Visa Korea

Demi menghapus ingatan masa lalu tentang jalan-jalan yang tragis ke Cina tahun lalu, tahun ini gue dan Bania dan juga Obi berniat main ke Korea. Meskipun kami pernah tinggal di Korea, tetep aja sih kami ga punya visa tinggal atau sejenisnya, jadi pas mau berangkat ini harus tetap apply visa lagi seperti pada umumnya hahah.

Nah untuk ngurus visa kemarin, gue dan Bania sengaja ga pake tur karena toh kedutaan Korea lokasinya dekat dengan kantor kami, dan konon katanya kalau urus sendiri lebih cepat jadi daripada pakai tur.

Fyi, gue karyawan swasta, belum menikah, hendak membuat visa turis single entry, dengan biaya pribadi, tanpa surat undangan dari Korea atau sponsor, dan sebelumnya memang sudah pernah ke Korea. Ini dokumen yang kemarin gue siapkan untuk urus visa:

  • Formulir aplikasi visa (download di sini)
  • Foto 4×6 background putih 2 lembar
  • Paspor asli dan fotokopi (halaman depan dan halaman yang ada cap visanya)
  • Fotokopi KTP & NPWP
  • Fotokopi akte kelahiran
  • Fotokopi KK
  • Fotokopi ID card dan kartu nama kantor
  • Rekening koran 3 bulan terakhir (atau e-Statement dari klik BCA)
  • Surat referensi visa dari bank (gue bikin di BCA Plaza Sentral, bayar 50ribu)
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • SPT PPh 21
  • Surat keterangan kerja (English)
  • Print tiket pesawat PP
  • Print bookingan penginapan (gue via booking.com biar ga kena charge)

Itu saja dokumen yang gue bawa! Sebenernya ketika mau nyiapin dokumen buat visa kemarin itu, gue banyak belajar dari blog ini sih (makasih banyak yaaa hehe). Terus satu hal yang gue ga siapin kemarin, yaitu itinerary. Alasannya simply karena males. Dan karena dulu ke Korea juga pernah bikin visa terus ga masukin itinerary sama sekali hahaha jadi yaudalah skip.

Lalu perihal harus sedia uang berapa banyak di tabungan, itu sih emang banyak mitosnya ya. Cuma kemarin gue perkirakan aja uang di tabungan sekitar 2 atau hampir 3 kali lipat total pengeluaran selama liburan di Korea. Dan kebetulan gue apply visa setelah gue gajian, huhahahah jadi gak miris-miris banget lah angka di rekening.

Nah, proses nyiapin dokumen terlihar sederhana dan menyenangkan bukan? Tentu saja! Tapi tenang, bukan Sali dan Bania namanya kalau mau jalan-jalan ga ada malapetakanya. Hahahah. Malapetaka ini hampir timbul ketika kami mau apply dan ternyata waktunya mepet banget karena banyak tanggal merah :3

Apply: Selasa, 2 Mei 2017

  • Berangkat dari kantor jam 9, tiba di Konsulat Korea jam 9.15, dapet antrian 42 tapi nomornya sudah berjalan sampai 36 dan geraknya cepat. Selesai jam 9.45, dan katanya visa jadi dalam 6 hari kerja tapi disuru cek dulu di website.

Diperkirakan jadi: Rabu, 10 Mei 2017

Tiket berangkat: Kamis, 11 Mei 2017

IMG_9938

Komedi sih. Jujur kami ga nyangka bakal makan waktu 6 hari kerja, karena seinget kami ga selama itu waktu yang dibutuhkan. Tapi pas ketemu petugas, dia bilang emang peraturannya baru berubah. Terus ada temen kantor yang menenangkan dan bilang, “Gue juga waktu itu apply hari Selasa, eh hari Sabtunya gue cek di web udah beres, dan hari Senin minggu depannya udah bisa diambil.

Sementara kami baru disuru ngambil hari Rabu. Like.. NOOOO

Usut punya usut, ternyata di minggu itu emang tanggal merahnya banyak banget. 3 Mei itu Waisaknya Korea, 5 Mei itu hari anak, terus tanggal 9 Mei ada Pemilu pula. Aku harus apah T__T

Ya ga harus apa-apa juga sih. Banyak-banyak doa aja palingan hahahah. Karena sepanjang minggu itu sambil deg-degan gue dan Bania tiap hari ngecek website kedutaan untuk cek status aplikasi visa, dan hasilnya tetap “Application Received” alias belum approved. Senyumin aja ya kak :)

Untungnya pagi ini, tepat hari Rabu tanggal 10 Mei 2017, gue terbangun dengan wasap ceria dari Bania yang bilang bahwa visa kami udah bisa diambil! Persis seperti perkiraan dari petugas di kedutaannya, hahah ga lebih cepat rupanya. Tetep disyukuri lah ya.. andaikan telat sehari aja, ga bisa terbang besok @.@

(cek status di sini, pilih bahasa Inggris, lalu cari yang Check Application Status)

cek aplikasi

Jadi moral dari cerita ini adalah, jangan apply visa mepet-mepet ya! Nanti jantungan kayak gue :) Oh dan juga, urus visa sendiri gampang kog. Kalau emang tinggal di Jakarta dan punya banyak waktu, saran gue adalah urus sendiri. Biaya hanya 544,000, dan jadinya lebih cepat. Tapi kalau emang ga ada waktu atau rumahnya jauh (ngerti banget lah ya kemacetan Jakarta sekarang kayak apa) ga ada salahnya juga minta tolong tur. Your call!

한국 내일 갑니다!!

 

Indonesia 6D5N

With only approximately 800 USD….

FOR 2 PERSONS!!

Haha jadi saya menuliskan postingan ini sebenarnya untuk rekam jejak pribadi aja. Semua bermula dari teman baik saya di Korea dulu tiba-tiba ngabarin bahwa dia ingin berkunjung ke Indonesia bersama adiknya, dan minta dikasi saran musti pergi ke mana aja. Dia sendiri hanya mention beberapa nama kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Jogja, tanpa menyebut secara spesifik mau ke mana.

Mengetahui dengan jelas bahwa teman saya itu, sebut saja MJ, tidak berbahasa Inggris sama sekali, akhirnya saya super ga tega menelantarkan dia begitu saja. Apalagi ini kali pertama dia jalan-jalan ke luar negeri. Dia pergi dengan adiknya sih, tapi itu ga membantu banyak juga karena adiknya sama-sama ga berbahasa Inggris, apalagi Indonesia :D

Akhirnya dengan brutal saya membuatkan itinerary sekaligus memesan semua hotel, tour, rent car, dll dkk untuk MJ dan adiknya dan karena pertemanan kami seakrab itu jadi saya rela nalangin dulu semua pengeluarannya. Baru kemudian setelah dia tiba di Indonesia, dia membayar sesuai dengan catatan pengeluaran yang saya buat, dan saya sendiri amazed karena pengeluaran dia kurang lebih 800 USD saja untuk 2 orang! Hahaha kenapa amazed, karena ini udah termasuk tiket pesawat PP ke Jogja, nginep di tempat yang bukan backpackeran amat, makan di restoran yang baik (sebaik itu sampe harus reservasi dulu) dan saya ga setega itu untuk bawa dia makan di pinggir jalan.

Jadi untuk siapa pun itu yang butuh contekan kalau ada temennya mampir ke Indonesia dan nanya kurang lebih habisnya berapa, silakan bisa nyontek list ini di bawah ini. Harga tercantum itu untuk 1 orang asing ya. Dan saya pergi sama mama saya dan teman-teman saya juga, jadi kalau ada harga yang perlu patungan, ada yang dibagi 4 (waktu ke Jogja) dan ada yang dibagi 5 (waktu ke Bandung).

Day 1 (Jumat, 17 Feb 2017)

Pengeluaran hari pertama adalah biaya taksi saja, karena mereka nginepnya di rumah sayah heheh.

15.35 Incheon Departure  
20.40 Jakarta Arrival
22.00 Sali’s House Arrival

Day 2 (Sabtu, 18 Feb 2017)

Di hari kedua ini, kami naik pesawat Airasia ke Jogja. Di sana sewa mobil tanpa supir dari seorang teman (ada nomor HPnya yaa kalau butuh) dan kami patungan ber-4. Terus wisata candi kami pakai yang satu paket, Prambanan plus Ratu Boko, cuma harganya ternyata dibedain antara WNI dan WNA. Habis dari candi, makan di restoran yang lumayan kece dan WAJIB reservasi dulu. Tempat ini terlampau hits jadi kalau ga reservasi kemungkinan besar ga dapet tempat.

10.25 Jakarta Departure 442,700 IDR
12.00 Rent Car  300,000 IDR
13.00 Prambanan & Ratu Boko 25 USD
17.30 Abhayagiri  100,000 IDR (DP untuk 4 org)
20.00 Greenhost Boutique Hotel 479,788 IDR per kamar (2 org)

Day 3 (Minggu, 19 Feb 2017)

Untuk Day 3 ini kami pakai 1 Day Tour dari Nagan Tour, bisa cek di sini.

Kurang lebih harga untuk WNI 418,000 IDR, dan untuk WNA 705,000. Kenapa bedanya jauh sekali? Karena tiket masuk Borrobudur aja 30USD kalau ngga salah :( Sedih memang Indonesia ini ya untuk WNA dimahalin sekali harganya.

Btw hari ini pengeluaran ada pas makan siang (87,000 berdua, dan saya lupa nama restonya -__- somewhere lah between Borrobudur dan Ullen Sentalu) dan makan malam (264,000 berdua, La Pergola). Sisanya udah termasuk di biaya tur di atas.

07.30-08.00 Departure from hotel
08.00-09.00 Breakfast Soto Pak Soleh
09:00-11.00 Borrobudur
11.00-12.00 Lunch
12.00-13.30 Moving
13.30-14.30 Ullen Sentalu
14.30-15.00 Move to Merapi
15.00-16.30 Jeep Lava Tour
16.30-17.30 Moving
17.30-19.30 Malioboro
19.30-20.00 Moving
20.00-22.00 Dinner (La Pergola)

Day 4 (Senin, 20 Feb 2017)

Karena hari ini adalah hari terakhir kami di Jogja, jadi rencananya sederhana: mampir liat Keraton &Taman Sari, lalu makan siang dan balik ke Jakarta. Di Jakarta sendiri MJ dijamu oleh teman-teman saya yang lain, Bania dan Obi, sementara saya kabur sejenak untuk nonton The Moffatts :D

08.00-09.00 Hotel checkout Sambil pesan Grab Car :)
09:00-11.00 Keraton & Taman Sari 20,000 + 15,000 IDR
11.00-12.00 Ayam Suharti 78,500 IDR
13.50-15.05 Jogja-Jakarta 503,250 IDR
17.30-18.30 Moving to Central Park 36,500 IDR (Uber)
18.30-21.00 Dinner Diakhiri dengan tidur di rumah Bania

Day 5 (Selasa, 21 Feb 2017)

Kami ke Bandung, nyewa mobil dengan supir. Rate sewanya 550,000 per 10 jam, dengan overtimenya 50,000 per jam. Kami sendiri pakai sampai kena overtime 8 jam, jadi pengeluaran kami 550,000 + (8*50,000) + 100,000 [tip] = 1,050,000 IDR. Isi bensin sampai 300,000 IDR, tol PP  53,000 kali 2. Rent mobilnya di sini.

05.00 Jakarta-Bandung 220,000 IDR (per orang PP)
08.00 Dusun Bambu (lunch) 150,000 IDR
11.00 Tangkuban Perahu 200,000 IDR (WNA)
14.00 Farm House 26,000 IDR
17.30 Miss Bee (dinner) 125,000 IDR
19.30 Bandung-Jakarta
22.00 Artotel Arrival

Day 6 (Rabu, 22 Feb 2017)

Hari terakhir MJ dan adiknya jalan-jalan sendiri di Grand Indonesia sementara saya kembali bekerja. Niatnya sih malamnya kembali saya antarkan ke bandara sepulang kantor, tapi ternyata malam itu hujan deras sekaliii huhuhu. Jadi akhirnya MJ dan adiknya naik Uber lagi ke airport, sampe argonya sekitar 250,000 IDR :)

Anyway yah.. walaupun tidak dicantumkan di tabel atas, sebenarnya jalan-jalan kali ini sebagian besar disponsori oleh Uber, Gojek, dan Grab! Hahahah dikit-dikit kalo mau pindah tempat langsung manggil sesuatu. Mau jadi apa liburan kami kalau takada ojek online :$ Plis lah semoga fasilitas murah ini terus ada selamanyah!

 

Jogja Klaten – Asep Besta Wedding

Bulan Maret tanggal 26 Maret 2017 lalu, salah satu teman sepenempatan gue di Kapuas Hulu dulu menikah. Namanya Asep, umurnya paling muda di antara kami ber-10, anaknya paling lucu, jurusan kuliahnya Perbandingan Agama (like what? ada jurusan kayak gitu? hahah), tapi kisah asmaranya puji Tuhan lurus-lurus aja sampe akhirnya sukses menikah di Klaten bersama perempuannya, Besta.

Berhubung momen ini akan jadi reunian kami yang paling lengkap sejak sekian lama tidak bertemu, dengan niatnya gue udah pesen tiket dari jauh-jauh hari dong ya. Kalender udah dibuletin, rencana dimantapkan. Dan karena udah tau tanggalnya dari lama, jadi sempet beli tiket kereta deh ke Jogjanya! Excited karena udah lama ga naik kereta dan juga karena murah huhahah. Cuma sayangnya gue ga sejagoan itu naik keretanya yang ekonomi, heheh gue lemah jadinya naik eksekutif saja.

IMG_7900
Argo Dwipangga 10 Eksekutif

Jujur gue norak tapi seneng sih naik kereta. Entah karena emang gue naik kereta yang bagus dan eksekutif atau emang kereta lebih nyaman dari pesawat, tapi ini lapang banget :D Kaki gue bisa diselonjorin ke depan, guling kanan guling kiri ga mentok, kamar mandinya juga bersih dan tidak bau, ya menyenangkanlah. Kebanting banget sama pas naik pesawat pulangnya, dengkul langsung mentok sama bangku depan :))

IMG_7909
Pemandangan dari Kereta

Not to mention pemandangan dari dalam keretanya itu sendiri! Reminds me so much of Kalimantan back then deh. Hijau hijau dan banyak bocah berkeliaran. Cuma bedanya kalau Kalimantan dulu jarang ada sawah, hahaha karena biasanya rawa-rawa gitu. Memang ya tanah Jawa ini tanah penuh berkat, menanam apapun sepertinya sukses. Anyway! Foto di atas adalah satu detik dari sekian puluh menit mata gue melek selama di perjalanan. Karena kalau boleh jujur dalam hampir 8 jam perjalanan kereta itu, sebagian besar gue habiskan dengan tidur nyehehehe. Tidur adalah harta paling berharga saat ini.

IMG_7933
Tourists gotta do what tourists gotta do

Tiba di Jogja, first thing first lah. Ketemu anak-anak ini formasi lengkap! Dari kiri ke kanan ada Erna, Erni, Ican, Linda, Ray, Sali, Gaol, dan Ali. Susi ngga bisa bergabung karena masih sibuk bekerja di kota lain, sementara Tennie harus menjaga Theia anaknya yang baru sembuh dari pilek. 7 dari 10 bisa kumpul, udah lumayan banget kaaaan <3

IMG_7954
The happy couple: Asep & Besta!
IMG_7963
Kami satu untuk Kapuas Hulu <3
IMG_7982
Ican dan kamera barunya :)

IMG_8009

IMG_7949

Plakat beli online di sini

Nikahannya sendiri di Klaten karena Besta asli Klaten. Kami nginep di daerah Kalasan, lalu pagi-pagi naik mobil ke Klaten. Gue sangat berterima kasih pada teknologi karena berkat Waze gue bisa mengantarkan anak-anak ini naik mobil sewaan ke Klaten dengan selamat tanpa nyasar! Hahah.Akad nikahnya sendiri mulai 8.30, dan kami tiba tepat sebelum akadnya mulai. Habis akad lanjut resepsi dan makan-makan, kemudian tentu saja akhiri dengan sesi foto dan nyanyi bareng untuk Asep :)

Kalau udah kaya gini lucu banget rasanya, para Pengajar Muda, meskipun udah lama ga ketemu dan dan ngobrol, begitu ngumpul pasti langsung bawel lagi. Siapa yang berani bilang Indonesia Mengajar itu cuma antek-antek bapake aja yang mau maju politik? Kalau emang ada alumninya yang ikutan politik, ya itu pilihan aja sih. Tapi rasa-rasanya defaultnya PM itu nyampah deh :)) Berisik, ga tau malu, dan paling jago ngerusuh. Jadi gue sungguh sangat setuju kalau slogan Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi itu diganti jadi Setahun Mengajar, Seumur Hidup Keluarga. Because we are <3

IMG_8035
For the first time ever, wisata candi pakai kain! (tapi leggingnya keliatan hahaha)

IMG_8049IMG_8048IMG_8047

Dan setelah selesai kondangan, tentu ga sah nurisnya kalau ga wisata mainstream di Jogja. Sayang Asepnya ga bisa ikut diculik ke Prambanan juga :) Family for life! Yassss!

ps: Mobile invitation Asep dan Besta dibuat oleh Ican dan dapat diakses di sini. Kalau berminat dibikinin yang serupa bisa hubungi gue lalu nanti gue kenalkan ya. Per tanggal 6 April 2017 ini sih anaknya masih single dan available :))

Coldplay Singapore 2017

Jadi, sebelum nulis postingan ini, gue berusaha mencari postingan lama gue tentang nonton konser dan agak tercengang karena baru sadar bahwa terakhir kali gue nonton konser besar itu sudah 4 tahun lalu! Huhahah pantesan kaki berasa banget pegelnya, beda jauh sama dulu :))

Iyah jadi tahun 2013 dulu gue sempet melewati masa-masa kejayaan di mana YOLO jadi prinsip hidup satu-satunya lalu somehow ada aja gitu waktu dan rezeki untuk nonton konser. Di tahun 2013 lalu itu gue sempet nonton Jason Mraz, Sigur Ros, dan Limp Bizkit (plus Muse).

Ga lama setelah konser-konser itu, gue balik Indonesia, ikut IM, cari kerja, cari uang, kumpulkan uang, cari lagi, kog ga kekumpul-kumpul uangnya, kerja lagi, mulai menyesali kenapa dulu tiap kali ke Myeongdong belanja mulu bukannya ditabung, kerja lagi, terus aja gitu sampe tua hahaha :p Ga sih intinya emang sejak balik Indonesia belum ada kesempatan nonton musical atau konser yang masif lagi aja. Bulan lalu memang sempet nonton The Moffatts, tapi itu konsernya keciil jadi ga terlalu berasa cape :)) Sementara yang ini? Kapok gue hahah next time beli yang duduk ya Sali yaa..

Anyway! Jadii 30 Maret 2017 – 1 April 2017 kemarin gue cuti dan berangkatlah ke Singapore. Cuma nginep 2 malam, tapi cukup menyenangkan karena bisa quality time dengan teman kuliah dan teman SMA. Hehe literally ga ke mana-mana lagi selain makan, karena kayanya kog Singapura udah dikunjungi semua yah :D Uda gitu kemarin cuacanya sangat buruk, jadi gue cuma sempet nuris ke National Museum. Sisanya agenda gue adalah makan siang bersama Aska dan makan malam bersama Feyusu.

photo-collage (2).png

Singapura menyapa gue dengan hujan badai dan pernak-pernik Tsum-tsum di mana mana. Di hari terakhir gue sempet hampir kalap mau beli sprei Tsum-tsum segala >.< Untung bebas dari cobaan. Heheh. Makan malam bersama Feyusu kali ini disponsori oleh TAP Craft Beer Car dan Prive di Chijmes, tempat makan kelas atas katanya hahahah. Semoga what you spend is what you get ya. Big Amen!

IMG_8347.JPG

Hari kedua (hari H konser) gue menikmati kehidupan Singapura sebenarnya. Ditemani bff yang baru pindah dari NY dan salah mulu nyebut MRT jadi subway, kami makan bak kut dan minum milk tea. Sengaja ga jalan-jalan kejauhan karena gue tahu harus simpan energi sebanyak mungkin demi bertemu dengan abang Chris malamnya.

IMG_8351

Konser mulai jam 8, gate dibuka jam 6, dan orang-orang udah mulai ngantri dari jam 12 siang. Sementara gue? Ngantri dari jam 4 aja sih.. karena ga seambisius itu hahaha. Dan dateng jam 4 tentu saja antriannya udah ular naga panjangnya.

IMG_8353

Namun kami cukup hoki. Meskipun ga ngantri dari pagi banget, tapi masih kebagian spot berdiri paling depan! Dan seperti terlihat di gambar atas, para penonton yang duduk di tribun datengnya mepet mepet semua hahaha indah sekali hidup mereka. Foto diatas diambil sekitar jam 6.30, dan bangku masih pada kosong.

IMG_8355

The team! Haiva, Mega, Novi, Sali, Chandra, dan Anggri! Nontonnya bareng, tapi nginep dan itinerary beda-beda semua hahah.

(Baca juga punya Anggri: A Head Full of Dreams)

IMG_8357IMG_8359

Hiasan panggungnya inspiratif banget! Semua dihias warna-warni sesuai tema A Head Full of Dreams, dan alat musiknya juga ditempelin segala rupa biar ikutan meriah. Suka!

IMG_8379IMG_8532

Hampir 50,000 orang nonton di stadion ini. Harga tiket termurah 78 SGD, harga tiket termahal 250an SGD. Kebayang ga uang yang dihasilkan dalam semalam? :))

IMG_8612

Daan tentu saja… after match!

IMG_8644

Usia 25 tahun ke atas, habis jingkrak-jingkrak ga sanggup lagi berdiri tegap :D

IMG_8439

Tapi after all, konser ini adalah konser paling penuh effort dalam hidup sih. Beli tiketnya setengah mati, ngantri masuk pas hari H nya kayak orang gila, cape nya luar biasa, wah juara deh. But still, worth the effort, the money, the drama, and everything lah <3

Dan supaya orang lain juga bisa merasakan nonton berdiri tepat dari depan panggung terus bolak-balik ketiban balon dan mandi confetti, ini gabungan beberapa video yang berhasil gue rekam.

Dengan ini satu lagi bucket list gue tercoret, dan setelah ini satu-satunya artis yang masih penasaran banget pengen gue tonton tinggal sisa satu: Backstreet Boys!

 

Perpanjang Paspor

Jadi, salah satu hal produktif yang saya lakukan di awal tahun 2017 ini adalah perpanjang paspor! Hahah rencana dipakainya masih lama, tapi ya mumpung ada temen yang mau perpanjang paspor juga, jadi sekalian lah ya supaya ga bengong nungguin sendirian :D

Tempat: Kantor Imigrasi Jakarta Barat (samping Museum Fatahillah di Kota)

Hari/Tanggal: Rabu/18 Januari 2017

Yang dibawa:

  1. Paspor Lama + fotokopi depan belakang
  2. KK asli + fotokopi
  3. Akte Kelahiran asli + fotokopi
  4. KTP asli + fotokopi
  5. ID card kantor + fotokopi –> tambahan, request dari si petugas
  6. Pen hitam

Kronologis:

Tiba di Kantor Imigrasi jam 06.36, dapat antrian Walk In nomor 83. Saya mau bikin e-paspor, jadi ga bisa daftar online. Kudu langsung datang katanya. Pas nyampe di Kantor Imigrasi, disambut oleh Pak Satpam yang bagi-bagi nomor antrian. Masuk ke area tempat duduk, udah banyak banget orang yang nunggu. Rame sih, tapi masi rapi dan semua sabar menunggu.

Jam 07.35 petugas mulai manggilin nomor antrian dari nomor 1 hingga seterusnya. Lumayan bisa diapresiasi nih, karena sebenarnya jam kerja mulai jam 8 pagi, tapi ini masih setengah 8 udah mulai dipanggil.

Tapi nasib, berhubung nomor antriannya 83, akhirnya saya baru dipanggil jam 9 pagi hahahah :( Dipanggil jam 9 itu pun untuk menyerahkan dokumen aja. Dicek asli dan fotokopinya, ditanya mau bikin e paspor atau paspor biasa, dikasi formulir, dan dikasi map untuk diisi. Habis itu semua kelengkapan dokumen yang sudah disatukan dalam map boleh dibawa ke ruang sebelah, untuk… menunggu wawancara.

Sambil nunggu wawancara inilah bolpen hitam kita dibutuhkan! Hahaha soalnya meja untuk ngisi ada di ujung, dan males kalo musti ngisi sambil berdiri. Enakan duduk manis sambil nulis-nulis form sambil nunggu. Jadi kalau ada yang mau perpanjang paspor juga, jangan lupa bawa bolpen hitam yaaa =D

Nah habis inilah kegiatan yang paling menyiksa terjadi. Ntah kenapa nunggu dipanggil wawancaranya lamaaaaaaa banget. Sedih. Mana dari pagi belum makan. Perut udah kelaperan, baru deh sekitar jam 11 kurang dipanggil wawancara. Wawancaranya sih singkat ya, cek dokumen, petugasnya ngetik ini itu, lalu rekam sidik jari, dan pastinya foto.

Selesai wawancara dikasi slip untuk bayar, dan saya ingatt sekali meninggalkan ruangan wawancara jam 11.10. Awesome.

Di slip bayar sih ditulisnya paspor bisa diambil setelah 3 hari kerja. Tapi pas tanya ke petugas, katanya biar aman ambil aja setelah 10 hari kerja. Hahaha yah untungnya ga lagi buru-buru sih ya.. jadi saya manut aja dan berencana ngambil minggu depan, setelah 10 hari kerja.

Bayar paspornya sendiri bisa di Kantor Pos dan di Bank, tapi karena lokasi kantor imigrasi minggu lalu itu dekat sekali dengan BNI Kota, jadi saya bayarnya di bank BNI. Tinggal kasi slipnya, bayar pakai uang cash, dan selesai dalam hitungan detik!

Oiya biaya bikin e paspor ini 655 ribu untuk paspor setebal 48 halaman.

Sampai saat ini sih saya belum sempat ambil paspornya. Tapi kata petugas dan kata blog orang-orang, ambil paspor lebih baik siang hari setelah jam makan siang (sekitar jam 1 gitu) dan ga akan makan waktu lama. Plus harus ngomong secara khusus ke petugasnya kalau mau minta paspor lama untuk diambil sebagai kenang-kenangan. Kalo ga ngomong, nanti disimpan oleh kantor imigrasinya.

Tambahan lagi, beberapa bulan lalu ibu saya dan teman kantor saya sempat perpanjang paspor juga di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan daerah Warung Buncit, dan mereka bilang paspornya udah ga perlu diambil lagi. Paspor yang sudah selesai akan dikirimkan pakai pos ke alamat yang terdaftar.

Waktu itu sih komentar saya, “Ih itu aman? Emang bakal sampe dengan selamat si paspornya? Apa ga mendingan diambil manual aja lagi ya ke kantornya?” Yang mana ternyata aman aman aja. Baik ibu saya maupun teman kantor saya mendapatkan paspor mereka dengan selamat di rumah.

Terus sekarang saya jadi ngiri, tau gitu bikin di Jakarta Selatan juga aja ya biar ga usa balik lagi ke kantor imigrasi buat ngambil paspor yang udah jadi :D

Moral: manusia memang tidak pernah puas…

Moral 2: kalau mau urus paspor, HARUS/KUDU/WAJIB bawa makan ya. Kemarin itu saya nunggu wawancara sampe sakit kepala saking kelaperannya hahahaha..

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China (tapi habis itu langsung buru-buru pulang aja) – Part 2

Daan setelah 2 bulan berlalu, sambungan dari cerita ini barulah sempat saya tuliskan. Hehehe maaf yak! Ngumpulin energi untuk mengingat-ingat masa lalu yang kelam rupanya tidak mudah :D

Anyway bagi yang ingin mengikuti cerita saya secara lengkap, silakan membaca Part 1 cerita ini.

Singkat cerita, pada libur Lebaran tanggal 2-9 Juli 2016 yang lalu dan dua orang teman saya, Bania dan Obi, jalan-jalan ke China. Rencana awalnya adalah kami tiba di Guangzhou, naik kereta ke Zhangjiajie, turun ke Guilin, lalu pulang lewat Guangzhou lagi. Namun kan… manusia berencana, Tuhan berkehendak yah.. Jadi kisah ini tidak seindah yang dibayangkan ehuehehe.

Okeeh.. jadi… sampai mana kita?

Sampai Sheraton Changsha!

Oiya. Akhirnya kalian bisa istirahat ya.

Iya, setelah skip makan, mandi, dan tidur berapa hari, akhirnya malam itu kami bisa tidur nyenyak di Sheraton Changsha.

Bangun tidur ngapain? Sarapan?

Ahuhaha enggak! Soalnya pesen kamar yang ngga dapet sarapan. Maklum turis kere :D Lagian kami udah bertekad hari itu juga pagi-pagi hunting tiket lagi namun kali ini tujuannya langsung ke Guilin.

Hunting tiket LAGI?

Iyaa hunting lagii… ya masa kami stuck di Changsha? Kan niatnya ngga mau ke sini. Kami udah merelakan khayalan akan Zhangjiajie plus tiket-tiketnya ke sana untuk dihanguskan, ya kami ga mau sampe batal ke Guilin juga.

b570a57c-d905-4954-a96e-2683466b04db
Beberapa tiket yang hangus

Trus gimana?

Terus jadinya hari Selasa tanggal 5 Juli pagi itu kami check out hotel, bawa tas, bergegas ke stasiun. Nah kali ini kami sok-sokan nyoba stasiun yang beda. Jadi setelah kemarin kami luntang-lantung di stasiun Changsha yang lama, kali ini kami nyoba beli tiket di stasiun yang satu lagi, yang lebih baru dan modern. Katanya sih di situ bullet trainnya lebih banyak, jadi kemungkinan dapet tiketnya lebih besar.

Syukurlah ya kalau begitu…

Tapi again, perhatikan penggunaan kata “kemungkinan” di kalimat terakhir gue tadi. Ini semua belum pasti! Bisa dapet, bisa enggak! Buahaha seperti biasa gue dan Bania melangkahkan kaki ke stasiun dengan harap-harap cemas, ngantri dengan puluhan manusia lainnya…

Daan….?

Daaan….. tetep ga dapet tiket untuk hari itu >.<

bad9fd48-7b62-41e0-9193-e0ac07d8cfb2

Apah?!

Hahaha emang kalo udah tragis ya tragis aja ya.. Jadi walopun kami udah pindah stasiun dan hari sudah berganti, tetep aja manusianya buanyak buanget. Ga paham sih kenapa negara ini bisa sepenuh ini manusianya. Tapi ya pokonya ke stasiun manapun kami melangkah, orang tuh di mana mana. Dan efeknya adalah yang tadinya gue pengen langsung ke Guilin pagi itu juga, supaya at least gue punya waktu jalan-jalan di Guilin lebih lama, tetep ga bisa. Karena gue baru dapet tiket DUA HARI setelahnya.

Dua hari?!

Iyaa hihihi sedih ga lo dengernya? Sedih sih gue. Gue inget pas ngomong sama petugas loketnya, gue bawa screen shot tulisan dalam bahasa Cina, yang berbunyi “BULAN 7 TANGGAL 5. 2 TIKET KE GUILIN.”

Terus si mbaknya geleng geleng kepala.

Terus gue scroll ke samping (karena gue udah screen shot banyak di gallery gue) dan tampaklah image berikutnya yang berbunyi “BULAN 7 TANGGAL 6. 2 TIKET KE GUILIN.”

Terus si mbaknya geleng geleng kepala lagi…

Sampe akhirnya gue scroll lagi, dan yah ketebaklah ya bunyinya apa: “BULAN 7 TANGGAL 7. 2 TIKET KE GUILIN.”

Segitunya ya Sal..

Ya itu namanya belajar dari pengalaman. Setelah sebelum sebelumnya kehabisan tiket terus, kami ngga mau sampe habis lagi! Dan hidup kan selalu harus ada back up plan, jadi kalo plan A nya pergi hari ini, plan B nya ya pergi besoknya. Dan plan C adalah pergi besoknya lagi.

Plan D ngga ada?

ADA!! Di tengah kesumpekan kami ngantri, gue sama Bania sempet kepikiran, “Apa dari Changsha kita terbang ke Hong Kong aja ya? Kayanya negara itu lebih proper…”

Tapi terus kami inget ada Obi teman kami yang akan menyusul langsung ke Guilin yang kemungkinan besar akan benci banget sama kami kalo kami ninggalin dia di negara ini. Jadi plan D nya diurungkan. Nyangkut di plan C :))

d22552dc-e693-491b-a113-58d8b37e2440
Tiket Changsha – Guilin

Cuma syukur akhirnya dapet tiket ya..

Iya. Tinggal bingung aja terus ngapain gue 2 hari nyangkut di Changsha?

Jalan-jalan dong?

Ya jalan-jalan siih.. cuma cukup membosankan rupanya kota itu. Setelah akhirnya pegang tiket ke Guilin, kami balik lagi ke Sheraton, book sekaligus 2 malam, lalu udadeh taro barang lagi. Sebelumnya di stasiun kami sempet beli McD dulu, yang mana bisa dibilang itu McD terlezat gue dalam hidup.

Malemnya kami sempet naik taksi ke downtownnya Changsha, lalu keesokan harinya kami ke beberapa spot yang menurut TripAdvisor oke untuk dicek.

Jadi overall Changsha gimana?

Kota penuh kesialan :D Meskipun kami sempat mencicipi titik-titik cerah di Changsha, tetep aja bagi kami tempat terindah di kota itu adalah kamar hotel…

6f5e8592-e9f6-45e5-8e6f-41e5d4e126df
Changsha dari atas. Itu polusi ya btw, bukan kabut..

Lalu gimana pas udah ke Guilin? Bahagia?

Oh jelasss!! Pas udah duduk manis di kereta, kami ngerti kenapa harga tiket kami sebelum sebelumnya jauh lebih murah dari harga tiket kami ke Guilin kali ini. Ternyata kemarin itu kami naik kereta lama, sementar kali ini kami naik bullet train! Hahaha norak abis lah. Keretanya bersih, orang-orangnya berpakaian proper, ACnya oke, dan tentu tidak ada nenek-nenek merokok ga pake BH di hadapan gue.

c6cd2727-3d93-4c6d-b5b5-380c1725f6c7
Proper Train!!

Kalo ngga salah waktu tempuh ke Guilin cuma sekitar 2 jam, dan hari Kamis pagi tanggal 7 itu akhirnya kami menjejakkan kaki di kota tujuan dengan riang gembira.

Ketemu temen kalian yang satu lagi dong?

Iyah! Padahal harusnya kami tuh berkumpul di Guilin dari hari Rabu tanggal 6, tapi karena gue dan Bania ga dapet tiket, jadi kami baru bersatu di tanggal 7. Teman kami yang nyusul langsung dari Jakarta, Obi, udah duluan nginep di Guilin semalam.

Sehat si Obi?

Sehat banget dia. Makan cukup, tidur pulas :)) Dan Kamis pagi itu, gue sama Bania juga mendadak sehat walafiat. Guilin terlihat indah <3

Ke mana aja di Guilin? Makan apa?

Makaan… mie apa deh itu namanya yang khas di sana. Guilin Mifen? Ada kan nama itu? Hahaha gue ga terlalu inget nih kalo namanya ribet. Terus pergi ke Elephant Trunk Hill, Solitary Beauty Peak, dan muter muterin sungai sambil melihat si pagoda kembar.

60cd781f-d8d0-4140-bbe7-981815d8c3f0771cf811-0668-4e6b-8e3c-4c3444f30dc2c72855da-4897-49a8-9770-ca68937c9f19dsc_1201

Seneng? Puas?

Jujur seneng sih. Guilin ini cakeeep banget. Sekarang gue paham kenapa banyak orang Indonesia yang sekolah ke situ. Dan emang banyak yang nawarin tour ke situ juga. Jadi meskipun awal kepergian kami ke China ini nestapa banget, untungnya ditutup dengan manis oleh Guilin.

Sayang waktunya sangat terbatas huhuhu. Pas di Guangzhou dan Changsha, kami pengen buru buru cabut. Tapi begitu udah sampe Guilin, malah sebel sendiri karena kurang lamaaa. Kami ga sempet naik bukit, dan ga sempet ke Yangshuo yang katanya jauh lebih cakep lagi :”(

Tapi perjalanan ga berhenti di situ dong?

Enggaaak… perjalanan ke rumah masih panjaang.. hahaha..

Emang ke mana lagi?

Dari Guilin, kami naik kereta lagi ke Guangzhou. Kali ini tiket keretanya udah dipesen jauh-jauh hari lewat internet dan kami udah lebih pinter pas nukernya hehehe. Lalu di Guangzhou nginep dulu semalam baru besoknya terbang.

Di Guangzhou jalan-jalan dulu ga?

Jalan-jalan sih, tapi cuma bentar. Cuma ke downtownnya yang banyak toko-toko itu.. Dan kami cuma mampir ke supermarket buat beli snack untuk oleh oleh. Ga ada niat jalan-jalan ke tempat jauh lagi sih. Pas di Guangzhou pikirannya udah pengen cabut aja dari negara itu. Hahah!

Terus akhirnya pulang kapan?

Sabtu subuh tanggal 9 Juli! Wohoo! Pesawat kami terbang dari Guangzhou dan transit di Manila hehehe. Jadi kami masih punya waktu hampir seharian main di Manila.

625e9b48-071c-41f6-9b66-9bc9d29c375317340426-eeb4-4e36-91c4-529e0d01a751

Sengaja pilih rutenya gitu?

Iya, sok ide banget lah pokonya kami.. Ceritanya memanfaatkan setiap waktu untuk mampir di tempat baru. Cuma ga nyangka aja energi akan habis di awal-awal perjalanan pas di China.

Trus ngapain di Manila?

Di Manila kebetulan gue dan Bania punya mantan teman sekantor yang sekarang kerja di sana. Lalu ada juga temen gue sesama Pengajar Muda yang sekarang kerja di sana. Akhirnya kami main deh berempat di Manila.

17165d1b-6754-42a7-9f53-879ea61d0e8a

Kog berempat? Obi mana?

PERTANYAAN BAGUS!! Obi di…………… bandara.

Lho, kok?

Iya jadi ketika kesialan menimpa gue dan Bania selama di China sementara Obi hepi-hepi aja, ternyata kondisi itu terbalik ketika kami sampe di Filipina. Gue dan Bania sukses keluar dari bandara, karena kami ga ngaku penumpang transit. Kami bilang kami akan bermalam di Manila, di tempat teman kami. Jadilah kami diizinkan keluar oleh petugas imigrasi.

Sementara Obi…. dia mengaku pada petugas imigrasi bahwa dia penumpang transit. Bahkan ada boarding pass untuk penerbangan kami selanjutnya ke Jakarta. Dan berhubung memang ada peraturan yang melarang penumpang transit untuk keluar bandara, jadilah Obi terkurung di bandara selama berjam-jam.

Gils… tragis amat…

Yoiii emang agak menyedihkan nasib Obi di Filipina. Selama terkurung di bandara, dia bahkan sempat menulis blog saking kesalnya sama peraturan ga boleh keluar bandara itu. Cerita langkap Obi bisa dibaca di sini!

Terus tamatnya cerita ini gimana?

Hahahah tamatnya adalaah… setelah gue dan Bania puas muter-muter Manila dengan ditemani oleh mba Sandra dan Angga, akhirnya kami bisa kembali bergabung dengan Obi di bandara untuk kemudian bersama-sama menunggu pesawat yang ternyata delay!!

Njir ga abis-abis sialnya…

Yoiiii hahaha emang liburan penuh ujian kesabaran lah ini. Mana si bandara Filipina itu kecil bangettt lagih, jadi orang tumplek tumplekan di situ nungguin banyak penerbangan yang delay.

Dan ketika akhirnya kami bisa duduk manis di pesawat.. ya… yang kami lakukan adalah…

Makan?

Enggak. Hahahah ya tidur lah!!

Cape ya liburannya?

Iyaahhh cape ati dan fisik. Not to mention sakit hati di bulan berikutnya ngelihat tagihan kartu kredit untuk pengeluaran pengeluaran tak terduga :)

Tapi ngga kapok kan liburan sama Bania dan Obi?

Ga laaah.. kalo mereka mah forever travel mate. Ea. Cuma ini lebih memotivasi kami aja buat kerja lebih giat. Biar duit makin banyak supaya ga perlu susah susah naik kereta ke sana kemari ngantri kayak orang gila. Next time sewa private jet lah! Latihan jadi orang kaya!

Bzzzz…

Hehehe yaaa moral trip ini adalah, harus selalu punya back up plan. Kalo ga cukup sampe plan B, terusin sampe C, D, E, dan selanjutnya. Plus cek kesiapan partner jalan-jalan lo juga! Ini gue bersyukur banget pas hidup sial di Changsha naik kereta laknat itu gue pas lagi bareng Bania yang somehow perutnya kuat juga. Ga kebayang kalo perginya sama temen yang punya penyakit maag, wah udah kolaps kali ya makan ga teratur gitu. Ato perginya sama yang bau badan. Bisa jadi gua yang kolaps kebauan karena ga mandi berhari-hari :D

Anyway, libur Lebaran ke China kali ini sangat berkesan. Tapi kalo boleh, jangan ajak gue ke sana dulu ya dalam waktu dekat. Kalo kalian kebanyakan uang dan pengen menghadiahkan gue paket jalan-jalan, izinkanlah gue memilih destinasi lain selain negara tersebut. Dan andaikan lo adalah temen baik gue terus lo mau destination wedding ke China, dengan berat hati gue sampaikan in advance gue titip doa aja! Nanti angpaonya ditransfer nyehehehe.

Zai jian,  Cainaaaa!!

(lambaikan tangan dengan keras)

5a5fef3b-1066-45ec-b9cf-a6737bba0d3b

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri China (tapi habis itu langsung buru-buru pulang aja)

Jadi ini adalah postingan yang menjadi hutang terbesar saya 2 bulan terakhir ini, karena saya udah janji pada diri sendiri dan orang-orang untuk nulis kisah miris ini tapi ngga pernah kesampean juga, sampai hari ini!

So! Tanggal 2-9 Juli 2016 yang lalu saya melakukan perjalanan ke negeri China bersama 2 teman saya, Bania dan Obi. Perjalanan ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari karena bahkan tiket pesawatnya sudah saya dan Bania beli awal Maret. Obi bergabung belakangan.

1_00005.jpg
Bania, Sali, Obi (2012)

Menjelang keberangkatan, kami bertiga sudah menyusun jadwal, membeli tiket kereta, dan memesan hotel. Untuk memudahkan semua proses pemesanan dan koordinasi bahkan kami punya Google Docs sendiri yang tab nya senantiasa terbuka di laptop kantor supaya sewaktu-waktu gampang diakses. Bania setiap hari hobinya adalah memandangi foto-foto China, dan kami sudah install VPN duluan dari Jakarta supaya di sana tinggal ganti simcard dan beres. Intinya, kami SENIAT ITU.

Tapi kadang, manusia berencana Tuhan berkehendak kan yah. Dan ini mematahkan pepatah lainnya: “Di mana ada niat, di situ ada jalan” –> KURANG TEPAT! Di mana ada niat, di situ memang ada jalan. Tapi jalannya ke mana dulu cuy :”( Bisa jadi nyasar, bisa jadi nyangkut di kota yang tidak diinginkan, bisa jadi jalan di tempat.

Anyway, untuk mempersingkat basa-basi, biarkan saya mewawancarai diri saya sendiri supaya cerita ini lebih dramatis.

Jadi.. ke China? Ke belahan mananya China?

Tujuan awalnya sih mau ke 2 kota utama, yaitu Zhangjiajie dan Guilin. Zhangjiajie itu daerah yang jadi latar belakang film Avatarnya James Cameron, dan juga daereah yang sekarang udah ada jembatan kaca tertinggi di dunianya itu.

Kalo Guilin?

Guilin kota kecil yang paling banyak jadi latar belakang lukisan-lukisan cina ehehehe. Kota indah yang dikelilingi pegunungan Karst, trus ada sungainya, trus ada kakek-kakek nelayan bawa lentera pake nyari ikan pakai burung yang diiket lehernya.. Duh ini tujuan utama si Bania banget nih pengen motret kakek-kakek semacam itu.

Terus apa yang terjadi?

Yang terjadi adalaaah… kami nggak kesampean pergi ke Zhangjiajie. Kami cuma berhasil ke Guilin.

Kog bisa? Katanya semua tiket kereta udah dipesan?

Iya udah. Jadi flight kami dari Indonesia itu adalah naik Tiger Air menuju ke Guangzhou. Transit dulu sehari di Singapore, tapi itu ya cuma numpang tidur aja di Singapore. Nah di Guangzhou, kami tiba di airport jam 10 pagi dan harusnya jam 2 siang kami langsung naik kereta ke kota Zhangjiajie itu. Harusnya keretanya bermalam di jalan, jadi kami udah mesen tiket hard sleeper.

Lantas? Kan udah tinggal naik kereta tuh, terus apa yang salah?

Yang salah adalah negaranya! Hahaha oke maaf gak boleh nyalahin orang lain tapi gimana dong duh ga pengen banget nyalahin diri sendiri :”( Masalahnya adalah, even begitu kami tiba di stasiun kereta api di Guangzhou, kami ga menemukan petunjuk di mana harus tuker tiket, di mana harus ngantri masuk, di mana bisa nanya, di mana ini di mana itu. Semua papan petunjuk dalam bahasa Cina. Terus semua orang ga bisa ditanyain.

Semua banget dalam bahasa Cina? Masa iya ga ada yang bisa ditanyain Inggris?

Semua banget broh. Jadi di Guangzhou itu ada beberapa stasiun, yang paling baru dan paling bagus ada di Guangzhou Selatan dan itu bahkan stasiunnya gede banget dan banyak alfabet. Serta banyak bule. Tapi sialnya, kereta tujuan ke Zhangjiajie yang udah kami pesan itu berangkatnya dari stasiun tua yang semua loketnya berhuruf Mandarin dan orang-orangnya kalo diajak ngomong Inggris langsung pasang tampang judes tanpa belas kasihan T_T

Jadi-jadi gimana akhirnya?

Jadiii semua masalah ya berawal dari stasiun Guangzhou itu. Kami udah pegang kertas bukti pembelian tiket, dan kami tahu bahwa kertas itu harus ditukar dengan tiket betulan. Tapi, kami gatau dan ga berhasil nanya tempat nuker tiketnya di mana. Dengan bahasa Cina terbata-bata, Bania sempet nanya ke 2 petugas, di mana loketnya, dan petugas A menunjuk ke kanan sementara petugas B nunjuk ke kiri. Dengan percaya diri kami ngikut orang di sebuah antrian panjang selama 30 menit, tiba-tiba di ujung petugasnya menolak kami dan suru kami ngantri di tempat lain lagi. Pas udah di loket (yang mungkin benar), kami ngantri panjaaang banget cuma untuk nukerin tiket, dan ditengah tengah antrian loketnya tutup seenak jidat. Petugasnya istirahat. Ketika akhirnya kami sudah memegang tiket yang benar, kami berlari ke arah gerbang masuk dan itu HARUS ANTRI LAGI. WHY SO MANY PEOPLE, WHY? Sampe akhirnya kami berhasil masuk ke dalam gedung stasiun, dan kami berlari ke arah boarding gate yang salah :”( Saking buru-buru dan ga ada tulisan alfabetnya, kami ga tau bahwa kalo waktunya udah mepet, boarding kereta bisa langsung dari lantai 1. Ini kami naik dulu ke lantai 2, dan diteriakin sama nenek-nenek Cina yang kepala batu banget. Dibilangin gue kagak ngarti lu ngomong apa, ngapain lu marahin gue? Nolongin juga kagak >.< Akhirnya kami berdua lari lagi ke lantai 1 dan ketika tiba di boarding gate, petugas bilang “NO”. Kereta kami udah berangkat.

Jadi kalian ketinggalan kereta.

Iya. Di hari pertama kami tiba di China, kami ketinggalan kereta.

Dan kalian nyangkut di Guangzhou.

Di Guangzhou Station lebih tepatnya. Karena kami belum melihat sisi lain dari kota itu, selain stasiun.

1
Guangzhou Railway Station

Lalu habis itu nyerah?

Oh tentu tidak. Kami masih pantang menyerah ketika itu. Setelah ketinggalan kereta ke Zhangjiajie, kami lanjut ngantri lagi untuk beli tiket keberangkatan berikutnya. Ngantrinya ini lama banget ya fyi. Ntah kenapa manusia di China itu banyak banget jadi mau beli selembar tiket aja perjuangannya amit-amit. Terus pas udah di depan petugas penjual tiket, ada lagi tragedi tiket ke Zhangjiajie habis.

Habis?!

Iya. Di hari itu harusnya ada 2 kereta lain lagi yang berangkat lebih sore, tapi semua habis.

Terus?

Terus ya kami pakai plan B, berangkat ke kota Changsha dulu, yaitu sebuah kota yang letaknya ada di tengah-tengah Guangzhou dan Zhangjiajie, terus nanti dari Changsha lanjut kereta lain lagi ke Zhangjiajie. Cuma ini emang agak gambling, karena sistem perkeretaapian di China itu somehow rumit banget, jadi kalo gue mau beli tiket Guangzhou – Changsha – Zhangjiajie, gue ga bisa beli semua tiketnya di Guangzhou. Gue harus ke Changsha dulu, nanti sampe di stasiun Changsha baru deh bisa beli tiket kereta lanjutannya ke Zhangjiajie. Ngebayangin sampe stasiun Changsha harus ngantri lagi beli tiket berikutnya udah bikin gemes sih, but we had no choice… Jadi akhirnya malam itu kami naik kereta ke Changsha.

Akhirnya yaa naik ke kereta. Keretanya gimana?

Nah ini. Berhubung Guangzhou – Changsha itu adalah perjalanan di luar dugaan, jadi pas beli tiket di loket kami udah ga peduli lagi nomor tempat duduk, harga tiket, dll dsb. Pokonya beli ke Changsha aja udah. Gak taunyaaa tiket yang kami pesan itu kelas ekonomi, yang duduknya berhadap hadapan, dan di dalam gerbong itu orang bisa berdiri. Satu bangku duduknya bertiga tanpa sekat, lalu kalo hadap hadapan itu kita bisa bertautan dengkul sama orang-orang di depan. Hell banget. Dan kereta ini super lelet, jadi kami menghabiskan sekitar 10 jam duduk hadap-hadapan dempet-dempetan sama orang-orang China yang mukanya sama semua.

Berhasil tidur?

Mana ada -___- Saking sempitnya gue dan Bania susah banget mau gerakin badan. Akhirnya Bania jadi ada kesempatan untuk ngobrol dalam bahasa China sepotong-sepotong dengan orang sekeliling, dan dari hasil percakapannya yang sangat terbata-bata itu Bania berhasil mengetahui bahwa orang yang duduk di samping dan di depan kami BARU PERTAMA KALI NAIK KERETA SEUMUR HIDUP. Like… wow.. gue dan Bania mesen tiket jenis apa di gerbong apa sih, kog orangnya bisa antik-antik banget begini? Mereka bahkan ngajak Bania foto bareng karena se-amazed itu sama orang asing. Mereka baru pertama kali ngobrol atau ketemu langsung sama orang asing :| Singkat cerita kami ga tidur. Dan tiba di Changsha dalam keadaan cape banget jam 4 pagi keesokan harinya.

Puji Tuhan akhirnya udah bukan di Guangzhou lagi. Welcome to Changsha! Gimana di kota ini?

Begitu nyampe, hal pertama yang kami lakukan adalah bergegas ke loket penjualan tiket. Belajar dari pengalaman hari sebelumnya, berurusan sama tiket itu artinya berurusan sama banyak sekali manusia, sehingga kami khawatir banget ga dapet tiket lagi atau antriannya panjang lagi. So yah, kami ga terlalu notice apa apa di kota itu awalnya. Kami fokus sama beli tiket Changsha – Zhangjiajie.

Dapet tiketnya?

Dapet! Sempet drama dulu gimana cara mencari loket penjualan tiket, dan sempet ngemper dulu di KFC dan disamperin tukang minta-minta yang bolak balik nyindir, “Lo udah kenyang belom? Lo udah kenyang belom?” sambil tangannya diulur minta duit gitu. (Trus akhirnya gue bales pake bahasa Indonesia, “Pak, saya itu ga ngerti Bapak ngomong apa, dan saya juga laper, saya juga cape, saya mau beli tiket. Udah ya Pak, sorry saya ga ada uang.”) Tapi akhirnya kami sukses ngantri pagi-pagi jam 5 dan dapet tiket kereta Changsha – Zhangjiajie sekitar jam 7an.

Finally! Back on track dong, berhasil ke Zhangjiajie?

Yeaaaaaaaaaaaaa….. not really. Kami juga mikirnya gitu. Pas udah pegang tiket ke Zhangjiajie, rasanya bahagia banget. Duduk manis nunggu kereta dateng. Sempet pipis di stasiun pagi-pagi yang katanya horor banget dan ternyata enggak. Sempet foto-foto keadaan stasiun. Wah udah tenang lah. Sampe akhirnya boarding di kereta, saking excitednya kami sempet memperhatikan bahwa ternyata keadaan stasiun dan kereta di sana mirip banget sama Korea Utara yang digambarkan di internet dan di TV. Hahaha ternyata stasiunnya didominasi oleh bendera warna merah dan tulisan kuning. Jadi berasa balik ke jaman perang trus banyak komunis gitu. Cuma yah proses menyerap informasi sekeliling ini ga berlangsung terlalu lama karena sekitar 5 menit setelah keretanya mulai jalan, gue ketiduran…

Dan bangun-bangun udah sampe Zhangjiajie?

Dan bangun-bangun ternyata keretanya berhenti.

What? Kog cepet?

Iya, gue juga bingung. Kog cepet? Perasaan gue baru tidur sekitar 30 menit paling lama. Dan itupun gue kebangun karena dibangunin Bania.

Kenapa dibangunin?

Soalnya Bania bingung. Bania bangunin gue dan bilang, “Sal, keretanya ga jalan. Udah dari tadi ga jalan.”

Trus lo bangun?

Kalo ga salah iya hahahah. Gue bangun, ucek-ucek mata, lalu sadar bahwa keretanya diem. Masih berpikir positif bahwa mungkin keretanya lagi nungguin sesuatu yang bentar lagi lewat, gue pun lanjut ketiduran bentar. Tapi ga lama kemudian gue bener-bener terbangun dan sadar bahwa kereta ini sungguh-sungguh tidak jalan.

Nanya ke orang sebelah ga, kenapa keretanya ga jalan?

Bania yang nanya, again dengan bahasa China terbata-bata. Tapi sayangnya orang sebelah Bania juga ga ngerti kenapa keretanya ga jalan. Waktu itu memang hujan deraass sekali, dan kami berada di sebuah tempat yang sekelilingnya ga ada gedung. Jadi gue juga ga ngerti posisi kami sebenarnya di mana. Jarak beberapa rel dari kami, keliatan ada kereta lain yang juga berhenti. So untuk sesaat gue menduga mungkin nunggu hujan reda dikit. Atau ada sesuatu yang mau lewat sehingga kereta kami dan juga kereta sebelah kami harus diem bentar.

Terus akhirnya jalan?

Nah itu dia. Perkiraan bahwa kami harus diem bentar tadi itu salah total. Keretanya jalan sekitar jam 7an, terus dari jam setengah lapan itu kereta udah diem. Jam 9, gue mulai gelisah. Nestapa banget lah. Sampe siang itu kereta diem ajaa…

Emang orang-orang ga protes?

Protes!! Lo bayangin ya, itu di gerbong gue banyak banget ibu-ibu gitu, dan setiap ada petugas kereta yang lewat di gerbong kami, para ibu-ibu langsung menghadang dan nyerocos dari A sampe Z. Tapi si petugas tetep ga bilang apa yang terjadi; apakah relnya putus, apakah nungguin hujan, apakah keretanya rusak, ato kenapa gitu dia ga bilang penyebab si kereta diem. Kami disuru sabar aja katanya. Padahal udah berjam-jam nunggu.

Terus sambil nunggu lo akhirnya ngapain?

Macem-macem. Dengerin lagu, main HP, buka socmed. Liat batre hp udah mau habis, gue beralih baca Intisari yang gue beli di Soekarno Hatta. Habis itu lanjut main HP lagi. Habis itu tidur. Habis itu main HP lagi. Habis itu baca Intisari lagi. Parah lah bosennya.

Penumpang lain pada ngapain?

Ada yang bolak balik beli makanan. Ada yang anteng nonton film lewat HPnya. Ada yang ngobrol-ngobrol. Tapi paling jagoan sih nenek-nenek yang duduk berhadapan sama gue.

Kenapa si nenek-nenek?

Doi ngerokok.

Wow, seorang nenek merokok.

Ralat, DUA ORANG nenek.

Okey, dua orang nenek merokok.

Iyah, duduknya berhadapan sama gue.

Polusi udara banget dong ya.

Iyah, dan salah satu dari mereka buka baju.

Hah, buka baju?

Yep, salah satu dari dua orang nenek yang duduk di depan gue merokok sambil buka baju.

Jadi cuma pake BH di dalem kereta?

Nggak, dia pake singlet. Singlet putih yang kayak punya cowok gitu.

Oh okey..

Tapi dia ga pake BH.

Dafuq? Maksudnya?!

Ya dia lepas kemeja, cuma singletan doang, dan merokok di depan gue.

Dan lo bisa lihat dia ga pake BH?

Iya karena nyeplak dan keliatan lah ya bentuk dada manusia yang singletan doang dan ga pake behaaa…

OMG…

Tragis banget pokonya. Neraka. Di luar hujan, kereta udah diem berjam-jam, dan gue stuck di dalam gerbong kereta berhadap hadapan dengan nenek-nenek yang merokok sambil buka baju ga pake BH. Polusi udara, polusi pemandangan.

1_00004
Nenek Fenomenal

Cobaannya berat ya sis…

Berat banget. Not to mention kami berdua belum mandi dan makan properly sejak nyampe di China. Oh dan belum ketemu kasur. Terakhir kali mandi, makan, tidur yang bener tuh Singapore pas transit. Jadi kami udah setengah gila waktu itu..

Pukpukpuk…

Dan kejadian mengenaskan itu terus berlangsung sampeeee sekitar jam 5 sore.

Astaga dari jam 7 sampai jam 5 sore keretanya diem??

Well kurang lebih. Mungkin terhitung berhenti itu jam setengah lapan ya. Dan akhirnya keretanya jalan hampir jam 5 gitulah. Dan ketika kereta itu akhirnya jalan, petugas bilang bahwa kereta itu akan berjalan kembali ke stasiun Changsa.

BALIK LAGI?!

Yeap! Setelah menunggu berjam-jam di kereta terkutuk yang ga jelas kenapa berhentinya, akhirnya kami jalan tapi balik lagi ke stasiun awal.

Yaampun… tau gitu lo kabur ya dari tadi.

Masalahnya ga bisa broh! Keretanya tadi tuh diem di sebuah tempat yang ga jelas di mana, ga keliatan gedung, dan hujan deras banget. Mau turun terus nyusurin rel kereta juga kayanya naas banget, mau manggil Uber juga kelihatannya mustahil.. Jadi ya tadi pasrah aja.

1_00000
Pemandangan dari dalam kereta laknat

Dan akhirnya lo balik lagi ke stasiun Changsha.

Iya. Benci banget ga dengernya? Gue benci banget sih. Dan yang paling menyebalkan adalah, sekitar 15 menit setelah keretanya mulai bergerak, KAMI UDAH SAMPE DI STASIUN. Artinya apa? Artinya tempat berhentinya kereta terkutuk tadi sebenernya ga jauh dari stasiun. Kalo emang keretanya rusak, kenapa perbaikinya lama banget? Kalo emang perjalanan dibatalkan karena cuaca buruk, kenapa ga dari tadi balik ke stasiunnya? Tragis.

Turut sedih mendengarnya..

Iya gue juga sedih sama nasib kami sendiri. Kami bener-bener buang waktu dan tenaga.

Dan kalian belum makan maupun mandi.

Dan kami belum makan maupun mandi. *ngangguk ngangguk*

Terus akhirnya gimana? Balik ke stasiun Changsha, lalu naik bus?

Enggggg…..ga juga. Bania punya temen yang tinggal di Guilin dan dia bilang bahwa bus ke Zhangjiajie malam itu udah habis. Kami juga udah kemaleman sampe di Changshanya. Jadi gue dan Bania memutuskan untuk nginep aja di Changsha, dan naik kereta keesokan paginya. Tapi di sini pun perubahan rencana besar sudah kami lakukan.

Perubahan rencana gimana?

Iya kami harusnya itu stay di Zhangjiajie hanya semalam. Hari kedua,  yakni keesokan harinya, harusnya kami udah turun naik kereta lagi ke Guilin. Tapi ternyata malam itu kami stuck di Changsha, jadi kalau keesokan harinya kami baru naik ke Zhangjiajie dan sorenya naik kereta lagi ke Guilin, kayanya ga masuk akal banget. Akhirnya kami sepakat skip Zhangjiajie, dan langsung cari tiket ke Guilin.

Zhangjiajie.. si gunung Avatar yang ada jembatan kacanya.. yang udah kalian liatin foto-fotonya sejak lama.. akhirnya kalian skip?

Iya. Mau gimana lagi. Kami di China ga lama, jadi ya apaboleh buat, harus segera menyesuaikan diri dengan keadaan. Padahal dalam hati nangis darah.

Oke… terus anyway akhirnya gimana? Dari Changsha dapet tiket ke Guilin?

Nah balik lagi ke stasiun Changsha, lagi-lagi first thing first: cari tiket! Gue sama Bania udah hobi banget lah ngantri di lautan manusia dan perang demi cari tiket. So sekitar jam 6 sore kami mulai ngantri untuk dapetin tiket ke Guilin besok paginya. Sayang, stasiun ketika itu rameeeeeeee banget sehingga kami ga dapet tiket.

Hah, ga dapet tiket lagi?

Hahaha iyah.. Jadi ini lagi-lagi tragedi karena ga bisa bahasa China dan karena kebanyakan manusia. Jam 6 sore itu kami mulai berdiri mengantri di sebuah jalur loket. Jalur loket itu ga ada alfabetnya, tapi karena kami percaya diri berpikiran bahwa setiap petugas loket pasti bisa mesenin tiket, jadi kami ngantri dengan sabar. Sesabar itu sampe kami sanggup berdiri ngantri literally 3 jam. Sesabar itu sampe ga ikutan marah diserobot banyak orang dan menyaksikan banyak orang lain yang berantem karena saling serobot. Sesabar itu sampai kami ngga ngebacok siapasiapa meskipun pas udah nyampe ujung loket petugasnya bilang kami ga bisa beli tiket di situ karena kami ngantri di loket refund :”)

1_00001
BANYAK AMAT MANUSIANYA?

A…paa….??!

Iya, kami 3 jam ngantri dengan penuh penderitaan di loket yang salah. Dan pas ngomong dengan bahasa Inggris bahwa kami mau beli tiket, plis bantuin, kami orang asing, dll dkk, si petugas cuma ngomong dua kata, “NO BUY”. Dan kalimat itu dilontarkan sambil setengah melempar paspor kami balik. Mukanya datar. Ga ada perasaan bersalah, ga ada perasaan kasihan sama sekali.

Bete dong?

BANGET.

Pengen pulang?

BANGET.

Terus pulang?

Hahaha pulang ke mana dulu nih? Setelah tragedi ngantri di loket yang salah, kami akhirnya beli minum. Dan kami berniat, habis beli minum itu, kami akan check in di hotel samping stasiun, naro barang, mandi, lalu balik ngantri tiket lagi.

Gile… Terus akhirnya check in hotel?

Akhirnya BERNIAT check in di hotel. Malam itu masih gerimis, jadi becek-becekanlah kami jalan ke hotel di samping stasiun. Tapi sayangnya niat itu lagi-lagi hanya menjadi niat.

Kenyataannya gagal lagi?

Kenyataannya gagal lagi. Sampe hotel, bilang mau pesen kamar satu, ternyata kamarnya full semua. Ga ada tiket, ga ada kamar hotel, belom mandi, belom makan, stress, hujan, kesel, cape. Semua jadi satu. Gue sempet berkaca-kaca ketika itu :))

Jadi akhirnya gimana?

Akhirnyaaa… Kami balik lagi ke stasiun. Kami balik lagi ke tempat pembelian tiket, dan kali ini ngantri di loket yang benar. Gue inget waktu itu waktu sudah menujukkan sekitar pukul 10.30 malam, dan kami berniat sekali lagi mencoba beli tiket supaya keesokan harinya tenang, baru habis itu nyari hotel di  luar stasiun. Sambil ngantri, mulut gue udah komat kamit berdoa biar kali ini plis banget harus dapet tiket. Sepanjang ke China hidup kami cuma dihabiskan dengan ngantri di stasiun demi tiket, jadi kami muak banget.

Sayangnya nasib sial masih juga nyangkut sama kami berdua; karena ketika akhirnya kami bisa ngomong sama petugas loketnya dan minta tiket kereta ke Guilin esok hari, beliau bilang NO TICKET. WHY? *jedot jedotin kepala*

Beneran jedotin kepala?

Ngga sih.

Terus gimana?

Lemes. Itu udah mendekati midnight. Kesel banget sebenernya, soalnya gue dan Bania yakin masih ada tiket yang available. Di atas loket ada papan real time yang memberitahukan availability semua tiket kereta ke berbagai tujuan untuk beberapa hari ke depan. Dan gue ngecekin bahwa tiket besok itu ada. Tapi, si petugas itu pas kami ngomong dalam bahasa Inggris dan minta tiket besok, dia langsung jawab ga ada tiket tanpa ngetik apapun di komputer. Like.. emang situ afal semua stok tiket buat besok? Situ cenayang? Ga perlu liat ke sistem dulu? Gue emosi banget dan curiga dia emang males aja ngecekin. Mungkin karena lelah. Mungkin karena gue ga berbahasa China. Mungkin karena emang jahat aja.

Akhirnya…?

Akhirnya kami nyerah. Gue mengutuk seluruh perjalanan kami ke China so far, gue mengutuk orang-orang di sana, gue mengutuk sistem pembelian tiket kereta di China yang katro banget masih harus ngantri manual dan ngeprint pake kertas. JACK MA PLIS LAH DO SOMETHING. Alibaba segede itu masa iya ga bisa nyontek Tokopedia yang even bisa jualan tiket kereta? Die gue lama lama di negara itu huhuh die die die.

1_00002
Stasiun Changsha

So malam itu kalian habiskan bagaimana?

Bania akhirnya reservasi hotel. Kadar stress kami sudah di ambang batas, dan kami pikir kami layak mendapatkan hotel yang baik dan berbahasa Inggris, at least untuk malam itu. Oleh karena itu dengan bantuan Toto, Bania berhasil nelpon Sheraton Changsha dan memesan satu kamar hotel untuk kami berdua. Untuk sesaat kami lupa bahwa kami masih belum punya tiket kereta ke Guilin besok, tapi sebodo amat. Kami ambil taksi, lalu minta diantar ke hotel.

1_00003
Taksi

Seneng ga sampe hotel?

Seneng banget. Bisa dibilang Sheraton Changsha itu satu-satunya tempat yang indah yang pernah kami datangi di Changsha hahaha. Pas sampe kamar rasanya bahagiaaa banget.. lihat kasur, lihat air panas, liat toilet bersih.

Makan ngga?

Enggak hahahaha.. Sampe hotel udah jam setengah satu pagi kayanya. Room service juga udah tutup kali ya? Terus ajaibnya kami emang ga laper. Dan untung kami ga maag. Jadi kami cuma mandi selamaaa mungkin, lalu masuk selimut. Tidur, dan sejenak melupakan dunia mengerikan di luar sana…

:))

bersambung ke Part 2

Long Way Home (Part 2 – Welcome to Southeast Asia)

Menyambung dari tulisan sebelumnya, berikut adalah kelanjutan dari perjalanan pulang gue yang panjang dari Korea menuju Indonesia.

Jadiii setelah puas bermain di Jepang tibalah saatnya bagi kakak F untuk kembali ke kehidupan nyata sementara gue melanjutkan perjalanan pulang, yang lagi-lagi pake acara nyangkut di negara-negara berikut..

MALAYSIA

Seperti sempat gue sebutkan di postingan sebelumnya, gue ke Malaysia itu cuma transit. Heheh numpang mejeng doang di Petronas, lalu pajang status Path “sleeping in Kuala Lumpur”, baru besoknya terbang lagi. Agak kurang kece memang, tapi ntah kenapa pas gue muter-muter Kuala Lumpur di taksi itu gue agak kurang menikmati sih. Terlalu mirip Jakarta.. huhehe (sok).

Anyway begitulah tanggal 23 September gue terlewati. Hari berikutnya gue terbang lagi dari Malaysia menuju keee.. Vietnam!

VIETNAM

Day one – 24 Sept

Touch down Hanoi!! Dan bertemu traveling partner gue berikutnya, yakni Ibu Tiur. Heheh. Seinget gue sih hari kami tiba di Hanoi udah sore, dan nyampe di hotelnya malam. Jadi kami gak sempat ke mana mana lagi selain muter-muter di sekitar tempat kami nginep (Hoan Kiem District) sambil nyari Pho pinggir jalan yang duduknya di dingklik di trotoar. Mama girang banget diajak makan makanan pinggir jalan gitu, dan gue juga girang banget soalnya super murah *.* hahah untungnya gak ada peristiwa sakit perut atau apapun yang merugikan kog.

Kami nginep di hotel bernama Hanoi Legacy Hotel yang apparently punya 3 cabang di daerah yang sama. Lucunya, dari ketiga cabang tersebut kami sudah mencoba tiga tiganya T.T hahah dikarenakan awalnya gue book di cabang pertama, lalu pas nyampe mereka transfer kami ke cabang kedua dengan alasan di cabang pertama itu kamarnya sudah penuh. Eh lalu pas hari-hari berikutnya setelah kami balik dari Ha Long Bay, si cabang kedua bilang di tempat terserbut pun sudah penuh, jadi mereka transfer kami lagi ke cabang ketiga.

Entah emang gue naif atau gue murni berhati mulia jadi dioper oper ke cabang ini itu sama sekali ga jadi masalah sih buat gue.. Apalagi karena mereka toh ngangkatin koper kami dan bayarin taksinya (cuma jarak kurang dari 5 menit sih via taksi). Tambahan lagi, tiap kali dioper kamar kami selalu diupgrade fuhahaha jadi gue beneran gak punya alasan untuk protes. Lagipula petugasnya juga sangat ramah kog, jadi recommended lah menurut gue. Terimakasi mami untuk sarannya.

Day two – 25 Sept

Hari keduaa kami ikut Hanoi city tour yang mesennya langsung dari hotel. Sekitar jam delapan pagi kami dijemput, bergabung sama rombongan sekitar 10 orang lainnya, naik minivan lalu dibawa muter-muter Hanoi. Gue inget banget hari itu hujan derasss sederas derasnya sampe gue kesel sendiri, tapi untung masih bawa payung dan tournya selesai cepat hehehe.

Yang kami kunjungi ketika itu adalah Chua Tran Quoc (sebuah temple dengan pemandangan danau yang bagus),  Ho Chi Minh Mausoleum, One Pillar Pagoda, Temple of Literature (National University), dan Ngoc Son Temple yang berada di Hoan Kiem Lake.

Kalau nggak hujan dan ada waktu lebih gue pengen coba mengunjungi Vietnam Women’s Museum dan Museum of Ethnology sih. Kabarnya cukup menarik dan okelah untuk dikunjungi. Namun apa daya waktu itu cuma sehari dan mood berkelana sudah hilang terbawa arus hujan. Hehe jadi next time ada yang mau ke Hanoi silakan tambahkan dua spot di atas, plus water puppet show juga kalau suka nonton performance.

Day three – 26 Sept

Ha Long Bay! Lagi-lagi dengan memesan tour melalui hotel, kali ini kami dijemput jam 8 pagi dan bertolak meninggalkan Hanoi  untuk menuju ke kota Ha Long.

Sejujurnya gue gatau Ha Long itu letaknya di mana, sejauh apa dari Hanoi, dan sebenarnya dia itu tempat apa. Gue random aja ngegoogle apa yang asyik dilakukan di Vietnam dan semua suru gue ke tempat yang ternyata termasuk UNESCO world heritage itu. Okeh kerandoman otak gue ternyata gak sia-sia akhirnya.

Ha Long Bay
Ha Long Bay

Tour yang gue ambil itu naik kapal dan kami menginap di atas air semalam. Kapalnya lucu, makanannya enak, kamarnya nyaman, air panas ada, dan petugasnya ramah-ramah. Guidenya pun lucu nian. Cuma sayang sinyal suka kembang kempis di sana dan ga ada wifi (yaiyalah wong di tengah laut).

Heheh tapi overall tournya oke kog. Hari pertama ini kegiatannya adalah check in di kabin, lalu kapal kami berlayar ke sebuah goa yang terletak di salah satu besar dan bernama Hang Sung Sot. Jujur goa itu terlalu banyak orang sih, dan letaknya tinggi nian sampe nyokap gue kecapean sendiri nanjaknya. Jadi gue agak kurang menikmati sang goa, apalagi karena gue udah punya perbandingan goa-goa lain di Korea yang somehow lebih menantang (cieh).

Habis dari goa kami lalu ke pantai! Pantainya kecil banget, pasirnya hanya sedikit, dan kalau dibandingkan dengan Bali tentu nggak ada apa apanya. Tapi pemandangannya cukup lucu sih. Karena pantai ini juga terletak di salah satu “batu” besar, sambil berenang para pengunjung bisa menikmati pemandangan kapal-kapal berlabuh dan ratusan batu hijau di kanan kiri.

Day four – 27 Sept

Hari berikutnya, kami bangun dan menikmati sarapan di atas kapal! Hehe pengalaman yang menarik. Bagus banget sih memang pemandangannya, dan mama juga tampak senang :D Habis sarapan kami lalu ganti baju siap basah dan bergegas ke “batu” berikutnya yang menyediakan fasilitas kayak.

Gue selalu suka water sport, dan gue kira itu semua karena mengalir dalam darah Kaunang gue yang emang berasal dari ujung sulawesi sana, jadi ramah sama air. Namun ternyata gue agak salah. Di hari itu gue yang seumur hidup belum pernah main kayak harus dapet tantangan dobel: mengarahkan perahu gue biar nggak ketinggalan sama peserta tour lainnya, dan juga menenangkan ibu Tiur yang panik luar biasa di belakang gue.

Satu perahu itu isinya dua orang, dan memang lo nggak bisa ngapa ngapain di dalam sana. Cuma bisa duduk selonjor dengan kaki lo lurus ke depan. Kalau lo goyang dikit, maka perahu lo bakal goyang, dan inilah yang jadi masalah besar di dalam perahu gue. Nyokap gue yang gue kira adalah seorang jagoan, ternyata sangat-sangat takut pas naik ini. Huhahahah.

Jadiiii boro-boro foto-foto, dia megang dayungnya aja udah setengah mati seerat mungkin sambil ngucap doa. Ada ombak dikit teriak, perahunya diem bentar teriak (takut ketinggalan rombongan), ditabrak perahu lain (cuma kena ujungnya) juga teriak, dan pas dia liat ada peserta lain yang beneran jatuh dari perahu dia pun ikutan teriak. Perang batin luar biasa gue ketika itu hahahaha untunglah akhirnya satu jam main kayak selesai juga dan ternyata mama berhasil mengambil beberapa foto yang layak ditampilkan di publik. Sepertinya beliau memotret itu ketika gue suru nggak usa ngedayung dan silakan fokus sama pemandangan sekitar heheh.

Anyway habis kayaking di pagi hari, perahu kami muter-muter daerah Ha Long Bay, lewatin spot spot bagus untuk foto, kemudian kembali ke daratan. Jam satu siang kami bertolak dari kota Ha Long, sekitar jam tujuh baru kami tiba lagi di hotel di Hanoi. Agak jauh rupanya.

Day five – 28 Sept

Hari kelima, kami meninggalkan Hanoi dan terbang ke Ho Chi Minh. Nyampe Ho Chi Minh kami lalu check in kemudian kelalang keliling melihat serunya kota tersebut. Dalam beberapa jam saja gue langsung berpendapat bahwa kota Ho Chi Minh jauh lebih “muda” daripada Hanoi sih. Atraksinya lebih hidup, gedungnya lebih warna-warni, dan penduduknya lebih bervariasi. Suka!

Sambil megang peta yang dikasi sama petugas hotel, gue lalu berhasil membawa nyokap gue jalan kaki jauuh banget dan ngelilingin beberapa spot penting seperti Ben Thanh market, Opera House, Cathedral, dan Post Office. Walaupun cuma jalan-jalan dan nggak ngapa-ngapain juga, gue cukup senang sejujurnya. Ntah kenapa bangunannya bagus bagus dan gue suka jalan-jalan di sana hehe.

Ho Chi Minh

Malam itu kami menginap di Luan Vu Hotel yang berada di daerah Pham Ngu Lao. Petugasnya hostelnya sangat baik dan hostelnya sendiri sangat murah :) Pas booking gue sempet bilang bahwa nyokap gue ga bisa manjat tangga tinggi tinggi (begitu pula dengan gue ha ha ha) jadi sama mereka dikasi kamar yang paling “rendah”. Kamarnya bersih dan wifi berjalan baik hehehe. Lalu daerahnya sendiri adalah daerah turis, jadi di sekitarnya banyak restoran dan juga toko oleh oleh. Asyik sih, enak ke mana mana. Terima kasih kakak matahari pagi untuk rekomendasinya.

Day six – 29 Sept

Tour lagi! Hari itu hujan deraaas dan gue sangat.. sangat… membenci tujuan tur pertama kami, yakni Cao Dai Temple.

Maaf jika ada penganut aliran Cao Dai di sini, dengan sangat menyesal gue katakan bahwa gue sebel sekali sama tempat itu. Ketika kami datang, pas banget mereka lagi mau ada acara kebaktian tengah hari atau apalah itu, jadi para pengunjung harus merapat ke samping dan memberi jalan untuk para pemuka agama membawa sesajen mereka masuk ke ruangan lalu ke altar.

Okelah gue mengerti perasaan mereka, bete juga kali ya kalo lagi mau sembahyang tau-taunya ada orang segambreng nontonin lo yang lagi khusyuk. Tapi bukan berarti semua pengunjung harus diusir usirin kayak ngusir lalat juga kan? Jujur kesel. Hahaha mana itu tempat sebenernya kuecill banget (dibanding dengan jumlah turis yang dateng) dan para tante serta nenek yang lagi beribadah di sana judesnya luar biasa pula. Semua orang dicolek colek dan disuru geser KELUAR. Disuru gesernya nggak pake mulut dan kata kata manis pula, ini mah pake jari broh. Pake jari nunjuk nunjuk kayak anak SD ketauan nyontek, ditunjuk persis di depan muka lo, terus nunjuk ke pintu. Ngeselin. Klimaksnya lagi, di luar itu HUJAN. Jadi lo suru gue nunggu di luar, kehujanan? T___T reminds me so much of ajumma ajumma di Korea… tega banget…..

Vietnam Trip5

Untungnya habis dari si temple tour kami menjadi sedikit lebih menarik karena tujuan berikutnya adalah ke CuChi Tunnel. Di sini lo bisa ngerasain sendiri sensasinya ikutan perang Vietnam dulu, dan bisa nyobain masuk ke terowongan mereka yang super mini. Hujan dan becek, tapi yang ini worth it ^.~

Malamnya, gue janjian ketemuan sama temen-temen Vietnam gue yang merupakan anak-anak Lotte juga, dan mereka menraktir gue serta ibu Tiur di restoran Mongolia. Hahaha randomnya parah, tapi mereka semua lucu seperti biasa. Gue sangat bersyukur bisa punya kenalan lucu lucu dan baik baik di Ho Chi Minh, hihi mungkin lain kali giliran gue yang mengundang mereka ke Indonesia.

Day seven – 30 Sept

Setelah hari berhujan seharian, akhirnya datang juga hari bermatahari terik yang lumayan bikin hepi di hari berikutnya. Hehe hari ini gue dan nyokap ke Mekong Delta, dan pengalamannya cukup lucu. Naik perahu (lagi), pake topi khas Vietnam, terombang-ambing di air; awalnya gue ngerasa sensasinya mirip kayak ngeliat kali Ciliwung. Cokelat soalnya. Heheh untung gue sudah diedukasi sebelumnya oleh seseorang bahwa itu cokelat karena tanah, jadi gak norak-norak amat lah. Dan setelah puas memandangi sungai Mekong, kami pun kembali ke Ho Chi Minh dan beristirahat sebelum menutup perjalanan Vietnam kami ;)

Day eight – 1 Oct

Paginya masih sempet nyari oleh-oleh di deket hostel, siangnya kami sudah bertolak ke airport. Hari ini rute kami adalah terbang dari Ho Chi Minh ke Singapore, dan dalam hati gue sedikit lega karena akhirnya gue bisa semakin dekat dengan rumah. Makin lama di jalan, makin cape badan gue dan makin menipis kantong gue hahahah. At least di singapore nanti gue lebih familiar sama lingkungannya dan gue ga punya jadwal ketat jadi bisa istirahat sepuasnya gratis di rumah tante.

SINGAPORE

Daaan benar saja, nyampe Singapore kegiatan utama gue adalah beristirahat. Sebenarnya gue pengeen banget liat tempat yang jauh jauh di Singapore, kayak kebun binatang atau kebun burung (ini kog terjemahannya lucu ya). Atau night safari, atau garden garden apa deh gitu. Pengennya bukan ke mall dan pengen jalan-jalan aja.

Tapiiii apa daya ibu juga sudah lelah dan matahari singapura sangat sangatlah panas, sehingga mood gue semuanya keserep lagi di bantal. Alhasil inilah yang gue lakukan dalam hampir sepekan di singapura..

Day one – 2 Oct

Siang hari ke Novena (Velocity Mall) untuk nyari perlengkapan olahraga babeh, habis itu ke Chinatown buat mampir ke TinTin Shop, kemudian makan malam di Orchard. Selesai.

Day two – 3 Oct

Bangun pagi niatnya mau ke Zoo! Yeaaay zoo!! Tapi kog perut ga enak ya….. kog sakit ya…. kog agak-agaknya butuh minum obat dan tidur lagi yaa…….. dan akhirnya batal ke zoo. Siang hari kami ke IKEA. Keluar keluar udah maghrib.

mama high di IKEA
mama high di IKEA

Day three – 4 Oct

Lagi-lagi pengeen ke Zoo! Udah nanya nanya orang gimana caranya, udah menetapkan hari mau ke sana karena kemarinnya gagal, tapi begitu liat ke luar kog panas ya… kog malas ya… kog udah udah keburu siang ya….  daan akhirnya keluar rumah cuma buat ke Mustafa nyari tas ransel titipan kakak.

Day four – 5 Oct

Again, hasrat hati ingin sekali ke Zoo, tapi yah… yah… manusia berencana Tuhan berkehendak. Kami ke Gardens by the Bay, lalu malamnya mejeng di Marina Bay Sands. Gue sudah merelakan kebun binatang untuk dikunjungi lain kali. Lagipula Cileungsi sama Cisarua kayaknya udah deket…… :3

Day five – 6 Oct

Pagi-pagi ke gereja di….. oke lupa. Gerejanya Stephen Tong itu di mana? Hahah pokonya habis dari sana lalu makan makanan Indonesia di Lucky Plaza Orchard, kemudian kembali pulang dan siap siap terbang.

Yeay terbang! Packing untuk terakhir kalinya, check in untuk terakhir kalinya, dan landing untuk terakhir kalinya!

Maka dengan demikian selesailah sudah perjalanan pulang gue yang panjangnya luar biasa..

I’m home!

Long Way Home (Part 1 – Farewell and Japan Trip)

Sebuah postingan yang sudah mengendap di draft berjuta-juta tahun. Hehehe mari kita tuntaskan sebelum keburu lupa semuanya.

Jadiii in case ada yang belum tahu, gue yang hampir 6 tahun (4 tahun sekolah, nyaris 2 tahun kerja) tinggal di Korea ini akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia pada bulan September 2013 yang lalu. Kepulangan ini tidak diiringi dengan air mata darah melainkan tangisan penuh haru biru karena bisa dibilang gue udah lama menantikan ini ^.~

Namun namun namuun.. perjalanan gue dari Korea ke Indonesia tentu tidak ditempuh dalam 7 jam saja karena gue sempet nyangkut sana-sini dulu sebelum menginjakkan kaki di Jakarta.

Tercatat gue meninggalkan Korea itu tanggal 14 September 2013 dan akhirnya masuk Jakarta tanggal 6 Oktober 2013. Lumayan lama :D

Jadi.. nyangkut di mana sajakah gue? Inilah kisahnya.

KOREA

Detik-detik sebelum gue pulang sih tentu diisi dengan farewell sana sini. Heheh..

Bye Koreaaa

Searah jarum jam: makan-makan sama anak-anak gereja IWE (8 Sept 2013), makan malam 2 monster yang lapar mata dan berujung pada kekenyangan menghabiskan melon bingsu di 안양역 (11 Sept 2013), permainan jenga berdarah yang entah kenapa harus banget gue yang kalah?? hahah di pinggir sungai Han bersama anak anak IWE (8 Sept juga), farewell bersama adik kesayangan si Cresti Palupi yang makin hari makin sering dibilang mirip gue di Busan (6 Sept 2013), dan akhirnya cap “완전출국” yang dibubuhkan dengan sempurna di paspor gue, menandakan bahwa gue sudah meninggalkan Korea demi kebaikan dan ID card gue ditarik (14 Sept 2013).

Last Dinner
3S: Sali Sayang Semua

Tapi foto farewell paling sweet mungkin yang di atas ini, diambil dengan sempurna oleh sang timer, dengan tema “semua peluk saliii” heheh tapi akhirnya yang meluk Farra dan Apple doang juga sih;;; Ya anyway terima kasih banyak sekali teman teman kesayangankuuu hehehe all the best for all of you :) :)  – Kangnam, 13 September 2013.

JAPAN

Day One – 14 Sept

Menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Jepang! Hehe naik AirAsia, siang bolong mendarat dengan sukses di Narita. Susah payah cari kantor pos untuk mengambil pesanan wifi portable yang sudah gue pesan sehari sebelumnya, juga tiket JR Pass yang membantu hidup gue selama di Jepang nanti biar bisa naik turun kereta sepuasnya.

Fyi, Jepang itu pelit wifi dan pelit alfabet. Jadi buat gue yang buta arah dan buta aksara di sana, gue tau gue akan butuh banget sambungan internet ke HP gue dan oleh sebab itu gue udah cari duluan perusahaan mana yang menyewakan wifi router mini yang bisa dibawa ke mana-mana. Waktu itu gue mesen yang kecepatan 42Mbps untuk 10 hari dan mengeluarkan 5,800 Yen sahaja untuk benda ini. Mahal emang, tapi worth it.

Sementara untuk  JR Pass.. hmm JR Pass itu gampangnya bisa diartikan sebagai magic ticket yang mengizinkan lo untuk naik kereta yang dikelola oleh JR company sepuasnya di Jepang. Gue beli yang harganya 284 USD untuk 7 hari, dan karena gue tau ini harga yang cukup mahal maka gue manfaatkan semaksimal mungkin tentunya hehehe. Ohiya JR Pass ini juga bisa dipakai untuk naik shinkansen, sementara normal price one way shinkansen dari Tokyo ke Osaka sendiri aja bisa 150 USD, jadi bayangkanlah betapa “ekonomis”nya kalau kita keliling Jepang pake shinkansen menggunakan si JR Pass ini.

JR Pass

Anyway day one gue dihabiskan dengan menyesuaikan diri dari rasa shock dan beradaptasi dengan kesendirian. Ahuhahah najis bener bahasa gue tapi iya sih, kalo ga salah day one gue cuma istirahat, lalu ngecharge semua barang elektronik gue, terus tidur deh. Postingan gue hari itu bisa dibaca di sini, dan sebagai catatan untuk diri sendiri waktu itu gue nginep di sebuah capsule guest house murah meriah untuk ukuran Jepang yang berada di Shinjuku. Namanya Ace Inn, gue nginep di Economy Floor dengan tarif 3,150 Yen per malam. Sekilas mengenai tempat ini, lokasinya cukup strategis (dekat dengan subway) dan petugasnya sungguh sangat ramah. Showernya bayar sih 100 Yen untuk 5 menit (atau 10 menit? lupa), tapi overall gue ga punya keluhan apa apa tentang tempat ini. Recommended!

Day Two – 15 Sept

Gue ke Hiroshima! Heuhehe. Tokyo ke Hiroshima naik Shinkansen itu memakan waktu sekitar 5 jam, jadi gue cabut dari Tokyo pagi/siang dan tiba di Hiroshima sore hari menjelang matahari terbenam.

Nyampe di Hiroshima, gue langsung check in di guest house berikutnya bernama Lappy Guest House, yang petugasnya sangat sangat lucu karena dia tidak bisa bahasa inggris jadi gue ngomong sama dia pake bahasa Jepang :3 bisa dibayangkan gue cuma Hai Hai doang sama sesekali Arigatou.. Gue nginep di Separate Dormitory untuk 4 orang dengan tarif 2,200 yen per malam.

Shinkansen, Hiroshima City, and Lappy Guest House

Dan demikianlah day two gue habiskan lagi-lagi dengan agak sia-sia karena cape di jalan dan cuma berhasil ngiterin daerah sekitar guest house untuk cari makan malam. Gagal menemukan okonomiyaki T.T tapi yasudalah.

Day Three – 16 Sept

Hari yang sempurna untuk berkelana di kota Hiroshima! Puji Tuhan cuaca ketika itu super sangat bagus, jadi gue berhasil naik city tour bus setempat dan bertandang ke Hiroshima Castle, A-Bomb Dome (dome yang kejatuhan atomic bomb dan masih berbentuk rangkanya sampai sekarang), Hiroshima Peace Memorial Park (museum tentang penjatuhan bom jaman perang dunia dulu), Ground Zero, dan nyebrang ke Miyajima Island untuk melihat Itsukushima Shrine – sebuah shrine di tengah laut. Lalu malamnya kembali menginap di si Lappy! Hehehe.

Itsukushima Shrine, A Bomb Dome, Ground Zero, Hiroshima Castle

Day Four – 17 Sept

Hari keempat iniiii adalah salah satu hari perjalanan panjang gue. Pagi pagi buta gue ngejar Shinkansen untuk pergi dari Hiroshima menuju ke kota di utaranya Tokyo yang bernama Nikko. Waktu tempuhnya sendiri sekitar 6 jam, dan gue ke mana mana itu bawa backpack dan barang-barang gue yang sebanyak dosa (gue ceritanya lagi pindahan negara lho hahaha). Jadi bisa dibayangkan sebenernya energi gue agak terkuras dengan pindah pindah kota yang super jauh ini. Mana random banget pula, gue jauh jauh ke Hiroshima buat liat foto korban bom dan naik ke Nikko buat melihat sebuah shrine (again). Hahahah untung shrine yang gue kunjungi, Toshogu Shrine, memang besar dan bagus.

Kota Nikko nya sendiri juga bagus banget sebenernya, di sana banyak spot-spot lain yang bisa dikunjungi. Tapi karena gue cuma punya 4 jam untuk mengeksplorasi kota tersebut, jadi yah gue cuma sempet ke si Toshogu Shrine.

Habis dari Nikko gue lalu mengejar kereta lagi dan pindah ke kota lain bernama Nagano. Gue bermalam di sebuah guest house lucu di Nagano bernama 1166backpackers. Gue nginep di female dorm untuk 4 orang dengan harga per malam 2,600 Yen.

Long Way Home2

Oiya saking randomnya gue, gue ga tau dong Nagano itu sebenernya di mana. Jadi gue sok asyiik aja pake baju seadanya dengan tas bawaan seberat berat beban hidup, lalu tau-taunya nyampe Nagano itu udah dingiiiin benar. Ya bukan dingin winter sih, masih dinginnya fall. Tapi kostum gue waktu itu belum siap untuk menyambut musim lain selain musim panas… :( Jadi moral yang didapat: cari tau dulu letak geografis kota yang akan Anda tuju! (ngomong ke diri sendiri)

Day Five – 18 Sept

Bangun pagi di Nagano, gue langsung cabut ke tujuan gue berikutnya yaitu Jigokudani Monkey Forest. Di sini lah kerandoman trip gue mulai mencapai puncaknya, ketika gue sadar bahwa tempat tujuan gue itu adalah sebuah hutan. Ya gue tau sih emang gue menuju ke monkey forest, tapi di otak gue “ah itu palingan kayak kebun binatang gitu.. naik bus, turun, masuk kebun, liat monyet, selesai“.

Tau-taunya nggak dong…… dari tempat nginep gue di Nagano gue masih harus naik kereta plus bus untuk mencapai tempat tersebut, dan gue menghabiskan 2 setengah jam untuk sampe di hutan. Dan pas di hutan itu pun gue sempet goyah karena gue masuk kepagian, nggak ada orang, dan gue sebenernya penakut kan di hutan…..

Huuu jadi ya begitulah, dengan kecepatan sangat lambat gue masuk hutan sampe akhirnya ketemu pos penjagaan di mana gue bisa nitip tas (akhirnya!!) kemudian masuk ke area di mana si monyet-monyet itu berada.

Nikko, Jigokudani

Sebenernya yang unik dari tempat ini adalah mereka, para monyet, punya hobi mandi di onsen. Tapi sayangnya gue dateng pas musim panas, jadi nggak ada satupun monyet yang nyemplung ke air. Semua sibuk nyari kutu di badan temennya masing masing.

Sepulang dari Jigokudani Monkey Forest, gue mampir dulu di Kanbayashi Onsen Guchi, yakni sebuah jalan yang kiri kanannya penuh dengan onsen. Lucu sih, pas gue ke sana gue beneran liat orang lalu-lalang pake yukata, karena mereka lagi mandi pindah pindah dari satu onsen ke onsen lainnya. Heheh. Kalo ga salah total ada sekitar 10 onsen di sana, dan gue diperbolehkan masuk ke salah satunya. Lumayan, numpang mandi habis masuk hutan sendirian pagi pagi.

Monyet-monyet Berjemur, Kanbayashi Onsen Guchi

Kemudian dari onsen gue balik ke Nagano, dan kemudian kembali keee Tokyo. Di Tokyo gue bergabung dengan teman seperjalanan gue berikutnya (yeayy akhirnya nggak foto pake timer lagi) dan kami lalu langsung bergegas naik bus menuju ke Osaka. Jadi yeap malam itu gue “menginap” di bus dalam perjalanan dari Tokyo menuju ke Osaka. Busnya dioperasikan oleh Willer Express, kami naik bus jam 24.30 dan tiba di Osaka 7.50. Bus kami bertipe double-decker tanpa bagasi untuk penyimpanan tas, jadi tas kami dititipkan di loker umum di subway station yang berbaik hati mau ngejagain tas kami untuk beberapa hari hehehe.

Day Six – 19 Sept

Bangun pagi, lusuh, bau, keringetan, laper, semua campur aduk. Untung gue sudah tidak sendiri lagi (ets) jadi at least ga musti takut nyasar karena peta langsung gue lempar ke partner gue yang mengaku lebih jago baca peta dari gue huhehehe. Nyampe di Osaka, kami langsung cabut ke guest house buat naro barang dan numpang cuci-cuci. Jadilah kami bergegas ke Hana Hostel yang lokasinya sangat strategis, yakni di Shinsaibashi.  Hana hostel ini salah satu group hostel murah berkualitas di Jepang, jadi sangat recommended!! Heheh tapi agak laris parah juga, jadi harus cepet-cepet book dari jauh jauh hari kalau mau menginap. (Gue sempet mau nginep di Hana Hostel Tokyo, Hiroshima dan Nagano juga, tapi sudah penuh)

Anyway keliling keliling Osaka kami cuma berhasil mengunjungi Osaka Castle, Shinsaibashi, Umeda Skye Building, dan sebuah daerah yang gue juga lupa namanya tapi tampilannya kayak pasar baru lengkap dengan jajanannya yang lucu lucu. Menyenangkan sih, tapi kalo boleh jujur badan gue udah hampir rontok semua hahaha jadi betapa bahagianya gue ketika malam datang dan akhirnya gue bisa mandi lagi properly (terakhir mandi beneran itu dua malam sebelumnya) dan juga tiduuur di tempat tidur. Heaven.

Osaka Temple, Umeda Sky Building, Osaka at Night

Day Seven – 20 Sept

Bangun pagi kuterus bertolak ke Kyoto :D

Namun berhubung kondisi badan dan waktu tidak memungkinkan, Kyoto yang sebenernya buanyak banget templenya itu akhirnya hanya kami sempat kunjungi dua spot menariknya yakni Kuramadera dan Fushimi Inari Shrine. Kuramadera itu memang udah jadi spot incerannya partner traveling gue, karena konon dulu di situlah sang jagoan pedang Minamoto no Yoshitsune berguru ilmu pedang pada Tengu King. Tempatnya di pelosok Kyoto, dan untuk mencapainya bahkan si subway harus menembus hutan hehehe. Agak shock pas masuk ternyata lagilagi harus semi naik gunung, tapi untung kali ini ada pemandu sekaligus mas mas yang ngangkatin tas hahaha :) (ampun tuan)

Kuramadera, Fushimi Inari Shrine

Lalu kalau Fushimi Inari itu si shrine dengan 1000 gerbang merah. Udah banyak sih fotonya beredar di internet, dan gue sempet liat banyak temen gue ke situ juga. Jadi dengan sisa waktu dan tenaga yang ada kami mampir ke situ baru kemudian mengejar Shinkansen kembali ke Tokyo. Mulai malam itu gue jadi anak Tokyo lagi.

Day Eight – 21 Sept

Hari kedelapan gue dipenuhi oleh keliling keliling Tokyo demi memuaskan hasrat terpendam sejak kecil. Pagi pagi ke Tokyo Tower untuk lihat pameran Doraemon (memuaskan hasrat gue) lalu habis ikut ke Odaiba demi lihat gundam raksasa (memuaskan hasrat si kakak). Habis itu kami ke……. mana lagi ya? Hahahaha sial cuma ke dua tempat itu doang ternyata. Di Odaibanya sendiri lama sih muter-muter, jadi agak makan waktu. Pulangnya mampir ke Shibuya dulu untuk lihat Hachiko di malam hari, yang ternyata lagi dikepung sama manusia manusia perokok Jepang.

Tokyo Tower: Doraemon Exhibition, Odaiba: Gundam raksasa, Legoland, Rainbow Bridge

Day Nine – 22 Sept

Masih menjadi anak gaul Tokyo, hari ini kami dapet guide lokal! Huhehe jadi spot yang dikunjungi adalah Shibuya (demi foto sama Hachiko), Harajuku (mau nyari cosplay tapi nemunya taman nan asri), Akihabara (sok sokan mau masuk maid cafe tapi akhirnya batal juga), Asakusa (daerah turis yang cukup lucu), dan Tokyo Skytree (tapi nggak masuk karena udah habis tiketnya hahaha). Malamnya karena gagal ke Skytree, kami kembali ke daerah Asakusa lalu menikmati hidangan makan malam di sana.

Shibuya, Asakusa Shrine, Akihabara, Tokyo Skytree, Harajuku

Day Ten – 23 Sept

Hari terakhir!! Hebat banget gue ternyata nggak punya foto di Jepang pada hari terakhir. Hahah kayaknya gue terlalu lelah karena harus packing dan siap siap terbang lagi, kali ini makin jauh dari Korea yang pernah gue sayangi (sampai sebelum masuk kerja).

Pagi-pagi bertolak ke Narita, lalu naik Malaysian Airlines menuju Kuala Lumpur. Final destination gue sebenernya Hanoi, tapi pesawatnya transit di Kuala Lumpur semalam, jadilah gue punya waktu untuk mampir ke Petronas Twin Towers dan mejeng bentar.

Malam itu gue nginep di BackHome hostel dengan tipe kamar 4 Bed Mixed Dorm seharga 46 Ringgit per malam. To be honest itu pertama kalinya gue nginep di mixed dorm (sebelumnya di Jepang sempet tapi capsule, jadi lebih private) dan gue sempet grogi ketika roommates gue tidur nggak pake kaos >.< hahaha untung gak pada ganti celana di kamar juga, kalo nggak gue bisa mimisan di tempat kayanya.

Petronas

Anyway sekian untuk sepertiga perjalanan pulang gue. Special thanks to kakak matahari pagi yang sudah rela “nganter” sampe ke Narita (hahaha pengorbananmu besar di surga kak) dan Jess yang udah jadi fotografer sebentar, juga temannya si kakak yang bersedia jadi guide lokal.

(to be continued..)

Ibuku Gemar Makan Penghapus

Alkisah di suatu siang yang terik di Ho Chi Minh City, seorang ibu dan anaknya duduk kepanasan mesen dua minuman dingin lalu ketemu gelas lucu dengan cairan kuning di dalamnya.

“Ma ini apaan? Tadi mesen minum udah 2 perasaan..”

‘Oh bonus kali, buat penawar rasa. Minuman kamu kan manis banget.”

“Oooh iya iya..”

– glek glek glek (tenggak beberapa teguk) –

“Ah gile, minuman apaan nih! Rasa sabun!!!”

(ngasal, saking aneh rasanya)

‘Hah? Mana sini coba mama minum’

– glek glek glek (ikutan nyicip) –

“Gimana gimana, rasa shampo?”

‘Eaarggghhh…. ini mah rasa SE-TIP!! ‘

– ???!@#!@$@#??!@! –

“HAH? emang mama dulu pas masi kecil suka makanin penghapus??”

‘Ya ga dimakan sih cuma wanginya persis kayak gini..’

“Oo kirain pas SD hobi ngunyah kotak pensil dan isi isinya..”

– si mama minum lagi –

‘Ck.. tapi iya nih rasa stip beneran!!’

“Yakin bukan rasa penggaris?”

‘Bukan. Stip.’

“Iya iya :$ “

Sekarang pertanyaannya: emang rasa penghapus itu kayak gimana ya? O.o