅡ”

이 늦은 밤에…

갑자기 엄마가 생각 나네..

 

잘 지내고 있을까..

아직도 오빠랑 싸우고 있을까..

나이 먹어서 쉽게 피곤해질 텐데..

이 시간에는 푹 자고 있으시겠지?

A Secret Wish

Kadang.. saya berharap saya lahir sebagai seekor kucing.

Bulat, halus, lucu, dan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang sekitar saya.

 

Kadang.. saya berharap saya lahir sebagai seorang laki-laki.

Tidak perlu repot memilih baju dan tidak perlu sakit perut tiap bulan.

 

Kadang.. saya berharap saya lahir dan tumbuh besar di luar negeri.

Bisa menguasai banyak bahasa asing dengan luar biasa fasih.

 

Namun kadang…

^__^

Saya juga berharap ada orang yang datang kepada saya dan mengacungkan jarinya tepat di muka saya dan berkata,

“Sali, saya berharap saya lahir sebagai kamu, penuh dengan keceriaan dan tawa setiap harinya.”

 

Selamat hari Sabtu.

dimarahin Pak Dokter

“SALI! sakit sekali sih??? mustinya ga minum ponstan. minum kwak tu Papaverin!!!

‘lah sali mana bawa obatnya ke mana mana… lagian pas kejadian sali ga di kamar. sali jauh banget dari kamar. mau pulang aja ga bisa, nyaris harus digendong temen sali..’

Maar sali kan bisa rasa toh, kalo so saki saki sadiki hajar jo tu Papaverin. jangan kwak tu PONSTAN!!!”

suara di seberang sana semakin memanjang dan mengeras.

“… lain kali jangan minum Ponstan!”

saya diam.

“Denger ya, jadi malam ini minum Papaverin, besok juga. 2 kali 1.”

saya masih diam. saya kesal.

saya merasa rasa sakit saya suda basi. tadi siang saya kesakitan. saya minum obat, dan manjur. sekarang saya merasa super sehat. kenapa musti berisik sih??

“Sal? sali di mana sekarang?”

‘ya di kamarlah, ini uda jam 9 lewat di sini!’ (saya selalu pakai akhiran -lah kalau suda kesal)

“Oo… iyo kang.”

klik. sambungan dimatikan.

tanpa sadar air mata saya sedikit mengalir. saya benci dimarahi, dan saya benci sakit. tapi saya lebih benci lagi fakta bahwa saya jauh dari mereka yang memarahi saya ketika sakit. karena saya tau mereka marah untuk kebaikan saya.

fiuhh. at least one lesson learned: jangan pernah lagi minum Ponstan. atau kalaupun mau minum Ponstan, JANGAN BILANG SAMA MAMA. apalagi papa >.<

Sep 17, 2008 11:51 AM