Pacific Rim – It’s all about learning how to trust someone!!

Happy weekend!

heheh just got back from a movie night with a friend dan kami menonton film Pacific Rim! sebagai orang tukang nonton ofkors gue udah ngincer film ini sejak beberapa waktu lalu hehe beruntung sekali hari ini sempet nonton dan di dekat rumah pula :D

Pacific Rim

anyway tentang filmnya… super seru!! filmnya cowo banget sih, penuh action dan robot robot gitu. kata temen gue tadi filmnya kayak power ranger. hahaha setuju, memang agak nyerempet power ranger, cuma ini versi jauh lebih keren dan lebih nyata.

satu hal yang gue pelajari dari film ini, untuk bisa bekerja sama atau untuk bisa mengupayakan sesuatu bersama, lo harus percaya sama partner lo. It’s about learning to trust another person enough to allow their consciousness to fuse with yours. You have to trust the person next to you so implicitly and so naturally that you can’t just be thrown in there with some stranger. You have to make a decision to trust that someone and be vulnerable to them for it to work.

Filmnya sendiri sebenernya lebih ke arah action karena sepanjang cerita mereka perang terus, tapi bukan gue namanya kalo nggak menyangkutpautkan apa yang gue liat dengan… kehidupan atau…. asmara. hahah.

Becket and Mako

Jadii untuk menjalankan satu robot itu perlu kerja sama yang kuat antara dua orang, pilot dan co-pilot. Nah untuk kedua orang ini bisa bekerja sama, apa yang ada di kepala si pilot dan co-pilot itu dihubungkan secara neurologically. So basically everything in pilot’s head is available to copilot, and vice versa.

Gue inget salah satu line yang bikin gue berkomentar, “awwww” itu adalah pas sang pilot, Raleigh Becket, bilang ke co-pilotnya, Mako, demikian: Don’t worry, you’re in my head.

Somehow gue merasa itu lebih sweet daripada orang bilang “you’re in my heart”. karena apa yang ada di hati lo itu.. cuma feeling. feeling bisa hilang. tapi apa yang ada di kepala lo, itu yang lo proses. itu yang lo inget. itu yang lo pikirkan. itu yang masuk akal. I know Im being so.. not girly here because usually thinking with logic itu lebih ke arah mottonya para laki-laki, tapi hey gue juga mau belajar mikir pake otak!

hahah karena coba ya bayangin.. we’re all very careful about how we present ourselves and what we say, and how much of ourselves we let out. And to just allow someone into your brain, to give them complete access to every thought, and memory, and fucked up things you ever did, and also every great thing you ever did – its really a big proposition. And for two very damaged people who have decided they’re going to keep it all inside because they’re terrible human beings who have made so many mistakes – to go through a process of opening up enough to allow someone access to your head – it’s really.. something.

And that.. is exactly the heart of this film.

Now the question is.. how can you open up your mind to somebody else?

Heheh sebenernya udah tau jawabannya juga sih. Just like the character Idris Elba played on the movie kept telling his rangers: “Trust each other.”

Easy question simple answer, but surely does take a long process to open up our hearts again enough to be able to trust that someone. Hihi know that for quite sure now, but I think I can take my time.

Pacific Rim : Double thumbs up!!

ps: click on the pics to see original image/article

Happy Anniversary Mom and Dad!

Ayah saya seorang Manado, ibu saya seorang Batak.

Ayah saya besar di Manado dan mendapatkan gelar sarjananya dari Universitas Sam Ratulangi sampai pada suatu hari datang surat panggilan wajib militer yang mengakibatkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam kandas. Nasib melemparnya ke Jakarta, mengikuti pelatihan militer dan lain sebagainya dan di saat itulah ia memutuskan untuk berteman dengan lebih serius lagi dengan kawan lamanya, yang kemudian menjadi ibu saya.

Ibu saya besar di Pematang Siantar sampai kelas 3 SMP, lalu melanjutkan sisa masa remajanya di ibukota. Mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Kristen Indonesia, aktif di kegiatan organisasi-organisasi, namun tidak berkesempatan menyelesaikan gelar sarjananya akibat tuntutan pengabdian kepada ibunya. Nenek saya menjanda sejak kakek saya meninggal akibat penyakit lever ketika ibu saya masih berumur 6 tahun saja, dan sejak itu ibu saya pun statusnya berubah menjadi part-time sister full-time father bagi empat orang adiknya. Kondisi ini membuat ibu saya menjadi wanita paling tangguh kedua yang saya kenal (setelah nenek saya) dan saya  yakin inilah yang menjadi salah satu dari sekian banyak alasan mengapa ayah saya meminang beliau.

15 Mei 1984 kedua teman lama ini pun memutuskan untuk menikah. Pernikahan yang sederhana, dengan harapan dapat dirayakan dengan meriah kelak kalau umur pernikahannya sudah mencapai 50 tahun saja. Setahun kemudian lahirlah kakak saya, Tumoutou Passah Kaunang, dan lima tahun kemudian lahirlah saya, Sangalian Jato Kaunang. Foto berikut diambil masih di era 80-an, bisa dilihat rambut ayah saya masih hitam legam dan mata ibu saya masih besar layaknya orang batak kebanyakan.

Bertahun-tahun kemudian, kedua sosok yang saya panggil mama dan papa ini mulai berubah. Ayah saya kini berambut putih cemerlang, dan didukung dengan postur tubuhnya yang tinggi, beliau sangat mudah ditemukan di tengah kerumunan orang banyak. Sementara ibu saya, entah apakah darah Batak yang mengalir dalam DNA nya kurang kuat atau bagaimana, namun kulitnya makin lama makin terang dan matanya makin lama makin sipit, mengakibatkan dirinya selalu dipanggil, “Ci.. ci.. boleh ci tasnya… ayo ci mampir sini dulu….” kalau sedang berkelana ke pusat perbelanjaan seperti Mangga Dua. Saya selalu menertawai dia dan ikut-ikutan melontarkan ejekan rasis pada ibu saya, namun kadang saya juga khawatir apakah nanti kalau saya tua saya juga akan menyipit seperti dia, karena menurut pengakuan banyak teman saya pun, sekarang muka saya semakin mencina dan mencina T__T

Kini pernikahan kedua orang tua saya sudah mencapai umur 27 tahun. Cita-cita saya adalah saya ingin sekali merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-50, bersama segenap keluarga saya dan keluarga kakak saya. Kakek dan nenek saya dari pihak ayah berkesempatan merayakan ulang tahun pernikahan emas ini beberapa tahun silam, dan saya ingat sekali ketika itu ayah, ibu, serta om tante saya sangat semangat mempersembahkan perayaan yang meriah untuk orang tua mereka. Saya ingin seperti itu. Saya ingin sekali melihat kedua orang tua saya hidup sehat, bahagia, saling mengasihi, sampai lanjut umur mereka.

Namun lebih dari itu, saya juga ingin menjadi seperti mereka! Saya ingin menjadi wanita tangguh nan keibuan yang sempurna bagi keluarga dan suami saya, dan saya mau punya suami seperti ayah saya!! Hihihihi.

Anyway, selamat ulang tahun pernikahan sekali lagi kepada Ayah dan Ibu, terima kasih untuk dukungan, ajaran, dan cinta kalian kepada kami selama ini. Kiranya Tuhan memberkati kalian selalu. Love love :*

Because We’re Stupid

“나진짜이제싫어?”
‘몰라 안본지 너무 오래 돼서. 옛날엔 좀 미웠어. 이젠 몰라’
“나도 옛날엔 너 미웠어 @.@ 지금은 아니지만”
‘나 좋아해?’
“바보야 나 한번 좋아하면 잘 안 잊거든?”
‘나도그래. 근데… 얼마나힘들었는지 그것도 잘 안 잊어..

 




Aug 11, 2010 1:30 PM

10 promises with my dog

film Jepang yang agak-agak membosankan di bagian awalnya ini sebenarnya bagus dan mengharukan. yang bikin bagus tentu saja jalan ceritanya, dan yang bikin mengharukan tak lain tak bukan bagian pas si anjing yang bernama Socks itu mati.

tapi entah kenapa kalau film ini ditonton di kamar bersama teman-teman yang memiliki daya imajinasi sangat tinggi cita rasa filmnya jadi jauh beda. dari yang mustinya adegan bikin sirik pas sang wanita dan sang pria akhirnya berpelukan malah jadi ajang ngata-ngatain fisik sang pria yang jujur saja emang super jelek, sampe adegan sakral pas pas sang wanita berjalan ke altar menjadi momen tepat untuk merancang ending yang sempurna: tiba-tiba sang wanita ditembak sama salah satu jemaat dan malah jadi film pembunuhan.

fiuhh.

anyway, satu pesan moral yang sangat nyata yang gue dapat dari film ini adalah: jangan pernah jadi dokter! haha. no offense ya.

jadi kangen Poussy dan papa…

Jan 9, 2009 12:33 PM

mulutmu harimaumu vs SALAH SENDIRI

konon kata ibu saya istilah mulutmu harimaumu itu sudah populer dari jaman Indonesia baru merdeka, soalnya ibu saya sering dapet ceramah singkat dari ibunya lagi di jaman mereka berdua masih muda dulu. saya sendiri sih baru kenal istilah ini sejak salah satu provider henpon di indonesia meminjamnya sebagai slogan untuk iklannya.

nahh bicara tentang istilah ini, ibu saya selalu bilang bahwa manusia harus selalu hati-hati dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya. kalau ga tau apa-apa, mendingan diem aja deh. kadang menutup mulut itu jauuuhhh lebih baik daripada ngomong sepatah kata.

dan dikaitkan dengan beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini, mungkin istilah mulutmu harimaumu emang bener-bener harus disosialisasikan lagi kepada orang-orang. berawal dari salah satu teman saya yang bercerita bahwa dia terlibat perang mulut dengan temannya hanya karena temannya mengatakan sesuatu yang tidak pantas dia katakan, sampai saya sendiri yang sering merasa sakit hati gara-gara teman dekat saya sendiri yang suka salah ngomong dan membuat saya sedikit terdiam sambil tersenyum masam.

kadang kalau sudah begini, saya suka langsung marah dalam hati dan bilang,

“Kurang ngajarrr, gak tau apa-apa kan lo tentang gue, berani-beraninya ngomong kaya gitu..”

trus nanti abis hati saya berkobar-kobar dan marah kaya gitu, saya merasa seneng dan puas banget tuh. rasanya enakk gitu bisa seenaknya ngamuk-ngamuk sama orang lain dalam hati. tapiiii aneh bin ajaib, tiba-tiba salah satu sisi lain dalam hati saya ga rela liat saya nyalahin orang lain dan dia turut ikut campur dengan membela,

“Ya wajar aja dia ngomong kaya gitu, dia emang beneran ga tau apa-apa tentang lo. Dia mau tau, tapi lo nya ga mau kasi tau. Lo nya yang terlalu tertutup, makanya jangan berharap dia ngertiin lo. Nah, kalau uda gini, sapa yang mau disalahin?”

—“

Oct 21, 2008 12:34 AM

lagu yang sama berputar di kepala saya untuk yang kedua kalinya

kalau orang bilang hidup ini seperti roda, selalu berputar dan ada masa di mana seorang manusia berada di bawah dan di atas.. mungkin untuk saat ini saya bisa merasakannya dan mengartikannya dalam konteks yang berbeda.

dalam waktu beberapa hari saja saya kehilangan teman-teman saya, baik yang dengan cara sengaja, setengah sengaja, dan tidak sengaja, dan saya merasa seperti berada di posisi berlawanan dengan teman-teman saya itu. entah saya tetap di atas sementara teman-teman saya berputar ke bawah, atau saya yang di bawah dan tetap di bawah sementara teman-teman saya berputar dan menggencet saya sampai saya gepeng biru berdarah-darah dan mati.

kalau ada yang mau tau apa rasanya menjadi marah, saya beritahu jawabannya: puas.

kalau ada yang mau tau apa sensasinya setelah marah, saya beritahu jawabannya: lega.

kalau ada yang mau tau apa efeknya setelah merasa puas dan lega setelah marah, saya beritahu jawabannya: dibenci.

namun kalau ada yang mau tau apa rasanya tidak marah, tidak melakukan kesalahan dan bahkan tidak mencoba berniat melakukan kesalahan tapi tetap mengalami akibat yang sama dengan ketiga hal di atas, saya beritahu jawabannya: sedih dan tidak tau harus berbuat apa.

Where did I go wrong, I lost a friend

somewhere along in the bitterness.

Aug 14, 2008 2:47 AM

if God allows me to meet anyone from Heaven to comfort me here, can it be my Grandmother?

it’s not that I always shared stories with her back when she’s still alive. well uhm, I have not even tried, but she’s gone already.

so I wanna make it real this time. I’ll treat her at our favourite hotel (no no I’m not that rich, but that’s a place where we usually meet, since she and my mom worked there) and I’ll let her buy me a Kolala. that’s a snack she never forgot to buy me one. well the fact is, she’s the only one who know I’m addicted to that food- or cotton- whatever you call it.

I’ll be the one who’s gonna tell hundreds stories, so she doesn’t need to worry. she’s not gonna thirst her throat. I just need her to sit next to me, and be patient.

oh. PATIENT! this is very important, cause like I said, I have a bunch of stories to spill, and some of them might be sooo unexpected. even my mom’s probably gonna punish me for some things I’ve done, so you can imagine how scary they were. and since this will be our first meeting after I saw her laying down on her bed stiffly, I really don’t want her to be mad at me. please. I know that behind that charming face you have you can be very frightful if something annoys you, so I beg you.

anyway,

How’s that sound, Grandma? Feel free to join me spending my never ending holiday anytime. I will be ready waiting for you here :)

Aug 4, 2008 1:38 AM

ca-be-go

adalah seorang anak nakal berumur sekitar 7 tahun. mungkin masih duduk di kelas 2 SD, kurang ingat juga. hobinya adalah mengutak-atik segala perkakas, menirukan cara orang lain berbicara, dan melawan orang tua.

pada suatu siang yang panas, duduklah ia di atas bangku di ruang dapur, nikmat menyantap makan siangnya. sang ibu ada di situ, begitu pula dengan sang adik, dan beberapa sanak saudara. (ntah saudara beneran atau bukan, mungkin juga asisten rumah tangga yang sudah dianggap saudara). tidak jelas bagaimana awalnya, namun akhirnya terjadilah peristiwa itu.

sang anak: ?%$!

sang ibu: heh! kamu harus dengar-dengaran ya sama mama!!

sang anak: aaaahh. MAMA BEGO!!

sang ibu: …

detik berikutnya, sang ibu meraih ke arah lemari bumbu dapur, mengambil sebuah cabe besar berwarna merah, dan menyodorkannya ke mulut sang anak seraya berkata,”APA KAMU BILANG? COBA BILANG SEKALI LAGI SINI SAMA MAMA! BERANI KAMU YA!! SINI CUCI DULU MULUTMU PAKE CABE! NIH! SINI!!”

(tamat)

Jul 22, 2008 12:38 AM